Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Makna Keindahan Alam


__ADS_3

Setelah sholat magribh dan isya di masjid besar di kota itu, mereka kemudian makan malam berdua, dan kemudian malam itu mereka menghabiskan suasana malam di alun-alun kota, menikmati semangkuk eskrim merek ternama berdua, sepasang suami istri itu menikmati eskrim tersebut dengan sendok yang sama, mereka saling menyuapi tanpa peduli dengan orang-orang yang melihat iri kemesraan mereka.


Malam itu mata mereka dimanjakan oleh pemandangan air terjun menari di alun-laun kota itu.


“kamu benar-benar beda Arya, “ gumam Mila dengan menyuapi suaminya itu sesuap eskrim.


“beda apa lagi Mil?, aku masih manusia biasa kok” jawab Arya dengan menyuapi Mila eskrim itu dengan sendok yang sama, ia mengangkat sedikit cadar Mila untuk menyuapi istrinya eskrim.


“aku tak pernah membayangkan kita makan eskrim seperti ini dengan melihat air terjun menari ini” ucap Mila dengan santai.


“kalau orang biasa emangnya bakalan ngapain?” tanya Arya lagi.


“mungkin ngajak makan di café, atau restoran mewah, habis itu keliling naik mobil dan akhirnya di kamar hotel berdua” jawab Mila dengan santai.


“ya sama, nanti kita juga di kamar hotel berdua, aku udah booking hotelnya malah” jawab Arya dengan suara menggoda istrinya itu.


“iya kita kan nggak masalah, udah suami istrikan, yang aku maksud itu yang belum menikah, aku bersyukur aja hidupku tak sampai seperti itu dulu, padahal banyak teman kuliahku yang seperti itu, jalan keluar kota, truss akhirnya di kamar hotel berdua” ucap Mila dengan kembali menyuapi Arya.


“ngapain mikirin mereka Mil, dosanya kan dosa mereka, setiap orang punya cara memuaskan diri masing-masing, aku lebih senang seperti ini sama yang halal, kalau ada yang lebih puas sama yang haram, ya itu kan dosa mereka” ucap Arya dengan santai.


“ini seperti jebakan dunia ya Arya?, yang haram pasti lebih enak daripada yang halal,” ucap Mila menerima suapan Arya.


“emang kamu pernah nyoba apa?” tanya Arya dengan santai, dan langsung saja cubitan Mila berakhir di perutnya.

__ADS_1


“jangan bahas dosaku lagi Arya,” ucap Mila yang seakan menyiratkan rasa bersalahnya.


“maaf Mil, aku hanya bercanda, aku nggak maksud menyinggungmu Mil” ucap Arya mengusap pipi Mila dengan lembut.


“yang halal jauh lebih nikmat daripada yang haram Mil, jika kita tahu seperti apa mensyukurinya, akan banyak keberkahan di dalamnya, yang haram berlandaskan nafsu sedangkan yang halal berlandaskan ibadah, nafsu tidak akan ada batasnya, semakin kita menyelami dan menuruti nafsu, semakin banyak nafsu menemukan godaan baru untuk kita, sedangkan jika berlandaskan ibadah, kita akan merasakan hal yang jauh berbeda daripada kenikmatan dunia ini Mil, kenikmatan yang tidak hanya seperti puasnya nafsu, banyaknya harta dan tingginya jabatan, bahkan lebih dari itu,” jelas Arya yang sejenak terhenti.


“bagi mereka yang mendapatkan kenikmatan berlandaskan ibadah, mereka dapat merasakan ketenangan setiap saat, tidak ada nafsu yang memburu mereka, tidak ada harta yang menyilaukan mereka, tidak ada jabatan yang menggiurkan mereka, tidak ada perpisahan yang membuat mereka sedih berlebihan, tidak ada pertemuan yang membuat mereka senang berlebihan. Hati mereka selembut kapas, tidak ada dendam, iri dan dengki, tidak ada perkataan dan perbuatan mereka yang menyakiti orang lain, kehadiran mereka seperti cahaya di tengah gelap, dan kematian mereka disambut bahagia para bidadari surga” jelas Arya lagi.


“tapi kenyataannya tidak banyak orang seperti itu Arya, aku saja hampir jatuh karena nafsu itu, tapi kakek menemukanmu, orang yang menyelamatkanku” jawab Mila kembali menyuapi Arya.


“itu karena nafsu itu nyata Mil, dan keberkahan itu tidak terlihat nyata, godaan itu nyata, harta itu nyata, jabatan itu nyata terlihat, sedangkan ketenangan hati seperti yang aku bilang tadi, kehadirannya tersirat, ia ada tapi tidak terlihat, semuanya tergantung keimanan kita Mil, orang yang tergerus nafsu karena hati dan akal mereka hanya bisa melihat yang nyata, tapi orang beriman melihat dengan hati dan akal yang bisa melihat yang tidak nyata itu” jelas Arya lagi sembari kembali menyuapi Mila.


“kata bibi, iman itu rumit Arya, tidak hanya sekedar ibadah tapi juga hati” ucap Mila lagi.


“apa yang kamu lihat dengan hatimu?”


“Allah, ada sang Pencipta dibalik keindahan itu, semakin aku melihat keindahan alam, semakin aku sadar siapa diriku, aku hanyalah manusia kecil yang tidak ada apa -apanya, orang banyak memuji karyaku, desainku, tapi semakin aku melihat keindahan alam, aku tahu aku hanya makhluk yang tidak bisa apa -apa, bahkan meniru satu saja keindahan ciptaan Allah aku tidak bisa, dengan begitu aku jauh lebih bisa mengendalikan diriku agar tidak sombong dengan segala pujian orang, karena aku sadar, dari alam yang aku lihat, aku sama sekali tidak ada apa -apanya, banyak yang bisa melihat indahnya alam, tapi tidak banyak yang dapat melihat Allah di alam yang indah itu” jelas Arya lagi.


“kamu besar di pesantren ya, atau jangan-jangan kamu kuliah di kampus islam, atau jangan-jangan kamu seorang ustadz ya?” tanya Mila penuh selidik.


“aku hanya arsitek Mil, aku banyak belajar dari paman, dan aku hanya laki -laki biasa yang sekarang menjadi suamimu” ucap Arya mencubit pipi Mila dibalik cadarnya.


“Aku benar-benar akan banyak belajar darimu nanti, aku ingin memiliki hati yang sama seperti hatimu,” ucap Mila membalas Arya dengan cubitan di pipi Arya.

__ADS_1


“aku hanya orang lemah Mil, bahkan aku tidak tahu apa yang aku lakukan sebelum ini adalah salah atau benar, aku terlalu terbawa perasaan saat menghadapimu dulu, maaf ya, aku sudah membuatmu menderita saat pergi selama itu ke Sulawesi” ucap Arya merangkul Mila ke sisinya, mata mereka sama -sama melihat ke arah air terjun menari di kota itu, air terjun yang terlihat indah bersamaan lampu warna warni yang menyelimutinya.


“aku pantas menderita seperti itu Arya, kamu berkorban besar untukku, dan sudah seharusnya aku mendapatkan balasan atas dosa yang ku buat, aku ingin pernikahan kita ini berlandaskan ibadah Arya bukan nafsu, agar kita sama-sama menikmati keberkahan itu” ucap Mila menikmati suasana itu bersama Arya.


“tak ada kata pantas untuk itu semua Mil, kesalahanku tetaplah dosaku, aku mengabaikanmu selama 3 minggu, itu tetaplah dosaku, sekarang mari kita pikirkan hal yang lain”


“hal yang lain?, kamu mau kita memikirkan apa sekarang?” tanya Mila.


“bukankah seharusnya kita memikirkan pernikahan kita ini kedepan, misalnya kapan kita punya anak, kapan kita beli rumah, beli mobil, kapan kita ke Paris, kapan kita ke Turki, dan,,,” ucapan Arya kemudian terpotong oleh Mila.


“aku ingin punya anak secepatnya, kakek sangat menginginkannya kan” ucap Mila dengan mengalungkan tangan Arya di perutnya, eskrim yang masih tersisa di kotak mangkuk itu perlahan meleleh tanpa mereka sadari.


“aku tidak ingin punya rumah baru, cukup rumahku sekarang sudah aku syukuri, aku ingin kamu punya mobil, agar kamu tidak kepanasan lagi ke kantor, dan aku ingin segera ke Paris bersama malaikat kecil kita nanti” ucap Mila lagi.


“aku terlalu menyayangi motor bebekku Mil, dengan motor itu aku sudah hampir mengelilingi semua pulau jawa ini” ucap Arya dengan bercanda.


“kalau begitu sudah seharusnya dia pensiunkan” jawab Mila juga dengan bercanda.


“doakan semua masalah di Adinata group segera selesai ya Mil, aku selamat dan keluarga kita juga selamat, setelah itu kita wujudkan rencana kita satu persatu,” ucap Arya dengan pelan.


“ini sudah mau jam setengah 10, kamu mau balik ke hotel sekarang?” tanya Arya.


“kamu buru-buru sekali, suasana disini masih nyaman lo Arya” ucap Mila dengan santai

__ADS_1


“kita kan harus segera merealisasikan malaikat kecil kita untuk kakek”


__ADS_2