
Siang yang sangat cerah membuat suhu terasa sangat panas di ibukota, orang-orang yang sedang beraktivitas di luar ruangan dapat merasakan betapa gerahnya hari itu, keringat tidak berhenti menetes karena cuaca panas, yang ditambah lagi dengan panas aspal jalanan yang keluar memberikan hawa panas bagi siapa saja yang ada di atas mereka.
Di sebuah ruangan mewah dan luas di gedung kantor Hardi corp, seorang perempuan tidak merasakan panasnya siang itu sama sekali, ia duduk bekerja dibawah hawa sejuk suhu ruangan yang memiliki pendingin ruangan itu. Perempuan itu tengah hanyut dengan pekerjaannya yang sudah menumpuk di meja kerjanya.
Dialah Anjani, gadis cantik itu tengah sibuk memeriksa laporan para bawahannya. Semenjak ia pulang dari Amerika, ia memang dipercaya untuk mengerjakan sebagian tugas ayahnya sebagai Presiden direktur Hardi corp. Disisi lain ayahnya juga memberikan kesempatan untuknya mengembangkan bisnis perhotelan yang ia sukai semenjak kuliah di Amerika.
Anjani pernah bekerja di salah satu jaringan hotel mewah di Amerika yang memiliki jaringan perhotelan sampai ke Eropa. Hal itulah yang membuatnya tertarik untuk mengembangkan bisnis hotel di perusahaan ayahnya, ia banyak belajar seperti apa mengelola bisnis perhotelan selama bekerja disana dan ingin mempraktekkannya saat kembali ke perusahaan ayahnya, ia ingin memiliki jaringan hotel mewah di seluruh kota besar di Negara ini, dan setelah itu semua sukses, ia ingin mengembangkannya di wilayah Asean. Sebuah planning bisnis yang telah lama Ia rancang saat ia bekerja di Amerika.
Ketika Anjani sedang sibuk-sibuknya memeriksa laporan dari salah satu divisi dengan teliti, seseorang tiba-tiba mengetuk pintu ruangannya, dan sekretarisnya langsung masuk ketika ia beri izin.
"Ada apa?” tanya Anjani dengan kesal, ia paling tidak suka jika ada orang yang menganggunya bekerja. Apa lagi saat itu cukup banyak dokumen yang akan ia selesaikan, belum lagi jadwal rapat yang seakan mengejarnya setiap hari.
“saya mau memberikan ini nona” ucap Sekretarisnya sembari menaruh sebuah dokumen di meja kerja Anjani.
“itu apa?” tanya Anjani dengan datar tanpa memperhatikan apa yang diberikan oleh sekretarisnya itu.
“ini kontrak kita dengan 3A Sahabat untuk pembangunan hotel pertama kita Nona” jawab sekretarisnya itu dengan hormat.
Anjani lalu berhenti dari kerjanya, ia kemudian segera mengambil dokumen itu dan membukanya, disana ia melihat kesepakatan kontrak antara perusahaan ayahnya Hardi corp dengan perusahanan 3A Sahabat, disana ia melihat tanda tangan ayahnya sebagai presiden direktur Hardi corp dan juga tanda tangan Arbi sebagai direktur utama 3A Sahabat.
__ADS_1
Anjani tersenyum senang melihat itu. ‘akhirnya bisnis hotelku segera dimulai, apa yang aku cita-citakan selama ini akan segera dibangun’ batinnya dengan perasaan senang yang tak terkira melihat kontrak itu. Apa yang impikan akan segera menjadi kenyataan saat ini.
“ya sudah, keluar” ucap Anjani singkat menyuruh sekretarisnya keluar, sekretarisnya itu menurut dan keluar dengan wajah kesal, Nonanya itu jarang sekali bersikap baik kepadanya, kecuali jika ada maunya, barulah Anjani akan berbicara lembut kepadanya.
Setelah pintu ruangannya tertutup, Anjani mengeluarkan ponselnya dan mencari nama Arya disana, entah mengapa ia ingin sekali mengabari Arya bahwa kontrak itu sudah ditanda tangani serta meminta Arya untuk mempersiapkan rancangan hotel keduanya. karena untuk tahun itu ia sudah mendapat anggaran dari perusahaan untuk membangun 3 hotel, dan ia ingin 3 hotel itu sudah beroperasi di pertengahan tahun depan, jadi ia tidak ingin membuang waktu untuk menunda pembangunan hotel keduanya.
Sejenak Anjani mengingat kembali wajah Arya, yang seakan memutar memorinya kepada sosok Indra di masa lalu. ‘Indra memang tidak akan pernah kembali lagi, tapi setidaknya aku bisa memiliki teman yang sangat mirip dengannya’ batin Anjani.
Anjani menaruh ponselnya di telinga kanannya sembari melihat lagi kontrak itu, dan membacanya secara perlahan.
“Halo Arya, kontraknya sudah ditanda tangani, dan sekarang kamu bisa membuat desain hotel kedua untukku” ucap Anjani dengan semangat.
“ini siapa?” tanyanya dengan nada sedikit kesal mendengar suara perempuan di nomor Arya itu.
“ini saya Rita, sekretarisnya pak Arya” jawab Rita dengan nada sopan.
“bukannya ini ponsel Arya, kenapa kamu yang angkat” ucap Anjani dengan nada marah yang tidak bisa ia tahan.
“ini nomor saya nona, bukan pak Arya, jika anda ada keperluan dengan pak Arya, nanti saya bisa atur jadwal pertemuan anda dengannya, tapi harus jelas dulu tujuan pertemuannya” Jelas Rita masih dengan nada sopan, walaupun hatinya sudah kesal pada Anjani.
__ADS_1
Anjani mematikan ponsel itu dengan mengeram marah, ‘kamu mempermainkan ku Arya, kamu pikir kamu siapa bisa seperti ini kepadaku’ Wajah Anjani memerah menahan marah, ia ingat betul Arya mengetik nomor di ponselnya, tetapi ternyata Arya malah memberikannya nomor Rita. Hal yang membuat hatinya seakan memanas, lebih panas dari panasnya terik matahari dan aspal jalanan siang itu.
Anjani segera berdiri dan mengambil tasnya ia kemudian pergi tanpa peduli lagi dengan banyaknya laporan yang harus ia periksa hari itu, belum lagi jadwal meetingnya siang nanti dengan beberapa divisi untuk mengecek perkembangan kinerja para karyawan ayahnya, rasa marahnya sudah membuat mood kerjanya hilang seketika
*
Anjani mengeram marah menghadapi resepsionis di loby perusahaan 3A Sahabat, para resepsionis itu sama sekali tidak menjawab pertanyaannya yang bertanya “dimana ruangan Arya?”
“maaf nona, apa anda sudah punya janji dengan tuan Arya?” tanya resepsionis itu dengan ramah pada perempuan yang tampak marah itu.
“apa harus ada janji dulu untuk mengetahui ruangan Arya” kesal Anjani yang masih berusaha menahan emosinya, ia benar-benar ingin bertemu Arya dan menumpahkan kekesalannya pada laki-laki itu.
Kehadiran Anjani disana terlihat oleh Arbi yang baru saja datang di kantor itu setelah mengunjungi beberapa perusahan untuk bertemu kliennya, termasuk mengunjungi Hardi corp, kantor Anjani untuk bertemu Hardi dan menanda tangani kontrak mereka. Kontrak yang pada akhirnya membawa Anjani ke kantor 3A Sahabat siang itu.
“maaf nona, tapi ini prosedur kami disini” jawab resepsionis itu dengan sopan, Sekretaris itu masih berusaha memberanikan diri menegakkan kepalanya dan tetap tersenyum pada Anjani yang menatap mereka dengan wajah marah dan mata membunuh.
“apa kalian tidak tahu siapa aku?” tanya Anjani yang tidak bisa lagi menahan rasa marahnya yang membuat 2 resepsionis itu pias seketika dan membuat mereka kesulitan menelan saliva mereka sendiri.
“ada apa ini?” tanya Arbi dengan nada ramahnya ketika ia sudah sampai di meja resepsionis itu, ia kemudian melirik genit ke arah Anjani yang masih marah itu,
__ADS_1