Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Deal-Dealan Arnes dan Irman


__ADS_3

“Nad, aku sudah melakukan kesalahan untuk Anjani, aku sudah masuk ke dalam pertarungan mereka dan aku tidak bisa keluar dari sana, atau kehormatan keluarga kita akan jatuh dimata semua rekan bisnisku” jawab Hardi dengan nada bersalahnya yang membuat dada Anjani sesak mendengarnya. ‘apa aku hanya sebagai alat bisnis di mata ayah’ batinnya.


“maksudmu apa mas?” tanya nyonya Nadya yang bingung dengan ucapan suaminya.


“maaf Nad, aku tidak membicarakan ini kepadamu sebelumnya, sebelum Anjani pulang ke sini, Aliando memintaku untuk menjodohkan Anjani dengan anaknya, dia butuh Anjani dan saham kita di Adinata group untuk menjadikan anaknya CEO disana, kamu tahu sendirikan, sampai saat ini ia belum bisa mengambil semua milik Gibran, untuk itu dia menginginkan Anjani agar anaknya dapat melenggang mulus sebagai CEO karena Anjani akan menjadi pemilik saham terbesar disana nanti, dan juga jika aku berbesanan dengan Aliando, itu akan memperkuat posisi Aliando dan anaknya di mata pemegang saham” jelas Hardi pada istrinya dan ia sedikit menjeda kalimatnya.


“jika Anjani menikah dengan anak Aliando, dan anak itu menjadi CEO, itu akan sangat menguntungkan bagi Anjani, Anjani pasti mendapat dukungan besar dari pemilik saham kita, ini kesepakatan yang saling menguntungkan bagi kita dan Aliando, aku tahu para pemilik saham kita banyak yang meragukan kemampuan Anjani selama ini, apalagi ketika Anjani bekerja di Amerika, dia juga tidak mendapatkan posisi yang tinggi yang bisa menambah kepercayaan pemilik saham kepadanya, status Anjani sebagai istri CEO Adinata group akan membuat pemilik saham kita mendukung Anjani sepenuhnya, ini keuntungan yang aku pikirkan sebelum ini” lanjut Hardi lagi menjelaskan.


“mas, apa kamu sadar dengan yang kamu perbuat?, kamu mengkhianati Gibran dan Naina mas, kamu memberikan anakmu pada orang yang jelas kamu tahu telah mengkhianati mereka” ucap nyonya Nadya tak percaya dengan ucapan suaminya itu.


“Nad, aku belum sepenuhnya memutuskan hal ini, waktu aku membawa Anjani untuk bertemu mereka, itu baru sebatas perkenalan dan tidak memutuskan bahwa mereka benar-benar kami jodohkan, lagi pula aku belum punya kesepakatan apa-apa dengan Aliando tentang keuntungan bisnis dari perjodohan ini, tapi sepertinya pertemuan itu telah membangunkan singa-singa penjaga tahta Gibran di Adinata group” ucap Aliando yang membuat Anjani dan Nadya menatapnya dengan mata tak percaya.


“tadi pagi salah satu singa itu menemuiku, ia mengatakan ingin memastikan aku ada di pihak Aliando, dan dia telah menyebarkan isu perjodohan yang belum diputuskan ini pada para pemegang saham, jika aku tidak melanjutkan perjodohan ini, maka para pemegang saham akan menganggapku mengkhianati CEO Adinata group, kehormatan keluarga kita akan jatuh, dan kepercayaan pemegang saham pada kita akan hilang, mereka bisa saja menarik saham mereka dari perusahaan kita dan membuat perusahaan kita menjadi hancur, kita tidak punya pilihan lain selain melanjutkan perjodohan ini dan meneruskannya sampai pertunangan dan pernikahan Anjani dengan anak Aliando” lanjut Hardi lagi yang membuat dada Anjani menjadi semakin sesak. Ia kemudian berdiri dan meninggalkan meja makan itu tanpa bersuara sedikit pun.


*


Di malam yang sama, di sebuah club malam, tempat dimana kesepakatan bisnis sering dilakukan, dengan sedikit minuman beralkohol dan wanita penghibur, perbincangan bisnis sering dilakukan untuk membuat kesepakatan besar. Disanalah Irman sedang berada sekarang, ia duduk dengan ditemani oleh 2 orang perempuan sembari meminum segelas minuman. Dengan sedikit candaan dan godaan, ia dengan leluasa menyentuh perempuan itu dengan sepuasnya.

__ADS_1


Selang beberapa saat, seorang laki-laki yang di tunggu Irman datang dan duduk di depannya, 2 orang perempuan datang mendekatinya dan menuangkan segelas minuman dan memberikannya pada laki-laki itu, Laki-laki itu kemudian tersenyum manja pada perempuan yang memberikannya gelas minuman itu, dan kemudian meminumnya hingga habis.


“ada apa kamu mengajakku bertemu?, apa kamu masih ingin meminta adikku?” tanya Irman dengan nada dinginnya kepada laki-laki itu.


“aku tahu kamu tidak akan memberikan adikmu untukku, aku hanya minta dia untuk semalam, tapi kamu terlalu sombong untuk memenuhi keinginanku, aku bisa mendapatkan tubuh adikmu dengan cara lain” jawab Arnes dengan nada sinisnya yang membuat Irman bergedik marah mendengarnya.


“aku tahu perusahaanmu sudah semakin sulit sekarang, aku juga sudah tahu hutangmu pada bank juga akan segera jatuh tempo, dan semua aset keluargamu akan segera disita, sebenarnya aku ingin sekali membuat kesepakatan baru tentang adikmu yang sok jual mahal itu, tapi ada hal lain yang jauh lebih penting sekarang” lanjut Arnes dengan menikmati sentuhan perempuan yang mengelus lembut wajahnya.


“hal lain yang jauh lebih penting?” tanya Irman yang penasaran dengan maksud Arnes.


“Ada orang yang ingin menjatuhkan ayahku dari posisi CEO, dan kemungkinan dalam waktu dekat akan ada rapat pemegang saham, kakekmu punya 3,5% saham di Adinata group, kamu harus pastikan saham itu ada di pihak ayahku” ungkap Arnes dengan serius pada Irman sembari menikmati sentuhan perempuan penghibur yang menyentuh kepala dan dadanya.


“sebagai gantinya aku akan memberikan dana untuk perusahaanmu dan memberikan beberapa projek di anak perusahaan Adinata group untukmu” ucap Arnes lagi dengan tersenyum pada Irman.


‘ini benar-benar menarik, aku tidak perlu lagi mengharapkan sayembara Bian corp yang mustahil aku menangkan itu untuk memperbaiki keuangan perusahaan' pikir Irman sejenak.


“bagaimana?, apa kita deal masalah ini?” tanya Arnes masih dengan sinis pada Irman.

__ADS_1


“aku akan pastikan saham itu ada di pihak ayahmu, dan pastikan juga dana itu cepat mengalir ke perusahaanku” jawab Irman tak kalah sinis.


“ini akan jauh lebih mudah jika kamu mau menjual adikmu itu untukku semalam” jawab Arnes lagi.


*


Mila sedang duduk di ranjangnya dengan memperhatikan surat peringatan yang ia dapat tadi di sekolah, ia secara bergantian menatap surat itu dengan menatap Arya yang sedang bekerja di meja hiasnya, ada perasaan ragu dihatinya untuk memberi tahu Arya semua itu, ada rasa takut dihatinya jika memberi tahu semuanya kepada Arya, akan membuat Arya kembali tersakiti.


Ia sejenak menghirup nafas panjang, dan memberanikan diri untuk bangkit dan membawa surat itu pada Arya, ‘Arya sudah berjanji akan menggenggam tanganku apa pun yang terjadi, semoga ini adalah keputusan yang tepat, aku harus jujur padanya’ batin Mila.


Mila mendekat pada Arya yang sedang merancang sesuatu di kertas HVS, dan menyesuaikan hasil rancangannya di kertas itu dengan rancangan di laptopnya, Mila berdiri di samping Arya dan menaruh kertas itu di atas tangan Arya yang sedang menggambar di kertasnya.


“ini apa Mil?” tanya Arya sembari menghentikan kerjanya dan mengambil kertas yang diberikan Mila untuk dibacanya, ia kemudian menyipitkan matanya membaca surat itu dan melihat ke arah Mila.


“surat peringatan?” tanyanya dengan bingung.


“iya Arya, banyak wali murid yang tidak nyaman jika anak mereka belajar denganku” ucap Mila dengan nada pelannya.

__ADS_1


Arya kemudian membaca lagi surat peringatan itu dan mencoba mencerna apa yang terjadi disana, dia kemudian menatap ke arah Mila.


“emang kamu sejak kapan pakai cadar, kenapa baru mendapat surat peringatannya sekarang?” tanya Arya dengan penuh selidik pada Mila


__ADS_2