
Pak Sarman tengah melamun melihat langit biru di jendela kamarnya, sesekali ia melepas nafas kesal dengan keadaannya yang tidak kunjung membaik, sehingga ia tidak pernah mendapatkan izin dari dokter untuk dapat pulang ke rumah.
Padahal ia sudah sangat rindu melihat rumahnya, melihat cucunya, serta menyaksikan sendiri apakah benar rumah tangga Mila baik-baik saja. Ia sama sekali tidak dapat sepenuhnya percaya pada ucapan Mila, Vanessa dan bu Saniah yang selalu berkata jika hubungan Mila dan Arya baik-baik saja. Apa lagi suami istri yang baru menikah hampir 4 bulan itu sangat jarang sekali menemuinya.
Di usia senja itu, orang tua sepertinya hanya ingin merasakan kebahagiaan dengan melihat senyum cucu-cucunya, atau jika dapat ia tentu sangat berharap akan bisa melihat cicitnya dari Mila. Jika sebelumnya ia berharap dapat melihat cicitnya dari Irman, namun dengan keadaan Vanessa ia memahami bahwa hal itu tidak akan terjadi.
Ia tidak mau ikut campur dalam masalah rumah tangga cucunya itu. Baginya, saat Irman menentangnya perjodohan dengan Rita, maka Irman harus mempertanggung jawabkan sendiri keputusannya. Ia bahkan siap menentang Irman jika Irman sampai berani menceraikan Vanessa. Dengan kondisi Vanessa yang ia tahu, sudah pasti tidak ada laki-laki yang ingin menikahi perempuan yang tidak dapat memiliki anak seperti Vanessa.
Pak Sarman telah menyayangi Vanessa, dan ia tidak akan melepaskan Vanessa jika itu akan membuat hidup Vanessa hancur karena tidak ada yang ingin menikahinya lagi.
Namun, jika melepas Vanessa adalah untuk kebahagiaan Vanessa sendiri, maka dia adalah orang pertama yang akan menyuruh Irman menceraikan Vanessa, karena ia sudah tahu seperti apa perlakuan Irman kepada Vanessa setelah hasil test kehamilan menunjukkan Vanessa tidak bisa memiliki anak.
Namun melepas Vanessa bukanlah hal yang mudah, kebahagian hidup seperti jauh dari Vanessa, dengan kondisinya yang seperti itu, ia mungkin tidak akan pernah bersuami lagi jika bercerai dengan Irman, di tambah lagi keluarga Vanessa juga telah mengusir Vanessa, karena mereka juga menentang pernikahan itu.
Kondisi yang miris memang untuk Vanessa, gadis itu akan terombang ambing di jalanan karena tidak memiliki keluarga lagi, apa lagi ia juga tidak memiliki keahlian dalam bekerja, bisa saja ia akan terjerumus ke lembah dosa untuk bertahan hidup, ia bisa saja mengorbankan dirinya yang memang tidak bisa hamil untuk bekerja menjadi pemuas nafsu orang. Hal itulah yang paling di takutkan oleh pak Sarman jika Vanessa dan Irman berpisah.
__ADS_1
Sejenak pak Sarman memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya dari masalah Vanessa, pikirannya kemudian melayang pada sepasang suami istri yang telah meninggalkan dunia ini 22 tahun silam, mereka meninggalkan dunia ini dengan cara yang tragis dan anak mereka tidak pernah ditemukan sampai sekarang,
‘Gibran, Naina, apa kalian sedang menungguku di surga?, aku merindukan kalian, Gibran, aku menemukan laki-laki yang begitu mirip denganmu, dan sekarang aku menikahkannya dengan cucuku, aku memaksa mereka untuk menikah, dengan sedikit ancaman pada cucuku dan mengikat janji laki-laki itu. Aku hanya ingin melihat dirimu yang ada di dalam laki-laki itu di sisa umurku, aku juga berharap cicit-cicitku yang akan lahir dari Rahim Mila akan memiliki sifat baik, sebaik laki-laki itu, yang selalu membantu semua orang yang bahkan tidak dikenalnya dengan hati ikhlas’ batin pak Sarman,
“yah, kok siang-siang gini melamun” ucap bu Saniah yang mengagetkan pak Sarman dari lamunannya, bu Saniah baru saja selesai makan siang di kantin rumah sakit.
“kamu sudah selesai makan Saniah?” tanya pak Sarman yang memutar kepalanya ke arah bu Saniah,
“iya yah, aku perhatiin belakangan ini ayah sering melamun” bu Saniah kemudian menarik kursi di sisi ranjang pak Sarman dan segera duduk disana.
“aku juga bingung masalah itu yah, Irman benar-benar nggak bisa lagi di atur, perusahaan sudah semakin sekarat, terakhir laporan dari sekretaris Irman, perusahaan rugi besar,” jawab bu Saniah lemah, ia dan ayahnya sudah tahu betul seperti apa masalah yang terjadi di perusahaan.
“aku tidak mempermasalahkan lagi soal perusahaan Saniah, bagiku Mila sudah menikah dengan orang yang bertanggung jawab seperti Arya sudah membuatku tenang, laki-laki sepertinya tidak akan membiarkan Mila hidup dalam kesusahan, yang sekarang aku takut adalah jika Vanessa ditinggal oleh Irman, aku takut hidup anak itu akan hancur” pak Sarman melepaskan nafas panjang setelah menyampaikan itu semua.
Untuk sejenak suasana disana terasa hening, bu Saniah sebenarnya masih berharap Cipta rakarsa dapat di selamatkan, karena perusahaan itu membawa nama keluarga yang juga berarti membawa kehormatan keluarga mereka.
__ADS_1
“Saniah, aku merindukan Gibran dan Naina” suara pak Sarman memecahkan keheningan mereka, bu Saniah melihat dalam ke arah ayahnya, pikirannya melayang pada sosok Arya.
“laki-laki itu benar-benar kejam, dia membunuh semua keluarga Gibran dan Naina agar Adinata group bisa jatuh ke tangannya” ujar pak Sarman menahan emosinya atas apa yang pernah terjadi di masal lalu, bu Saniah mengelus tangan ayahnya untuk memberikannya ketenangan pada laki-laki tua itu.
Bu Saniah tahu betul seperti apa keluarga Gibran dan juga Naina dihabisi satu persatu, ada yang rumahnya dibakar hingga satu keluarga tewas di dalamnya, ada yang kecelakaan mobil, ada yang keracunan makanan dan ada juga yang tenggelam karena bermain di sebuah wahana permainan, semua dilakukan dengan bersih tanpa meninggalkan jejak.
Bu Saniah sejenak melepas nafas panjang, ‘apa sekarang adalah waktu yang tepat untuk memberi tahu ayah tentang Arya dimakam bang Gibran?’ batin bu Saniah.
Ia sejenak berpikir, ia takut jika ayahnya tahu, ayahnya akan bertindak diluar kendali, apa lagi selama ini ayahnya sudah menaruh sakit hati pada Aliando yang diyakininya membunuh Gibran, sudah pasti ayahnya itu akan berusaha mengembalikan Adinata group kepada anak Gibran, dan itu akan dapat membahayakan kesehatannya jika pak Sarman harus kembali ke arena pertarungan bisnis.
‘mungkin sebaiknya ayah tidak tahu dulu tentang Arya di makam bang Gibran, jika benar dugaanku tentang siapa Arya sebenarnya, aku harus tahu dulu alasan Arya menyembunyikan identitas aslinya dan menukar namanya, dan aku juga harus tahu alasan Arya tidak pernah kembali dan merebut apa yang seharusnya dimilikinya' batin bu Saniah menahan keinginannya.
Pintu ruangan terdengar diketuk, ketukan tersebut membuat obrolan serius bu Saniah dan pak Sarman harus terhenti.
Ceklek, pintu ruangan pak Sarman terbuka, 2 gadis cantik itu kemudian masuk menemui pak Sarman, kehadiran mereka mampu menumbuhkan senyum gembira di wajah bu Saniah dan juga pak Sarman. Vanessa dan Mila segera menghampiri pak Sarman dan Bu Saniah, mereka mencium tangan mereka secara bergantian, Vanessa memeluk hangat pak Sarman di sisi kanan pria tua itu dan Mila duduk disisi kirinya sembari mengusap wajah kakeknya.
__ADS_1
“apa Arya tidak ikut kesini?” tanya Pak Sarman pada Mila.