
Pagi yang cerah menemani kesibukan manusia dihari itu, di sebuah rumah mewah yang besar berlantai tiga, dengan cat berwarna putih dengan halaman hijau yang luas di depannya, di taman itu terdapat hiasan kolam kecil dengan air mancur yang tak pernah berhenti mengalir. Di dalam rumah itu, sebuah keluarga terpandang tengah menikmati sarapannya.
Seorang laki-laki bertubuh tegap berjalan ke dalam rumah itu, laki-laki itu menggunakan setelan jas elegan dengan alat komunikasi menempel di telinganya, di bagian atas jasnya ada pin yang menandakan ia adalah pengawal khusus dari Adinata group. ia melewati beberapa pengawal rumah itu yang juga bertubuh sama dengannya dan berpakaian seelegan dengannya.
Laki-laki itu berjalan menuju meja makan dimana keluarga kaya itu masih menikmati sarapan yang dibuat oleh pelayan rumah itu, ia kemudian memberi hormat pada seorang laki-laki paruh baya yang duduk di ujung meja. “ada info apa?” tanya laki-laki paruh baya itu dengan nada datar tanpa menghentikan kegiatan sarapannya.
“saya sudah mengikuti tuan Rahman, tuan, dia menemui beberapa pemilik saham yang ada di Jakarta” lapor laki-laki tegap itu dengan nada datarnya, laki-laki itu juga yang telah menemani Rahman beberapa hari ini untuk mengunjungi beberapa orang pemilik saham di Adinata group, termasuk saat mengunjungi pak Sarman.
“jadi dugaanku benar, dia salah satu anjing penjaga bagi Gibran” ucap laki-laki paruh baya yang tak lain adalah Aliando itu dengan suara sinisnya.
“habisi saja dia yah, jangan biarkan orang-orang om Gibran berada di perusahaan lagi, ayah terlalu lembut pada mereka” ujar Arnes pada ayahnya dengan m
nada tegas.
“aku tidak akan mengotori tanganku dengan darah kotor orang itu, aku akan siapkan permainan untuknya, ia akan segera menyusul Arjun ke dalam penjara” ucap Aliando masih dengan tersenyum sinis.
“kabar perjodohanmu dengan anak Hardi cepat sekali menyebar, bahkan Rahman sudah bergerak untuk melawan kita ketika itu baru sebatas perjodohan” lanjut Aliando.
Istri Aliando kemudian menatap datar ke arah suaminya setelah mendengar apa yang disampaikan suaminya itu, ia dapat melihat raut wajah dingin dari laki-laki itu.
__ADS_1
“selanjutnya kamu mau apa mas?, pasti beberapa pemilik saham sudah ada yang terpengaruh olehnya” ucap istri Aliando yamg bernama Ratikah, atau biasa dipanggil nyonya Ratih.
“mereka pasti sudah menebak rencana kita, mungkin saat ini mereka sedang mempersiapkan rapat pemegang saham untuk menjatuhkanku, dan mengembalikan mandat mengurus perusahaan kembali kepada pengacara Gibran” ucap Aliando menganalisis keadaan.
“Aku akan menemui Hardi, dan pertunanganmu dengan anak Hardi harus segera dilaksanakan, statusku sebagai calon besan Hardi akan membuat pemegang saham berpikir 2 kali untuk menjatuhkanku, mereka tidak mungkin menjatuhkan calon besan pemegang saham terbesar di perusahaan saat ini, mereka akan ada dipihakku untuk memberi keuntungan bagi mereka sendiri dari setiap lini bisnis perusahaan kita bagi bisnis mereka” ujar Aliando masih dengan tersenyum sinisnya.
“apa masih belum ada kabar dari anak itu?” tanya Aliando pada pengawal yang masih ada di sisinya,
“belum tuan, semua data pasien yang seusia dengan anak tuan Gibran dari semua rumah sakit di Jakarta selalu diperiksa setiap tahun di rumah sakit kita, tidak ada satu pun data pasien yang sama dengan DNA tuan Gibran, data-data dari sekolah dan kampus juga di review ulang dan tidak ada data yang cocok dengan tuan Indra, saat ini beberapa orang kepercayaan anda sedang mengumpulkan data dari beberapa daerah di sekitar Jakarta, tapi hasilnya masih nihil” jelas pengawal itu.
Aliando melepas nafas kasar mendengar itu semua, ia benar-benar putus asa mencari keberadaan Indra.
“apa aku harus mencoba memalsukan lagi data kematiannya?” ucapnya dengan dingin.
“aku tidak tahu siapa saja orang-orang di perusahaan yang masih setia pada Gibran, yang jelas merekalah yang selama ini bekerja menggagalkan semua usahaku untuk mematikan anak itu, mereka tidak ingin surat mandat Gibran menjadi dasar pewarisan harta Gibran kepadaku” ucap laki-laki itu menghentikan sarapannya.
“ayah kan sudah punya rencana untuk menikahkanku dengan Anjani, buat apa lagi memikirkan anak itu?” kesal Arnes kepada ayahnya yang masih pusing mencari keberadaan Indra, sementara adiknya hanya menatap perbicaraan serius itu dengan wajah cemberut, pikirannya tidak mampu sama sekali memahami isi pembicaraan itu.
“kamu ini memang bodoh, anak itu harus tetap kita cari, nyawa anak itu adalah kunci kita menguasai semuanya tanpa harus bertaruh dengan yang lain, sedangkan perjodohanmu adalah pertaruhan, bisa saja Hardi mengkhianati kita nanti setelah saham Gibra lepas ke pasar modal, untuk itu kamu harus bisa memperdayai anak Hardi itu agar tidak lepas darimu jika kalian sudah tunangan dan menikah nanti, dia jaminanmu untuk menjadi CEO di perusahaan” Aliando mengucapkan itu dengan nada setengah marah pada Arnes.
__ADS_1
“aku tidak bisa bertahan lama lagi di perusahaan, usiaku sudah tua, cepat atau lambat aku pasti harus mundur dari posisi CEO, anak Hardi adalah satu-satunya jalan untuk kita mempertahankan semua ini jika anak itu tidak pernah ditemukan, dan kamu harus bisa memainkan peranmu nanti agar semuanya tetap menjadi milik keluarga kita, jika semuanya berjalan lancar kamu juga bisa merebut semua harta Hardi untuk menjadi milik kita, dan yang terpenting sekarang, kamu harus siap-siap meloby para pemegang saham untuk berpihak pada kita, tawarkan mereka apa yang mereka inginkan dan mereka butuhkan, pastikan mereka mendukung kita” lanjut Aliando lagi, yang membuat semua orang yang ada disana menatap panjang ke arahnya.
*
Arya masih berperang melawan dokumen yang masih menumpuk di atas meja kerjanya, ia harus segera menyelesaikan semua pekerjaannya agar tidak menumpuk lama, karena ia harus memfokuskan dirinya untuk segera membuat rencana menghadapi gejolak di internal Adinata group.
Sejenak ia menatap dalam ke gedung pencakar langit di dinding kaca ruangannya , ia mengingat kembali ke masa 22 tahun silam, ia butuh keberanian lebih untuk menghadapi rasa takut yang membayangi hatinya, ia masih ingat detik-detik menyakitkan itu, ia masih ingat ketika peluru itu menembus tubuh ibunya, ia masih ingat nafas ibunya tersengal-sengal menjemput maut di dalam pelukkannya, ia masih ingat tubuh ayahnya terbujur kaku di depan pintu kamar, ia masih ingat ketika ia berlari menuju Aliando untuk meminta tolong, namun ternyata ia mendengar sendiri bahwa Aliando adalah dalang di balik sejarah kelam hidupnya.
‘ayah, apa aku enar-benar harus kembali?, aku tidak ingin terlibat dalam pertarungan ini, aku ingin hidup bahagia ayah, aku sudah punya istri, aku ingin membangun keluargaku seperti keluarga kita yang bahagia dulu, aku ingin menjadi seorang ayah sepertimu, aku ingin menua seperti kakek dan nenek yang aku temui di Sulawesi, berbahagia saling mencintai hingga tua, ayah, ibu, apa kalian sedang melihatku saat ini, aku menikah dengan anak yang dulu menolak mu ayah, aku bahkan juga merasakan sakit berkali-kali karena sikap anaknya itu, tapi sekarang sepertinya Tuhan menakdirkannya untukku, ia memegang rahasiaku tentang keluarga kita yang telah aku, Tomy, Paman dan Bibi simpan bertahun-tahun, ayah, aku lihat dia sangat takut kehilanganku, dia sangat takut aku pergi darinya, apa itu berarti ia benar-benar telah mencintaiku?, ayah, apa aku salah jika aku tetap seperti ini, menjadi Arya dan mengubur Indra, mengubur semua tentang keluarga kita, dan hidup bersama istriku dengan tetap mengubur semuanya, tapi aku tidak akan pernah tenang jika dunia masih mengenalmu sebagai manusia jahat ayah, hatiku tidak akan pernah ikhlas mendengarnya sampai kapanpun’ batin Arya menahan sesak atas semuanya, ia memejamkan matanya dan menarik nafas panjang untuk memberikan ketenangan bagi hatinya.
Pintu ruangan itu terdengar diketuk oleh seseorang, dan Rita kemudian masuk membawa sebuah dokumen, ia berjalan santai ke meja Arya. “ini dokumen dari Hardi corp, nona Anjani menghubungiku agar desain untuk hotel keduanya dapat selesai secepatnya” ucap Rita dengan menatap ke arah dokumen kerja Arya yang masih menumpuk.
“Cepat sekali dia mengurus semuanya” ucap Arya menghirup nafas panjang.
“Mungkin dia ingin segera menemuimu lagi, sepertinya dia tertarik padamu pak Arya” ucap Rita mencoba menggoda Arya, karena kenyataannya sampai detik itu ia masih belum bisa ikhlas Arya menjadi bagian dari keluarga Rakarsa, dendam yang telah lama terpendam di hatinya pada keluarga itu masih belum sirna.
“Aku sudah menikah Rita, jadi jangan berbicara seperti itu lagi kepadaku, dan satu lagi, aku tidak suka dengan panggilan pak mu itu” ucap Arya dengan singkat, ia merasa kesal dengan ucapan Rita itu, namun di sisi lain ia juga masih mengerti dengan dendam di hati Rita, karena kenyataanya ia dan Rita adalah korban dari kerakusan orang-orang pengejar harta dan kekuasaan, ditambah lagi keluarga Rita seperti dibenamkan ke dasar jurang oleh keluarga Rakarsa, dendam pada keluarga Rakarsa tidak akan mudah padam di hati perempuan itu.
“aku senang memanggilmu pak,” ucap Rita dengan tersenyum kepada Arya, ia kemudian menaruh dokumen itu di meja Arya sembari melihat ke gedung pencakar langit di dinding kaca ruangan Arya. Ia kemudian menghiup nafas panjang dan melepaskannya.
__ADS_1
"kamu harus menyelesaikan rancangan untuk hotel nona Anjani dengan cepat, aku tidak mau melihat dia marah-marah seperti kemarin saat datang kesini” ucap rita sembari memutar badannya untuk segera keluar dari ruangan Arya.
“Rita, apa aku bisa bertemu ayahmu?"