Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Next Step


__ADS_3

Mila masih bersandar di sofa ruang tengah, tangannya berkali-kali mengusap dahinya yang mulai berkeringat. Nafasnya tidak teratur sama sekali. Matanya berkunang-kunang, jantungnya berdetak cepat.


“kamu kenapa Mil?” tanya Vanessa yang kembali ke ruang tengah karena Mila tak kunjung menyusulnya di dapur.


“aku pusing kak” gumam Mila dengan pelan.


“kamu kenapa?, kelelahan lagi?” tanya Vanessa yang mulai khawatir.


“kepalaku sakit kak” gumam Mila.


Vanessa kemudian mendekat dan membantu Mila untuk berdiri, “kamu istirahat di kamar dulu ya” ucap Vanessa, ia membantu Mila untuk segera pindah ke kamar.


Mila masih berusaha menormalkan kembali tarikan nafasnya, berharap kesadarannya tidak hilang. Vanessa kemudian membantu Mila berbaring di ranjang, ia kemudian mengambilkan segelas air untuk Mila.


Setelah Mila meminum segelas air, ia kembali berbaring dengan memejamkan matanya yang terasa berkunang-kunang. “kok bisa kayak gini Mil?, tadi kamu sehat-sehat saja” gumam Vanessa yang melihat Mila mulai melemah.


“Arya tak mengangkat panggilanku kak” jawab Mila dengan pelan.


Vanessa menarik nafas kasar, “kan dia ada rapat sekarang Mil, kamu lupa ya”


“tapi walaupun rapat, Arya pasti membalas chatku kak”


“ya udah, kamu jangan khawatir berlebihan kayak gini dulu Mil, mana tahu Arya memang lagi nggak megang ponselnya sekarang” gumam Vanessa sembari mengusap dahi Mila yang basah karena keringat menggunakan tisu.


“maaf ya kak, aku jadi ngerepotin kakak” ucap Mila dengan pelan.


“nggak apa pa kok sayang, tapi kok kamu tiba-tiba khawatir gini Mil, tadi kakak lihat kamu biasa-biasa aja”


Mila terdiam, ia memilih tidak menceritakan masalah Arnes kepada siapa pun, apa lagi Arya, itu hanya akan menambah beban suaminya nanti.


"aku saja yang berlebihan khawatirnya kak,” ucap Mila, ia kemudian memejamkan matanya untuk sejenak beristirahat mengembalikan tenaganya.


*


Arya dan Rita telah selesai mengikuti rapat dewan direksi, setelahnya mereka langsung kembali ke perusahaan 3A Sahabat. Arya sudah merasakan Ari, Arbi dan Tomy telah menunggu mereka diruangannya. Arya dan Rita turun dari lantai lima menuju loby perusahaan, semua orang yang ada disana memberi hormat kepada mereka.


Sampai di depan Loby Arya dan Rita naik ke atas mobil, ketika mobil mulai bergerak, orang-orang disana masih memberi hormat kepadanya. “aku benar-benar tak nyaman dengan ini semua” gumamnya ketika mobil mereka sudah berjalan meninggalkan Adinata group.


“namanya juga tuan muda, presiden saja mungkin akan hormat kepadamu” ucap Rita mengejek Arya.


Chris dan Ortin yang duduk di kursi depan hanya menatap datar ke arah Arya dan Rita.


Arya mendengus, “dari kecil aku tidak pernah diperlakukan seperti ini Ta” Arya menatap kesal ke arah Rita,”paman selalu mengajariku untuk merasa rendah hari dihadapan orang lain, tapi tadi semua orang yang merendahkan diri mereka dihadapanku”


Rita tak membalas tatapan Arya, ia tengah sibuk dengan beberapa laporan tim Arya yang masuk ke emailnya. “sepertinya kerjaanmu akan banyak hari ini” Rita kemudian memperlihatkan layar ponselnya kepada Arya.

__ADS_1


Arya melihat layar ponsel Rita dengan membuang nafas panjang, “menurutmu apa aku perlu asisten Ta?, semua masalah ini bisa membuat kepala ku pecah”


“hmmm, jangan deh, aku nggak mau kerja sama dengan orang lain, cukup kamu saja” ucap Rita yang masih sibuk mengecek emailnya.


“kamunya enak Ta “Arya membuang muka dari Rita, “nah aku, masak desain dan Adinata aku pikirin sekaligus, kayak orang gila harta aja aku jadinya”


Rita menarik nafas panjang dan melepasnya, “kamu tinggal pilih, 3A Sahabat atau Adinata group” Ia kemudian melirik Arya yang melihat ke luar jendela mobil, “yang jelas aku akan tetap jadi sekretarismu kok”


“itu pilihan sulit Ta, aku memulai 3A Sahabat dari nol bersama Ari dan Arbi, tapi Adinata dimulai dari nol oleh ayahku” gumam Arya.


Mobil mereka melaju cepat menuju 3A Sahabat, sesampainya di kantor, Arya dan Rita langsung berjalan cepat menuju ke lantai 4.


Semua orang yang melihat mereka langsung saja berbisik-bisik. Pemandangan yang membuat Arya merasa jengah melihatnya.


“kenapa mereka selalu seperti itu sih?” ucap Arya yang telah berada di dalam lift.


“jika tuan tidak suka, kami bisa membubarkan mereka” ucap Chris yang berdiri di depan Arya.


“boleh, aku setuju” ucap Rita dengan ketus.


“nggak usah, biarin aja,” ucap Arya, “kemarin masalah Mila mereka juga kayak gitu, mereka nggak bakalan berubah”


Rita hanya tertawa tipis mendengar jawaban Arya, "gosip di kantor beredar cepat loh Arya," ucap Rita yang tidak ditanggapi Arya sama sekali.


“wah wah, calon CEO datang nih” ejek Tomy menyambut kedatangan Arya.


“gimana?, lancar tadi?” tanya Arbi kepada Arya.


“lancar sih,” jawab Arya dengan singkat, ia kemudian duduk di samping Ari.


Tomy menarik nafas kasar, ia menatap datar ke arah Arya, “kamu benar-enar menyulitkan ku Arya” gumamnya.


Arya tersenyum, ia paham kemana arah omongan Tomy, dulu dia juga kebingungan saat berbicara dengan Abel. Mungkin Tomy juga bingung menjelaskan masalahnya kepada Abel dan keluarga Abel.


“makanya cari istri itu yang pintaran dikit Tom” kali ini Ari yang mengejek Tomy.


“Ah sialan lo, udah bahas saja langkah kita selanjutnya, bini gue lagi nungguin di rumah” ucap Tomy dengan kesal, ia sejenak meminum airnya yang sudah ada di meja sofa ruangan Arya itu.


Arya kemudian menarik nafas panjang, ia kemudian melirik ke arah Rita, “dokumen pemegang sahamnya ada kan Ta?” tanyanya dengan pelan.


Rita mengangguk, ia mengeluarkan sebuah dokumen dan membukanya, untuk kemudian ia taruh di atas meja.


“jadi sekarang kita mencari dukungan pemegang saham, ini untuk rapat pemegang saham tahunan yang digelar 3 bulan lagi” ucap Arya, ia kemudian melirik satu persatu sahabatnya. “kita punya waktu 3 bulan, waktu yang cukup panjang untuk bernegosiasi dengan mereka”


“jadi kita akan nyampain apa pada mereka?” tanya Tomy dengan polos.

__ADS_1


“negosiasi untuk nurunin Aliando,” ucap Arya dengan singkat,


"sekaligus minta dukungan untuk mendukung Arya jadi CEO” lanjut Rita yang membuat Arya mengusap dahinya dengan kasar.


“lalu kasus penggelapan dana yang dibicarakan pak Abdul itu gimana?” tanya Ari menatap lekat wajah Arya.


“tante Rena bilang semuanya sedang dalam proses” kali ini Rita yang menjawab, “sedikit sulit mengungkapnya, karena bukan dana perusahaan langsung yang digelapkan, tetapi mereka memainkan anggaran selama projek Adinata group berlangsung, orang yang terlibat cukup banyak, jadi semakin membuat sulit untuk mengungkapnya,"


"mungkin mereka mempersiapkan harta jika sewaktu-waktu mereka lengser dari kekuasaan itu” lanjut Rita.


“ini menarik” Arbi tersenyum sinis, “jika bisa, kamu kirim saja temuan orang itu kepadaku, aku bisa minta bantuan orang tuaku untuk mengurusnya, orang tuaku cukup sering menangani kasus korupsi pejabat Negara”


Rita menatap panjang wajah Arbi, ia menimbang apa yang Arbi tawarkan.


“sepertinya bagus Bi, nanti biar Rita yang komunikasikan dengan tante Rena” ucap Arya yng tertarik dengan tawaran Arbi.


Ari kemudian menarik kertas yang ditaruh Rita di meja, ia melihat satu persatu nama pemegang saham di kertas itu.


“aku dapat dana yang cukup besar atas pengalihan saham kemarin, aku akan bagi untuk kalian,” ucap Arya.


“dana untuk kami?’ tanya Tomy yang bingung maksud kalimat Arya.


“tidak semua pemegang saham itu bisa dipengaruhi” ucap Arya mulai menjelaskan, “dana itu bisa kalian gunakan untuk membeli saham di perusahaan pemegang saham itu jika diperlukan, kekuatan kita akan jauh lebih besar untuk menarik pemegang saham jika kita juga punya saham di perusahaan mereka”


Ari tersenyum melihat Arya, “jadi seperti ini darah bisnis Adinata,” ucapnya, “itu ide bagus, sebuah simbiosis mutualisme, suara mereka akan kita balas dengan suara untuk mereka di rapat pemegang saham mereka”


Arbi mengangguk pelan, ia paham maksud Arya dan Ari, “tapi nggak semua pemegang saham bisa menggunakan cara itukan?” tanya Tomy lagi.


Arya menarik kertas list pemegang saham dari Ari dan menaruhnya lagi diatas meja, “lihat disini Tom, cara itu kita gunakan untuk pemegang saham yang potensial saja untuk bernegosiasi dengan kita” jelas Arya.


Arbi mengangguk, “kalau cara kotor boleh?” tanya Arbi.


“cara kotor?” tanya Rita. Arya, Ari, Tomy dan Rita serentak memandang heran ke arah Arbi.


Arbi kemudian menunjuk beberapa nama dikertas itu, “ini,,ini,,,ini,,,ini, dan ini,, semuanya punya kasus” gumamnya, “aku tahu nama-nama mereka dari kasus-kasus yang ditangani orang tuaku, mereka terlibat banyak masalah, cuman karena kasusnya tidak diangkat aja, jadi masih bebas sekarang”


“truss kenapa orang tua lo nggak mengangkat kasus mereka,?” tanya Tomy dengan polos.


“orang tua gue itu pengacara, bukan jaksa, menyelesaikan kasus ya sesuai dengan permintaan klien” jelas Arby.


“lakuin aja By, lo urus mereka, yang penting suara mereka untuk Arya” ucap Ari dengan tegas.


Arya menarik nafas dalam, ketika masalah diselesaikan secara bersama seperti itu, akan banyak solusi terbaik yang ditemukan.


“ya udah, berarti mereka bagian gue, termasuk juga Hardi corp” gumam Arbi dengan santai.

__ADS_1


__ADS_2