
Sebuah mimpi tentang apa yang terjadi di masa lalu, menemani tidur Mila malam itu.
"apakah kau pangeran yang datang untuk menyelamatkanku?” ucap Mila yang sedang menjadi tuan putri dalam permainannya dengan Indra,
“iya princessku, aku datang menyelamatkanmu” ucap Indra yang berdiri tegap seolah menjadi pangeran gagah di depan Mila, Mila kemudian mendekat pada Indra dan memeluknya, ia memerankan seperti apa yang ia lihat di film-film yang ia tonton, pangeran dan tuan putri saling berpelukan, kemudian Mila mengangkat kepalanya dan saling tatap dengan Indra,
Indra membelalak kaget ketika gadis kecil berusia 4 tahun di depannya tiba-tiba mencium bibirnya, untuk sesaat ia diam dan membiarkan Mila melakukan itu.
Sementara itu di alam nyata Arya menggoyang bahu Mila berkali-kali, “Mil,,, bangun Mil” ucap Arya, namun tubuh istrinya itu masih diam, “Mil, ayo bangun” ucap Arya lagi, Mila yang masih setengah sadar sedikit membuka matanya, disana ia dapat melihat Indra dan Arya dalam keadaan setengah sadar antara dunia nyata dan alam mimpi itu, ia kemudian mengangkat kepalanya ke arah Kepala Arya dan cup,,,, Mila mencium bibir Arya dalam waktu yang cukup lama.
"Aku mencintaimu pangeranku" gumamnya singkat dan matanya terbuka sempurna. Hingga kesadarannya benar-benar kembali dan matanya membulat kaget dengan apa yang ia lakukan, ia segera melepas ciuman itu dan memutar badan membelakangi Arya.
Sementara Arya yang kaget dengan perlakuan Mila, berkali-kali menelan saliva menahan gejolak nafsunya yang kembali bangkit.
“maaf Arya, aku nggak sengaja, aku benar-benar nggak sengaja, aku hany terbawa mimpi tentang kita dulu” ucap Mila menahan malunya setengah mati. ‘astaga, kenapa aku sampai melakukannya sama Arya sih, aku benar-benar akan ditertawai mesum lagi olehnya’
“Mil” gumam Arya pelan,
“maaf Arya, jujur aku tadi bermimpi tentang kita dulu yang pernah ciuman waktu kecil”,,
'ya Tuhan,, kenapa harus aku yang nyosor duluan lagi sih’ batinnya menahan malu.
__ADS_1
“Mil”,,,, “maaf” jawab Mila, “bibirmu bau Mil”,, Mata Mila membulat marah mendengar itu semua,, “Aryaaaaaaa”
*
Mila telah selesai dengan sholat malamnya, ia memperhatikan suaminya yang sedang bekerja di depan meja riasnya, ia kemudian mendekat dan duduk di atas meja yang setinggi pahanya itu, ia kemudian menatap ke arah lembaran dokumen kerja Arya serta laptop Arya yang sedang terbuka dengan tampilan aplikasi khusus disana.
“Kamu bisa nanti sore untuk melihat kakek kan Arya?” tanya Mila dengan memperhatikan wajah Arya yang masih asyik mendesain sesuatu di laptopnya.
“Aku akan pulang cepat nanti, apa kamu akan berdandan lagi untukku seperti kemarin?” tanya Arya tanpa memperhatikan Mila dengan tetap fokus dengan kerjanya.
“jika kamu menginginkannya, aku akan lakukan setiap hari” jawab Mila dengan sedikit nada semangatnya. Arya sejenak menatap ke arah Mila dan tersenyum.
“lakukan apa yang ingin kamu lakukan, aku tidak akan memintamu melakukannya setiap hari” ucap Arya, dan ia kembali fokus dengan laptopnya. Sementara Mila mendengar itu merasakan kebahagian tersendiri dihatinya, ia merasa Arya benar-benar memperlakukan dirinya dengan baik, tidak memaksa dirinya untuk melakukan sesuatu sekehendak hati suaminya itu.
“berterima kasih?, bukankah kamu menangis waktu aku menerima permintaan kakek sore itu, dan kamu juga menangis ketika mencium tanganku setelah akad kita, apa kamu ingin berterima kasih atas semua air matamu itu?” tanya Arya dengan masih fokus pada laptopnya.
“ihh,, kamu,, jangan bahas lagi masalah itu, lagi pula sekarang semua juga sudah berubah kan” jawab Mila kesal mendengar ucapan Arya.
“ngomong-ngomong, gimana ceritanya kamu pernah menolong kakek dulu?, hingga dia yakin memilihmu untukku?” tanya Mila yang mulai penasaran dengan cerita pertemuan kakeknya dengan Arya.
Arya sejenak menghentikan kerjanya dan mulai berpikir sejenak. “ntah lah Mil,,, kakek mu bilang aku pernah membantunya di Cilacap, tapi aku tidak ingat sama sekali, satu-satunya yang aku ingat tentang kakekmu adalah ketika dia meminta sesuatu kepadaku dan aku harus berjanji memenuhinya,”
__ADS_1
“benarkah, masa kamu tidak ingat sama sekali kalau kamu pernah menolong kakek?” tanya Mila yang masih memperhatikan Arya melanjutkan kerjanya. “emang kamu pikir aku Cuma menolong kakekmu, truss ketika aku melihat orang lain yang butuh pertolongan tidak aku tolong gitu?” jawab Arya pada pertanyaan Mila.
“apa itu berarti kamu sudah menolong banyak orang selain kakek?” tanya Mila yang masih penasaran, namun pertanyaan itu tidak dijawab oleh Arya sama sekali. “apa itu berarti banyak juga orang yang kamu tolong ingin menikahkanmu dengan keluarga mereka?” tanya Mila dengan pikiran polosnya.
“kamu jangan ngada-ngada deh Mil” kesal Arya pada kalimat Mila tersebut dan Mila tersenyum mendengar nada kesal suaminya.
“kenapa kamu melakukan itu Arya?, mau menolong orang seperti itu, padahal banyak orang yang mungkin tidak akan menolong orang lain, atau mungkin hanya ingin menolong orang sekedarnya saja” lanjut Mila kembali bertanya.
“banyak orang yang menong orang lain dengan ikhlas, bukan sekedarnya saja" jawab Arya yang masih asyik dengan apa yang ia kerjakan.
"iya,, aku tahu,,, tapi aku ingin tahu apa alasanmu melakukan itu?" tanya Mila yang kali ini berbicara dengan mada kesalnya.
Arya sejenak menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Mila "paman dan bibi menolong hidupku tanpa ada satu pun yang bisa aku balas dari kebaikan mereka, mereka mengajarkanku tentang agama dan kehidupan, mungkin sampai mati tidak ada satu pun kebaikan mereka yang bisa aku balas. Aku menolong semua orang yang bisa aku tolong dengan apa yang aku miliki untuk membalas kebaikan paman dan bibi kepadaku, aku yakin, mereka akan mendapat pahala yang sama denganku ketika aku menolong orang-orang dengan ikhlas, karena aku belajar menolong orang dari mereka dan aku juga belajar ikhlas dari mereka” jelas Arya pada Mila tanpa memperhatikan wajah istrinya itu.
Mila tersenyum mendengarkan penjelasan Arya, ‘dia benar-benar baik, dia benar-benar sempurna Tuhan, terima kasih telah Engkau hadirkan ia di dalam hidupku’ batin Mila dengan bahagia, tanpa ia tahu bahwa percakapan mereka berikutnya akan menguras emosional perasaannya.
Mila menatap dalam suaminya yang tampak masih sibuk itu, “kerjamu banyak ya?” tanya Mila pelan pada suaminya.
“lumayan Mil, aku tinggal 3 minggu jadi menumpuk banyak, Rita juga pasti sangat sibuk menghandle semua kerjaku,” jawab Arya tanpa memperhatikan Mila yang wajahnya Mila sedikit kesal mendengar nama perempuan itu.
“kamu ngapain aja di Sulawesi 3 minggu Arya?, apa saja yang kamu lakukan selama itu disana?” tanya Mila lagi masih dengan menatap dalam wajah suaminya.
__ADS_1
“jalan kaki membuang rasa sakit dan rasa sayangku untukmu”