Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Ari dan Rita


__ADS_3

“kalau begitu, biar gue yang susun langkah kita disini, Rita akan mencari orang yang disebut ayahnya, orang itu pasti tahu dengan Rita dan keluarganya, dan gue akan menemui dokter yang memeriksa sampel lo itu Arya, memastikan hasil tes itu kalau lo adalah anak Gibran adinata sekaligus memastikan di pihak siapa mereka berada, dan Arbi akan tetap ke London dan juga Vietnam, untuk Tomy, biarkan dia konsentrasi dulu dengan pernikahannya sama Abel, lagi pula pernikahannya sudah sebulan lagi” Jelas Ari di ruangan Arya.


Rita yang masih mengingat rencana Ari itu, berjalan santai memasuki gedung Adinata group bersama suaminya yang sudah ia beritahu tentang Arya adalah Indra, Ia lebih memilih jika Harun yang menemaninya dari pada orang suruhan Ari.


Rita masih mengingat wajah Haris dan juga Rahman, karena dulu mereka sering berkunjung ke rumahnya untuk menemui sekretaris Arjun.


Ketika memasuki pekarangan gedung perkantoran mewah itu, mereka sudah di hujani rentetan pertanyaan, mulai dari siapa yang ia cari dan tujuan mereka datang kesana.


“kami dari perusahaan 3A Sahabat pak, kami kesini membawa proposal kerjasama dengan Adinata group, kami punya tawaran menarik untuk perusahaan ini” ucap Harun menjawab pertanyaan satpam di depannya.


“kalian sudah punya janji dengan siapa untuk proposal itu?” tanya Satpam itu dengan penuh selidik, mereka tidak akan membiarkan orang yang tidak punya kepentingan masuk ke dalam gedung itu.


“sudah pak, kami sudah janji sama tuan Haris dan tuan Rahman,” ucap Rita yang duduk di sebelah Harun yang membawa mobil mereka.


Satpam itu kemudian sejenak berpikir sembari menatap wajah Harun dan Rita bergantian.


“Tuan Haris ada di dalam, tapi tuan Rahman tidak bisa kalian temui sekarang, dia sedang dirawat di rumah sakit,” ucap satpam itu dengan tegas.


“kalian boleh masuk, tapi kalian harus melapor dulu pada resepsionis” ucap satpam itu dengan tegas dan penuh penekanan, ia kemudian membuka jalan untuk Harun membawa mobilnya ke dalam area gedung perkantoran itu.


Harun dan Rita benar-benar dibuat takjub dengan kemegahan gedung itu, bahkan kemegahan kantor mereka yang cukup besar tidak ada apa -apanya dibandingkan dengan gedung milik Adinata group.


Harun kemudian mendekatkan tubuhnya pada tubuh Rita untuk berbisik, "kamu yakin Arya pewaris perusahaan sebesar ini" bisik Harun pada Rita sembari berjalan memasuki loby perusahaan itu.


“jangan bicara yang macam-macam mas, nanti ada yang dengar” bisik Rita memperingati Harun.


Setelah memasuki loby, mereka langsung berjalan ke meja resepsionis, dan lagi mata mereka dibuat takjub oleh kemegahan dan kemewahan perusahaan itu, ‘ini benar-benar perusahaan besar’ batin Harun yang baru pertama kali melangkahkan kakinya ke tempat semewah itu, tempt mewah yang pernah ia kunjungi adalah hotel bintang 5 saat mencari suasana berbeda bersama Rita, selain itu ia hanya menikmati kemewahan 3A Sahabat yang tergolong kontraktor besar di Negara ini.

__ADS_1


Melihat tulisan Adinata Group yang ada di Loby itu sudah membuat mata Harun takjub.


“permisi tuan nona, ada yang bisa kami bantu” sapa resepsionis pada Harun dan Rita yang menghampiri mereka.


“iya mbak, kami ingin bertemu dengan om Haris,” jawab Rita dengan sopan, sementara Harun hanya memperhatikan disampingnya.


“maaf nona, apa anda sudah ada jadwal pertemuan atau janji dengan tuan Haris” tanya resepsionis itu pada Rita.


Rita sejenak berpikir akan jawaban yang akan ia ucapkan, ‘aku harus bilang apa sama mereka?’ pikirnya yang mulai bingung.


“anu mbak, bisa hubungi om Haris, aku Rita rahman syahputra, putrinya ibu Tya rahman syahputra, kami keluarga om Haris, ada hal penting yang harus kami sampaikan pada beliau” ucap Rita yang tidak ingin membawa nama ayahnya disana, ia lebih memilih menggunakan nama belakang ayahnya.


Resepsionis itu menatap penuh selidik pada Rita, wajah Rita baru pertama kali mereka lihat disana. “tunggu sebentar ya mbak" jawab resepsionis itu.


Haris yang sedang menyelesaikan beberapa dokumen di ruangannya mengernyitkan dahi ketika menerima panggilan dari resepsionis.


"Rita rahman syahputra, anaknya Tya rahman syahputra?” gumamnya yang mencoba mengingat nama-nama itu. ‘tya,,,rita,,,tya,,rita, rahman syahputra” batin Haris berkali-kali mencoba mengingat siapa pemilik nama itu. ‘Arjun’ batin Haris seketika.


“tuan Haris minta agar tuan dan nona langsung ke ruangannya di lantai 15” ucap resepsionis itu sembari mempersilahkan Harun dan Rita ke arah lift.


“terimakasih mbak” jawab Rita dengan sopan, Ia kemudian menarik tangan Harun yang masih mengagumi kemewahan loby itu.


“ayo mas, jangan bikin malu” kesal Rita dengan sikap Harun yang terlihat seperti orang udik.


“kamu malu ya karena aku seperti ini” ucap Harun yang melihat tangan Rita menarik tangannya,


“jangan begitu mas, aku sayang sama kamu, mana mungkin aku malu, aku tidak ingin kamu bersikap kayak gini agar tidak ada orang yang curiga sama kita” jelas Rita.

__ADS_1


“oo,, gitu” jawab Harun dengan singkat.


“kamu marah mas?” tanya Rita sembari menggandeng tangan Harun yang berdiri disampingnya sembari menunggu pintu lift terbuka.


“nggak kok, maaf ya, aku buat kamu malu disini”


“ihh, kan aku udah bilang nggak tadi” kesal Rita pada Harun. Baru saja kalimat itu selesai, pintu lift terbuka, mata Rita dan Harun melotot tajam melihat sosok yang akan keluar dari lift itu, mereka segera menyingkir dari depan lift dan segera memberi hormat kepada Aliando yang berjalan santai diiringi sekretaris dan pengawalnya keluar dari lift.


Detak jantung Rita dan Harun menjadi cepat tak terkendali, rasa takut seketika menyeruak ke dalam hati mereka, pertemua tak di duga itu membuat jantung mereka seakan ingin copot dari posisinya.


Harun sudah sering melihat wajah Aliando di media sementara Rita sudah tahu betul seperti apa raut wajah Aliando, karena ayahnya hampir 17 tahun menjadi sekretaris Aliando.


Aliando melangkah pergi tanpa peduli pada Rita dan Harun, mereka berdua kemudian segera masuk ke dalam lift setelah Aliando berjalan cukup jauh dari pintu lift. Karena semua orang di Loby masih menghormat pada Aliando, akhirnya hanya mereka yang ada di dalam lift itu.


“astaga mas, jantungku mau copot rasanya” ucap Rita memeluk lengan Harun.


“syukurlah Ta, nggak ada yang curiga sama kita” ucap Harun menenangkan detak jantungnya. Ia kemudian menarik tubuh Rita dan memeluk Rita untuk memberikan ketenangan pada istrinya yang ketakutan.


*


Sementara itu Ari sedang berjalan santai melewati loby RS Adinata, ia sudah tahu dimana ruangan dokter Reny berada, Dengan sikap tenangnya, ia berjalan santai menuju ruangan dokter Reny.


Ari menatap panjang sebuah pintu yang di luarnya tertulis dr. Reny irmawati. “ini ruangannya” gumam Ari dengan pelan, ia kemudian mengetuk pintu ruangan itu 3 kali, dan terdengar sahutan untuk masuk dari dalam.


Ari kemudian masuk, dan segera menutup pintu itu kembali. Dokter Reny seketika melihat heran ke arah Ari yang baru ia lihat.


“kamu siapa?, kenapa kamu masuk ke ruangan saya seperti ini?” tanya dokter Reny yang merasa khawatir dengan sikap mencurigakannya Ari. Ia menatap tajam wajah Ari yang memasang wajah santainya saat itu.

__ADS_1


Ari kemudian dengan santai duduk di depan dokter Reny sembari membuang nafas panjang. “apa hasil tes Arya dan Gibran sudah keluar?” tanya Ari tanpa basa basi.


pertanyaannya itu seketika membuat dokter Reny menatap tajam dengan mata melotot ke arahnya.


__ADS_2