
“Aryaaaa” “Tomiiiii” teriak Mila dan Abel serentak yang membuat 3 orang yang ada disana tutup telinga seketika.
‘astaga,,, jika mereka serumah, bisa hancur itu rumah’ batin Vanessa.
Arya dan Tomy diam seketika, Mila menatap tajam ke arah suaminya dan Abel menatap tajam ke arah calon suaminya, mereka benar-benar merasa jengah atas sikap 2 laki-laki itu, dan setelah Mila dan Abel berhenti berteriak, Arya dan Tomy tertawa pelan seketika menertawai tingkah mereka berdua yang belum hilang dari dulu.
“kenapa tertawa?” tanya Abel kesal pada mereka.
“Bel, kalau kamu sudah siap menikah sama Tomy, kamu juga harus siap melihat kami seperti ini” jawab Arya sembari melirik ke arah Mila, ia seolah berkata pada Mila, ‘itu untukmu juga’. Sementara Mila menatap kesal ke arah suaminya.
“Bel, pulanglah ke rumahmu malam ini, aku yang akan menjaga Tomy sekarang” ucap Arya sembari duduk di sisi ranjang Tomy.
“nggak, aku nggak mau, aku yang bakalan nemanin Tomy malam ini” ucap Abel dengan nada kesal pada Arya, ia masih ingin menghabiskan waktunya bersama calon suaminya itu. Ia benar-benar tidak ingin lepas dari Tomy, ia ingin memastikan laki-laki itu dapat tidur dengan nyenyak malam itu, ia ingin melihat wajah Tomy yang tenang ketika beristirahat.
“tidak, tidak bisa, nanti kamu berbuat yang tidak-tidak ketika Tomy tidur” jawab Arya menolak permintaan Abel.
“apa maksudmu Arya?” tanya Abel.
“Karina sudah menceritakan apa yang kamu perbuat pada Tomy ketika ia belum sadar, berani-beraninya kamu melakukan hal-hal seperti itu kepada Tomy ketika ia tidak sadar” jawab Arya lagi yang membuat wajah Abel memerah seketika. Ia langsung membekap mulutnya karena kaget mendengar itu semua. ‘apa dokter Karina melihat aku mencium bibir Tomy juga?’ batin Abel.
__ADS_1
*
Bu Saniah baru saja keluar dari kamar mandi kamarnya, ia segera bertukar pakaian dan merapikan penampilannya untuk segera bersiap pergi ke rumah sakit untuk menemani pak Sarman. Sejenak ia menatap ke arah ranjangnya, ranjang yang telah lama kosong itu masih tampak rapi karena tidak satu orang pun yang tidur disana lagi.
Ia lebih memilih menjaga pak Sarman di rumah sakit setiap malam, ia sendiri juga tidak tahu dimana Tito suaminya menghabiskan waktu setiap malam, ia juga tidak tahu seberapa banyak para gadis muda yang menjadi mainan suaminya itu, gadis-gadis muda yang seusia anaknya sendiri malah menjadi pemuas nafsunya.
Bu Saniah kembali menghirup nafas panjang, di usianya yang sudah di penghujung kepala 4, ia masih memiliki hasrat biologis yang butuh penyaluran, namun ia tidak bisa seperti dulu lagi, ia tidak bisa menggaet para laki-laki kaya yang akan memberinya uang banyak sekaligus bisa memuaskan nafsunya, tidak ada lagi laki-laki kaya yang tertarik pada tubuhnya, yang bisa ia lakukan hanya mencari laki-laki seusianya yang juga memiliki hasrat serupa, mencari sensasi berhubungan tanpa ikatan pernikahan, hal yang sesekali ia lakukan ketika hasratnya tidak bisa lagi ia tahan, ia akan menghubungi teman laki-lakinya untuk sekedar menghabiskan waktu semalam.
Bu Saniah melepas nafas panjang mengingat seberapa kotornya dirinya, namun disisi lain, ia juga sulit mengendalikan hasratnya, karena suaminya seperti tidak bernafsu lagi kepadanya. Bu Saniah kemudian bangkit dan berjalan menuju ruang makan untuk meminum segelas air, sejenak untuk membuang pikiran kotornya dan hasrat biologisnya itu.
Bu Saniah sejenak teringat wajah Arya, setidaknya, dari panjangnya kisah kelam hidupnya, ia memiliki satu cahaya terang di diri Mila, pernikahan Mila dan Arya yang sempat ia tentang di awal sekarang malah ia syukuri. Ia bersyukur karena putrinya itu tak semalang dirinya yang hanya menjadi perempuan pemuas nafsu di masa muda, dan di masa tua hanya bisa merana seperti sekarang. ia bersyukur karena melihat kebaikan yang terpancar dari diri Arya seakan menjadi oase bagi dirinya ditengah hampanya kehidupan yang ia lalui.
Ia sejenak teringat pada Rahman, pikirannya melayang kepada kata-kata Rahman yang bebisik kepadanya sebelum pergi. ‘ambil sampel anak itu, berikan kepadaku, akan ku cek, apakah cocok dengan DNA tuan Gibran atau tidak’ ucap Rahman saat itu.
'jika Arya memang anaknya bang Gibran, mungkin ini adalah salah satu harapan besarku yang terwujud, berbesanan dengan bang Gibran dan kak Naina’ batinnya. ‘tapi sekarang gimana caranya aku mendapatkan sampel DNA Arya, apa aku datang ke rumah dan minta Mila mengambilnya, tapi jika begitu, Mila pasti curiga kepadaku, atau aku bertanya langsung pada Arya, tapi bisa saja ia mengelak dari pertanyaanku, atau aku harus mencuri sampel Arya dari kamar Mila, mungkin ada rambut Arya yang tertinggal di bajunya, atau mungkin aku bisa mengambil bekas tisu Arya’ pikir bu Saniah yang bingung dengan apa yang akan ia lakukan.
Bu Saniah melepas nafas panjang, ia juga tidak punya banyak waktu, karena rapat pemegang saham akan segera dilaksanakan, jika terlambat bisa saja semuanya akan sia-sia, Gibran benar-benar akan berakhir sebagai pembunuh kejam. ‘jika benar Arya adalah Indra, anaknya bang Gibran, kenapa Ia tidak tampil di depan publik menunjukkan dirinya?, kenapa ia masih berdiam diri dengan nama Arya?, apa ada yang tidak aku pahami dalam masalah ini’ batin bu Saniah berpikir keras. Ia kemudian berdiri untuk segera kembali ke rumah sakit.
*
__ADS_1
“Arya, jika Adinata group adalah hakmu yang seharusnya kamu warisi dari ayahmu, kenapa kamu tidak datang saja kesana dan akui siapa dirimu sebenarnya, jika kamu demikian, pasti mereka tidak akan berani mencelakaimu karena kamu adalah anak Gibran adinata” ucap Mila menatap Arya dari pantulan cermin hiasnya, ia sedang duduk di meja hias itu untuk memeriksa beberapa tugas siswanya.
Arya yang sedang bersandar di ranjang sembari memainkan ponselnya membalas tatap istrinya di pantulan cermin, “pertama, panggil ayah dan ibuku dengan sebutan ayah dan ibu, karena mereka adalah mertuamu, kedua, jangan berpikir sesingkat itu, ini tidak semudah yang kamu pikirkan” jawab Arya dengan sedikit kesal mendengar pertanyaan Mila.
Mila kemudian membalikkan badannya menghadap ke arah suaminya itu, “ok,, aku minta maaf, aku akan memanggil ayah mertuaku dengan panggilan ayah dan ibu mertuaku dengan panggilan ibu” ucap Mila tersenyum pada Arya, sementara Arya masih melihat ponselnya tanpa peduli dengan ucapan Mila.
Mila menatap suaminya itu dengan cemberut, ia kemudian naik keranjang dan memperhatikan apa yang diperhatikan Arya di ponsel itu, yang membuat Arya sama sekali tidak mengindahkan ucapannya.
“buat apa kamu melihat gambar itu?” tanya Mila dengan polos.
.
.
.
.
.
__ADS_1
jangan lupa like, komen dan vote ya,,