
Di malam yang ditemani rembulan berbentuk sabit, RS Adinata telihat tidak terlalu ramai. RS swasta dengan kualitas terbaik tersebut memang hanya dikunjungi oleh golongan kelas atas saja. Biaya kesehatan disana cukup mahal, yang diimbangi dengan fasilitas kelas wahid.
Dokter Reny tengah duduk di kursi meja kerja di dalam ruangannya. Ia hanya diam, menunggu orang yang akan menjemputnya. Dokter Reny menatap kosong ke arah depan. Ia sudah meregistrasikan hasil tes Arya ke data rumah sakit. Namun Haris sampai detik itu belum mengirimkan orang untuk menjaganya.
Jantung dokter Reny berdetak cepat, semakin malam, detakannya semakin cepat. Dokter Reny mengeluarkan kartu nomor yang sempat Ari berikan. Dokter Reny memejamkan matanya, sudah terlambat jika ia meminta pertolongan laki-laki itu. Dokter Reny melihat jam di dinding ruangannya, jam menunjukkan pukul 9.40 malam.
Pintu ruangan dokter Reny terdengar diketuk 3 kali, seorang laki-laki memakai kemeja biru masuk ke dalam. Di belakangnya ada 7 orang laki-laki berpakaian hitam yang bertubuh tegap. Dokter Reny seketika berdiri memberi hormat.
“selamat malam pak Hasan” ucap dokter Reny memberi hormat kepada pemegang jabatan pucuk tertinggi di RS Adinata.
“apa yang telah kamu lakukan Reny" Dokter Hasan menatap tajam ke arah dokter Reny, "kamu membuatku dalam posisi yang sulit, sekarang berikan hasil tes itu kepada mereka,”
Dokter Reny menelan salivanya, ia menggeleng, “surat itu dok…”
“berikan saja Reny, jangan bikin masalah lagi” ucap dokter Hasan dengan dingin menahan emosi.
Dokter Reny menunduk, bulu romanya merinding menahan takut, “maaf dok” gumamnya dengan pelan.
“kamu memeriksa sampel itu tanpa izin rumah sakit, kami bisa menuntutmu” ucap dokter Hasan penuh penekanan.
“maaf bu dokter, berikan saja hasil tes itu kepada kami, atau tuan Aliando yang bertindak langsung kepada anda” ucap sekretaris Aliando yang langsung datang malam itu menemui dokter Reny.
Dokter Reny terdiam, ia bingung harus berbuat apa, hasil tes yang ia simpan adalah arsipnya. Jika itu diberikan kepada orang di depannya. Mereka Aliando akan tahu identitas Arya.
“Reny” ucap dokter Hasan dengan nada meninggi, emosinya semakin menjadi melihat dokter Reny yang hanya diam.
Sekretaris Aliando tidak bisa lagi menahan emosinya, Ia memberi kode dengan mengangkat tangan kanannya. Semua orang yang mengikutinya langsung menggeledah ruangan dokter Reny.
Semua dokumen diperiksa dan di acak-acak, satu persatu dokumen ada yang berjatuhan ke lantai.
“berani-beraninya kamu bertindak tanpa sepengetahuanku Reny” ucap dokter Hasan dengan dingin.
Sementara dokter Reny hanya bisa diam menunduk, menahan rasa takutnya.
Sekretaris Aliando menarik nafas kasar, 10 menit ruangan itu diperiksa, tapi hasil tes itu tidak ditemukan. “dimana anda simpan dok?”
Dokter Reny masih diam dan menunduk, kemarahan sekretaris Aliando seketika memuncak, ia mencekik leher dokter Reny dengan keras.
__ADS_1
“bilang dimana, atau ku habisi kamu dan semua keluargamu” ucapnya dengan dingin.
Dokter Reny kelabakan karena kehabisan nafas, Ia berusaha menarik oksigen sebanyak mungkin, tangannya berusaha mendorong tangan sekretaris Aliando agar melepaskan cekikan di lehernya. Namun tenaganya terlalu lemah untuk itu.
Dokter Reny terus berusaha agar bisa bernafas, ia menggerak -gerakan tangannya di udara, berharap ada orang disana yang peduli dan membantunya. Namun itu sia-sia, tidak ada satu pun yang peduli dengan dirinya.
"cepat bilang" teriak sekretaris Aliando dengan keras di depam dokter Reny.
Dalam keadaannya yang kesulitan untuk bernafas, Dokter Reny menunjuk ke sebuah lemari kecil yang ada di samping mejanya. Lemari yang tinggi setengah paha orang dewasa itu memiliki beberapa pintu, Dokter Reny menunjuk ke arah paling ujung.
“Periksa” perintah sekretaris Aliando kepada seorang pengawal.
Sekretaris Aliando masih mencekik leher dokter Reny, tangan dokter itu berusaha mendorong tubuh sekretaris Aliando, hanya sedikit udara yang bisa ia hirup, bahkan untuk menelan salivanya pun ia tidak bisa. Dokter Hasan melihat itu semua dengan pandangan datar.
“ini tuan” ucap pengawal tersebut kepada sekretaris Aliando.
Sekretaris Aliando seketika mendorong tubuh dokter Reny hingga dokter itu tersungkur ke lantai.
“jadinya namanya bukan Indra Adinata, tapi Arya Ramadana” gumam Sekretaris Aliando dengan sinis.
Ia kemudian melirik tajam pada dokter Hasan. “siapkan pemecatan dokter ini dari rumah sakit, sekaligus buat catatan hitam namanya agar dia tidak bisa praktek lagi dimana pun” ucapnya dengan tegas.
Sekretaris Aliando kemudian bangkit dan keluar dari ruangan itu. Dan menutup pintu ruangan dokter Reny dengan keras.
Dokter Hasan melepas nafas panjang setelah pintu tertutup, ia melihat dokter Reny yang sudah menangis dengan suara lirih dan posisi masih tersungkur di lantai.
“seharusnya kamu sudah tahu resikonya sebelum kamu bertindak, kamu benar-benar menyusahkan ku saja”
Dokter Hasan kemudian memutar badannya untuk keluar dari ruangan dokter Reny, baru saja ia membuka pintu ruangan dokter Reny, tangan seseorang langsung mencekiknya dan mendorongnya hingga ke dinding yang berseberangan dengan pintu ruangan dokter Reny.
4 orang laki-laki bertubuh tegap masuk dan segera menutup pintu itu lagi. Dokter Reny masih duduk di lantai, ia menatap heran ke arah laki-laki yang mencekik dokter Hasan.
“segala yang terjadi pada dokter Reny nanti, juga akan terjadi kepadamu, aku bahkan bisa menghabisi seluruh keluargamu seperti laki-laki itu menghabisi keluarga Adinata,”
Dokter Hasan berusaha mendorong tangan laki-laki itu dari lehernya, namun cengkeraman laki-laki itu cukup kuat, bahkan membuat dokter Hasan tidak bisa bernafas sama sekali.
“ini peringatan pertama dan terakhir untukmu, jangan pernah main-main dengan keluarga Adinata, dan orang-orang yang ada dipihak keluarga Adinata, atau kau dan seluruh keluargamu akan habis”
__ADS_1
laki-laki itu kemudian mendorong tubuh dokter Hasan hingga ikut tersungkur ke lantai seperti dokter Reny.
“si,sii,,siapa kau?” ucap dokter Hasan dengan nafas terengah-engah, ia berusaha menarik oksigen sebanyak mungkin untuk masuk ke paru-parunya.
Laki-laki itu menarik kerah dokter Hasan dengan keras, “jangan banyak tanya, atau nyawamu akan melayang, jangan main-main denganku” ucap laki-laki itu dengan dingin. Laki-laki itu kembali mendorong tubuh dokter Hasan dengan keras.
Dokter Hasan segera bangkit dan berlari keluar ruangan dokter Reny. Setelah pintu ruangan tertutup, Dokter Reny kemudian bangkit dan menghapus air matanya.
“kamu terlambat” ucapnya dengan suara terdengar gemetar.
“aku sudah memberi nomorku kepadamu, tapi kamu tidak menghubungiku” ucap Ari dengan datar.
“aku sudah minta bantuan sama Haris, tetapi dia sama sekali tidak menolongku”
Ari melepas nafas kasar. ia melirik kesal ke arah dokter Reny, “om Haris masih diawasi" ucapnya "orang-orangnya juga tidak bisa masuk kesini, mereka bukan pengawal Adinata, lagi pula mereka juga tidak akan berani melawan pengawal Adinata di RS Adinata sendiri, terlalu beresiko bagi mereka”
“dia sudah berjanji akan melindungiku” gumam dokter Reny
“posisi om Haris tidak memungkinkan untuk itu sekarang, jadi pak Abdul memintaku menjagamu, tadi aku menemui Arya dulu, dan saat aku sampai disini, mereka sudah di dalam” lanjut Ari.
“dan juga ini salahmu" Aro mendengus kesal, "kalau kamu menghubungiku dari awal, aku bisa mengirim orang untuk menjagamu dari awal, jadi peristiwa tadi tak perlu terjadi”
Dokter Reny memejamkan matanya menahan kesal karena disalahkan, ia kemudian duduk di kursi kerjanya, ia mengambil beberapa tisu untuk mengusap pipinya yang masih basah.
"mereka membawa hasil tes kemarin, identitas tuan muda ada di kertas itu” ucap dokter Reny dengan nada pelan.
Ari mengernyitkan dahinya, ia melihat ke arah Chris yang berdiri di dekat pintu, “seperti kamu besok harus bekerja keras Chris” gumam Ari.
Chris mengangguk pelan, ia kemudian melihat ke tajam kea rah dokter Reny yang mengusap pipinya dengan tisu.
“jika terjadi sesuatu kepadamu, segera hubungi aku” ucap Ari yang kemudian berdiri, Ia kemudian keluar dari ruangan dokter Reny.
Di kediaman Aliando, Aliando tengah berada di ruang kerjanya. Ia melihat foto hasil tes dna Arya di ponselnya, foto itu dikirim oleh sekretarisnya yang merebut paksa surat hasil tes itu dari dokter Reny.
“Arya Ramadana" gumamnya dengan wajah penuh amarah, "apa anak kecil itu menukar namanya untuk menggelabuiku?, bagaimana mungkin dia bisa selamat?, 22 tahun semua orang ku suruh mencarinya, dan tidak menemukan jejaknya sama sekali, dan sekarang tiba-tiba di muncul seperti ini, kita lihat saja, apa yang bisa ia lakukan”
Aliando mengusap kasar wajahnya, emosinya tidak bisa ia tahan. Tanpa sepengetahuannya, saham dari Gibran telah berpindah tangan kepada Indra, bahkan kepemilikan perusahaan yang ingin ia lepas dari keluarga Adinata, sekarang telah berpindah tangan kepada Indra.
__ADS_1
Aliando berteriak keras, semua benda di mejanya ia dorong hingga berjatuhan ke lantai. Dia terlalu puas diri dengan kemenangannya di rapat pemegang saham.
“apa rapat itu hanya untuk menggelabuiku?, siapa mereka?, siapa yang berani mengusikku” ucap Aliando dengan frustasi.