Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Apa Aku Bukan Sahabat Kalian


__ADS_3

Arya melihat bingung ke arah Mila yang tengah berdiri di depannya, “kamu yakin mau ikut denganku ke kantor?”


“iya, aku mau menemanimu hari ini,” jawab Mila. Gadis itu ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama suaminya, setidaknya dengan demikian, suaminya itu bisa perlahan mempercayainya lagi sepenuhnya.


“apa ini jas yang dulu aku berikan sebagai hadiah pernikahan kita?” tanya Mila dengan menatap jas Arya.


“sepertinya begitu, hampir mirip dengan jasku yang satu lagi” gumam Arya.


“Ya udah, ayo berangkat, kak Vanessa hari ini mau menemani Abel belanja untuk pernikahannya, jadi kamu jangan khawatir kalau kak Vanessa mono sendirian disini” ucap Mila dengan tersenyum, ia kemudian segera melangkah ke depan ruang tamu untuk mengambil sepatu kerja Arya.


“kalau begitu kenapa kamu nggak sekalian aja nemanin Abel?, kalau ikut denganku ke kantor, nanti kamu bisa bosan Mil” ucap Arya dengan pelan, ia memperhatikan Mila yang tengah memilih sepatu kerjanya.


Mila kemudian menatap ke arah mata Arya yang tengah melihatnya. “nggak kok, masa aku bosan sama suamiku sendiri” jawab Mila dengan santai, ia kemudian mendekat ke arah Arya dan kemudian berjongkok di kaki Arya.


“kamu ngapain Mil?” tanya Arya sembari menghindar dari Mila yang mengangkat celana bawahnya.


“aku mau masangin sepatumu”


“jangan Mil, kamu nggak perlu kayak gini segala, aku akan canggung kalau kamu seperti ini” tolak Arya, ia kemudian mengambil sepatu kerjanya dari tangan Mila dan memasangnya sendiri. Mila menarik nafas kasarnya ‘Arya masih seperti yang dulu, nggak mau merepotin orang lain, nggak mau dimanjain’ batin Mila. Dulu Arya juga menolaknya untuk disiapkan air panas setiap pagi dengan alasan yang sama, akan merasa canggung jika ia layani seperti itu.


Mila menatap Arya dengan tersenyum, suaminya itu tampak sedikit lucu dengan tingkah anehnya ketika memasang sepatu, suaminya itu malah mirip seperti anak sekolah yang tengah memasang sepatu untuk berangkat ke sekolah.


Setelah memasang sepatunya, Arya kemudian berdiri dan Mila juga ikut berdiri sembari memberikan kunci mobil baru mereka.


Arya melihat kunci mobil itu dengan datar, ‘padahal aku masih ingin bersama motor bebekku,’ batinnya.


Arya mengambil kunci itu dengan lemah, sementara Mila tersenyum tipis melihat raut lesu wajah suaminya, ia tahu Arya masih terlalu sayang pada motor yang tampak butut dimatanya.


“Ayo” ucap Mila sembari menggandeng tangan Arya untuk keluar dari apartemen mereka.


*


Arya mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, matanya melihat fokus ke arah Jalanan, sementara Mila di sebelahnya tengah asyik melihat beberapa pakaian di toko online, “kamu mau beli jas baru nggak Arya, ini jasnya bagus-bagus banget”


Arya menarik nafas kasar, ia paling tidak suka masalah belanja -belanjaan. Apa lagi dia harus memilih -milih barang, itu sangat merepotkan sekali untuknya.


“nggak Mil, kamu belanjanya buat kamu aja”

__ADS_1


“ihh, kok gitu sih, aku juga mau beliin jas buat kamu,, kalau kita ke mall gimana”


Arya memejamkan matanya sejenak dan kembali fokus pada jalan yang ia lalui.


“mungkin bisa ku coba, jika kamu suka, aku akan menemanimu ke mall” jelas Arya.


Mila sejenak berpikir, terakhir kali ia ke mall bersama Abel malah berakhir buruk dengan kejadian di ruangan Arya. “lain kali aja belanjanya” gumam Mila dengan pelan.


Arya memasuki area kantornya dengan memakirkan mobilnya di area belakang gedung. Beberapa orang disana menatap bingung ke arahnya, laki-laki itu selama ini selalu setia dengan motor bebeknya, tapi hari itu, ia membawa mobil yang cukup mewah.


Arya dan Mila kemudian melangkah beriringin memasuki kantor, senyuman dan sapaan ramah seperti biasa mereka terima dari setiap orang yang mereka temui.


Ketika berada di dalam ruangannya, Arya langsung menuju meja kerjanya, sementara Mila duduk di sofa sembari membuka tasnya, ia mengeluarkan beberapa buku yang ia siapkan untuk ia baca, mengisi waktu selama Arya sibuk dengan desain -desainnya.


Belum sampai 5 menit mereka di dalam ruangan itu, Rita sudah masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Ia berjalan santai ke arah Arya tanpa memperdulikan Mila yang melihatnya dengan datar.


Rita menaruh selembar kertas ke atas meja Arya yang membuat Arya bingung dengan tingkah sekretarisnya itu. “ini apa?”.


Mata Arya seketika melotot tak percaya, dalam sehari kemarin ia sudah menghabiskan tabungannya sebanyak 9 digit angka.


“nggak, aku bingung aja, sebenarnya berapa saldo tabunganku?”


Rita menarik nafas kasar karena ucapan Arya, ia kemudian menarik kertas yang di pegang Arya, Ia kemudian menunjuk salah satu kolom yang ada disana, “ini saldomu, emang kamu nggak pernah lihat saldomu saat narik uang?”


“lihat sih, tapi aku nggak pernah perhatiin, malas ngitung angka sebanyak itu” jawab Arya dengan enteng, Arya melihat angka disana dengan pikiran menerawang.


‘ini cukup kayaknya untuk ke eropa sebulan bersama Mila, bahkan ini bisa foya-foya kayak orang kaya disana malah’ pikirnya.


Arya melepas nafas panjang, pikirannya terasa kusut, jika uangnya cukup, sekarang malah waktu yang dia tidak punya, pekerjaannya terus menumpuk, belum lagi masalah Adinata group.


‘tunggu, kok saldo ku masih sebanyak ini’ pikirnya lagi.


“Ta, kok saldo ku masih banyak kayak gini ya” gumamnya pelan.


Rita kembali melihat kertas itu, biasanya Arya tidak membiarkan tabungannya menumpuk sebanyak itu, apa lagi bisa membeli mobil mewah dan apartemen mahal dalam waktu sehari. “kamu belum setor ke yayasan kali” ucap Rita dengan datar.


Arya sejenak berpikir, sejak menikah dengan Mila cukup banyak pola kehidupannya yang berubah, dulu dia selalu rutin menyetor sebagian penghasilannya ke yayasan yatim, namun sejak menikah dengan Mila pola pikirnya sedikit berubah, ia harus menabung untuk masa depan istri dan anak -anaknya kelak, apa lagi ia juga ingin keliling dunia bersama Mila. Ia harus bekerja dan menabung lebih giat lagi.

__ADS_1


‘astaga, ini gimana ngatur keuangannya sih, kalau aku nggak nabung, mana bisa pergi ke luar negeri, kalau aku menabung, jadinya numpuk gini, bisa masuk neraka aku karena uang ini kalau aku mati mendadak’ pikirnya dengan polos.


Arya melepas nafas panjang, sekalipun dia menabung uang sebanyak mungkin, jika Tuhan tidak memberinya kesempatan untuk mewujudkan mimpinya, mimpinya itu tak akan pernah terjadi. Seperti saat itu, saldonya cukup untuk sekedar liburan ke eropa, namun ia sama sekali tidak memiliki waktu untuk itu.


“makanya simpan rekening tabunganmu sendiri, masa apa-apa sama aku semua, sampai beli mobil dan apartemen harus aku yang turun tangan, kalau kamu simpan sendiri kan bisa kamu kontrol sendiri keuanganmu” rutu gadis itu.


Arya kembali menarik nafas kasar, melihat angka-angka itu saja otaknya terasa panas, apa lagi harus menghitungnya, ia kemudian melihat ke arah Mila yang tampak tidak peduli dengan mereka berdua, istrinya itu masih asyik membaca bukunya, “nanti biar Mila yang pegang tabunganku, dia bendahara pribadiku, dan kamu tetap sekretarisku” ucap Arya.


“seharusnya itu kamu lakukan dari awal menikah, jadi bebanku bisa berkurang” sindir Rita dengan datar.


“udah deh Ta, jangan kayak gitu,”


“setelah Arbi pulang, kita bakalan ngadain syukuran nanti” ucap Rita pada Arya yang mengalihkan pembicaraan mereka dari masalah tabungan Arya itu.


“Syukuran?”


“iya, biasa, syukuran sama anak-anak panti asuhan, Arbi nggak ngasih kabar ke kamu?, kita menang di sayembara Bian corp, udah diumumin hasil kemarin malam” jelas Rita.


“ohh, baguslah” jawab Arya dengan datar. Rita menatap Arya dengan wajah kesalnya, laki-laki itu tak pernah tampak senang sama sekali dengan kabar gembira seperti itu.


Padahal seluruh elemen perusahaan sangat mensyukuri hasil tersebut, dengan hasil itu, perusahaan mereka akan lebih dikenal lagi, terutama oleh perusahaan asing yang akan masuk ke Negara ini. Kemenangan itu seakan menjadi nilai plus sendiri bagi perusahaan mereka.


Sementara Arya tidak terlalu peduli dengan itu semua, menang atau kalah, kenyataannya hal itu tidak akan mengubah posisi Cipta rakarsa yang akan dibawa Ardian ke Malaysia. Dan juga Mila yang terlihat tidak terlalu memikirkan masalah perusahaan keluarganya itu.


Arya kemudian memikirkan hal lain selain masalah pekerjaannya, “Ari jadi bertemu dengan paman Haris?”


“nggak, om Haris menolak, sepertinya keadaan disana mulai memanas, gerak om Haris sudah ketahuan, kemarin om Haris ngasih kontak seseorang kepadaku, jadi Ari nanti bertemu dengan orang itu” jelas Rita.


Pintu ruangan Arya tiba-tiba kembali terbuka, Mila, Rita, dan Arya serentak melirik ke arah pintu, Anjani masuk dengan wajah yang tampak kacau, air matanya meleleh, blazer kerja yang ia pakai tampak kusut.


Anjani masuk dengan mata penuh kesedihan, Ia melihat tajam secara bergantian ke arah Mila dan Arya, sahabat yang ia harapkan datang untuk menguatkan dirinya, ternyata tak muncul sama sekali ketika acara pertunangannya. Hatinya yang hancur semakin hancur rasanya.


“Anjani” gumam Mila yang kaget melihat kondisi Anjani, ia kemudian berdiri menatap dalam wajah Anjani.


Anjani seketika melempar tasnya ke arah meja Arya, hingga tas itu membentur keras ke lantai di dekat meja kerja Arya, isinya pun berhamburan keluar.


"apa salahku pada kalian?, aku sudah mengangap kalian sebagai sahabatku, aku butuh kalian semalam, tapi kalian tidak datang sama sekali, apa kalian tidak tahu betapa menyedihkannya aku semalam, hatiku hancur, tapi aku terus dipaksa tersenyum manis pada semua orang, dimana kalian saat aku membutuhkan kalian” ucap Anjani penuh emosional, tubuhnya terasa melemah dan ia terduduk bersimpuh di lantai.

__ADS_1


__ADS_2