
Malam itu cuaca sangat dingin, hujan turun dengan deras menerpa ibukota, di RS Adinata, Dokter Reny sedang sibuk memprint sebuah kertas, setelah print kertas itu selesai, ia kemudian memprint lagi kertas dengan isi yang sama sebagai arsipnya.
Ketika kertas kedua tengah di print, dokter Reny menatap nanar ke arah kertas pertama yang ia print, hingga detik itu ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
‘ya Tuhan, aku sudah melakukan tes sampel ini 3 kali, dan hasilnya benar -benar cocok dengan dna tuan Gibran, aku benar -benar tidak pernah berpikir jika tuan muda masih hidup sampai sekarang, tuan Gibran, maafkan aku yang telah berpikir buruk tentang dirimu, sekarang aku percaya tuduhan Rahman pada Aliando itu benar adanya’ batinnya.
Kertas kedua pun selesai di print oleh dokter Reny, ia kemudian segera menyimpan kertas kedua itu di tempat yang cukup aman menurut penilaiannya. “sekarang aku punya kewajiban besar untuk melindungi rahasia ini, Arya Ramadana adalah tuan Indra, ini tidak diragukan lagi, hasil tes ini benar -benar membuktikannya, semoga saja Haris berhasil dengan segala rencana yang ia siapkan” gumam dokter Reny.
Dokter Reny kemudian mengeluarkan ponselnya untuk memberi tahu Haris kabar baik itu, kabar yang membuat Haris seketika menangis terharu, “ya Tuhan Ren, jadi benar dia tuan muda kita, pengorbanan Rahman, dan sekretaris Arjun akan segera terbayar dengan kehadiran tuan muda kita Ren.” ucap Haris setelah mendengar kabar itu.
Di tengah tangis harunya, terselip senyum bahagia dari Haris, perjuangan 22 tahun akan segera dimenangkan dengan kehadiran tuan mudanya kembali ke Adinata group.
Sementara itu, di ruangan pak Sarman, bu Saniah sudah berbaring di sofa tempat ia biasa tidur, walau sudah hitungan bulan ia tidur di sofa itu, ia tetap semangat melakukannya, meninggalkan kasur empuknya di apartemennya. Baginya, hal itu jauh lebih baik daripada ia harus tidur di apartemen sembari menahan hasrat biologisnya yang masih sering menuntut pelampiasan.
Bagi bu Saniah yang pernah ada di dunia gelap itu, menahan hasrat tersebut sangatlah sulit jika harus berada di kamar apartemennya seorang diri. Ia bisa saja kehilangan akal karena hasrat nafsu yang menutupi akal sehatnya, keadaan yang jauh berbeda jika ia berada di sisi pak Sarman. Di saat ia ada di sisi ayahnya, ia masih bisa mengendalikan hasratnya itu.
“kamu sudah tidur Saniah?” tanya pak Sarman dengan nada pelannya pada bu Saniah.
“belum yah, ayah perlu sesuatu?” tanya bu Saniah yang kemudian membuka matanya yang telah ia pejamkan.
__ADS_1
“kamu sudah terlalu lama tidur di sofa itu, jika kamu perlu istirahat di apartemenmu, kamu bisa pulang jika kamu mau, jangan khawatirkan aku disini” ucap pak Sarman melepas nafas lelahnya.
Bu Saniah kemudian duduk dan melihat ke arah wajah ayahnya, “aku lebih baik disini yah, dari pada harus di apartemen” jawab bu Saniah dengan datar.
“kamu masih marah karena aku menyuruh Ardian membawa perusahaan ke Malaysia?” tanya pak Sarman pada bu Saniah.
“Ardian kan sudah bilang akan memberikan waktu untuk Irman sebulan ini, aku takut Irman akan berbuat buruk pada Mila untuk mencari dana bagi perusahaan” ucap bu Saniah dengan nada khawatirnya.
pak Sarman mengusap kasar wajahnya, seberapa pun ia berkuasa, dengan keadaan terbaring lemah di atas ranjang, tetap saja ia tidak bisa berbuat banyak.
Rasa khawatir dengan keselamatan Mila juga ada di dalam hatinya saat itu. “aku hanya bisa percaya jika Arya akan menjaga Mila dengan baik, Arya, Mila dan Vanessa sepertinya sudah meninggalkan rumah untuk menghindar dari Irman” jelas pak Sarman pada bu Saniah.
“maksud ayah?” tanya bu Saniah dengan nada bingungnya.
Bu Saniah menelan salivanya mendengar ucapan pak Sarman itu, Ia masih dapat berpikir jernih, Arya adalah suami Mila, hanya pada Arya ia bisa mempercayai keselamatan Mila, sekali pun di sisi lain ia masih kecewa dengan kenyataan perusahaan Arya adalah dalang dari kegagalan Irman. 'aku hanya bisa berharap kalau dia akan menjaga Mila sebaik mungkin' batinnya
Mengingat wajah Arya kembali, pikiran bu Saniah kembali berputar pada momen saat ia melihat Arya menziarahi makam Gibran dan Naina.
“yah, apa menurut ayah Arya mirip seseorang?” tanya bu Saniah, sudah lama ia ingin membuktikan tes dna Arya, namun sampai detik itu ia masih kebingungan cara mendapatkan sampel Arya dan mencari Haris setelah kartu nama Haris dirobek hingga hancur oleh Mila.
__ADS_1
“sejak aku melihatnya 3 tahun lalu di Cilacap, aku sudah melihat Gibran di wajahnya, aku sudah lihat Naina di matanya, ditambah lagi sikap baik Arya padaku dulu, aku jadi ingat seperti apa Gibran membantu bisnis abangmu di Malaysia dan bisnis suami kakakmu di Sulawesi, aku merasa Arya jauh lebih baik dan lebih tulus, dia membantuku sekalipun itu pertama kali ia melihatku” jelas Pak Sarman pada bu Saniah.
Bu Saniah menarik nafas dalam mendengar ucapan pak Sarman, ‘benarkah Arya mirip sama bang Gibran dan kak Naina, kenapa aku tidak menyadari hal itu?, apa karena aku tidak begitu dekat sama mereka sepertia ayah dekat sama mereka’ batin bu Saniah mencoba mengingat lagi wajah Gibran, Naina dan Arya.
“kalau ayah merasa Arya mirip dengan mereka, kenapa ayah tidak mencoba mencocokkan dna Arya dengan bang Gibran di RS Adinata, bukannya kata Rahman RS Adinata masih menyimpan dna bang Gibran” tanya bu Saniah penuh selidik.
“aku bertemu Arya 3 tahun lalu di Cilacap, saat itu aku ingin melakukan itu, tapi dia langsung pergi dari rumah sakit tanpa menunggu Mila dan Vanessa datang menjemputku waktu itu, jika dia menunggu, mungkin aku bisa mendapatkan sampelnya,” jelas pak Sarman yang berhenti sejenak.
“lalu sekitar setahun yang lalu, dia menolongku lagi ketika kecelakaan, dan saat itu aku mendapatkan nomor ponselnya, aku menyelidiki latar belakang Arya melalui orangku yang melacak keberadaannya melalui nomor ponsel itu, Arya punya saudara, dan orang tuanya tinggal di jawa tengah, aku rasa aku hanya bermimpi jika Indra cucuku itu masih hidup, latar belakang keluarga Arya hanya petani, hidup mereka juga cukup sederhana, aku sadar, Indra dan Arya adalah orang yang berbeda, anak sekecil Indra tidak mungkin bisa lari sampai ke jawa tengah” jelas pak Sarman melepas nafas kasarnya.
Bu Saniah memejamkan matanya mendengar penjelasan pak Sarman, ‘ya Tuhan, kenapa ini kembali membebaniku, apa Arya adalah Indra?, apa dia juga berbohong malam itu kepadaku?,’ batin bu Saniah penuh spekulasi tentang Arya.
“surat undangan untuk rapat pemegang saham sudah ku terima tadi sore saat kamu pulang, rapatnya 13 hari lagi, aku sudah memberikan perusahaan pada Ardian, hanya saham itu yang bisa ku berikan untuk menjamin hidupmu dan Vanessa Saniah, Mila sudah ada Arya yang bisa menjaganya” ucap pak Sarman yang mengingat lagi usia tuanya, ia mungkin tidak bisa lama lagi melihat dunia, sekalipun kondisinya sudah terasa jauh lebih baik, tapi dokter tetap saja tidak mengizinkannya untuk pulang.
“ayah, aku rasa aku tidak bisa datang ke rapat itu” ucap bu Saniha dengan hati-hati.
“jangan mengada-ngada Saniah, hanya saham itu yang bisa kuberikan padamu, jika saham itu kuberikan kepada abangmu atau kakakmu, siapa yang akan menanggung semua kebutuhanmu nanti” ucap pak Sarman yang tidak senang dengan ucapan bu Saniah.
‘ya Tuhan, aku tidak ingat lagi siapa saja yang pernah tidur denganku dulu, bagaimana jika diantara mereka hadir disana, nama keluarga Rakarsa benar -benar akan hancur dan hina karena diriku, tidak hanya aku dan ayah, tapi juga abang dan suami kakaku juga akan terkena malu atas ulahku dulu’ batin bu Saniah menahan pilu, Ia sama sekali tidak memikirkan hal seperti itu saat memuaskan hasratnya bersama banyak laki-laki di masa mudanya.
__ADS_1
Bu Saniah juga sadar jika banyak pemegang saham di Adinata group yang menjadi rekan bisnis abang dan suami kakaknya, karena memang Gibran lah yang memberi banyak bantuan bagi bisnis keluarga abang dan kakaknya itu.
“jangan berpikir hal lain lagi Saniah, pergilah kesana, pastikan saham itu berada di pihak Rahman,”