Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Biasa Terjadi


__ADS_3

“aku juga mau membawa kak Vanessa bu” lanjut Arya yang membuat Mila menelan salivanya seketika. Sementara Vanessa membulatkan matanya pada apa yang ia dengar.


“bawa kak Vanessa?, buat apa?” tanya Mila penuh selidik pada Arya.


“kalau kita pergi, nanti kak Vanessa kesepian disini” jawab Arya dengan santai, ‘aku nggak mungkin meninggalkan kak Vanessa disini, jika Ari gagal menyelamatkan rumah ini, dia bisa terkatung-katung di jalanan, mobilnya juga pasti sita nanti, huh, kenapa aku nggak bisa menduga Ari akan sejauh ini menghancurkan perusahaan keluarga Mila, sampai-sampai semua aset keluarga ini bisa hilang disita bank,’ batinnya.


“tapi Arya, kakak nggak mau menganggu waktu kalian” ucap Vanessa berusaha mengelak.


“udah nggak apa-apa kak, aku juga nggak mau kakak sendirian disini, apa lagi jika laki-laki itu pulang, dia pasti juga tidak memperlakukan kakak dengan baik” ucap Mila yang setuju dengan Arya.


“ya sudah, mungkin itu lebih baik, tapi kalau bisa, kalian bertemu dulu dengan kakek sebelum pergi” ujar bu Saniah yang membuat Vanessa melepas nafas panjangnya. ‘terima kasih Tuhan, Engkau memberikanku keluarga yang begitu baik padaku seperti ini’ batin Vanessa menahan rasa harunya.


Bu Saniah kembali melanjutkan makannya sembari memperhatikan wajah Arya, sejenak ia dapat melihat ada kemiripan antara Arya dan Gibran, kemiripan yang mungkin tidak akan disadari banyak orang jika mereka benar-benar tak mengenali Gibran dengan baik. Bu Saniah sejenak menarik nafas panjang, ‘mungkin sekarang aku harus menanyakannya langsung, jika benar dia bukan Indra, pasti dia punya ikatan dengan keluarga bang Gibran dan kak Naina, mungkin ini jauh lebih baik daripada aku memikir cara untuk mendapatkan sampelnya’


“Arya, boleh ibu bertanya sesuatu padamu?” tanya bu Saniah dengan nada pelannya.


Arya sejenak mengangkat kepalanya dan menatap mertuanya itu, “boleh bu” jawabnya singkat.


“Kenapa hari itu kamu memperingati hari kematian bang Gibran?” tanya bu Saniah penuh selidik, pertanyaan yang membuat Arya dan Mila membulatkan matanya karena kaget dengan pertanyaan tersebut. ‘ya Tuhan, apa ibu melihatku hari itu di makam ayah dan ibuku’ batin Arya tak percaya.

__ADS_1


“maksud ibu apa?” tanya Arya berusaha mengelak.


“hari itu ibu lihat kamu dan temanmu datang ke makam bang Gibran dan kak Naina, kalian membawa bunga untuk memperingati hari kematian mereka” ucap bu Saniah lagi yang kali ini membuat Vanessa ikut menatap ke arah Arya.


“apa bunga yang kamu bawa dengan Tomy itu untuk mereka Arya?, apa mereka paman dan bibi kalian yang tidak ingin kalian ceritakan itu?” tanya Vanessa yang sama dengan bu Saniah, nada mereka sama-sama penuh selidik. Arya sejenak menarik nafas panjang menenangkan dirinya, jantungnya berdetak cepat, ketakutan itu kembali menyeruak di dalam hatinya, ia sama sekali tidak punya persiapan apa-apa untuk melindungi dirinya jika semua orang tahu siapa Indra dan Arya sebenarnya.


Mila yang mengerti dengan keadaan suaminya langsung membuka suara seketika. “ibu dan kakak ini bicara apa, keluarga Arya semuanya ada di kampungnya, mana mungkin Arya membawa bunga ke makam mereka, apa lagi mereka udah lama meninggal, mana mungkin Arya kenal dengan mereka”.


“kamu lupa Tomy bilang apa waktu itu Mil, bunga yang mereka bawa itu untuk paman dan bibi mereka” sanggah Vanessa pada ucapan Mila, sementara bu Saniah mendengarkan itu semua merasa semakin curiga pada Arya, ia menatap dalam ke wajah laki-laki itu yang tampak mulai memias.


“aa,,ayahku dulu bekerja dengan mereka bu,,, ayahku banyak berhutang budi pada mereka, ketika aku dan saudaraku berangkat ke Jakarta, ayah berpesan untuk mencari makam mereka, sejak saat itu kami berdua selalu memperingati kematian mereka” ucap Arya berbohong. ‘ya Tuhan, ampuni aku karena berbohong seperti ini, ampuni aku,’ batin Arya menahan rasa berdosanya.


“Susanto bu, ayahku hanya pegawai rendah di perusahaan saat itu, ayahku pindah ke kampung karena di suruh menikah oleh kakek dan nenekku dengan ibuku, kami memanggil mereka paman dan bibi karena bagi ayah Gibran sudah seperti abang ayah sendiri” ucap Arya sembari melepas nafas panjang untuk kebohongan kedua itu. Sementara Mila menatap suaminya itu dengan mata prihatin, ia tidak dapat membayangkan seperti apa perasaan suaminya saat itu.


Bu Saniah melepas nafas panjang mendengar jawaban Arya, ‘apa selama ini aku salah menduga?, atau Arya yang sedang berbohong sekarang' batin bu Saniah. Sementara Vanessa mendengar itu semua dengan memasang wajah tak percaya, ‘apa Arya berbohong?, jelas waktu itu Tomy bilang cerita paman dan bibi mereka tidak akan mereka buka begitu saja, kenapa Arya menceritakannya dengan begitu mudah sekarang’ batinnya penuh curiga.


*


Mila masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Arya tengah menatap kosong ke arah luar jendela, tatapan laki-laki itu benar-benar kosong, wajahnya jelas menyiratkan ketakutan yang teramat dalam.

__ADS_1


Mila kemudian mendekat dan menyentuh bahu suaminya yang memakai kaos oblong putih, pakaian dalaman yang ia pakai dibalik baju kerjanya seharian tadi.


Ketika tangan putih Mila menyentuh bahu Arya, seketika itu juga Arya tersentak kaget, “kamu ngagetin aja Mil” ucap Arya yang langsung pindah ke ranjang mereka. “kamu lagi mikirin apa Arya, kenapa kamu sampai tidak menyadari kalau aku sudah masuh ke kamar ini” ucap Mila dengan pelan dan mengikuti langkah Arya ke arah ranjang mereka.


“Arya” gumam Mila dengan pelan.


“aku nggak apa-apa Mil, jangan khawatir seperti itu,” ucap Arya dengan nada pelan.


“Apa pertanyaan ibu tadi membuatmu tak nyaman,” tanya Mila dengan hati-hati, walaupun sejatinya ia sebenarnya juga ingin mendengarkan penjelasan Arya yang lebih jelas tentang bunga itu.


“ini sudah biasa terjadi kok Mil, aku masih terbawa trauma peristiwa tersebut” ucap Arya menahan ketakutannya.


Mila mengusap lembut tangan Arya agar suaminya itu dapat sesikit merasa lega. Arya kemudian membalas usapan tangan Mila dan menggenggam tangan istrinya itu.


Mata Mila kemudian tertuju pada titik berwarna merah di kaos putih Arya yang terletak disisi kiri perut Arya. “ini kenapa Arya?, apa ini darah?” tanya Mila dengan spontan. Arya kemudian melepas tangan Mila,, ia kemudian melihat titik itu merah itu, ‘ini kenapa?, ini darahku?,’ batin Arya yang sama kebingungannya dengan Mila.


Arya kemudian mengabaikannya, ia kemudian bangkit meninggalkan Mila, “aku mandi dulu Mil, dan setelah itu kamu juga harus mandi, aku menginginkanmu sekarang” ucap Arya yang berjalan memilih baju di lemari Mila, sementara Mila hanya bisa menahan rasa malu dengan wajah memerah, ‘kenapa dia sepolos itu memintanya?, dan itu juga, padahal baru tadi dia tampak ketakutan, tapi sekarang malah menginginkanku’ batinnya.


Arya masuk ke dalam kamar mandi, ia membuka kaosnya dan kembali memperhatikan titik merah itu, ‘apa ini kena di laundry ya?’ batinnya. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di dalam bath up dan perlahan mengisinya dengan air hangat. ‘semoga nanti Mila tidak memikirkan ketakutanku setelah aku menyentuhnya’

__ADS_1


__ADS_2