
“tapi kamu benar-benar menggodaku sejak aku melihatmu ketika pulang dari mendaki itu Mil, aku benar-benar tak percaya masih bisa menahan ini sampai sekarang” lanjut Arya dengan penuh arti pada Mila,
“lalu kenapa kamu tidak melakukannya jika kamu memang sudah tergoda oleh tubuhku?” tanya Mila masih penuh selidik.
“aku tidak mau menyakiti hatimu Mil, kamu pasti ingin memberikannya pada orang yang kamu cintai” jawab Arya lagi yang membuat sesuatu kembali menusuk hati Mila, entah mengapa dosa itu masih memberinya rasa bersalah seperti itu, ‘dia menahan haknya yang seharusnya ia dapat dariku hanya untuk menjaga perasaanku, ya Tuhan, aku tidak tahu lagi seperti apa dia sebenarnya, aku benar-benar tidak tahu seluas apa hatinya itu’ batin Mila dengan mata berkaca-kaca menatap Arya.
“jika kamu belum mau melakukannya untukku, aku tidak akan memaksamu Mil” ucap Arya sembari membaringkan tubuhnya membelakangi Mila.
Mila tidak tahu harus berkata apa lagi, ingin sekali ia mengatakan bahwa ia juga menginginkannya sekarang, ia ingin seutuhnya Arya menjadi miliknya dan ia seutuhnya menjadi milik Arya, ia ingin sekali ada kehadiran malaikat kecil disisinya dengan Arya yang akan semakin memperkuat ikatan mereka.
“Arya, aku sudah siap untuk semua ini sejak hari dimana kamu kembali dari gunung waktu itu, sejak itu aku tahu aku takkan sanggup kehilanganmu dari sisiku, dan sekarang aku juga sudah siap untuk semuanya dengan segenap perasaanku untukmu” ucap Mila dengan hati-hati pada Arya.
Arya kemudian kembali bangkit dan menatap Mila, ia serasa mendapat angin surga mendengar itu semua, hasratnya yang membumbung tinggi dari sejak melihat Mila ketika bangun tadi pagi serasa akan segera tersalurkan.
Ia menatap dalam mata Mila yang juga sedang menatap dalam ke arah matanya, “kamu serius Mil?” tanya Arya pelan yang dijawab Mila dengan anggukan, ia benar-benar malu untuk berkata iya saat itu.
“kamu tidak terpaksa melakukan ini kan?” tanya Arya lagi, karena selama ini ia mendengar nada keterpaksaan saat menggoda Mila tentang hal itu.
“aku istrimu dan aku tidak akan pernah terpaksa melayani suamiku” jawab Mila dengan menundukkan kepalanya menahan malu.
“boleh aku membuka jilbabmu Mil?” tanya Arya dengan hati-hati, ada perasaan canggung yang ia rasakan saat itu.
“lakukan apa yang ingin kamu lakukan, aku milikmu seutuhnya Arya” ucap Mila dengan wajahnya yang memerah, Arya kemudian menarik jilbab sorong Mila hingga jilbab itu terlepas dari kepala Mila, Arya menarik dagu Mila agar wajah Mila terlihat olehnya dan ia berkali-kali menelan salivanya melihat wajah cantik itu, ia kemudian mengalihkan pandangannya, seolah matanya tak sanggup melihat kecantikan istrinya sendiri.
“Kenapa Arya ?” tanya Mila yang heran dengan sikap Arya yang memalingkan wajah dari dirinya. ‘astaga, kenapa aku sebodoh ini sih menghadapi perempuan’ kesal Arya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Arya kemudian menoleh lagi pada Mila, dan ia segera mengecup lembut kening Mila dengan dalam, kecupan yang terasa sampai ke hati Mila dan ke hatinya.
Setelah melepas kecupannya di kening Mila, Arya kembali memandang wajah Mila, entah mengapa ia harus kembali berkali-kali menelan salivanya dengan pemandangan itu, ia mencoba menyentuh wajah Mila dengan tangan kanannya dan tiba-tiba saja tangannya bergetar hebat yang membuat Mila seketika tertawa tipis melihatnya.
“kamu menertawaiku” ucap Arya dengan menahan rasa gugupnya.
“kamu kenapa sampai segitunya menyentuhku, kenapa tanganmu bergetar seperti ini” Jawab Mila dengan mengenggam tangan Arya yang bergetar itu.
Arya memalingkan wajahnya dari Mila, ia benar-benar belum siap melihat wajah cantik itu, apa lagi harus melihat tubuh Mila tanpa pakaian, ia benar-benar menjaga kesucian matanya.
“Arya,, kenapa?” Tanya Mila yang bingung pada sikap Arya. “ini yang pertama untuk kita Mil, mungkin lebih baik kita sholat dulu sebelum memulainya” ucap Arya pelan dan kemudian bangkit menuju kamar mandi. Dan kali ini Mila yang harus menelan saliva melihat sikap Arya.
'apa dia benar-benar tidak pernah dekat dengan perempuan sebelum ini, kenapa tangannya sampai bergetar begitu untuk memulainya, ya Tuhan, apa aku ini benar-benar kotor untuknya, aku dulu bahkan tanpa ada rasa takut dan malu ketika bang Arnes menyentuh kulitku’ batin Mila dengan perasaan tak menentu.
Mila kemudian menatap dalam ke arah mata Arya yang sudah duduk di sisinya, tatapan membuat laki-laki itu gemetar seketika. “Arya, kamu,,” , ”cepatlah Mil, kita harus sholat dulu sebelum memulainya, aku butuh tambahan kekuatan dari Tuhan agar tidak mengecewakanmu malam ini” ucap Arya yang memalingkan wajahnya dari Mila.
Mila kemudian segera bangkit dan masuk ke kamar mandi, sementara Arya memukul kasur sekeras-kerasnya untuk melampiaskan perasaan kesal pada dirinya sendiri, ‘kenapa aku sebodoh ini sih menghadapi perempuan?, aku benar-benar malu di hadapan Mila tadi,’ kesal Arya berkali-kali.
Sementara Mila di dalam kamar mandi sedang menatap dalam wajahnya di cermin, ia tidak bisa lagi menahan sedihnya, baginya Arya terlalu sempurna untuknya, ‘aku dulu membiarkan bang Arnes menyentuh kulitku, aku bahkan sampai termakan bujuk rayunya ketika ia memintaku melakukan itu, tapi sekarang kenapa aku mendapatkan suami sesempurna ini, ia masih suci, sedangkan aku sekotor ini, apa hanya keperawanan ini satu-satunya kesucianku yang bisa aku berikan untuknya’ batin Mila menahan sedih kecewa pada dirinya sendiri.
Suara pintu kamar mandi terdengar diketuk 2 kali, dan Mila segera mengusap air matanya, “bentar lagi Arya" teriaknya agar suaranya terdengar sampai keluar. Ia segera mengambil wudhu dan keluar dari kamar mandi.
“kenapa lama sekali Mil?” tanya Arya tanpa menatap wajah Mila ketika gadis itu keluar dari pintu kamar mandi, wajahnya benar-benar tegang saat itu, padahal sebelumnya ia memeluk Mila, mencium bibir Mila dan kening Mila tanpa ada perasaan seperti itu sama sekali.
“aku buang air dulu tadi” jawab Mila berbohong, lalu Arya bangkit dari ranjang menuju tempat sholat mereka, sementara Mila menatap wajah tegang Arya dengan perasaan penuh bersalahnya. Mereka kemudian sholat 2 rakaat sebelum memulai ibadah suami istri mereka.
__ADS_1
*
Arya menatap dalam punggung Mila yang putih bersih tanpa cacat itu, ia dapat melepas nafas lega sekarang karena berhasil membuat istrinya itu mendesah mencapai puncak hubungan mereka di malam pertama mereka.
“Mil, terima kasih kamu sudah memberikan kesucianmu kepadaku” ucap Arya pelan, namun Mila tak menanggapi ucapannya itu yang membuat Arya khawatir seketika
“Mil, apa aku mengecewakanmu tadi?” tanya Arya dengan pelan pada Mila, Mila kembali harus menelan salivanya mendengar ucapan Arya
“Arya, bisakah kamu tidak berkata dan bersikap yang membuatku merasa sekotor ini” jawab Mila dengan nada dinginnya, ia benar-benar merasa lelah menahan rasa itu dihatinya.
"maksudmu apa Mil?, apa aku sudah mengotorimu atas ini semua?” tanya Arya yang kecewa atas ucapan Mila, padahal gadis itu sendiri yang memberinya izin untuk melakukan itu.
“Arya apa kamu mau menerimaku yang tidak sesuci yang kamu harapakan, aku mungkin jauh lebih kotor dari yang kamu bayangkan” ucap Mila lagi.
Arya sedikit bernafas lega karena Mila tidak merasa kotor setelah ia menyentuh gadis itu, Arya kemudian mengangkat tangannya untuk menyentuh bahu putih Mila, tapi entah mengapa tangan itu masih gemetar yang membuatnya kesal dengan dirinya sendiri. ‘astaga, ini tangan kenapa sih’
“jangan bahas itu lagi Mil, semuanya sudah selesai saat kita membicarakannya di bukit,”
“tapi Arya,,,, aku”,,, “kamu nggak capek ya membahas itu, aku aja capek mendengarnya” ucap Arya dengan kesal pada Mila. ‘mengapa dia selalu membahas masalah itu sih, apa dia tidak tahu seberapa gugupnya aku menghadapi dia malam ini’ batin Arya.
Mila kemudian membalikkan badannya dan memeluk Arya. Hal itu seketika membuat Arya kembali menelan salivanya karena hasratnya kembali muncul ketika merasakan bagian tubuh Mila tanpa benang menyentuh tubuhnya yang masih tanpa pakaian itu.
“terima kasih Arya, aku janji akan berusaha menjadi istri yang sempurna untukmu” ucap Mila dengan memeluk erat tubuh Arya, sementara laki-laki itu hanya bisa membeku menahan hasratnya yang kembali membutuhkan pelampiasan.
“Mil, apa kamu mau melakukannya lagi untukku?”
__ADS_1