
Rapat pemegang saham Adinata group berlangsung alot, agenda pertama membahas saham Gibran adinata yang di pegang perusahaan. Hasil rapat tersebut memutuskan saham tetap di pegang oleh perusahaan sampai ada keputusan yang menyatakan kematian Indra adinata. Hal tersebut diputuskan sebagai bentuk penghargaan mereka bagi keluarga Adinata yang telah mendirikan dan membesarkan group Adinata sebesar itu.
Keputusan yang sama-sama disyukuri oleh Aliando dan juga Haris, karena dengan demikian, saham tersebut tidak akan lepas ke orang lain.
Agenda kedua membahas posisi Aliando di posisi CEO, setelah agenda rapat tersebut juga berjalan alot, akhirnya keputusan diputuskan melalu mekanisme voting.
Haris, Pak Abdul, Pak Budi, dan Pak Ilham dengan seksama memperhatikan setiap pemegang saham yang memberikan vote mereka.
Mereka menilai mulai dari gesture tubuh mereka, cara mereka bersikap dan berbicara, hingga mimik wajah dan cara mereka melihat. Semua dinilai satu persatu, memastikan siapa yang benar-benar bisa dipercaya.
Orang yang tampak abu-abu posisinya, langsung dibuang dari list mereka, hanya orang-orang yang diyakini benar-benar berada di pihak mereka yang akan mereka libatkan untuk rencana selanjutnya.
Dari total vote yang terkumpul, Aliando menang mutlak hingga mengumpulkan 68% dari total vote para pemegang saham, hasil yang disambut rasa bahagia oleh keluarga Aliando dan juga Hardi. Kemenangan telah ada di tangan mereka.
“selamat Arnes, ayahmu memenangkan ini dengan mutlak” ucap Hardi kepada Arnes yang duduk di sebelahnya.
“terima kasih om, mulai sekarang ayah tidak perlu mengkhawatirkan lagi jika anjing Gibran akan menggigitnya, mereka sudah kalah mutlak disini” ucap Arnes dengan sinis.
Seorang laki-laki tiba-tiba saja mendekati dan menyentuh lengan Arnes, Arnes dan Hardi seketika melihat ke arah laki-laki itu.
“selamat bro, ayah lo menang disini” ucap Irman kepada Arnes
“thanks bro” ucap Arnes sembari menyambut salam dari Irman sembari berdiri “lo masih ingatkan dengan tawaran lo?” ucap Irman dengan pelan pada Arnes.
“tentu, gue akan segera urus itu buat lo,” ucap Arnes dengan tersenyum, ia kemudian berbisik ke telinga Irman, “gue masih menunggu lo mengantar Mila buat gue, kalau gue sudah jadi CEO, gue mau Mila jadi milik gue, dan lo akan gue kasih banyak projek besar di Adinata group” ucapnya dengan berbisik.
“lo mau Mila jadi simpanann lo?” ucap Irman yang juga berbisik.
“gue mau kok nikahin dia, walaupun cuma siri, gue tahu dia masih cinta sama gue, yang perlu lo lakuin bawa dia ke gue, biar gue yang merayunya, suaminya itu menyuruh orang untuk menjaganya, jadi gue tidak bisa mendekati Mila sampai sekarang” bisik Arnes lagi.
__ADS_1
Irman sejenak berpikir, hati nuraninya bertarung dengan nafsunya, ‘gue hancur seperti ini karena Arya, buat apa lagi gue mikirin pernikahan mereka, yang penting Arya hancur, perusahaanya hancur, dan Mila bisa bahagia bersatu dengan Arnes walau statusnya menjadi yang kedua’ pikir Irman.
“akan gue lakuin, tapi imbalannya perusahaan suami Mila, 3A Sahabat harus lo ancurin sampai rata jadi debu” bisik Irman dengan sinis, ia kemudian meninggalkan Arnes untuk kembali ke kursinya, untuk bersiap-siap istirahat sejenak dari agenda rapat tersebut.
Agenda rapat akan dilanjutkan malam hari untuk memilih direksi baru pengganti posisi Rahman, arena pertarungan yang akan dihadapi oleh Rena.
“siapa dia Nes?” tanya Hardi setelah Arnes kembali duduk di kursinya.
“teman om, keluarga Rakarsa” jawab Arnes dengan datar.
“wah, kalian sepertinya punya bisnis yang serius, sampai berbisik segala” ucap Hardi sembari bercanda,
“biasa om, anak muda, sama lah seperti om muda dulu, ambisi kami sangat masih besar dalam berbisnis” jawab Arnes dengan santai.
Hardi hanya memandang datar pada jawab Arnes. Ia mencoba menilai apa yang mungkin dipikirkan calon menantunya itu.
'keluarga Rakarsa, Sarman benar-benar pengkhianat’ gumam pak Abdul menahan rasa marahnya.
Mereka sudah tahu dengan sosok Irman, karena pak Sarman sendiri yang menawarkan Irman untuk menyelamatkan sekretaris Arjun melalui perjodohan dengan Rita. Namun ternyata, keluarga Rakasa berkhianat di detik -detik krusial bagi sekretaris Arjun saat itu.
Pengkhianatan yang pada Akhirnya membuat sekretaris Arjun masuk ke penjara tanpa bisa ditolong dengan cara apa pun.
Dan sore itu mereka kembali melihat pengkhianatan yang sama, Irman berada di pihak Aliando, musuh yang menyingkirkan teman mereka ke luar negeri, memenjarakan sekeretaris Arjun, dan juga membuat Rahman dalam keadaan koma di rumah sakit.
Pengkhianatan yang membuat darah pak Abdul, Haris, Pak Budi, dan Pak Ilham mendidih melihat keakraban Arnes dan Irman.
‘bagaimana mungkin tuan muda menikah dengan keturunan pengkhianat itu' batin mereka berempat yang kurang lebih sama.
Haris mengusap kasar wajahnya, rasa marahnya seakan memuncak ke ubun-ubun menerima kenyataan itu, ‘Rahman sudah berhasil membuka wajah keluarga itu, aku akan pastikan tuan muda membuang perempuan keluarga pengkhianat itu dari kehidupannya, tempat mereka hanyalah keranjang sampah bukan keluarga baik dan terhormat seperti keluarga Adinata’ batin Haris menahan amarah, ia mengeluarkan ponselnya untuk menelfon Tomy, sementara pak Abdul mengeluarkan ponselnya menelfon Ari.
__ADS_1
*
Ari bergegas menuju ruangan Arya setelah mendapat telfon dari pak Abdul, ia segera turun menuju lantai empat dengan darah yang seakan mendidih. Suara penuh emosional dari pak Abdul yang menelfonnya ikut membuat darahnya memanas ‘dari awal aku tidak pernah percaya dengan keluarga itu, kalau bukan karena Arya, aku sudah buang perempuan itu dari awal aku tahu dia adik pria brengsek itu’.
Ari berjalan dengan memasang wajah marah, matanya tampak tajam seakan ingin membunuh, pengkhianatan dalam dunia bisnis adalah kesalahan fatal, kepercayaan tidak akan pernah mudah diberikan lagi pada mereka yang berkhianat. Apa lagi di dunia bisnis yang licin seperti belut, siapa pun tidak bisa dipercaya seutuhnya, apa lagi bagi mereka yang pernah berkhianat.
Rita yang melihat wajah marah Ari berpikir panjang, baru saja Tomy masuk dengan wajah khawatir, dan sekarag Ari juga datang dengan wajah penuh amarah, ‘ada masalah apa ini?, apa ini masalah rapat itu’ batin Rita.
Rita kemudian ikut masuk ke dalam ruangan Arya setelah Ari masuk beberapa saat. Rita melihat Ari berjalan cepat ke arah Arya, Tomy dan Mila.
Laki-laki itu melotot tajam pada Mila, “dari awal gue udah nggak percaya sama perempuan ini” ucapnya dengan dingin sembari menunjuk ke arah Mila.
Arya berdiri dan menarik tangan Ari yang menunjuk ke arah istrinya, “maksud lo apa nunjuk-nunjuk istri gue kayak gini” ucap Arya yang marah dengan sikap Ari.
“lo belum tahu, keluarga Rakarsa ada dipihak musuh kita, mereka berada di pihak CEO itu, mereka mengkhianati orang -orang yang setia pada ayah lo” ucap Ari menahan marah.
Mata Mila membulat tak percaya, ia berdiri dan kemudian menggeleng, “nggak,, nggak mungkin” gumamnya, tubuhnya terasa lemas, lututnya melemah, kabar yang dibawa Ari tidak bisa ia percaya sedikitp pun, ibu dan kakeknya jelas-jelas sangat menghormati Gibran Adinata.
“pak Abdul nelfon gue, dia lihat diri keluarga pengkhianat ini berada di pihak orang yang mengincar lo Arya” ucap Ari kembali menunjuk Mila yang mulai melemah.
Mata Mila berkaca-kaca perasaannya yang sensitif beberapa hari terakhir seketika membuat hatinya hancur tak karuan.
“lo bohong Ri” ucap Arya kembali menurunkan tangan Ari yang menunjuk ke arah Mila.
“om Haris juga menelfonku Arya, dia mengatakan hal yang sama, dia ingin,,,” ucap Tomy yang sejenak terhenti, ia masih ingat cerita pengkhianatan keluarga Rakarsa yang diceritakan Haris tadi saat menelfonnya. Tapi ia juga tak tega pada Arya dan Mila yang ia lihat saling mencintai.
"Jauhi keluarga Rakarsa Arya, dulu mereka mengkhianati ayah Rita hingga Rita hancur, dan sekarang mereka kembali berkhianat, kita tidak akan tahu siapa yang akan hancur karena pengkhianatan ini," ucap Ari dengan dingin
Mila menggeleng lagi tidak terima dengan ucapan Ari, cadarnya sudah basah, tubuhnya melemah, lututnya lemas tak sanggup lagi menahan tubuhnya, pandangannya terasa gelap, Mila seketika roboh dan Arya segera menyambut tubuhnya istrinya itu sebelum jatuh ke lantai.
__ADS_1