
“aku ingin menemui Mila Arya, bawa aku menemui putriku” ucap bu Saniah dengan datar,
“nggak bu, Mila dan kak Vanessa harus tetap berada di sisiku, aku tidak akan membawa dia kepada ibu dan kakek, jika ibu menginginkan Mila, aku akan mengembalikannya setelah dia melahirkan anakku,,,,," ucapan Arya sejenak terhenti, ia melepas nafas kasar untuk melanjutkan kalimatnya.
"mungkin lebih baik ibu tidak cerita apa pun dulu kepada kakek agar kesehatannya tidak memburuk” lanjut Arya sembari memutar badannya untuk segera pergi.
“Arya,” gumam bu Saniah yang membuat Arya menghentikan niatnya untuk melangkah. Arya kembali menatap wajah bu Saniah yang tampak tegang menahan emosi.
”aku,, aku mohon jangan sakiti Mila Arya, dia sudah cukup menderita selama ini, dia hidup dengan kasih yang kurang dari kami, jangan pisahkan Mila dari anaknya itu akan sangat menyiksa perasaannya” ucap bu Saniah dengan nada melemah.
Arya melepas nafas lega, walaupun bu Saniah terdengar terpaksa dengan pilihan itu, tapi setidaknya bu Saniah tidak akan menjadi penghalang hubungannya dengan Mila dan pak Sarman.
"apa itu berarti ibu membiarkanku untuk tetap bersama Mila?, aku sebenarnya tidak ingin memutus tali kekeluargaan kalian, apa lagi kakek sangat menyayangi Mila, dan begitu juga dengan Mila”
“kamu egois Arya, apa kamu tidak tahu seperti apa perasaan seorang ibu kepada anaknya? kamu seenaknya berkata mengambil anak Mila darinya, kamu juga seenaknya menyuruhku untuk membuang Irman, kami sama-sama seorang ibu yang menyayangi anak kami” ucap bu Saniah yang terdengar jelas penuh kekecewaan kepada Arya.
“keadaan sekarang yang memaksaku seperti ini bu, jika bang Irman bersikap baik dari awal, aku juga takkan seperti ini, dia duluan yang mulai permusuhan denganku dan sahabatku, dia yang membuat kami merugi sampai klien kami menuntut kami ke pengadilan, dan sekarang dia mengkhianati ayahku, ibu hanya belum merasakan seperti apa rasanya dikhianati, apa ibu harus kehilangan Mila dulu agar ibu tahu rasanya?” ucap Arya yang terhenti sejenak, ia menarik nafas panjang untuk mengungkapkan keinginannya yang sebenarnya.
“aku minta ibu tidak akan menghalangiku untuk menyingkirkan bang Irman, apa pun yang terjadi dengan dia nanti, ibu jangan menyalahkan Mila, ibu boleh benci kepadaku, tapi jangan dengan Mila, ibu boleh marah kepadaku, tapi jangan ganggu hubungan aku, kakek dan Mila, cukup ini menjadi masalah kita saja, dan satu lagi bu,,,,,jangan katakan dulu kepada siapa pun kalau aku adalah Indra, biarkan perusahaan Adinata sendiri yang mengumumkannya nanti, jika ibu salah langkah, maka Mila dan anakku juga akan diincar oleh orang itu” lanjut Arya lagi, ia kemudian melangkah pelan meninggalkan bu Saniah di makam itu.
Bu Saniah melepas nafas kasar, ia sadar bahwa Ia harus mengalah demi ayah dan anaknya,
“aku seharusnya senang karena tahu kamu adalah Indra, karena harapanku untuk menikahkan Mila dengan anak bang Gibran sudah terpenuhi, tapi sekarang kehadiranmu malah menghancurkan keluargaku, kamu menghancurkan putraku” ucap bu Saniah dengan lirih.
Sementara Arya hanya menghentikan langkahnya sejenak untuk mendengarkan lirihan mertuanya itu, ia kemudian segera pergi meninggalkan bu Saniah.
Sementara bu Saniah hanya bisa menatap kosong ke arah makam Gibran dan Naina. Di usianya yang mulai menua, ia hanya ingin melihat Mila dan Irman hidup bahagia, tidak ada harapan lain lagi selain itu. Jika pun ada, ia hanya berharap suaminya bisa berubah sehingga mereka bisa menjalani hari tua dengan tenang, walau pun akan sulit baginya untuk memaafkan kelakuan suaminya dulu.
Arya menatap kosong ke arah jalanan di pemakaman itu, ia memegang stir mobilnya dengan. Ia benar -benar tidak tega seperti itu kepada bu Saniah. Namun keadaanlah yang memaksanya.
'aku sungguh kejam meminta seorang ibu membiarkanku menghancurkan anaknya' Batin Arya sembari memukul stir mobilnya dengan keras.
*
Sore itu Arya pulang lebih cepat dari biasanya. Arya kembali tidak mendapati Mila di ruang tamu seperti biasanya, padahal ia telah mengabari akan pulang cepat sore itu.
Saat ia masuk ke dalam kamar, ia mendapat Mila tengah tertidur pulas di ranjang mereka. Posisi gadis itu berbaring ke arah kiri sembari memeluk guling disana.
Arya segera mendekat dan duduk disamping Mila yang tengah terlelap. Ia mengelus lembut kepala Mla yang dibaluti jilbab berwarna cream, ‘kenapa Mila kelelahan kayak gini ya?, apa ia kurang asupan gizi?, tapi kan kak Vanessa udah ngatur makanan Mila, atau dia lagi banyak pikiran?’ batin Arya menduga-duga.
__ADS_1
Arya kemudian membuka ponselnya, chat yang ia kirim kepada Mila masih belum tercentang biru. Arya melepas nafas panjang dan ikut berbaring di samping Mila. ‘apa dia benar-benar kelelahan ya’.
Arya akhirnya juga ikut terlelap disana, bersamaan dengan pelukan lembutnya di tubuh Mila.
Setengah jam mereka tertidur bersama, hingga akhirnya Mila membuka mata dan merasakan tangan seseorang memeluknya. Mila menarik nafas panjang dan melepaskannya. Ia kemudian mengusap kedua matanya dan kemudian segera duduk untuk memastikan bahwa yang memeluknya adalah Arya.
Mila tersenyum melihat wajah Arya yang tampak tenang di dalam tidurnya. Mila mengusap wajah Arya hingga suaminya itu menggeliat disana, “kamu udah bangun Mil” tanya Arya dengan suara serak.
“kamu kok pulang cepat sekarang” ucap Mila sembari mencium tangan suaminya. Kegiatan yang tak pernah lupa untuk ia lakukan.
“aku mau mengajakmu ke suatu tempat sore ini” ucap Arya sembari duduk, dan kemudian mengecup singkat kening istrinya.
“mengajakku kemana?”
“ada deeh, kamu mandi dulu, biar kukatakan dulu ke kak Vanessa buat siap-siap juga"
Mila melihat Arya dengan penasaran, apa lagi yang ingin dilakukan suaminya itu. Arya selalu saja memberikannya kejutan tak terduga yang tidak pernah ia sangka sebelumnya. ‘apa dia mengajakku ke bukit lagi?, atau kemana? kebun binatang?’
“kok bengong Mil, mandi dulu sana” ucap Arya dengan pelan.
Mila menarik nafas kasar, ia kemudian bangkit untuk membersihkan dirinya, sementara Arya segera memberitahu Vanessa untuk juga bersiap-siap pergi.
Arya menghampiri Vanessa yang sedang membasuh sayur di dapur. Gadis tampak sibuk dengan hobi memasaknya.
"eh Arya, udah pulang?" ucap Vanessa yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"kakak udah lihat hasil isi map kemarin" tanya Arya yang seketika membuat Vanessa menghentikan kegiatannya.
Vanessa menarik nafas kasar dan melihat ke arah Arya. "udah dek" ucapnya dengan pelan.
"maaf kak, aku baru memberitahu kakak sekarang, sebenarnya aku udah tahu lama kak, tapi itu surat bang Irman, dan disimpan sama Ari, jadi kemarin aku minta surat hasil tes kakak sama Karina, dan itu yang ku berikan sama kakak kemarin, kalau kakak mau, aku bisa minta surat yang sama Ari itu" jelas Arya dengan pelan.
"Nggak apa-apa dek, kakak tahu kebenaran ini, sudah lebih dari cukup bagi kakak, lagi pula selama ini kamu juga banyak menghadapi masalah dengan Mila, pikiranmu juga ada batasnya untuk memikirkan masalah kakak ini, dan Ari sudah juga memberikannya sama kakak dek, jadi kamu nggak perlu minta apa-apa sama dia" jelas Vanessa dengan menatap lembut wajah Arya.
Arya menelan salivanya seketika, Vanessa benar- benar baik dan mengerti dengan keadaannya. Namun ia juga bingung, kenapa Ari memberikan surat itu kepada Vanessa.
'kenapa Ari memberikan surat itu sama kak Vanessa?, apa maksudnya dia memberikan itu?' Arya melepas nafas panjang dan membuang pemikiran itu.
"lalu apa keputusan kakak?"
__ADS_1
"kakak,,,, kakak ingin pisah dek, kakak sedang urus semua surat-suratnya, kakak udah ke rumah mengambil syarat-syaratnya" jelas Vanessa dengan menunduk lemah.
"aku hargai semua keputusan kakak, tapi aku harap kakak bisa bicara baik-baik sama Mila"
Vanessa tersenyum mendengar ucapan Arya. "Ari sama kami sama-sama baik Arya, kakak benar -benar kagum persahabatan kalian" ucap Vanessa yang ikut membuat Arya tersenyum.
"kamu tenang saja, Mila sudah jauh lebih dewasa kakak lihat, dia pasti mengerti dengan keputusan kakak ini, dan kakak akan tetap menemaninya sampai dia melahirkan nanti" lanjut Vanessa.
Arya tersenyum, ia melepas nafas lega seketika, "aku mau ngajak kakak dan Mila menemui kakek sore ini, Mila lagi siap-siap, sekarang kakak juga harus siap-siap"
"ha? sore ini dek?" tanya Vanessa yang kaget dengan ajakan Arya.
"iya kak"
"duhh, ini kakak baru mau masak, gimana caranya dong?," ucap Vanesaa yang tampak kebingungan.
Arya menelan salivanya, seharusnya ia mengabari Vanessa lebih awal agar Vanessa bisa memasak untuk bu Saniah dan pak Sarman.
*
Mila membulatkan matanya melihat mobil yang dibawa Arya masuk ke dalam pekarangan rumah sakit tempat pak Sarman dirawat. Ia seketika melihat ke arah Arya karena khawatir. "kamu yakin Arya, ibu kan masih marah sama kamu”
“nggak apa-apa kok Mil, aku sudah bicara dengan ibu tadi pagi”
“serius?, lalu ibu bilang apa?, apa ibu masih marah sama kamu?” ucap Mila penuh selidik.
“sepertinya masih, tapi kamu tenang saja, kita kesini untuk menjenguk kakek bukan ibu” ucap Arya dengan tersenyum kepada Mila, ia berusaha meyakinkan Mila agar tidak mengkhawatirkan dirinya.
“maaf ya Mil, tadi aku menggunakan namamu dan malaikat kecil kita untuk mempengaruhi ibu” gumam Arya dengan pelan.
“haa, namaku? kamu bicara soal apa membawa namaku segala?”
“hmmm, apa ya” ucap Arya dengan bercanda.
“ihhh Arya, serius dong”
Arya dengan hati-hati memakirkan mobilnya, sementara Mila masih menatap panjang ke arahnya. Setelah menarik rem tangan mobilnya, Arya melihat ke arah Mila dengan senyuman tipis. “aku hanya sedikit mengancam ibu dengan namamu Mil,” jawab Arya dengan pelan.
Mila hanya memanyunkan bibirnya karena Arya tidak menjawab pertanyaannya dengan jelas. ‘masa aku bilang sama kamu kalau aku mengancam akan mengambil anak kita dan meninggalkanmu Mil, bisa berabe nanti masalahnya’ batin Arya melihat mata Mila yang tampak kesal.
__ADS_1
"udah dek, percaya aja sama Arya, semua bakalan baik-baik saja kok" timpal Vanessa agar Mila tak memperpanjang lagi pembicaraan itu.
Mereka segera melangkah menuju ruangan pak Sarman. Mila sudah deg-degan terlebih dahulu, membayangkan seperti ekspresi ibunya bertemu Arya, membayangkan seperti apa ekspresi kakeknya saat mendengar kabar kehamilannya. Dan saat ia masuk ke dalam ruangan kakeknya, ia melihat wajah kakeknya yang tersenyum lebar melihat kedatangan mereka, dan juga wajah sang ibu yang tampak datar tanpa ekspresi melihat mereka.