
Rita tersenyum melihat Arya yang tengah menyetir mobil untuk pulang ke kantor, mereka. “aku sekarang seperti bosmu Arya, dan kamu menjadi sekretarisnya”
“benarkah, bagaimana bisa kamu menjadi bosnya jika dalam masalah tadi saja kamu tidak bisa menyelesaikannya” jawab Arya yang kesal mendengar ucapan Rita.
“ini mobilku, dan kamu yang menyetirnya, bukankah itu berarti aku yang menjadi bosmu sekarang” ucap Rita lagi dengan santai pada Arya.
"kalau begitu aku akan izinkan kamu menjadi bosku hari ini, kerjamu sudah banyak menanti di meja ku” ucap Arya yang tersenyum sembari menoleh pada Rita.
“sepertinya aku bukan orang yang pantas menjadi bos” jawab Rita menghindar, ia tahu sebanyak apa dokumen menumpuk di meja Arya yang harus diselesaikan hari ini, pekerjaan Arya sudah banyak yang menumpuk karena selama 3 minggu ditinggalkan.
“kamu berani sekali tadi menghadapi orang dari Hardi corp itu, dia lulusan Amerika loh Rya, pewaris Hardi corp lagi, tapi kamu menghadapinya tanpa ada rasa takut, bahkan sampai berani mengancamnya tadi dengan pergi dari ruangan itu” puji Rita pada sikap Arya, Arya kemudian tersenyum mendengar itu semua.
“dia nggak mungkin lagi membatalkan kontrak itu, dia sudah menunda projeknya 3 minggu, jika dia mencari kontraktor baru lagi, itu bisa memakan waktu 1-2 bulan, yang ada mereka akan semakin rugi karena membuang-buang waktu, dan master plan perusahaan mereka juga akan menjadi kacau, lagi pula aku juga tidak mau lagi mengubah desain itu, akan memakan banyak waktuku nanti, kamu kan tahu sendiri kalau pekerjaan ku di kantor juga udah numpuk untuk segera ku selesaikan” jelas Arya dan Rita tersenyum mendengar itu semua.
“kamu cerdas juga ya Arya, aku malah tidak kepikiran sampai ke situ tadi, aku malah takut jika dia membatalkan kontrak itu”
“apa aku sudah cocok jadi pebisnis besar?” tanya Arya dengan sedikit tersenyum bangga atas pujian Rita.
“Pebisnis besar itu kayak Almarhum Gibran adinata, dia membangun Adinata group dari nol menjadi perusahaan besar seperti sekarang, dan dia melakukan itu di usianya yang masih muda, dia bos ayahku dulu, orangnya baik, ayahku bahkan berhutang budi atas kebaikannya kepada keluarga kami, ya mirip kayak hubungan kita ini, tapi sayang, umurnya terlalu singkat, jika tidak, mungkin Adinata group akan menjadi perusahaan besar di Asean atau bahkan di asia, tapi sekarang seperti yang kamu lihat, sejak kematian Gibran adinata, Adinata group hanya seperti jalan di tempat” jelas Rita pada Arya.
“Apa menurutmu aku bisa sehebat Gibran adinata?” tanya Arya dengan tenang menghadapi pembicaraan tentang ayahnya.
“mungkin bisa, mungkin tidak, mungkin bisa jika kamu mau tampil di depan seperti Arbi dan Ari, dan mungkin tidak jika kamu masih kayak gini, sembunyi di belakang meja dengan asyik menggambar semua rancanganmu itu” jelas Rita lagi yang membuat Arya tersenyum getir mendengar itu semua, ‘Aku harus terus sembunyi Ta, entah sampai kapan, aku pun tidak tahu’ batin Arya.
“tapi ngomong-ngomong, aku baru pertama kali melihat kamu ngasih nomormu ke orang lain, cewek lagi, istrimu pasti marah jika tahu itu semua, tapi tak apa sih, nona Anjani memang jauh lebih cantik dari pada istrimu yang bercadar itu” ucap Rita yang memang berniat merendahkan Mila di depan Arya. Namun Arya tidak memperdulikan hal itu, karena ia tahu Rita masih menyimpan dendam pada keluarga Rakarsa.
__ADS_1
“kamu pikir aku ngasih nomor aku sama dia tadi,?”
“loh, emang bukan ya, trus kamu ngasih nomor siapa?” tanya Rita yang mulai penasaran pada Arya.
“aku Cuma hafal satu nomor, yaitu nomor kamu,” jawab Arya tertawa dengan kelakuannya. Arya selalu memberikan nomor Rita jika ada orang yang meminta nomornya, oleh sebab itu juga yang ia hafal hanyalah nomor Rita, ia tidak mau berhubungan dengan banyak orang, sehingga setiap orang yang ingin menghubunginya, pasti harus menghubungi Rita terlebih dahulu.
Itu juga alasan kenapa Mila hanya menemukan 7 nomor di ponsel Arya. Bagi Arya, itulah caranya untuk melindungi dirinya dari orang-orang yang mengincar nyawanya, tetap bersembunyi di balik layar 3A Sahabat, tetap duduk diam di belakang meja kerjanya untuk merancang banyak desain bangunan dan membatasi komunikasi dengan orang banyak, terutama pebisnis besar yang memiliki hubungan dengan Adinata group.
“wahh, sepertinya aku benar-benar tidak akan bisa lepas darimu Arya”
“Aku tidak pernah mengekangmu Ta, kamu sendiri yang merasa berhutang padaku, padahal aku ikhlas membantumu, tapi sekarang mau gimana lagi, jika kamu pergi dariku, sepertinya aku juga harus mundur dari perusahaan, sulit sekali mencari sekretaris yang bisa ku andalkan sepertimu” ucap Arya datar, ia sama sekali tidak ingin merenggut kebebasan Rita, oleh karena itu ia tidak ingin memaksa Rita untuk bekerja dengannya, dan mempersilahkan Rita pergi jika Rita memang tidak nyaman dengan statusnya sebagai keluarga Rakarsa.
‘aku tidak akan meninggalkanmu Arya, nyawaku tidak sebanding dengan kebaikanmu, dan lagi pula aku sudah merasa sedikit senang mendengar laki-laki itu menderita karena tidak bisa memiliki anak’ batin Rita.
“kamu bilang Anjani tidak secantik Mila, memang kamu pernah melihat wajah Mila?” tanya Arya penasaran.
‘aku kok malah jadi penasarannya dengan cadar Mila ya’ batin Arya tersenyum mendengar ucapan Rita.
Arya sejenak melihat ke arah Rita yang saat ini tengah membuka ponselnya dan melihat-lihat media sosialnya. ‘Apa om Arjun masih setia sama ayah?, apa aku bisa percaya sama om Arjun untuk membantuku merebut semuanya?’ batin Arya lagi.
*
Mila tengah berjalan menuju gerbang sekolah. Di balik cadar merah yang ia pakai, ia mengumbar senyum bahagia, ia begitu senang mengingat kembali apa yang terjadi kemarin. Setidaknya sekarang ia bisa bernafas lega karena Arya sudah mau menerimanya dan tidur disisinya, dan yang paling membuatnya senang adalah Ia dan Arya tertidur saling berpelukan, entah mengapa hal itu membuat hatinya begitu berbunga-bunga.
Ketika Mila masih berdiri menunggu Vanessa di gerbang sekolah, Syifa datang menghampirinya.
__ADS_1
“Ciee, ada yang semangat nih dari pagi” goda Syifa yang telah berdiri di samping Mila, Ia telah memperhatikan tingkah Mila dari pagi yang tampak jauh lebih semangat dari biasanya.
Mila kemudian melirik ke arah Syifa dengan senyumnya yang tersembunyi di balik cadar,
“Ada angin apa nih?, apa suamimu sudah kembali?" tanya Syifa yang sudah tahu semua masalah Mila, karena mereka memang sering berbagi cerita ketika duduk di ruang guru.
Mila lalu mengangguk dengan semangat.
“aku ingin seperti kamu kak, menikah tanpa ada perasaan cinta, dan kemudian sama-sama membangun cinta itu dalam ikatan yang halal” ucap Mila dengan hati berbunga-bunganya
“Apa suamimu sudah memaafkanmu?” tanya Syifa yang membuat Mila menelan salivanya,
“dia sudah memaafkanku kak, tapi mungkin butuh waktu agar dia bisa mempercayaiku lagi, semuanya salahku, jadi sekarang aku harus berusaha membuatnya percaya sama aku, dan juga jatuh cinta kepadaku” ucap Mila berusaha menahan perasaannya yang terasa sediki sesak mengingat Arya bertahan hanya karena ia menyimpan rahasia tentang Indra.
“semua butuh proses Mil, yang harus kamu lakukan adalah menjalani semuanya dengan ikhlas seperti yang aku lakukan untuk suamiku, dan aku yakin, jika kamu bisa melalui semuanya, kehidupan rumah tanggamu pasti akan bahagia” ucap Syifa memberi semangat pada Mila.
“kandungan kakak gimana?, apa sukses hadiah untuk suami kakak?” tanya Mila yang juga penasaran dengan rumah tangga Syifa.
“Sukses Mil, dia memelukku sepanjang malam, berterima kasih kepadaku karena telah menjadikannya laki-laki yang sempurna, sepertinya dia tidak tahu, dialah yang membuatku terasa menjadi perempuan yang sempurna saat ini” ucap Syifa yang juga bersemangat dengan jawabannya.
“wah selamat ya kak, aku harap aku juga segera menyusul kakak” ujar Mila sembari mengelus perutnya sendiri.
“tapi sebelum kamu hamil, kamu harus kasih tahu dulu semua guru di sekolah kalau kamu sudah menikah, dari pada ada fitnah yang nggak-nggak sama kamu nanti.” ujar Syifa memberi saran pada Mila.
Mila sejenak berpikir pada saran yang Syifa berikan ‘kak Syifa benar, aku sudah terlalu lama merahasiakan ini semua, lagi pula Arya sudah berjanji tidak akan meninggalkanku selagi aku menyimpan rahasia tentang Indra, apa aku bikin syukuran kecil-kecilan aja di rumah ya?, setidaknya untuk orang terdekat kami’ batin Mila.
__ADS_1
“Nanti ku pikirkan kak, gimana bagusnya” ucap Mila tersenyum dan Syifa juga ikut tersenyum mendengar itu semua, namun senyuman Syifa tiba-tiba berubah menjadi pias ketika melihat seorang laki-laki tengah berjalan ke arah mereka. Mila yang menyadari perubahan wajah Syifa kemudian menjadi bingung, “kenapa kak?” tanya Mila.
“Mila” panggil laki-laki itu yang membuat Mila juga ikut pias seperti Syifa, ia memutar badannya pada sumber suara, dan benar dugaannya, Arnes sekarang sudah berdiri di dekatnya.