Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Surat Peringatan


__ADS_3

Rahman berjalan cepat menuju mobilnya diikuti asistennya dan juga 4 pengawalnya, semua orang yang ia temui memberi hormat kepadanya. Melihat para pengawal yang memakai pin Adinata group, semua orang di perusahaan itu sudah tahu bahwa orang yang dikawal adalah orang penting. Rahman sejenak memejamkan matanya dan menarik nafas panjang dan kemudian mengeluarkannya tanpa menghentikan langkahnya.


'aku sudah memainkan peranku dengan baik disini, aku sudah berhasil memainkan emosi Hardi tadi dan memaksanya untuk terus berada di sisi Aliando, itu jauh lebih baik daripada dia menerima opsi pemberhentian Aliando nanti. Rapat pemegang saham ini hanya testing the water, menguji seberapa setianya para pemegang saham pada Tuan Gibran, posisi Hardi di sisi mereka akan sedikit menguntungkan kami untuk mengukur kekuatan kami untuk langkah catur selanjutnya' batin Rahman.


Rahman kemudian masuk kedalam mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh para pengawalnya, ia kemudian duduk sembari melihat layar ponselnya. ‘kenapa anak pak Sarman belum menghubungiku juga?, apa dia belum mendapatkan sampel anak itu?. Anak pak Sarman pasti pernah bertemu dengan tuan Muda waktu tuan muda kecil, ia cukup dekat dengan keluarga tuan Gibran dan Nona Naina, dia pasti tidak sembarangan mengira anak itu adalah tuan muda, aku harus mendapatkan sampel anak itu sebelum berangkat menemui pemilik saham di luar negeri, aku sendiri tidak tahu bagaimana nasibku nanti setelah pulang dari luar negeri,’ batin Rahman di dalam mobil yang membawanya pergi dari gedung perkantoran Hardi corp.


Sementara Anjani melihat kepergian 2 mobil itu dengan berdiri di jendela ruang kerjanya, pintu ruangannya lalu terbuka tanpa ada yang mengetuk lebih dahulu, Anjani membiarkannya tanpa menoleh karena ia sudah tahu bahwa yang masuk adalah ayahnya, karena hanya ayahnya yang masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


“apa yang kamu lihat Anjani?” tanya Hardi yang heran memperhatikan anaknya melihat panjang ke arah luar jendela.


“apa yang mereka katakan pada Ayah?, kenapa harus dirahasiakan segala? kenapa para pengawalnya itu harus menjaga pintu ruangan ayah hingga siapa pun tidak yang tahu tentang pembicaraan kalian?” tanya Anjani dengan nada datar yang masih memperhatikan 2 mobil itu yang mulai menghilang di jalanan.


Hardi sejenak menarik nafas panjang untuk mulai berbicara dengan Anjani. “apa kamu sudah siap untuk pertunanganmu?” tanya Hardi yang membuat nafas Anjani tercekat ke tenggorokannya, dadanya serasa sesak seketika.


“ayah bilang aku boleh menolaknya kan?” tanya Anjani sembari menatap wajah ayahnya yang sudah mulai keriput itu. “itu dulu Anjani, sekarang kamu harus menerimanya dan kalian akan segera bertunangan, kosongkan waktumu nanti malam, kita akan membicarakan ini dengan ibumu di rumah” ucap Hadi sembari meninggalkan putrinya itu, ia kemudian menghubungi sekretarisnya untuk segera mengatur pertemuannya dengan Aliando.


Sementara Anjani semakin merasa sesak di dadanya, air matanya menetes tanpa bisa ia tahan, ia kemudian mengusap air mata itu dan menghirup nafas panjang menenangkan pikirannya, ia tidak boleh tampak sedih di rapat dewan direksi perusahaan itu yang akan segera di mulai.

__ADS_1


'kenapa ayah selalu seperti ini kepadaku'


*


Mila tengah duduk diam terpaku pada surat yang saat ini ada di hadapannya, dadanya terasa sedikit sesak membaca surat itu, entah mengapa jalan yang ia lalui terasa benar-benar terjal saat ini, masalah terasa bertubi-tubi menerpa hubungannya dengan Arya yang baru membaik itu, ia sekarang harus berkutat dengan masalah yang telah ia buat sendiri. Syifa yang baru saja menyelesaikan kelasnya sudah memasuki ruang guru, ia menangkap mata murung Mila disana, ia sejenak melepas nafas panjang dan segera menghampiri Mila.


“apa ada masalah Mil?” tanya Syifa sembari duduk di kursi yang ada di samping meja Mila.


“aku bingung harus gimana sekarang kak” jawab Mila dengan nada lemahnya, “bingung kenapa?” tanya Syifa dengan penasaran, namun Mila tidak menjawabnya sama sekali dan tetap memperhatikan surat yang ada di depannya. Syifa kemudian mengambil surat itu dan membacanya.


“ini surat peringatan dari kepala sekolah Mil?” tanya Syifa tak percaya dengan yang Ia baca.


“ini nggak adil Mil, masalah pakaianmu itu adalah hakmu, nggak seharusnya kepala sekolah mengatur hak mu dalam menjalankan keyakinan kamu” ucap Syifa yang marah melihat surat peringatan itu.


“mau gimana lagi kak, wali murid banyak yang nggak nyaman jika aku tetap mengajar menggunakan cadar ini” jawab Mila yang semakin bertambah lesu.


“lalu kamu mau gimana Mil?, kamu mau membuka cadarmu kembali?” tanya Syifa yang menatap dalam ke arah mata Mila yang tampak sendu.

__ADS_1


“aku harus bicara dulu dengan suamiku kak, aku tidak bisa memutuskannya sendiri” jawab Mila dengan nada pelan. Hatinya berkalut takut saat ini, ‘ini semua memang salahku, aku yang telah berniat salah dengan cadar ini, dan sekarang aku harus menerima resikonya, apa Arya mau memaafkan ku lagi jika dia tahu aku memakai cadar ini untuk menolaknya dulu, Arya kamu akan tetap menggenggam tanganku dengan erat walaupun kamu sudah tahu semuanya kan?, bukankah tadi kamu bilang pintu maafmu selalu terbuka untukku’ batin Mila.


“Mil, hatimu sendiri ingin apa? ingin berhenti atau mengikuti isi surat ini untuk membuka cadarmu itu?” tanya Syifa yang masih penasaran dengan keinginan Mila sebenarnya.


“kepala sekolah sudah sering mengingatkanku kak, banyak wali murid mengadu anak mereka takut kepadaku, isu ini juga sudah sampai ke Dinas juga, jadi bukan kepala sekolah yang tidak mendukungku memakai cadar, ia memintaku untuk mempertimbangkan profesiku sebagai guru dengan cadar ini” jelas Mila tentang keadaannya pada Syifa.


“Apa itu berarti kamu memilih mundur?’ tanya Syifa yang mendesak Mila untuk menjawab keputusan gadis itu.


“aku hanya ingin suamiku kak, nggak ada yang lain” jawab Mila dengan lesu yang membuat Syifa mengernyitkan dahinya.


“jadi suamimu sampai sekarang tidak tahu masalah cadar yang kamu pakai itu?” tanya Syifa yang memang sudah mengetahui alasan Mila memakai cadar setelah Mila menceritakan semua masalahnya dengan Arya.


“apa menurut kakak suamiku akan marah jika tahu semuanya?” tanya Mila yang menatap takut ke arah Syifa.


‘jika dia tahu pasti dia marah Mil, kamu memakai cadar itu agar dia tidak menikahimu, dan jika dia tahu semuanya dia akan benar-benar kecewa sama kamu karena kamu tidak hanya mempermainkannya tetapi juga perintah agama ini’ batin Syifa yang menatap Mila dengan prihatin.


“kak, menurut kakak aku harus jujur sama suamiku, truss aku buka cadar ini dan tetap mengajar atau aku berbohong saja sama suamiku dan mengundurkan diri dengan memberi alasan lain kepadanya?” tanya Mila yang menatap penuh harap kepada Syifa atas pertanyaannya.

__ADS_1


Sementara Syifa menelan salivanya atas pertanyaan Mila, kedua pilihan yang disampaikan Mila sama sekali tidak ada yang baik dimatanya.


__ADS_2