Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Tak Menemukan Jalan


__ADS_3

Arnes tengah membereskan beberapa dokumen restorannya. Adinata group sudah melepas restoran itu untuk dijual ke pebisnis kuliner.


Sudah ada pihak yang tertarik dengan restoran tersebut. Sehingga Arnes harus mempersiapkan segala bentuk proses pemindahan hak milik restoran tersebut.


Arnes memukul meja di ruangannya berkali-kali, restoran itu adalah satu-satunya bisnisnya yang berkembang baik, namun Adinata group malah menjualnya.


Terlintas kembali dipikirannya wajah Arya, laki-laki yang telah membuatnya seperti pecundang. Ia masih merasakan kecewa saat Mila menolaknya karena lebih memilih Arya, ditambah sejak kembalinya Arya ke Adinata group, proses penutupan anak perusahaan termasuk bisnisnya, berlangsung dengan cepat.


Ia masih memikirkan cara untuk membalas dan menghancurkan Arya, namun baik ia maupun ayahnya belum menemukan cara apa pun.


Arnes mengusap kasar wajahnya, ia mendengar suara berisik dari lantai bawah, “siapa sih yang berisik?” umpatnya dengan kesal.


Arnes segera turun menuju lantai 1 restorannya, beberapa pengunjung tampak sedang berdiri melihat ke arah pintu keluar. Arnes segera berjalan cepat, ia tak ingin tamu restoran mewahnya terganggu oleh keributan apa pun.


Di halaman restorannya itu, ia melihat seorang karyawannya tengah berdebat dengan seorang polisi, Arnes segera turun untuk menyelesaikannya, namun matanya tertuju pada 2 bodyguards yang telah diborgol.


Arnes menelan salivanya, seorang polisi berjalan cepat menghampirinya, “maaf, apa anda saudara Arnes?” tanya polisi itu.


“iya pak, ada masalah apa ya?” ucapnya dengan gugup.


“Anda dilaporkan seseorang karena melakukan pengeroyokan dan penusukan seorang pemuda beberapa bulan lalu di depan restoran ini”


“maaf pak, penusukan apa ya?, saya tidak tahu sama sekali” elak Arnes.


“anda bisa menjelaskannya di kantor, mari ikut kami dulu" ucap polisi itu, ia dengan cepat memborgol tangan Arnes.


Arnes berusaha menepis tangan polisi itu, "maaf pak, anda jangan main tangkap sembarangan"


"kami punya surat tugas untuk menangkap anda, mohon kerja sama" ucap polisi itu dengan suara lugas.


Arnes menarik nafas panjang dengan pasrah. Pikirannya yang terasa bertambah kacau. Ia mengalah, dari pada membuat keributan, ia lebih memilih mengalah, karena ayahnya yang akan membebasannya seperti biasa.


***


Kabar penangkapan Arnes dengan cepat diterima Aliando, laki-laki paruh baya itu mengusap kasar wajahnya penuh emosi. Pikirannya sedang tidak baik dan sekarang Arnes malah menambah masalahnya.


Ia sudah berpikir keras mencari cara menjatuhkan Arya, namun Arya dijaga ketat oleh orang-orang yang ia tidak tahu dari mana asalnya, yang jelas mereka bukanlah pengawal Adinata yang bisa ia manfaatkan.


Ditambah lagi ia baru mengetahui ada pengawal Adinata group yang masih setia dengan Gibran Adinata, membuatnya terasa dikhianati oleh keadaan.


Aliando memejamkan matanya, tak hanya memikirkan masalah penutupan anak perusahaan yang harus segera ia diselesaikan, tapi juga Rena yang terus melakukan perubahan dalam keuangan perusahaan. Membuatnya juga harus bekerja keras melindungi keburukannya agar tidak terbongkar.


Ditambah lagi orang suruhannya tidak bekerja sesuai keinginannya. Laporan mereka tidak ada yang memuaskan Aliando. Semuanya membuat kepalanya terasa panas.

__ADS_1


Para pemegang saham yang memberikan suara untuknya juga sudah mendesak menagih janji kesepakatan mereka saat negosiasi dulu. Karena keadaan internal perusahaan yang tidak bisa ia kendalikan, malah membuatnya belum bisa menepati kesepakatan dengan pendukungnya itu.


Semuanya masalah itu membuat kepalanya terasa pecah, sulit untuk menemukan jalan keluar terbaik baginya.


Musuhnya pun masih terlihat abu-abu, Haris yang ia curigai malah diam tak ada pergerakan apa pun. Sejak ia mengawal Haris, laki-laki itu tak mencurigakan sama sekali. Sehingga menyingkirkan Haris bukanlah solusi.


Sementara Rena juga di dukung oleh dewan direksi, dewan komisaris, dan beberapa pemegang saham untuk melakukan perbaikan keuangan perusahaan. Membuat perempuan itu sulit untuk ia singkirkan.


“kena kasus apa dia?” tanya Aliando dengan dingin kepada sekretarisnya.


“salah satu bodyguards menusuk seorang laki-laki tuan”


“bukannya kasus itu sudah kita selesaikan dulu?, kenapa diungkit lagi?” tanya Aliando dengan marah.


“korbannya membuat laporan baru tuan, dan tuan Arnes disebutkan terlibat dalam penusukan tersebut” jelas sekretaris Aliando.


Aliando segera menarik nafas panjang, “segera selesaikan,” gumamnya memerintah.


Sekretaris Aliando menelan salivanya, “tuan Arya melindungi pelapor itu tuan, ia mengirim pengacara tuan Gibran untuk memastikan kasus itu berjalan”


Aliando membulatkan matanya, amarahnya terasa memuncak. “sial” teriaknya dengan keras. "dia benar-benar menantangku"


"siapkan mobil, aku akan temui anak itu langsung, sudah cukup bagiku bermain-main dengannya” ujarnya dengan penuh rasa marah.


***


Kedatangan Aliando yang mendadak seketika menyedot perhatian para karyawan perusahaan 3A Sahabat. Beberapa orang yang mengetahui sosok Aliando langsung memberi hormat.


Sekretaris Aliando langsung melangkah menuju resepsionis, dan 2 resepsionis yang sedang bekerja langsung menunduk takut.


“tuan Aliando ingin bertemu dengan tuan Arya, apa tuan Arya sedang berada di ruangannya sekarang” ucap sekretaris Aliando tanpa basa basi di meja itu.


“ada tuan, tapi apa tuan Aliando sudah ada janji untuk bertemu dengan tuan Arya sebelumnya” tanya resepsionis itu yang menjalankan prosedur khusus untuk Arya.


“saya rasa kamu sudah tahu dengan tuan Aliando, apa menurutmu harus ada perjanjian dulu untuk bertemu dengan tuan Arya bagi tuan Aliando?”


Resepsionis itu menelan salivanya mendengar ucapan sekretaris Aliando, ia bingung harus berbuat apa, sementara resepsionis yang lain segera menelfon Rita.


“tuan Arya lagi ada agenda dengan tamu perusahaan kami dari luar negeri tuan, kami tidak bisa membiarkan orang bertemu dengan tuan Arya, kecuali jika sudah ada janji pertemuan untuk mereka” jelas resepsionis tersebut sembari menunggu resepsionis yang lain menelfon Rita.


Chris dan Ortin bergegas masuk ke dalam kantor saat melihat kedatangan Aliando, ia diikuti oleh 7 orang lainnya segera menghalangi Aliando masuk ke dalam perusahaan lebih jauh lagi.


Chris bergegas menuju meja resepsionis, ia dengan cepat menarik telfon yang dipegang oleh resepsionis dan segera menutupnya.

__ADS_1


Tindakannya membuat meja resepsionis itu menjadi pusat perhatian. 2 resepsionis yang bertugas hanya bisa menahan takut dengan keadaan yang terasa tegang. Mereka juga tidak berani melawan Chris yang memakai pin 3A Sahabat.


“maaf, tuan Arya sedang tidak bisa diganggu, jika tuan Aliando ingin bertemu dengan beliau, kalian bisa atur jadwal dulu dengan nona Rita, sekretaris tuan Arya” ucap Chris dengan tegas.


Aliando mengangkat sebelah alis matanya, harga dirinya terasa dipermainkan disana. Ia kemudian melihat ke arah Chris dengan tatapan tajam.


Sementara sekretaris Aliando melihat Chris dengan perasaan jengah, ia tahu Chris adalah pengawal yang selalu ada disisi Arya selama berada di Adinata group.


“seharusnya tuan Arya memberi hormat kepada CEO perusahaannya yang datang ke sini” ucap sekretaris Aliando.


“maaf tuan, tuan Arya dan pimpinan perusahaan yang lain sedang ada pertemuan dengan orang-orang dari Bian corp, saya rasa anda sudah tahu seperti apa seharusnya menerima tamu dari luar negeri sekelas mereka” jawab Chris dengan lugas.


“untuk itu lebih baik tuan atur jadwal pertemuan dulu dengan nona Rita, agar tidak terjadi hal seperti ini lagi”


Aliando menarik nafas kasar, kali ini ia gagal menyerang Arya secara langsung. Ia juga gagal menyelipkan orangnya hari itu untuk masuk ke dalam perusahaan Arya karena orang-orang Ari dengan cepat merespon kedatangannya. Bahkan mereka hanya bisa datang sampai lobi perusahaan saja.


Sekretaris Aliando melihat ke arah Aliando, ia tidak dapat memaksa masuk lebih jauh lagi. Sementara Aliando berpikir sejenak, ia sudah masuk ke dalam perusahaan itu, jika ia mundur, bisa membuat jatuh namanya di hadapan semua karyawan perusahaan kecil itu.


“apa pertemuannya masih lama?” tanya Aliando kepada Chris.


Chris memberi hormat, “masih tuan, nanti agenda dilanjutkan lagi dengan acara makan malam, orang-orang dari Bian corp juga masih beberapa hari lagi disini” jelas Chris.


Aliando memejamkan matanya, sekali lagi ia harus mengalah dengan keadaan. “siapkan jadwal pertemuan dengan Arya” ucapnya, ia kemudian berbalik badan dan keluar dari perusahaan. Ia menahan rasa penuh marah dihatinya.


Harun yang melihat kondisi disana segera memberi tahu Rita. Rita segera membaca chat dari Harun, “dia kesini?” gumamnya dengan pelan, ia kemudian melihat ke arah Arya yang sedang mempresentasikan desain mereka dihadapan orang-orang dari Bian corp untuk projek di Kalimantan..


Perempuan itu menarik nafas panjang, pasti terjadi sesuatu yang gawat hingga Aliando datang langsung mencari Arya. Pertarungan mereka terasa semakin memuncak.


Rita masih memperhatikan Arya yang tampak percaya diri dengan apa yang ia presentasikan. Lokasi pertemuan mereka berada di lantai 1 perusahaan 3A Sahabat, tempat rapat pimpinan biasa dilakukan. Kondisi ruangan yang kondusif, membuat apa yang terjadi lobi tidak mempengaruhi kegiatan mereka sama sekali.


Rita kemudian melihat ke arah Ari yang duduk tak jauh darinya, ia kemudian mengirim pesan Harun kepada Ari.


Ari tersenyum sinis membacanya. Sang musuh benar-benar sudah terpojok, sehingga datang langsung ke sarang mereka untuk menemui Arya.


‘langkahnya sudah gegabah, sekarang tinggal tante Rena menerkam kepalanya, ia tidak akan mampu lagi bergerak’ batinnya dengan sinis.


****


.


.


Mampir juga ke karyaku yang lain ya kak, Cinta 2 Dunia dan Lembaran Cinta Suci. Ditunggu juga like dan komennya disana😉

__ADS_1


__ADS_2