Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Tidak Akan Salah Mengenali


__ADS_3

Di pagi yang cerah hari itu, gedung perkantoran mewah milik Adinata group dihebohkan oleh permintaan dewan komisaris untuk segera melaporkan beberapa kegiatan perusahaan yang dinilai bermasalah, kegiatan yang bahkan telah dilaksanakan lebih dari 20 tahun lalu pun, tetap diminta segera dilaporkan. Semua direksi perusahaan dibuat kalang kabut untuk memenuhi permintaan dewan komisaris itu. Karena tidak sedikit dokumen yang harus disiapkan, belum lagi mereka juga harus kembali membuka dokumen-dokumen lama yang telah menumpuk diantara banyaknya dokumen lainnya.


Aliando yang tengah duduk di kursi kerjanya sontak berdiri setelah mendengar kabar itu dari sekretarisnya. Ia mencengkram keras dokumen yang ia pegang. Berkali-kali ia mengusap kasar wajahnya mendengar kabar itu, ‘apa mereka tahu apa yang aku kerjakan selama ini?, ini akan jauh lebih susah dari yang aku bayangkan’ batinnya dengan menghirup nafas kasar.


“apa kamu sudah menentukan jadwal pertemuanku dengan Hardi?” tanya Aliando pada sekretarisnya itu.


“sudah tuan, pertemuan anda dan tuan Hardi akan dilakukan minggu depan, karena tidak ada waktu yang cocok untuk pertemuan minggu ini, jadwal anda dan tuan Hardi banyak yang berbenturan” jelas sekretaris itu dengan sopan dan kepala menunduk.


“Sial,, pertunangan ini harus segera dilakukan untuk memberikan peringatan keras pada dewan komisaris itu, aku akan buat para pemegang saham tidak percaya lagi pada mereka” ucap Aliando menahan rasa marahnya, ia kemudian duduk dan mengusap kembali wajahnya dengan kasar, dan kemudian menyuruh sekretarisnya itu pergi dengan perintah tangannya.


Di sisi lain gedung itu, Arnes sedang duduk di loby lantai 8, ia menggenggam ponselnya sembari membuka media sosialnya, ia asyik melihat berbagai foto teman perempuannya, termasuk foto-foto Anjani di akun media sosial gadis itu. Ketika ia mulai merasa bosan dengan itu semua, ia kemudian teringat pada Mila, sosok gadis yang sampai detik itu masih membuatnya penasaran merasakan kehangatan tubuh gadis itu. Obsesinya sangat sulit terbendung, gadis yang coba ia taklukan bertahun-tahun itu sekarang malah menjauh, ditambah lagi status gadis itu yang sudah menikah dengan laki-laki lain, seakan membuat jiwa kelaki-lakiannya tertantang untuk memiliki perempuan itu.


Ia mencari akun media sosial Mila dengan akun media sosial yang baru ia buat, berkali-kali ia cari akun itu, tapi akun Mila tidak ditemukan sama sekali. ‘apa dia mengubah id akunnya, atau dia menghapus akun media sosialnya, ahh sial’ batin Arnes mengeram kesal.


“Mil, kamu benar-benar menantangku sekarang, apa kamu pikir kamu bisa lari dariku seperti ini, sudah cukup aku bersabar selama ini, sekarang aku akan mendapatkanmu dengan caraku sendiri” gumam Arnes dengan pelan meresapi rasa marah dan penasarannya pada sosok Mila.


Arnes melepas nafas panjang ketika melihat sosok Haris yang sedang berjalan di dekat Loby itu, ia kemudian berdiri dan memberi hormat pada Haris. “pagi om” sapa Arnes dengan sopan. “pagi Arnes, tumben kamu disini, bukankah seharusnya kamu di perusahaanmu sekarang?” tanya Haris yang heran dengan kehadiran Arnes disana.


Arnes kemudian mendekat pada Haris sembari tersenyum, “ada beberapa hal yang harus ku urus disini om, aku ingin mengembangkan beberapa konsep produk baru di perusahaanku, aku ingin menemui beberapa direksi hari ini untuk meminta dukungan mereka agar mendapat modal tambahan untuk produk baru tersebut” jelas Arnes dengan sopan.

__ADS_1


“kamu benar-benar serius bekerja, aku senang padamu, kamu mewarisi sifat pantang menyerah ayahmu” ucap Haris dengan tersenyum dan memukul pelan bahu Arnes.


“aku lihat beberapa orang cukup sibuk hari ini, termasuk om juga, kenapa om sampai ada di lantai ini?, aku sangat jarang melihat om ada disini” tanya Arnes dengan penasaran.


“dewan komisaris meminta beberapa laporan lama, jadi tadi aku mencari beberapa laporan di ruang kerjaku yang lama, untung penggantiku di ruang itu masih menyimpannya” ucap Haris sembari melihat setumpuk dokumen yang ia pegang. “dewan komisaris meminta laporan lama?” tanya Arnes dengan bingung.


Haris kemudian tersenyum, “om harus mengurus ini dulu Arnes, dokumen ini harus segera om kirim ke anggota dewan komisaris” ucap Haris sembari menginggalkan Arnes yang menatap punggungnya dengan wajah penuh tanda tanya. ‘apa ini awal dari perang yang ayah katakan waktu itu?, atau perangnya benar-benar telah dimulai?’ batinnya.


Haris segera masuk lift untuk naik ke ruangannya, ketika ia sudah sampai di lantai 15 tempat ruangannya berada, ia langsung berjalan menuju ruangannya sembari menyapa beberapa pegawai yang ia temui, tepat saat ia membuka pintu, seorang pengawal langsung ikut masuk bersamanya.


“maaf tuan, saya mengganggu tuan sepagi ini” ucap pengawal itu sembari memberi hormat kepada Haris.


"laporkan” pintah Haris lagi.


“Namanya Arya ramadana, dia menantu di keluarga Rakarsa, dia bekerja sebagai pimpinan di perusahaan kontruksi 3A Sahabat, sekaligus menjadi pimpinan semua arsitektur disana, dia memiliki seorang saudara bernama Tomy radesmara, mereka berasal dari Jawa tengah tuan, ayahnya petani dan ibunya ibu rumah tangga, selain itu tidak ada hal menarik lagi dari anak itu” jelas pengawal itu pada Haris.


“menantu keluarga Rakarsa, apa keluarga itu masih bisa dipercayai lagi setelah dulu mereka mengkhianati sekretaris Arjun?, apa orang itu benar-benar ada di pihak kita” ucap Haris penuh kebimbangan sembari mengingat lagi wajah bu Saniah.


“aku heran kenapa Rahman masih percaya pada mereka” lanjut Haris lagi.

__ADS_1


“apa kamu bisa mendapatkan sampel anak itu tanpa ketahuan?” ucap Haris lagi dengan nada tanyanya.


“bisa tuan, saya akan kirimkan orang saya untuk itu” ucap pengawal itu.


“apa kamu sudah menghitung semua pengawal perusahaan ini yang bisa dipercaya?” tanya Haris penuh penekanan.


“Dari perhitungan saya mungkin ada 15 orang, jumlahnya sangat sedikit dari total semua pengawal yang jumlahnya sekitar 80 orang, kami pasti akan kalah jika harus beradu fisik”


“15 orang, apa mereka semua dapat dipercaya?” selidik Haris lagi.


“saya tidak yakin tuan, karena salah satu dari mereka ada yang sudah mengkhianati tuan Rahman” jawab pengawal itu lagi.


Haris menarik nafas panjang sejenak. “apa aku bisa percaya kepadamu?” tanya Haris lagi.


Mata pengawal itu langsung berkaca-kaca mendengar pertanyaan Haris, ia seolah tidak terima dengan pertanyaan yang diajukan untuknya itu.


“nyawa anak dan istri saya diselamatkan oleh tuan Gibran, dan sekarang saya siap memberikan nyawa saya untuk anak tuan Gibran, tuan muda saya” ucap pengawal itu dengan nada tegasnya melawan perasaannya yang terasa sesak karena pertanyaan Haris.


“aku percaya kepadamu, sekarang tambah anggotamu dengan orang baru, dapatkan segera sampel menantu keluarga Rakarsa itu, satu lagi, berikan sampel itu pada dokter Reny di RS Adinata, katakan pada dia itu sampel khusus, tidak ada yang boleh tahu selain dia,” perintah Haris sembari berdiri untuk kembali ke mejanya.

__ADS_1


“baik tuan, saya juga merasakan apa yang anda rasakan, mata anak itu dan juga raut wajahnya, saya tidak akan pernah salah mengenali tuan muda saya” ucap pengawal itu sembari memberi hormat dengan kepala dan kemudian pergi dari ruangan Haris, sementara Haris menatap punggung pengawal itu dengan menelan saliva. ‘semua keburukan Aliando akan terbuka, semoga dewan komisaris bisa membuka semua dana yang ia selundupkan ke rekening di luar negeri itu’ batinnya.


__ADS_2