Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Aku Mantannya


__ADS_3

Pintu ruangan Arya tiba-tiba kembali terbuka, Mila, Rita, dan Arya serentak melirik ke arah pintu itu, Anjani masuk dengan wajah yang tampak kacau, air matanya meleleh, blazer kerja yang ia pakai tampak kusut.


Anjani masuk dengan mata penuh kesedihan, Ia melihat tajam secara bergantian ke arah Mila dan Arya, sahabat yang ia harapkan datang untuk menguatkan dirinya, ternyata tak muncul sama sekali ketika acara pertunangannya. Hatinya yang hancur semakin hancur rasanya.


“Anjani” gumam Mila yang kaget melihat kondisi Anjani, ia kemudian berdiri menatap dalam wajah Anjani.


Anjani seketika melempar tasnya ke arah meja Arya hingga tas itu membentur lantai dengan keras, isinya pun berhamburan keluar dari tas itu.


“apa salahku pada kalian?, aku sudah mengangap kalian sebagai sahabatku, aku butuh kalian semalam, tapi kalian tidak datang sama sekali, apa kalian tidak tahu betapa menyedihkannya aku semalam, hatiku hancur, tapi aku terus dipaksa tersenyum manis pada semua orang, dimana kalian saat aku membutuhkan kalian” ucap Anjani penuh emosional, tubuhnya terasa melemah dan ia terduduk bersimpuh di lantai.


Mila segera mendekat pada Anjani dan memeluk sahabatnya itu dengan erat, “maaf, kami tidak bisa datang” gumamnya menahan sedihnya melihat keadaan Anjani.


Rita sejenak melihat ke arah Arya dengan tajam dan memperingati atasannya itu, “jangan berlama -lama dengannya, kamu tahu posisinya kan” Rita kemudian berlalu pergi keluar dari ruangan itu.


Arya kemudian berdiri dan memungut tas Anjani, ia memilih satu persatu barang Anjani yang bertebaran di lantai.


Arya kemudian mendekat ke arah Anjani yang melihat sedih kepadanya di dalam pelukkan Mila.


“aku hanya ingin berteman denganmu, dengan Mila, apa itu salah?” tanya Anjani dengan suara yang terdengar hampir habis.


“nggak Anjani, kamu tidak salah sama sekali, aku yang salah disini, sebagai sahabatmu, aku tidak bisa hadir disaat yang sulit dalam hidupmu” jawab Arya yang kemudian berlutut di dekat Anjani.


Mila mengusap lembut bahu Anjani, ia tahu seperti apa keadaan Anjani, dia dulu menangis sedih semalaman karena perjodohannya dengan Arya, ia paham seperti apa rasanya di posisi Anjani.


“lalu kenapa kalian tidak datang?, aku sudah mengundangmu melalui Mila waktu di apartemen kalian”


“keadaan kami tidak memungkinkan Anjani, maaf, kami tidak bisa cerita masalah ini” jawab Mila dengan pelan.


“bohooong, kalau ada masalah, ceritakan saja kepadaku, bukankah aku sahabat kalian” balas Anjani yang masih menatap sedih ke arah Arya.


Arya menarik nafas kasar, dia bingung, bagian mana yang harus ia jelaskan kepada Anjani, apa bagian Mila dan Arnes atau bagian dia dan Adinata group, rasanya kedua hal itu akan sama menyakitkannya bagi Anjani.


Mila kemudian memapah Anjani untuk berdiri dan mendudukkannya di sofa, sementara Arya berjalan menuju meja kerjanya untuk menelfon pantry agar membawakan Anjani minuman.


Anjani mengusap pipinya yang basah dengan dibantu Mila, mata Mila terlihat begitu tulus saat ia menyeka air mata Anjani, mata Anjani hanya bisa menatap kosong meja sofa di depannya, sementara Arya hanya bisa mengusap kasar rambutnya, kerjanya kembali tertunda karena kehadiran Anjani.


Anjani berusaha menahan kekecewaannya pada Arya dan Mila, ia sadar kalau dia tidak boleh egois pada mereka, namun ia juga tidak memiliki teman sama sekali kecuali mereka. 10 tahun ia di Amerika, menuruti keinginan ayahnya agar ia siap menjadi penerus ayahnya di Hardi corp. Saat ia kembali ke negara ini, ia seperti orang asing di tanah kelahirannyan sendiri, tanpa teman apalagi sahabat.


“Arya,” gumam Mila melihat wajah datar suaminya.


Arya lalu melihat ke arah Mila yang memanggilnya, Mata Mila melotot bulat, seolah ingin Arya membantunya untuk menenangkan isak sedih Anjani.


Arya sejenak tersenyum, ia tahu bahwa dia takkan bisa memberi solusi apa-apa pada Anjani, yang perlu ia lakukan adalah memberikan hal lain yang bisa membuat Anjani merasa lebih senang untuk menggantikan rasa sedihnya.


"apa kamu mau ikut dengan kami Anjani?" tanya Arya dengan singkat, Anjani menarik nafas dalam mencoba menenangkan perasaannya, ia sadar kalu ia juga tidak boleh berlebihan pada Arya dan Mila, "kemana?" ucapnya dengan pelan.


"ke bukit?" tanya Mila pada Arya.


Arya tersenyum kepada kedua perempuan itu.


*

__ADS_1


“kamu mau ngajak kita liburan keluarga ya Arya" celutuk Anjani pada Arya yang berjalan di samping Mila, sementara ia berjalan di sisi Mila yang lain.


Arya melirik dengan kesal pada Anjani, kalimat perempuan itu terasa membuatnya sedikit tidak nyaman “kalau kamu lagi sedih, kamu perlu mencari hal lain untuk menutupinya, terkadang hal itu dapat membuat kita lebih kuat menghadapi keadaan" jawab Arya.


“berarti itu nggak menghilangkan kesedihan ku kan” gumam Anjani.


“yang bisa menghilangkan kesedihanmu hanya dirimu sendiri, bukan kami, aku mengajakmu kesini untuk mengubah suasana hatimu agar melupakan kesedihanmu itu” ucap Arya yang menggenggam tangan Mila.


“Sepertinya banyak orang yang melihat kita, kamu seperti laki-laki yang berpoligami, dan kami ini istri -istrimu, kita keluarga yang bahagia” seloroh Anjani yang membuat Mila spontan mencubit perutnya.


“duuh,,duhhh,, sakit tahu Mil”


“kamu sih, bicara kayak gitu, kamu pikir Arya mau sama kamu” ucap Mila dengan kesal.


Anjani hanya tersenyum mendengarnya, membuat Mila cemburu seperti itu sedikit membuatnya tersenyum, “naik itu yuk” tunjuk Anjani pada bebek kayuh yang ada di salah satu danau kecil disana.


“itu yang bisa naik kan cuma berdua” ucap Mila dengan datar.


“ya udah, kalau gitu kamu temanin Anjani Mil” ucap Arya yang melihat wajah Anjani cukup tertarik naik mainan itu.


“aku takut naik itu Arya” ucap Mila dengan sedikit cemberut, pipinya membulat di balik cadarnya karena tidak suka dengan permainan pilihan Anjani.


“masa aku yang temanin Anjani Mil, kita kan kesini untuk menghiburnya”


“ya udah, kalau gitu aku naiknya sama kamu aja Arya” ucap Anjani lagi, tingkah Mila yang terlihat seperti anak remaja yang cemburuan membuatnya sedikit usil pada Mila, setidaknya hal tersebut bisa mengganti rasa sedih di dalam hatinya.


“Anjani” gumam Mila dengan kesal.


Ia juga merasakan kesedihan Anjani, sahabat kecilnya, namun ia juga tidak bisa berbuat banyak, masalah mereka terlalu rumit untuk diselesaikan dengan tergesa-gesa.


‘mungkin jika semuanya berjalan lancar sesuai rencana om Haris, kamu bisa bebas dari mereka Anjani’ batin Arya.


Pagi menjelang siang itu mereka menghabiskan waktu di ecopark bagian utara Jakarta, Arya memandang Mila dan Anjani dari tepian danau kecil itu, Anjani tampak sedikit lebih tenang dari kondisinya tadi pagi di ruangan Arya, entah apa yang dibicarakan 2 perempuan itu, ia hanya bisa melihatnya dari jauh sembari menikmati udara yang terasa lebih sejuk disana.


Anjani dan Mila masih menikmati permainan bebek mereka di danau itu, suasana terasa sederhana, namun cukup membuat hatinya melepas rasa sedihnya.


“maaf ya Anjani, aku dan Arya tidak bisa datang kemarin malam” gumam Mila sembari mengayuh bebeknya.


Anjani menarik nafas kasar, ia sebenarnya ingin Arya dan Mila hadir disana, dengan kehadiran mereka, Anjani akan merasa jauh lebih kuat. Tapi toh, dia juga tidak bisa memaksa Arya dan Anjani.


"nggak Mil, aku aja yang terlalu berlebihan sampai seperti itu tadi, aku benar -bemar hancur dari semalam Mil, saat aku ke apartemenmu, aku merasa lebih tenang dan kuat untuk pertunangan itu, tapi ketika aku tidak melihat kalian kemarin, aku benar -benar kecewa Mil, kekuatanku terasa hilang," jelas Anjani.


"maaf Anjani," gumam Mila dengan rasa bersalahnya.


“apa alasannya Mil?, kenapa kalian tidak datang? katakan saja, aku tidak akan marah, dan jika itu rahasia, aku akan menjaganya untuk kalian”


Mila sejenak berpikir, tidak mungkin ia mengatakan masalah Indra kepada Anjani, satu -satunya alasan yang bisa ia berikan hanyalah masalah Arnes. Dan dia sendiri juga tidak ingin berbohong kepada Anjani.


“laki-laki itu mantanku Anjani” ucap Mila dengan datar, mata Anjani seketika melotot tak percaya, ia melihat dalam manik mata sahabatnya yang bercadar. “Arnes mantanmu?, perempuan bercadar sepertimu pernah pacaran?, sama laki-laki kayak itu lagi”


Mila melepas nafas kasarnya seketika, bahkan Anjani pun tidak percaya dengan masa lalunya itu.

__ADS_1


“kamu tahu sendirikan aku dan Arya dijodohkan, Arya nggak mau aku bertemu dengan bang Arnes,” jawab Mila dengan pelan.


“apa Arya orangnya cemburuan juga?” tanya Anjani dengan pelan.


‘kalau kamu tahu seperti apa Arya semalam, dan juga semua kesalahanku dulu, kamu pasti akan berpikir untuk merebutnya dariku, aku benar-benar terasa tak pantas untuk orang yang menjaga kesucian hati dan diri seperti dia’ batin Mila.


“karena dia sayang sama aku, makanya dia jadi cemburuan gitu, aku harap kamu bisa memaafkan kami”


Anjani kemudian melihat ke arah Arya yang tampak dari kejauhan, laki-laki itu sedang berdiri memejamkan mata di tepi danau sembari menikmati sejuknya udara ecopark itu.


“bukannya kalau mantan itu akan senang datang ke acara mantannya dengan membawa pasangan mereka, ya untuk menunjukkan kalau mereka lebih bahagia dengan pilihan mereka, walaupun terkadang sebenarnya mereka tidak bahagia” ucap Anjani dengan datar.


“keadaannya berbeda Anjani,” ucap Mila yang sejenak terhenti, ‘apa aku harus bilang kalau bang Arnes masih menginginkanku, itu pasti akan menyakitkan untuk Anjani’ batinnya.


“berbeda?”


“iya, berbeda”


“berbeda kenapa?” tanya Anjani yang semakin penasaran.


“mungkin karena kami dulu dijodohkan, jadi Arya lebih posesif, karena itu ia tak mau datang kemarin” jelas Mila.


Anjani kembali melihat Arya yang saat itu tangah duduk di pinggir danau sembari merendam kakinya dengan air danau itu.


"posesif sampai segitunya, sampai aku, temannya sendiri yang tunangan, dia tidak datang” gumam Anjani.


Mila menarik nafas kasar, ia malah kebingungan bagaimana cara meyakinkan Anjani dengan alasan itu. Agar Anjani tidak tahu masalah Indra dan masalahnya dengan Arnes sebenarnya.


“seburuk apa laki-laki itu Mil?” tanya Anjani yang membuat Mila bingung.


“maksudmu?”


“aku tahu laki-laki seperti apa dia, sorot mata mesum seperti itu sudah sering aku lihat di Amerika”


Mila sejenak berpikir, ‘mesum?, apa ia bang Arnes mesum?’ Mila sejenak memikirkan apa yang pernah terjadi diantara mereka, lalu ia menggelengkan kepalanya. ‘nggak, aku mau mengingat apa pun tentang dia’ batin Mila yang segera membuang jauh -jauh pemikiran tentang Arnes.


“aku nggak ingat, aku sudah melupakan semua itu” jawab Mila.


Anjani tersenyum tipis mendengar ucapan Mila. “pastilah, kamu udah punya Arya, sudah pasti kamu akan melupakan laki-laki itu, tapi dia dulu tidak sampai begituan denganmu kan?”


“nggak lah, Arya sudah mengambil perawanku, jadi jangan berpikir untuk merebutnya, atau aku akan membunuhmu” ucap Mila dengan kesal kepada Anjani.


Anjani tersenyum lega mendengar jawaban Mila “syukurlah, laki-laki seperti Arnes itu pasti pandai sekali merayu perempuan, kamu harus bersyukur bisa selamat darinya" ucap Anjani yang sejenak terhenti.


"dan juga, aku sudah berulang kali bilang ke kamu, aku nggak bakalan merebut suami orang” lanjut Anjani dengan kesal.


Mila melirik mata Anjani dengan senyum dibalik cadarnya, dia merasa tidak terlalu masalah jika dia juga posesif seperti itu pada Arya.


“doakan aku juga Mil, agar bisa selamat darinya sebelum pernikahan itu” gumam Anjani dengan sendu.


‘kenapa Anjani yang baru kenal bang Arnes menganggap bang Arnes seburuk itu?, apa kebaikannya kepadaku selama ini hanya bujuk rayunya saja, ya Tuhan, jika dia memang seburuk itu, aku benar -benar bersyukur atas jalan takdirku hingga bisa bersama Arya seperti sekarang.’

__ADS_1


__ADS_2