
Ari masuk masuk ke dalam ruangan Arya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Sesuatu yang selalu membuat Arya kesal, karena setiap orang yang masuk ke ruangannya sama sekali tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. “kebiasaan lo ya,” ucap Arya dengan kesal.
“gue udah dengar lo mau berangkat besok, berapa hari lo akan pergi?” ucap Ari tanpa memperdulikan ucapan Arya.
“seminggu, semua kerjaan nanti gue handle melalui Rita, dan juga gue butuh mobil lo” ucap Arya dengan santai, ia masih sibuk merapikan mejanya serta memilah dokumen yang akan Ia bawa.
“lo benar yakin sama istri lo itu, sampai lo ngebelain bawa dia pergi agar tidak tahu ini semua” tanya Ari dengan nada seriusnya.
“seperti kata lo kemarin, gue akan bawa istri gue keluar kota dulu, sementara lo yang ngurus rumah itu, gue cuma minta rumah itu, yang lain nggak Ri, jangan sampai rumah itu disita bank dan di lelang, cuma itu Ri” ucap Arya yang sekarang melihat Ari dengan tajam.
“walaupun lo bawa dia pergi, cepat atau lambat dia juga akan tahu kan,”
“nggak bakalan kalau lo nggak bongkar kepada mereka kalau lo dalang di balik hancurnya perusahaan keluarga itu, lo urus rumah itu, biar gue yang menjelaskan kepada keluarga istri gue nanti” ucap Arya pada Ari.
“Jadi lo mau ngarang cerita pada mereka gitu?” tanya Ari penuh selidik.
“truss gue harus gimana Ri?, jika gue jujur, nggak hanya istri gue Ri, mertua gue dan kakeknya istri gue juga akan marah besar sama gue, gue nggak mau rumah tangga gue hancur karena masalah ini, jika berbohong pada mereka adalah jalan terbaik, maka akan gue lakuin” ucap Arya dengan sungguh-sungguh kepada Ari.
“gue heran samo lo, dia sudah jelas-jelas mengkhianati lo, tapi tetap aja lo mau sama dia, lo lihat apa dari dia, cadar dia?, jilbab dia?, atau apa?,” tanya Ari penuh penekanan.
“kita bermasalah sama abangnya Ri, bukan dia, lo nggak berhak berkata kayak gitu sama istri gue, dia sudah berubah, dia sudah milih gue” ucap Arya yang berusaha menahan marahnya pada sahabatnya itu.
Ari sejenak melepas nafas panjang mendengar ucapan Arya. “lo udah tepatin janji lo untuk tidak menganggu rencana gue soal perusahaan itu, jadi gue nggak akan mengganggu masalah rumah tangga lo, nih kunci mobil,” ucap Ari dengan menaruh kunci mobilnya di meja Arya, Arya kemudian mengeluarkan kunci motornya dan melemparnya kepada Ari. Ari kemudian keluar dengan wajah tenang membawa kesinisan hatinya kepada Arya.
__ADS_1
‘sekalipun aku berbohong untuk ini semua, aku harus siap menanggung dosanya, aku nggak mau merasakan sakit kehilangan Mila’
*
Di belahan bumi lain, Rahman yang sudah lewat dari seminggu terbang ke berbagai Negara untuk menemui para pemegang saham, tengah duduk di sebuah ruangan kerja, ia melihat ponselnya untuk membaca beberapa pesan dari Haris dan juga dokter Reny yang mengabarkan tentang sampel Arya yang akan segera di periksa, namun masih harus menunggu waktu karena dokter Reny harus memeriksa sampel itu disaat yang tepat, agar tidak ada orang lain di rumah sakit yang mengetahui sampel tersebut. Rahman tersenyum sinis membaca pesan itu.
Rahman kemudian melihat pesan dari pak Abdul yang membuatnya mengerti bahwa mungkin ia takkan bisa menghirup udara bebas menjelang rapat pemegang saham yang saat ini tengah di rencanakan oleh dewan komisaris. Rahman sejenak menarik nafas panjang. ‘Aku sudah menghubungi Rena, aku rasa dia adalah orang yang tepat menggantikan posisimu’ itulah bunyi pesan dari pak Abdul untuk Rahman.
Seorang perempuan masuk ke ruangan itu dengan menatap dalam wajah Rahman, Rahman pun membalas tatapan perempuan itu sembari tersenyum tipis. “Kau benar-benar membuat ku menunggu lama” ucap Rahman dengan datar.
“Aku harus mengurus beberapa dokumen yang diminta dewan komisaris, apa terjadi sesuatu di kantor?” tanya perempuan itu dengan nada santai, ia kemudian duduk di sofa di depan Rahman, perempuan itu kemudian menyeruput tehnya yang mulai dingin karena lama ia tinggalkan.
Rahman sejenak menarik nafas panjang, “apa pak Abdul tidak mengabarimu?” tanya Rahman dengan nada datar.
“kamu akan menggantikan posisiku Rena, kita harus segera mengembalikan semua orang -orang yang masih setia kepada tuan Gibran ke perusahaan, saat ini hanya aku dan Haris yang menjadi direksi perusahaan, sedangkan yang lain sudah dipindahkan oleh Aliando ke anak-anak perusahaan di daerah dan juga luar negeri, seperti kamu sekarang,” ucap Rahman pada perempuan yang bernama Rena itu.
“sepertinya banyak hal yang aku lewatkan selama aku pergi, termasuk kabar sekretaris Arjun yang terlambat ku terima. Apa pak Abdul, pak Ilham dan juga pak Budi juga turun tangan untuk ini?” tanya Rena dengan nada datarnya.
“mereka adalah pemilik strategi dalam permainan ini, dan kita adalah pion yang dimainkan, setelah aku kembali nanti, mungkin aku akan di buang oleh Aliando, untuk itu pak Abdul memintamu kembali, satu pion hilang, maka pion lain harus menggantikan posisinya agar peran pion yang hilang untuk menyerang tidak ikut hilang” jelas Rahman pada Rena.
“Sepertinya masalah disana cukup berat, sehingga para penasehat tuan Gibran dulu harus turun tangan kembali,” ucap Rena dengan santai.
“tugas Haris cukup berat Rena, kamu harus kembali untuk memback upnya, dia akan kesulitan jika hanya sendiri” ucap Rahman sembari menyandarkan punggunya ke sandaran sofa, ia kemudian sejenak memejamkan mata untuk melepas rasa lelahnya.
__ADS_1
Rena menarik nafas kasar, ia sadar bahwa ia dan suaminya sengaja di tempatkan oleh Aliando di luar negeri karena Aliando sudah curiga dengannya dari awal. Rena kemudian menatap wajah Rahman, ia telah mengenal teman seperjuangannya itu lebih dari setengah umurnya, tanpa sadar mata berkaca-kaca melihat Rahman, ‘apa kamu juga akan berakhir seperti sekretaris Arjun Rahman?,’ batinnya.
*
Sejak pagi, kediaman Rakarsa sudah mulai berkegiatan, Arya, Mila dan Vanessa bersama-sama membersihkan rumah sebelum pergi, Vanessa membersihkan tempat favoritnya di dapur dan Arya dan Mila bersama-sama di ruang tamu. Sepasang suami istri tak hentinya saling melepas candaan ketika bekerja untuk mengisi suasana mereka.
Ketika Mila sedang membersihkan lemari kaca di ruang tamu itu, tiba-tiba saja suaminya mengecup keningnya, kecupan yang membuat Mila kesal seketika. “kamu sudah mencium keningku berapa kali dari tadi?, apa kamu belum puas dengan yang semalam?, aku udah capek mengeringkan keningku yang basah karna bibirmu itu Arya” ucap Mila dengan kesal.
Arya tersenyum mendengar ucapan Mila ia kemudian menatap istrinya itu dengan tatapan genitnya, “apa kamu ingin melanjutkan yang semalam?” godanya.
“Arya, kita mau berangkat, jangan macam-macam lagi” ucap Mila dengan kesal.
Arya kemudian mendekat dan kembali mengecup kening istrinya itu lagu, “keningmu manis” ucap Arya dengan singkat.
Mila kemudian berdiri dengan berkacak pinggang, ia memasang wajah marah pada Arya. “Aryaaa” ucap Mila dengan nada marahnya, Arya tak peduli pada wajah dan nada marah istrinya itu, ia teringat pada sosok ayahnya yang selalu memeluk dan mencium kening ibunya, ketika ibunya marah. Arya pun melakukan hal serupa, ia mendekat dan memeluk istrinya yang marah itu. Mila mencoba melawan dengan mendorong tubuh Arya, namun tenaganya kalah jauh dari tenaga laki-laki itu.
“sepertinya aku ketularan sikap ayahku, ayahku suka sekali mencium kening ibuku, dan dia akan memeluk dan mencium kening ibuku jika ibuku marah” ucap Arya, ia kemudian kembali mengecup kening istrinya itu.
"Aryaa, udah,, nanti kita benar-benar terlambat berangkat” keluh Mila pada Arya.
“iya, iyaa” ucap Arya kemudian melepaskan Mila dan kembali melanjutkan kerjanya.
Mila kemudian tersenyum melihat Arya yang kembali bekerja, entah mengapa rasa senang tiba-tiba saja merasuk ke dalam hatinya, ia kemudian melanjutkan kerjanya untuk membersihkan lemari kaca itu dengan senyum-senyum sendiri karena tingkah suaminya itu.
__ADS_1