
“ayah,, aku,,,” ucap Rita yang sejenak terhenti.
“Ta, aku nggak maksa kamu Ta, dari awal kita bertemu sudah ku bilangkan, aku sama sekali ti,,,”
“aku mau balik Arya, kerjaanku masih banyak di kantor” jawab Rita dengan singkat memotong kalimat Arya, ia kemudian berlalu pergi keluar dari ruangan itu.
“maaf paman, aku nggak bisa lama-lama disini, aku hanya butuh arahan paman untuk ini semua, aku dengar anak orang itu akan tunangan dengan anaknya om Hardi, aku rasa jika itu terjadi, aku akan kehilangan semuanya, terutama nama baik ayahku” ucap Arya dengan nada pelan dan terdengar sangat serius di setiap katanya.
“tuan muda bisa temui Rahman dan Haris, mereka akan membantu tuan untuk ini semua, maaf tuan, saya tidak bisa membantu banyak, saya tidak bisa berbuat apa-apa di dalam sini” ucap sekretaris Arjun menunduk lemah di depan Arya.
“nggak apa-apa paman, arahan paman sudah sangat membantu saya, saya harus segera menyusul Rita, saya pamit dulu paman” ucap Arya kemudian bangkit, ia memberi hormat kepada orang kepercayaan ayahnya itu dengan kepala, dan kemudian ia segera berjalan keluar dari ruangan itu.
“tuan muda, boleh saya meminta sesuatu” ucap sekretaris Arjun yang membuat Arya menghentikan langkahnya, ia kemudian membalikkan badannya dan melihat ke arah sekretaris Arjun yang juga sudah berdiri di dekat meja mereka berbicara tadi.
“minta apa paman?” tanya Arya dengan singkat.
“tolong jaga Rita tuan, apa pun yang terjadi, Rita harus tetap di sisi tuan, tolong jaga keselamatannya tuan, dia anak saya satu-satunya”
“paman teman tenang saja, saya tidak akan melibatkan Rita lebih jauh dari ini, saya akan menjaganya dan memastikam keselamatannya dari masalah ini” jawab Arya menyakinkan sekretaris Arjun.
“terima kasih tuan, jasa tuan dan tuan Gibran tidak akan pernah bisa kami balas” ucap sekretaris Arjun dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
“paman jangan berbicara seperti itu, saya sudah lelah karena kalimat seperti itu terus dikatakan oleh Rita kepada saya, saya pamit dulu paman, mungkin dalam waktu dekat saya akan kesini lagi menemui paman” ucap Arya kemudian ia segera keluar dari ruangan itu.
Sementara sekretaris Arjun melihat kepergian Arya dengan mata yang basah, ‘terima kasih Tuhan, tuan muda kami telah kembali, Rahman, Haris, perjuangan kita akan menemui titik kemenangan’ batinnya.
__ADS_1
*
Arya berjalan cepat menuju tempat parkir mobil, disana ia melihat Rita setengah berdiri dengan bersandar di kap depan mobil biru yang hampir 4 tahun ini menemaninya kemana pun Rita pergi. Mobil yang ia beli dengan uang hasil keringatnya sendiri saat menjadi sekretaris Arya.
Satu kebanggaan baginya saat menjadi sekretaris Arya dan membeli mobil dengan uangnya sendiri, ia mampu membuktikan kepada ayah dan ibunya saat itu bahwa dia bukanlah anak manja lagi, melainkan seorang perempuan mandiri yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri.
Namun hari itu, ada sisi lain dari kehidupannya yang tidak ingin ia miliki, ‘Arya, kamu bukan Indra kan, kenapa ini sangat mengecewakan sekali bagiku?, apa aku kecewa kalau dia selama ini tidak mengatakan siapa dirinya kepadaku?, atau aku benar-benar tidak terima kalau dia adalah anak itu, anak dari orang yang membuat keluargaku hancur seperti sekarang, yang membuat ayah seperti ini sekarang, hebat sekali mereka, ayahnya membuat ayahku di penjara dan ibuku menderita di rumah sakit, lalu anaknya datang membantu ibuku, dan mungkin juga akan bisa membebaskan ayahku, apa Arya ingin menebus dosa ayahnya kepada keluargaku’ batin Rita pada dirinya sendiri.
Arya kemudian mendekat pada Rita,, ia melihat pipi Rita yang masih basah, entah apa yang dipikirkan gadis itu, Arya sama sekali tidak memahaminya, ia hanya memilih mengalah dengan keadaan di diri Rita, ia tidak ingin memaksakan apa pun kepada Rita.
“kamu masih marah kepadaku?,” ucap Arya dengan datar, namun Rita hanya diam tidak menanggapinya, Arya kemudian mengeluarkan kunci mobil Rita dari saku jasnya dan memberikannya pada Rita.
“bawalah mobilmu, aku rasa kamu butuh waktu sendiri, aku bisa kembali ke kantor sendiri” ucap Arya lagi dengan nada datar.
Rita menarik nafas panjang dan mengusap pipi basahnya setelah mendengar ucapan Arya, “ayo, kita harus balik ke kantor” ucap Rita dengan singkat, ia kemudian berjalan ke pintu tempat ia turun dari mobil itu tadi. Arya kemudian mengikuti keinginan Rita, ia mengendarai mobil itu untuk kembali ke kantornya.
“ntahlah, mungkin aku hanya kecewa, kecewa karena aku tidak mengenali siapa dirimu, dan kecewa karena kamu adalah anak itu”jawab Rita tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan yang ia lihat.
“aku juga tidak mengenalimu dari awal Ta, padahal dulu ketika kecil, kita pernah bertemu beberapa kali, tapi tadi sepertinya ayahmu langsung mengenali siapa aku” jawab Arya dengan datar.
‘jika paman Arjun mengenaliku, apa itu berarti masih ada orang lain yang mengenaliku, siapa? apa kakek sudah mengenaliku juga?, atau ibu?, apa ibu juga curiga padaku hingga bertanya tentang ayah malam itu,’ batin Arya lagi.
“dulu kita tidak terlalu dekat Arya, jadi tidak mungkin aku bisa mengenali sejak awal kita bertemu, lagi pula berita kematianmu sudah lama beredar, pengakuanmu ini benar-benar tidak bisa dipercaya” jawab Rita masih dengan menatap kosong kea rah yang sama.
“tapi ayahmu langsung percaya dengan pengakuanku tadi, apa itu berarti dia sudah mengenaliku dari melihat wajahku saja?” tanya Arya.
__ADS_1
“aku tidak tahu, mungkin karena ayah dekat denganmu, jadi dia bisa langsung mengenalimu” ucap Rita dengan datar, ia tidak ingin situasi di mobil itu tidak nyaman dan memilih meladeni pembicaraan Arya.
“mungkin kamu benar, Anjani sepertinya juga mengenaliku” jawab Arya.
“Anjani?” tanya Rita dengan bingung.
“Dia temanku sejak kecil, tapi sekarang dia sudah menjadi musuhku, dia akan segera tunangan dengan anak CEO yang telah menghancurkan keluarga kita”
Rita menelan salivanya mendengar ucapan Arya, dia mencoba mengingat kembali sikap Anjani yang dari awal memang seperti ini ingin memiliki waktu lebih bersama Arya.
“apa dia menyukaimu Arya?” tanya Rita dengan nada bingungnya.
“nggaklah, dia sudah tahu aku sudah menikah, mana mungkin dia mau merusak rumah tangga orang, ini hanya rasa persahabatan Ta, aku bahkan juga ingin mengulang masa -masa persahabatan kami ketika bocah dulu, tapi sekarang situasinya berbeda, aku punya istri yang harus ku jaga hatinya, dan aku punya kesadaran ada dosa yang harus ku jauhi, dia akan lebih baik berteman dengan Mila daripada denganku” jelas Arya.
“lalu kenapa kamu kecewa kalau aku adalah anak itu?” tanya Arya masih dengan nada datar.
“aku,,, aku masih mengingat anak itu Arya, dia temanku di masa kecilku dulu, dan karena dia dan ayahnya, ayahku dan keluargaku hancur seperti sekarang” ucap Rita meneteskan kembali air matanya.
“maaf Rita, aku tidak tahu apa salahku dan juga salah ayahku, aku sama sekali tidak tahu apa-apa, saat aku dan Tomy berangkat ke Jakarta, aku dibayangi-bayangi rasa takut itu setiap saat, aku hanya ingin bersembunyi menyelamatkan diriku dari incaran orang itu Rita,” jelas Arya, suasana mereka sesaat hening, Rita masih berupaya mencerna keadaaan, ia sudah lama bersama Arya, dia tahu seperti apa karakter Arya, dan dalam situasi itu ia tahu Arya mengalah darinya.
“mungkin aku yang terlalu egois atas tuduhan ini, jika yang harus disalahkan, maka yang salah adalah ayahku sendiri, dia yang ingin setia pada ayahmu sehingga dia difitnah seperti ini, ayahmu tidak salah apa-apa, dia sudah tenang di alam sana, dan juga kamu tidak salah apa-apa, aku saja yang masih sulit menerima kalau kamu adalah Indra” jawab Rita dengan datar, dadanya serasa sesak mengakui jika ayahnya lah yang membuat keluarganya hancur seperti itu.
“jangan salahkan ayahmu juga Rita, dia mungkin sama sepertimu yang memilih bekerja untukku karena alasan yang sama, jika ada yang harus disalahkan, maka salahkan Aliando, CEO Adinata sekarang, dia yang menghancurkan keluarga kita”
“dia berkuasa Arya, orang yang berkuasa seperti dia tidak bisa disalahkan, karena bagi dia kebohongan bisa jadi kebenaran dan begitu sebaliknya” ucap Rita dengan masih memandang ke arah jalanan di sisinya.
__ADS_1
“dan itu yang harus aku luruskan Ta, aku tidak akan memaksamu untuk membantu ku, aku masih punya Tomy, Ari, dan Arbi yang selalu ada disisiku, aku tidak ingin membuatmu dalam keadaan yang berbahaya”