
Pak Sarman menatap panjang ke arah pintu kamarnya yang terbuka, dan untuk sesaat kemudian ia tersenyum melihat kedatangan 3 orang itu, Mila langsung melepas tangan Arya yang ia tarik dan segera berjalan cepat untuk memeluk pak Sarman yang membuat nafas panjang Arya keluar seketika. ‘ah dasar, dia melepas tanganku untuk memeluk laki-laki tua ini’ kesalnya.
Vanessa kemudian juga berjalan cepat dan segera menaruh rantang di dekat lemari dan segera memeluk pak Sarman disisi lain posisi Mila.
Pak Sarman menatap panjang ke arah Arya yang melangkah santai ke arahnya, “apa kamu tidak ingin memeluk ku juga?” tanya pak Sarman sembari tersenyum pada Arya. Arya membalas senyuman pak Sarman dan mencium tangan pria tua itu. “aku tidak bisa memelukmu kek, kedua perempuan ini sudah memelukmu duluan” jawab Arya dengan santai.
“kamu sepertinya sangat sibuk, jarang sekali kamu kesini menemuiku,” ucap Pak Sarman sembari mengelus tangan Mila dan Vanessa dengan kedua tangannya, dua perempuan itu seperti menjadi semangat bagi kehidupannya di hari tua.
“banyak masalah yang harus kuhadapi, jadi sangat sulit sekali mencari waktu untukku berkunjung kesini” jawab Arya dengan masih berdiri di depan ranjang pak Sarman.
Sementara Mila memperhatikan dengan dalam wajah suaminya yang sedang berbicara dengan kakeknya. Hatinya terasa tak karuan, ia takut Arya akan sampai salah bicara dan semua permasalahan pernikahan mereka akan diketahui oleh pak Sarman.
“apa kamu masih mendaki gunung seperti dulu?, aku akan marah kepadamu jika kamu sering meninggalkan cucuku untuk hobimu itu” ucap pak Sarman dengan nada bercandanya dan Arya ikut tersenyum mendengarnya.
“aku malah sedang memikirkan rencana untuk membawa cucumu mendaki bersamaku kek” canda Arya membalas ucapan pak Sarman yang membuat Mila melotot tajam kepadanya.
“kamu ingin mengajakku mendaki?” ucapnya dengan heran pada Arya.
“biar kamu tahu secantik apa sunrise di puncak gunung” jawab Arya yang membuat Mila terasa bahagia dihatinya, ingatannya melayang pada ucapan Arya yang mengatakan bahwa ia jauh lebih cantik daripada sunrise di puncak gunung. “aku tahu kok, aku jauh lebih cantik daripada sunrise di puncak gunung, kamu nggak perlu membuktikannya seperti itu" jawab Mila yang membuat semua orang di sana tertawa bahagia mendengarnya.
__ADS_1
“jangan terlalu sibuk bekerja Arya, kamu harus segera menghadiahkan seorang cicit untukku,” ucap pak Sarman yang membuat keriangan mereka terhenti seketika, Vanessa menelan salivanya karena perasaan sebagai perempuan tak sempurna itu hadir dihatinya.
Sementara Arya dan Mila pias seketika tak tahu harus menjawab apa. “kalian tidak menunda untuk segera memiliki anakkan?” tanya pak Sarman yang heran melihat perubahan ekspresi wajah Arya, sementara tangannya mengelus lembut tangan Vanessa karena ia sadar pertanyaannya tadi pasti membuat gadis itu tertekan.
“nggak kok kek, kami hanya menunggu Tuhan mengirimkan kami seorang malaikat kecil untuk kakek” jawab Arya dengan berusaha tersenyum pada pak Sarman.
Mila menatap dalam wajah Arya, seolah Ia berkata juga menginginkan kehadiran malaikat kecil diantaranya dan Arya, namun, walaupun hubungannya dengan Arya sudah jauh membaik sejak Arya pulang dari Sulawesi, suaminya itu masih belum menyentuhnya, padahal ia sudah siap jika memang suaminya itu menginginkan hal tersebut.
“bagaimana kondisi kakek sekarang?, apa kakek masih lama disini?” tanya Arya pada pak Sarman untuk mengalihkan pembicaaan mereka.
“lumayan membaik, tapi dokter belum mengizinkan aku pulang, mungkin aku masih harus disini untuk beberapa bulan lagi, aku akan senang rasanya saat pulang nanti ada cicitku yang menyambut kepulanganku” jawab pak Sarman lagi yang membuat Mila menggenggam tangan kakeknya itu dengan erat. “kakek doakan ya, agar kami dapat segera memiliki anak” ucap Mila pada pak Sarman.
“kek, Mila benar-benar berterima kasih pada kakek karena telah memilih Arya untuk Mila” ucap Mila yang kali ini berusaha mengalihkan pembicaraan itu.
"aku tak perlu mengucapkannya kek, karena kakek sudah tahu seperti apa aku sebenarnya” jawab Arya dengan santai.
“benarkah, kamu benar-benar mirip dengannya Arya,” ucap pak Sarman yang membuat 3 orang itu melihat pak Sarman dengan tatapan panjang. “siapa kek?” tanya Mila dengan spontan.
“orang yang sudah aku anggap seperti anakku sendiri, Gibran” ucap pak Sarman yang membuat Mila dan Arya menelan saliva mereka bersamaan.
__ADS_1
*
Di malam yang terasa sedikit panas di ibukota, sebuah keluarga yang tinggal di rumah yang tak kalah mewah dengan rumah Aliando tengah menikmati makan malam mereka, disanalah kediaman keluarga Hardi. Anjani yang biasa makan malam diluar, hari itu mengikuti permintaan ayahnya untuk makan malam di rumah.
Hardi menatap dalam putrinya yang sedang menikmati makan malamnya, wajah Anjani jelas menggambarkan kondisi perasaannya yang tak menentu atas ucapannya tadi pagi. Ia sendiri juga merasa berada dalam kondisi sulit. Ia belum bisa menerka seperti apa kekuatan 2 kubu yang bertempur di dalam Adinata group sekarang.
Ia sendiri juga tidak menyangka bahwa rencana perjodohan itu akan menyebar secepat itu, padahal ia masih belum menentukan sikap atas hal itu, bahkan istrinya pun belum ia beritahu. Pertemuannya dan Anjani dengan Aliando dan Arnes hanyalah sebatas pembahasan perjodohan saja, mereka masih tarik ulur dengan kesepakatan itu, tentang apa keuntungan yang akan ia dapatkan jika perjodohan itu benar-benar berlangsung.
'apa aku sudah jatuh ke perangkap Aliando, dia tahu aku masih ragu dengan perjodohan ini, dan menjadikan pertemuan itu untuk memaksaku menerima ini semua dengan melibatkan para pemegang saham’ batin Hardi yang berpikir keras.
“Apa kalian ada masalah?, kenapa kalian diam-diaman seperti ini” ucap nyonya Nadya, istrinya Hardi yang menatap aneh sikap suami dan putrinya itu.
“maaf Anjani, ayah membawamu ke dalam posisi sulit seperti ini” ucap Hardi membuka percakapan panjang mereka.
“ayah bilang aku bisa memilih untuk menerima dan menolaknya, kenapa tadi pagi ayah memaksaku” ucap Anjani dengan datar sembari memainkan makanannya dengan garpu.
“ayah tidak bisa menjelaskannya padamu, tapi sekarang pertunanganmu adalah sebuah keharusan, ayah melakukan ini untuk kebaikanmu dimasa depan” jawab Hardi dengan nada datarnya juga.
“mas, kalian ini lagi berbicara apa?” tanya nyonya Nadya yang heran pada 2 orang di meja makannya itu.
__ADS_1
“Nad, aku sudah melakukan kesalahan untuk Anjani, aku sudah masuk ke dalam pertarungan mereka dan aku tidak bisa keluar dari sana, atau kehormatan keluarga kita akan jatuh dimata semua rekan bisnisku” jawab Hardi dengan nada bersalahnya yang membuat dada Anjani sesak mendengarnya.
'apa aku hanya sebagai alat bisnis di mata ayah?' batinnya.