
Tomy di alam bawah sadarnya sudah melihat Arya mendekat, mereka berdua saling melempar senyum dan es di sekitar Tomy sudah mulai menghilang, cuaca mulai cerah dan hijaunya taman itu sudah kembali terlihat, danau indah di dekat mereka juga kembali menampakkan air birunya yang jernih, yang tampak silau karena pantulan cahaya matahari.
Sementara itu, di alam nyata di dekat ranjang Tomy, Abel sedang memperhatikan dokter Karina yang tampak jauh lebih bersemangat dari biasanya saat memeriksa Tomy kali ini, ia melihat dokter Karina memegang Tangan Tomy dengan cukup lama ketika memeriksa nadi Tomy. Hal itu membuat Abel menyipitkan matanya pada dokter Karina dengan sinis, ‘ kenapa dia bersemangat gitu memegang tangan Tomy?’ kesalnya.
“jangan lama-lama dok, anda ini memeriksanya atau apa?” ucapnya dengan polos. Dokter Karina tersenyum mendengar ucapan Abel.
“Apa kamu pikir aku akan merebut Tomy darimu?” tanya dokter Karina dengan tersenyum, Melihat senyuman dokter Karina, Abel malah merasa sedang diledek olehnya.
“anda pikir saya bercanda dok?” tanya Abel dengan geram, ‘astaga, kenapa dia jadi sensitif gini?, dia lagi datang bulan ya?’ batin dokter Karina yang bingung oleh tingkah Abel.
“Abel, Tomy bukan tipeku, jadi jangan pikir aku akan macam-macam, jangan bersikap seperti anak-anak lagi” ucap dokter Karina yang mulai tidak senang dengan sikap Abel, namun kata-katanya itu malah membuat Abel semakin geram.
“Tomy sangat mirip dengan Arya, wajar aja aku khawatir jika kamu memegang tangannya” ucap Abel lagi, Wajah dokter karina memerah mendengar itu, rasa marah merasuk ke dalam hatinya.
“kamu bicara apa?, aku tidak ingin ribut denganmu disini, apa kamu tidak lihat kondisi Tomy masih kayak gini, jangan buat masalah denganku” ucap dokter Karina dengan kesal melihat. Abel lalu tersenyum menatap dokter Karina yang membuat dokter berkacamata itu kebingungan.
“dugaanku benarkan, semalam ngapain aja kalian?, ada hubungan apa antara kalian?, kalian pagi-pagi sudah ada disini, pasti semalam kalian berduaan kan?” ucap Abel tersenyum sinis, sedikit jebakan dari sikap polosnya berhasil membuka sedikit tabir dari perasaan dokter Karina.
Dugaannya tentang sikap dokter Karina yang berubah ketika mendengar Arya menikah serta ketika keluar dari ruangan itu dengan wajah sedih setelah bertemu Mila kini terjawab sudah.
“maaf bel aku, aku bukan perempuan seperti itu, kamu tahu sendiri Arya sudah menikah dan aku punya hubungan dengan Ari, jadi jangan berpikir macam-macam yang hanya akan menjadi fitnah” jawab dokter Karina tegas dan penuh penekanan. Abel sejenak terdiam mencoba berpikir, ‘apa aku salah duga?, masa sih, otakku masih encer kok’ batinnya.
“jika kamu berpikir Arya seperti itu, maka berhati-hatilah, mungkin Tomy juga punya perempuan lain selain dirimu” lanjut dokter Karina berbalik menyerang Abel. Mata Abel membulat karenanya, ia tahu bahwa Tomy tidak akan seperti itu, dan Abel kembali menatap sinis ke arah dokter Karina.
__ADS_1
“apa perasaanmu pada Arya tidak terbalas dok?” tanya Abel dengan sikap polosnya.
‘ya Tuhan, kenapa anak ini menyiksa perasaanku seperti ini’ batin dokter Karina menahan getir.
“aku lihat sekarang kamu jauh lebih bersemangat setelah Arya kembali dari pada sebelumnya" lanjut Abel yang membuat dada dokter Karina terasa sesak.
“Bel, Arya sudah menikah, apa kamu ingin merusak pernikahan mereka? jika tidak, jangan berbicara omong kosong seperti ini” ucap dokter Karina dengan tegas.
“hubungan mereka juga sudah rusak karena istri Arya selingkuh, kalau tidak, mana mungkin Arya menghilang hampir 3 minggu” Jawab Abel cetus.
Dokter Karina membelalak kaget mendengarnya, akhirnya ia dapat mengetahui alasan Arya menghilang selama 3 minggu, selama ini ia bertanya pada Ari, Abel dan yang lainnya, ia hanya mendengar jawaban tidak tahu.
“kalau gitu jangan merusak hubunganku dengan Ari, dan jaga mulutmu jika bicara dengan orang” kali ini dokter Karina menjawab dengan nada penuh penekanan.
“kenapa kamu menyalahkan mulut ku dok, aku hanya bertanya untuk memastikan dugaanku” bela Abel pada dirinya sendiri, ia merasa tidak senang dengan ungkapan jaga mulutmu dari dokter Karina.
'astaga, aku keceplosan lagi, kenapa aku selalu keceplosan gini sih’ batinnya menyesali dirinya sendiri.
Pintu kamar Tomy tiba-tiba terbuka yang membuat Abel dan dokter Karina langsung menghentikan perdebatan kecil mereka. Arya kemudian masuk ke dalam kamar yang membuat Abel dan dokter Karina tersenyum dengan kedatangannya, namun hal itu hanya berlangsung sesaat karena dibelakang Arya, Mila juga tengah berjalan mengikuti langkahnya. Wajah dokter Karina berubah menjadi pias, sementara Abel dibuat mengeram kesal.
“Arya, kenapa kamu bawa dia kesini?” ucap Abel dengan rasa kesalnya, sementara dokter Karina semakin dibuat sesak melihat itu semua, rasa kesalnya pada Abel belum reda, dan sekarang ia harus melihat Arya datang bersama Mila.
“Apa ada masalah?, bukankah kalian sahabat?” ucap Arya dengan sikap polosnya. Abel diam mengeram marah, ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Tomy. Arya tidak tahu pasti seperti apa sikap Abel pada Mila setelah kejadian di ruangannya, namun dari ucapan Abel barusan ia tahu Abel marah, sehingga ia memilih bersikap polos untuk menjaga Mila dari ucapan Abel yang terkadang tidak bisa berhenti kalau sudah mulai berbicara.
__ADS_1
“Apa kamu sudah selesai memeriksa Tomy Karina?, gimana keadaannya?” tanya Arya santai pada dokter Karina.
“Belum” jawab dokter Karina tersenyum getir.
Arya dapat menangkap semua makna dari tatapan dan senyuman dokter Karina, ‘apa Karina tahu kalau aku sudah menikah?’ batin Arya dengan rasa bersalahnya. Sementara Mila juga melihat ada hal yang aneh dari senyuman dan tatapan dokter Karina.
Dokter Karina kembali melanjutkan kerjanya yang terhenti karena sikap Abel, dan Abel masih mengeram kesal karena kehadiran Mila.
Pintu kamar Tomy kembali terbuka, dan sekarang wajah Ari yang membelalak kaget ada di pintu itu.
“Arya,,,” ucapnya setengah berteriak karena marah. Arya kemudian menoleh ke arah suara yang memanggilnya, dan ia tersenyum melihat kedatangan sahabatnya itu.
Ari berjalan ke arah Arya dengan wajah marah. Ia tak peduli lagi dengan keadaan di dalam sana, dimana dokter Karina tengah memeriksa Tomy.
Semua orang melihat ke arah Ari dengan wajah tak bisa diartikan, mereka pias melihat betapa marahnya Ari saat itu, “lo darimana aja?” tanya Arya santai, ia tidak peduli dengan wajah kesalnya Ari, Ari tak menjawab pertanyaan Arya yang terkesan bercanda itu. ia langsung menarik kerah Arya dan menganggkat kepalan tangannya untuk segera meninju sahabatnya itu untuk melampiaskan perasaan marahnya.
Semua yang ada di kamar itu berteriak histeris melihat Ari yang hendak memukul Arya, Mila kemudian langsung menarik lengan Arya agar bisa lepas dari Ari, namun Ari memegang erat kerah Arya, dokter Karina juga menahan lengan Ari yang hendak memukul Arya dan berusaha menarik tangan itu agar turun dari posisi siap memukulnya, dan Abel menatap itu semua dengan membekap mulutnya karena dialah yang paling keras berteriak histeris.
Sedangkan Arya masih tersenyum melihat Ari tanpa ada rasa takut dan bersalah di wajahnya.
Tomy di alam bawah sadar melihat Arya yang sudah berdiri di dekatnya, ia kemudian tersenyum, perlahan es disekitarnya benar-benar sudah mencair, taman hijau itu dapat terlihat kembali, cuaca dingin sudah terasa lebih hangat, burung-burung tampak berterbangan di taman itu dan kupu-kupu tengah mengitari 2 saudara itu, pemandangan di taman itu benar-benar indah di tambah air danau yang jernih dan menampakkan dasarnya berupa bebatuan dengan ikan berwarna warni berenang di dalamnya. “Arya, akhirnya kamu datang” ucap Tomy dan Arya tersenyum melihat ke arahnya,
Suara Tomy di alam bawah sadarnya itu juga terdengar di alam nyata, tangan Ari yang sedang terkepal langsung melemah dan menatap ke wajah Tomy. Arya, Abel, Mila, dan dokter Karina langsung mengalihkan pandangan ke arah Tomy.
__ADS_1
Mata Abel tampak berkaca-kaca karena bahagia, sudah 3 minggu ia menahan rasa takut disana, sudah 3 minggu juga ia menjadi wanita yang tampak kacau dan tidak tahu arah, yang ia tunggu hanyalah agar Tomy segera tersadar, “kamu sudah bangun Tom” ucap Abel menitikan air mata.
“Arya, akhirnya kamu datang” ucap Tomy lagi, dan matanya mulai terbuka perlahan-lahan.