
Halo teman-teman, sebelum lanjut bacanya, jangan lupa like, komen, dan votenya ya,,
setiap like, komen dan vote kalian adalah penyemangat author untuk terus melanjutkan novel ini.
.
.
.
.
.
.
Abel hanya uring-uringan di dalam kamarnya, perasaannya tak menentu, ia rindu sekali melihat wajah Tomy, namun disisi lain, hatinya merasa sangat sakit mengingat perlakuan Tomy kemarin. Apalagi ketika Tomy meminta maaf setelah memeluknya, ia merasa laki-laki yang ia cintai itu seperti jijik kepadanya.
Abel melihat panjang ke arah ponselnya, sudah beberapa kali Tomy menelfonnya, tapi tidak diangkatnya sama sekali, padahal hatinya sangat ingin mendengar suara laki-laki itu. Ia bahkan tidak bisa mengendalikan perasaannya yang begitu hancur, ia hanya bisa uring-uringan di kamarnya dan terus menangis mengingat kenangannya dengan Tomy yang tidak terlalu banyak itu.
Suara pintu kamar Abel terdengar di ketuk seseorang, namun Abel mengabaikannya, setelah beberapa kali orang itu mengetuk pintu kamar Abel, Abel akhirnya berdiri dan melengus kesal membuka pintu kamarnya itu.
“ada apa?” tanya Abel ketus sembari membuang muka agar adiknya tidak tahu bahwa ia menangis.
“ada orang yang mencari kakak, dia sedang di teras” ucap adik Abel yang kesal melihat sikap kakaknya yang tidak melihatnya bicara.
“siapa?” tanya Abel ketus lagi, “nggak tahu, lihat aja sendiri, jangan macam-macam sama dia kak, nanti aku laporin sama bang Tomy kalau kakak berani macam-macam sama cowok itu” ucap adik Abel yang tidak mengingat Arya pernah ke rumah mereka ketika Tomy datang melamar Abel.
Adik Abel kemudian pergi meninggalkan Abel untuk segera ke kamarnya, Sementara Abel turun ke bawah dari kamarnya di lantai 2 dengan wajah kesal, ia mengusap matanya dan pipinya berulang kali agar tidak terlihat menangis.
__ADS_1
Abel melihat pintu rumah yang masih terbuka, ia kemudian mendekat, dan ia melihat seorang laki-laki dengan memakai kemeja biru sedang berdiri memperhatikan taman rumahnya.
“Maaf, anda cari saya?, ada perlu apa ya?” tanya Abel dengan nada tenang.
Mendengar suara Abel, Arya kemudian membalikkan badannya, dan ia dapat melihat mata Abel yang merah dan sembab, bahkan mata itu masih terlihat air mata yang masih mengenang.
“kamu habis nangis Bel?”
Mata Abel membelalak melihat sosok Arya, ia kemudian membalikkan badannya karena tidak ingin Arya melihat air matanya. “nggak, aku nggak nangis kok, kamu ada apa kesini?” tanya Abel masih dengan nada tenang sembari mengusap matanya.
“kamu nggak tahu alasan aku ke sini?” tanya Arya sembari tersenyum melihat sikap Abel yang masih polos ketika bersedih sepeti itu.
“kalau kamu bicara soal Tomy, tidak akan ada gunanya, aku akan segera membatalkan pernikahan kami” ucap Abel masih dengan nada polosnya.
Arya menelan salivanya mendengar ucapan Abel itu, terkadang sikap polos itu bisa membuat orang yang mendengarnya tersenyum, tetapi ada juga yang mendengarnya, bisa membuat hati terasa sakit, mungkin itu yang dirasakan Arya sekarang, hatinya terasa sakit ketika mendengar Abel akan membatalkan pernikahannya dengan Tomy.
“Bel, kamu nggak nyuruh aku masuk dulu” ucap Arya coba menenangkan perasaannya. Abel melepas nafas panjang karena kesal dengan kedatangan Arya, ia berharap Tomylah yang datang menemuinya saat itu. "masuklah” ucapnya dengan dingin.
Arya melepas nafas panjang, ‘kenapa Tomy bisa tertarik sama perempuan kayak gini sih’ sesalnya.
“Bel, kamu bisa pakai pakaian yang lebih sopan nggak” tanya Arya hati-hati agar Abel tidak tersinggung.
“emang kenapa?, bukankah laki-laki suka melihat perempuan berpakaian seperti ini, dan aku yakin sekarang kamu pasti sudah memikirkan seperti apa bentuk tubuhku tanpa pakaian” ucap Abel dengan nada ketus dan polos.
“tapi tidak untukku dan Tomy, aku nggak suka melihat hal-hal seperti ini, laki-laki yang terbiasa melihat tubuh perempuan lain yang bukan istrinya, pasti tidak akan tertarik lagi pada tubuh istrinya” jawab Arya setengah kesal pada ucapan Abel, Abel melepas nafas kesal, ia kemudian menarik bantal sofa di sebelahnya dan kemudian menutupi pahanya.
“terserah Tomy mau suka atau nggak, aku juga nggak peduli lagi” ucap Abel dengan menahan getir dihatinya.
Arya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menghadapi orang sepolos Abel memang sedikit lebih susah, dan sekarang ia benar-benar bingung untuk memulainya darimana.
__ADS_1
“Bel, apa kamu yakin untuk membatalkan pernikahan ini” tanya Arya yang mencoba menyerang perasaan Abel secara langsung.
“iya,” ucap Abel dengan tegas yang berusaha menahan sesak di dadanya, hatinya benar-benar tak ikhlas mengucapkan itu.
‘kenapa mudah sekali dia membatalkan pernikahan ini’ kesal Arya dengan jawaban Abel.
“baiklah kalau begitu, aku akan mengatakan kepada Tomy agar tidak menyimpan perasaannya lagi untukmu, aku tidak ingin saudaraku tersiksa menyimpan perasaan pada perempuan yang sama sekali tidak menghargai perasaannya” ucap Arya sembari memperhatikan raut wajah Abel, ia ingin memperhatikan seperti respon Abel atas kalimat yang ia ucapkan.
Abel tak mampu lagi menahan air matanya, setitik air mata lolos dari pelupuk mata kirinya, ia benar-benar tidak ikhlas mendengarkan ucapan Arya.
“Tomy tidak menginginkanku Arya, dia pergi dariku kemarin dengan cara yang menyakitkan hatiku, ia bahkan jijik untuk menyentuhku” ucap Abel terisak tidak dapat menahan kesedihannya.
“itu bukan salah Tomy, Bel, tapi salahku” jawab Arya pelan, Abel kemudian menatap ke arah mata Arya.
“Tomy menemui Mila kemarin, untuk itu ia tidak bicara kepadamu, karena kamu pasti tidak akan mengizinkannya menemui Mila, karena kamu masih marah sama Mila atas kejadian waktu itu” ucap Arya masih dengan nada pelan.
“untuk apa Tomy menemui Mila Arya?” tanya Abel masih dengan suara tercekat sesak.
“untuk menjelaskan apa yang tidak bisa aku jelaskan pada Mila Bel,”,,, “maksudmu apa?” tanya Abel lagi.
“jika aku ada di posisi Tomy, dan Tomy ada di posisiku, aku pun akan melakukan hal yang sama, menemuimu dan menjelaskan semua tentang Tomy yang tidak bisa dijelaskannya kepadamu” ucap Arya penuh makna.
Sementara Abel melirik kesal kepada Arya karena ia kesulitan memaknai ucap Arya itu. "kamu bicara apa sih?” kesal Abel, Arya menghirup nafas panjang mendengar ucapan Abel, ‘sulit sekali bicara dengan Abel’
“Sekarang aku melakukan apa yang Tomy lakukan kemarin, aku datang untuk menjelaskan apa yang tidak bisa Tomy jelaskan kepadamu, aku dan Tomy sama-sama tidak memiliki pengalaman soal perempuan Bel, kami sulit terbuka jika harus menghadapi masalah perasaan seperti ini” jelas Arya pada Abel.
“Arya, apa kamu tidak bisa menjelaskannya saja, kenapa kamu harus berbicara basa basi kayak gini, aku tahu kamu datang kemari pasti untuk membantu Tomy” ucap Abel yang benar-benar tidak suka dengan kalimat -kalimat Arya yang mengandung makna tersirat seperti itu.
“Tomy sayang sama kamu Bel, dia tidak jijik sama sekali seperti yang kamu tuduhkan”
__ADS_1
“bohong”