Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Syukuran


__ADS_3

2 hari Setelah kepulangan Arbi dari London, perusahaan 3A Sahabat mengadakan acara syukuran atas kemenangan mereka di Bian corp.


Beberapa panti asuhan di undang ke perusahaan 3A Sahabat, loby perusahaan di sulap sebagai tempat acara. Sisi kanan tersedia berbagai hidangan makanan, meja -meja bulat tersusun rapi di bagian tengah hingga sisi kiri.


Semua pekerjaan hari itu diliburkan, kecuali para petugas di lapangan yang tetap bekerja seperti biasa. Acara tersebut dibuat sederhana dengan tetap menampilkan kesan elegan.


Mila tengah berdiri di dekat meja hidangan makanan, membantu setiap anak yang kesulitan mengambil makanan yang mereka inginkan.


Suasana seperti itu membuatnya merasa sangat bahagia, ia merasa kembali ke suasana sekolah yang telah ia tinggalkan, ‘kak Syifa gimana kabarnya ya, apa perutnya sudah membesar, rasanya cukup lama aku tidak bertemu dengannya’ batin Mila. Ia dengan ramah melayani setiap anak yang membutuhkan bantuannya.


Disisi lain Abel dan Vanessa juga sibuk bermain dengan para anak-anak yatim di meja, mereka berbagi berbagai cerita menghibur para anak-anak tersebut.


Di sudut lain terlihat dokter Karina dengan beberapa tim dokternya, merekalah yang biasa melakukan cek kesehatan tahunan perusahaan tersebut. Mereka tengah duduk bersama Rita dan beberapa staff perusahaan termasuk Harun.


Di sudut dekat sofa loby biasa berada, 4 sahabat tengah duduk mengulang masa -masa kebersamaan mereka yang jarang terjadi.


Arbi yang baru pulang dari London tampak tersenyum melihat para anak-anak yatim yang riang menikmati suasana acara mereka. Ada beberapa balon yang menghiasi ruangan itu, ada juga beberapa wahana bermain sederhana untuk para anak-anak yang berusia dibawah 6 tahun.


Acara yang diiringi musik islami itu terasa hangat, membuat senyum Arbi merekah melihatnya.


“apa perempuan dari Hardi corp tidak diundang?” tanya Arbi bernada santai dengan masih memandang ke arah anak-anak disana.


“Anjani?” tanya Ari dengan datar, ia melihat mata Arbi yang ceria melihat para anak yatim, ada kepuasan tersendiri dihati Arbi ketika acara mereka bisa membingkai senyum para anak yatim itu.


“iya” jawab Arbi dengan singkat.


“dia klien kita, mana mungkin kita mengundangnya, ini kan acara buat internal kita aja” jawab Arya, ia merasa sahabatnya itu memiliki maksud lain atas pertanyaannya.


Arbi kemudian melirik ke arah Ari, Arya dan Tomy, “sayang sekali dia tidak datang" gumamnya.


"kita belum tanda tangan kontrak kedua dengan mereka kan?, kalau udah fix desainnya, biar gue yang urus kesana, mana tahu gue bisa ketemu dia lagi” seloroh Arbi dengan santai.


“jangan macam-macam Bi, lo sudah punya Rika” ucap Arya dengan kesal, ia tidak ingin Anjani menjadi mainan Arbi.


Arbi menarik nafas kasar, ia kemudian melirik ke arah Ari, “besok gue kasih dokumen tentang direktur Cipta rakarsa sama lo Ri, lo urus segera, biar perempuan itu bisa gue buang, jadi gue bisa ngerebut tunangan orang” ucap Arbi dengan santai tanpa beban.

__ADS_1


Ari tersenyum mendengar ucapan Arbi, “maksud lo apa?” tanya Arya yang bingung pada Ari dan Arbi.


“gue udah bilang Arbi punya rencana lain untuk ipar lo itu, Rika itu alatnya, perempuan itu salah satu mainan ipar lo” jelas Ari dengan singkat.


Arya dan Tomy menyipitkan mata mereka mendengar ucapan Ari, Tomy yang tidak tahu betul masalah Vanessa, akhirnya ia tahu masalah apa yang dihadapi perempuan itu, selama ini ia hanya menduga -duga dan tak mau bertanya karena takut perempuan itu akan tersinggung.


“apa kak Vanessa tahu soal itu Arya?” tanya Tomy pada Arya.


“Tahulah, suaminya itu benar-benar keterlaluan kepadanya” gumam Arya yang kembali teringat pada hasil tes kesuburan Irman.


Ari tersenyum mendengar ucapan Arya, “berarti lo setuju jika ipar lo itu kami hancurkan?, Bian corp memang nggak bisa ngehancurin dia, tapi apa yang gue temuin ini, dia nggak bisa lari lagi” ucap Arbi dengan sinis.


“terserah kalian, itu kan kesepakatan kita, yang penting rumah tangga gue aman, itu sudah cukup buat gue, jangan buat hubungan gue sama istri gue kacau, hanya itu” ucap Arya dengan kesal, ia merasa heran kenapa dendam begitu menggerogoti hati banyak orang.


“Jika Mila percaya sama lo, semuanya bakalan aman Arya, ini ujian kepercayaan sebenarnya untuk istri lo itu” ucap Ari sembari melihat ke arah Mila yang masih asyik dan tampak ceria melayani para anak-anak di dekat meja hidangan makanan.


Arya menarik nafas kasar, ia juga berpikir panjang. Ia merasa sebagai seorang adik, Mila tidak akan sanggup melihat abangnya dihancurkan oleh orang lain, sekalipun abangnya itu berlaku buruk kepadanya.


“Kamu dan Karina baik-baik aja kan Ri?, aku lihat dari tadi kalian tidak teguran sama sekali” ucap Tomy yang mengalihkan pembicaraan mereka, ia tidak ingin Arya merasa terbebani dengan masalah Irman, namun ia juga tidak sadar, jika apa yang ia tanyakan juga malah membuat Ari menjadi tidak nyaman.


“lo ada masalah dengan Karina Ri” tanya Arbi. Ari kemudian berdiri, “lihat aja nanti gimana keputusan Karina, dia milih gue atau nggak” Ari kemudian berjalan ke arah salah satu meja.


Arya mengusap kasar rambutnya, ‘ahh, kenapa Karina tidak bisa ngelihat ketulusan Ari sih’ rutunya.


Sementara dokter Karina melihat datar ke arah Ari yang tengah berjalan pelan dari kursinya. Perasaan dokter itu sama sekali tidak bisa diartikan dari tatapan dan wajahnya, entah apa yang ia rasakan melihat Ari saat itu.


Ari kemudian duduk di meja yang sama dengan Vanessa yang tengah bermain dengan anak-anak disana. Gadis itu tampak begitu ceria menghibur anak -anak yatim.


Vanessa mengajak para anak -anak di mejanya berbicara sembari menggendong seorang anak di pangkuannya.


Kehadiran Ari disana disambut Vanessa dengan wajah pias, entah mengapa ia masih merasa takut melihat laki -laki yang pernah menariknya dengan kasar itu.


“kenapa wajahmu seperti itu?, apa kamu masih marah padaku?” ucap Ari dengan datar, anak -anak disana seketika ikut pias melihat Ari.


“nggak kok, aku cuma heran saja kenapa kamu duduk disini” jawab Vanessa yang tengah mengendong anak usia 4 tahun di pangkuannya. “aku minta maaf untuk hari itu, aku rasa kamu masih marah kepadaku”

__ADS_1


“aku nggak biasa dekat dengan anak-anak, jadi aku merasa canggung aja jika harus semeja dengan anak -anak tanpa ada orang dewasa lain” lanjut Ari.


“aku nggak mungkin duduk di meja Abel, atau di dekat Mila, bisa marah laki mereka” lanjut Ari lagi.


“aku juga ada suami kali” ucap Vanessa yang mencoba bercanda pada Ari.


“emang dia peduli dengan kamu? emang dia bakalan marah jika aku duduk disini denganmu?” tanya Ari dengan datar.


Vanessa tersentak, ia hanya ingin sedikit bercanda mengucapkan itu, tapi kata -kata Ari malah memukulnya dengan telak.


"kamu yang ngundang anak yatim disini, tapi kamu tidak bisa akrab dengan mereka” ucap Vanessa yang mengalihkan pembicaraan mereka.


“lanjutkan saja kegiatan kalian, aku hanya menumpang duduk disini” ucap Ari yang mencoba tersenyum melihat anak-anak yang masih pias kepadanya.


Tingkah Ari itu seketika saja membuat Vanessa tertawa tipis, kecanggungan terlihat jelas dari senyuman laki-laki itu. Vanessa kemudian kembali mengajak anak-anak di meja itu untuk kembali berbicara.


Sementara itu, di meja Arya, Tomy dan Arbi mereka terlibat perbincangan ringan seputar kunjungan Arbi ke Vietnam dan London.


“jika memungkinkan, aku ingin kamu yang ke Vietnam Arya, untuk mempresentasikan rancanganmu nanti, dan juga bulan depan akan ada perwakilan Bian corp ke Jakarta, mereka akan melihat presentasi desainmu sekaligus meninjau lokasi projek ini di Kalimantan” ucap Arbi dengan santai, matanya kini kembali melihat ke arah anak -anak yang tengah bermain.


“liat aja nanti Bi, jika memungkinkan, gue nggak masalah, asalkan istri gue dan kak Vanessa bisa aman, kalau perlu mereka ikut gue kesana”


"gue tinggal dulu ya," Arya kemudian bangkit untuk mendekati Mila, sudah dari tadi ia melihat Mila, ia menahan untuk tidak menghampiri istrinya yang tampak ceria itu. Tapi ia benar -benar tak bisa menahan keinginannya untuk ada di dekat istrinya.


Sementara Tomy tersenyum pada Arbi, “kamu gabung aja sama Rika Bi, mumpung kalian masih pacaran, aku mau gabung sama Abel dulu” ucap Tomy yang kemudian juga berdiri meninggalkan Arbi menuju tempat Abel.


Arbi menarik nafas kasar, ia melihat ke arah Rika yang duduk bersama para staffnya, ‘ah sial, dulu Tomy sama Arya selalu sama gue saat acara kayak gini, sekarang udah punya pasangan, malah gue di tinggal’ batinnya dengan kesal.


Arbi masih sendiri disana melihat ke arah anak -anak yang masih menikmati hidangan dan hiburan mereka. Hingga akhirnya Rika sendiri yang menghampirinya, hal yang membuat Arbi seketika benar -benar kesal dengan keadaan.


Di sisi lain, Arya membantu Mila yang sedari tadi selalu semangat menemani anak -anak disana, setelah selesai dengan hidangan menyajikan hidangan, Mila kemudian bergabung disalah satu meja bersama anak -anak yatim, “kamu menyukai ini Mil?” tanya Arya yang melihat senyuman Mila dari balik cadarnya, ia merangkul bahu Mila yang duduk disampingnya.


“ini mengingatkanku dengan sekolah Arya” gumam Mila, ia kemudain menghibur anak -anak dengan kisah dongeng yang biasa ia ceritakan di depan kelas.


Sementara Arya menatap istrinya dengan tersenyum, ia tak menyangka jika hal sesederhana itu mampu membuat istrinya seceria hari itu.

__ADS_1


__ADS_2