Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Bersikap Lebih Tenang


__ADS_3

Mila hanya bisa uring-uringan di ranjangnya, pikirannya bekerja memikirkan setiap apa yang ia dengar dan yang ia ingat. Ia ingat peringatan dari abangnya tentang Arnes, begitu pun ucapan ari tentang Arnes, serta cerita Abel tentang Arnes yang ingin melecehkan sahabatnya itu, pikirannya juga berusaha mencerna ucapan Arnes tadi siang.


'bang Arnes membenarkan tuduhan bang Irman jika ia harus menikah untuk menjadi CEO di perusahaan ayahnya, apa itu berarti tuduhan bahwa bang Arnes hanya menginginkan tubuhku juga benar, lalu gimana dengan ucapan bang Arnes tentang menjaga cinta tadi, tentang ujian cinta kami, apa itu omong kosong belaka?, tapi aku dapat melihat mata tulus bang Arnes saat mengatakan itu semua’ batin Mila yang benar-benar galau dengan keadaannya.


‘apa benar kata ibu dulu, aku terlalu naif menilai bang Arnes dan keluarganya adalah orang baik, apa benar juga kata kak Vanessa tadi, aku sudah terperdaya oleh kalimat-kalimat bang Arnes’ batinnya lagi, ia berusaha menarik kebenaran dari apa yang ia alami.


‘tapi kenapa hatiku seolah tidak mempercayai semua tuduhan itu, kenapa aku selalu merasa bang Arnes selalu benar disini’ batinnya lagi.


Di saat Mila tengah memikirkan itu semua. tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, dan ia dapat melihat Arya telah berdiri disana.


Mila langsung berdiri dan menghampiri Arya demgan tersenyum seolah tidak ada apa-apa. "kamu sudah pulang?" ucapnya, ia kemudian ingin meraih tangan Arya untuk menciumnya.


Namun Arya hanya diam tak menjawabnya, ia hanya menatap datar melihat ke arah Mila, dan saat Mila ingin meraih tangannya ia langsung menepisnya.


Arya melangkah masuk tanpa memperdulikan Mila, ia langsung membuka lemari pakaian dan mengambil baju untuk segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Sementara Mila hanya bisa meringis sedih mendapati perlakuan Arya yang demikian kepadanya, hatinya terasa sakit atas itu semua, bahkan jauh lebih terasa sakit dari pada rasa sakit saat Arya meninggalkannyA berhari-hari ‘Arya pasti sudah tahu semuanya’ batinnya yang sudah terasa sesak.


Air matanya menetes membasahi pipinya, hanya rasa sesal yang saat ini ada di hatinya. Rasa takut kembali merasuki dirinya, rasa takut Arya akan pergi lagi meninggalkannya. Padahal hubungan mereka baru sehari membaik. ‘ya Tuhan, jangan biarkan dia pergi dariku, aku mohon’ batin Mila.

__ADS_1


15 menit Arya membersihkan dirinya dan mendinginkan hatinya yang masih terasa sakit mendengar Mila bertemu dengan Arnes.


Sebagai suami ia tetap saja akan merasa demikian walaupun sudah tahu hal itu pasti akan terjadi ketika ia memblokir nomor Arnes di ponsel Mila, ia kemudian segera keluar dari kamar mandi, dan ketika ia membuka pintu kamar mandi itu, ia mendapati Mila tengah berdiri tepat di depan pintu kamar mandi itu dengan mata dan pipi yang sudah basah.


'astaga,,, apa aku sudah berlebihan pada Mila?’ batin Arya yang merasa bersalah melihat air mata Mila yang membasahi wajah cantik gadis itu.


“minggir, aku ingin lewat” ucap Arya datar pada Mila.


“maaf” ucap Mila pelan dengan nada bersalahnya, Arya kemudian mendorong pelan tubuh Mila agar ia bisa keluar dari kamar mandi, Arya kemudian melangkah ke arah jendela kamar Mila, dan melihat ke arah taman kecil yang ada tampak dari jendela itu.


Mila kemudian mengikuti langkah Arya dan berdiri di sisi Arya yang tengah menatap keluar jendela. “maaf Arya, dia yang datang menemuiku, aku sama sekali tidak ada niat bertemu denganya” ucap Mila menunduk di sisi Arya.


“kamu sudah melihat betapa hancurnya aku kemarin karena takut kehilanganmu, aku tidak akan berani menemuinya lagi Arya, aku tidak siap untuk kembali menderita karena kehilanganmu, dan aku juga tidak akan ingin melakukan kesalahan itu lagi, aku tidak ingin menyakitimu lagi Arya” ucap Mila pelan dengan suara yang masih gemetar, pipinya masih basah, dan setitik demi setitik air matanya masih terus menetes. Dadanya masih sesak karena takut Arya marah dan benar-benar pergi darinya.


“Mil, apa saja yang kamu bicarakan dengan dia tadi?” tanya Arya datar kepada Mila.


“dia bertanya kenapa aku memblokir nomornya, dia juga bertanya kenapa aku selalu menolak untuk menemuinya, sejak kejadian di ruanganmu itu, aku tidak pernah menemuinya lagi Arya” jawab Mila pelan, ia sejenak berpikir, tidak mungkin semua isi pembicaraannya tadi ia sampaikan pada Arya, karena itu bisa saja membuat Arya salah paham kepadanya.


“hanya itu Mil?” tanya Arya lagi yang membuat Mila pias seketika, ‘ya Tuhan, sekarang aku harus gimana, tidak mungkin aku menceritakan semuanya’ batin Mila.

__ADS_1


Arya menatap dalam ke arah Mila yang masih tertunduk di depannya, “Mil” gumam Arya pelan, Mila kemudian mengangkat kepalanya, dan ia dapat melihat Arya yang tengah menatapnya dengan lembut, sedikit rasa lega muncul dihatinya karena tatapan itu.


Mila membuka mulutnya untuk mulai berbicara, namun nafasnya terasa tercekat, ia tak sanggup mengatakan semuanya, karena ia tahu itu akan menyakiti perasaan Arya. Ia menatap dalam mata tulus Arya yang menatap lembut ke dalam matanya, hatinya sungguh tak sanggup menyakiti hati dari mata yang tulus itu, kepalanya menggeleng pada Arya, ia langsung memeluk Arya dan menumpahkan tangis disana.


“aku tidak bisa mengatakannya Arya, aku tak mau menyakiti hatimu lagi” ucap Mila di dalam tangisnya di pelukkan Arya.


Arya melepas nafas panjang mendengar itu semua, dari jawaban Mila ia sudah dapat meraba seperti apa pembicaraan Mila dan Arnes. Arya mengusap bahu Mila yang sedang memeluknya untuk memberikan ketenangan pada Istrinya itu.


Arya tidak sama lagi seperti sebelumnya yang terbawa dengan perasaan cintanya pada Mila, tidak ada lagi cinta disana, yang ada hanyalah logikanya yang berpikir jernih dan dapat memahami seperti apa posisi Mila saat ini. Hingga ia dapat bersikap tenang pada Mila yang telah terbawa perasaannya.


*


Mila memejamkan matanya dan ia merentangkan tangannya selebar mungkin, ia membiarkan semilir angin yang berhembus sejuk masuk ke setiap celah kecil pakaiannya yang serba tertutup. Kesejukkan yang ia nikmati di dalam pejaman matanya itu benar-benar mampu menguatkan perasaannya.


Sejuknya angin itu mampu memberinya kelegaan, setidakknya ia bisa bernafas lega karena Arya sama sekali tidak marah kepadanya, walaupun ia dapat merasakan kekecewaan Arya, namun setidakknya saat ini Arya tidak pergi lagi darinya.


Arya berjalan mendekati Mila, ia berdiri tepat disamping Mila dan memperhatikan suasana kota yang tampak indah di sore hari. Arya menghembus nafas panjang sembari melihat ke arah Mila, ia menatap mata Mila yang terpejam, ‘aku tidak bisa memaksanya untuk melupakan laki-laki itu, tapi setidaknya aku tidak merasakan luka yang dalam seperti sebelumnya, aku sudah bisa bersikap tenang menghadapi semua sikapnya yang terus membuat ku sakit, ternyata benar, ketika aku mencintainya, perasaanku yang akan membimbingku untuk bersikap, sehingga aku lari darinya untuk mencari ketenangan, dan ketika sekarang aku tidak mencintainya lagi, aku bisa berdiri tegak di sebelahnya, menerima dan memaafkan setiap kelakuannya’. batin Arya.


“kenapa kamu membawaku kesini Arya?” tanya Mila dengan pelan dan tetap menikmati sejuknya hembusan angin.

__ADS_1


“aku pernah bilangkan, ini tempatku untuk menenang diri, aku membawamu kesini agar kamu bisa lebih tenang dan berpikir jernih, aku harap pikiranmu bisa bersih dari kata-kata yang disampaikan laki-laki itu kepadamu tadi”


__ADS_2