Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Menjauh Untukmu


__ADS_3

Arnes berusaha meraih tangan Mila, namun Mila segera menghindar, “jangan sentuh aku bang” ucapnya.


Arnes semakin marah melihat Mila, mata gadis itu yang tampak sayu menahan takut, yang seketika membangkitkan hasratnya, “kamu hanya Milikku Mil" gumamnya.


Arnes kembali berusah meraih tubuh Mila, namun kegiatannya terhenti saat mendengar suara keributan dari arah luar.


Arnes membalikkan badannya, seorang laki-laki berpakaian hitam dengan alat komunikasi di telinganya, serta logo Adinata group di dada kanannya tengah berjalan ke arah mereka.


Laki-laki itu kemudian memberi hormat kepada Mila, Vanessa dan Arnes. Arnes tersenyum.


“jadi ayah juga mengirim orang kemari” Arnes kemudian kembali melihat ke arah Mila. “kamu lihat sendiri, tidak ada orang di Adinata group yang memihak suamimu, dia akan mati seperti ayahnya yang tidak berguna, tidak ada satu pun orang pun yang akan peduli dengan kematian suamimu itu”


“sekarang ikut aku, jangan buat aku memaksamu dengan cara kasar” perintah Arnes kepada Mila.


Mila tersentak dengan keadaan, ucapan Arnes semakin menyudutkan posisinya. Mau lari ke dalam pun malah Vanessa yang masih menahan sakit yang akan menjadi korban kebuasan laki-laki itu.


Apa lagi sosok pengawal Adinata group bertubuh tegap juga terasa sedang mengancam posisinya. Air matanya menetes, ketakutan akan keadaan suaminya yang terasa di dalam marabahaya setiap saat, sekarang terasa memuncak di hati dan pikirannya.


“bajingan kamu Arnes” teriak Mila dengan penuh rasa marah, “jangan pernah sentuh suamiku” teriak Mila lagi dengan histeris. “atau aku takkan pernah memaafkanmu” teriaknya penuh emosional tak terkendali.


“tenang Mila” ucap Vanessa berusaha menenangkan adik iparnya yang tampak terbawa emosi.


Arnes tertawa sinis “dasar perempuan tak berguna” umpat Arnes, ia berusaha meraih tangan Mila yang tampak melemah.


Namun pengawal Adinata group segera menahan tangan Arnes. “maaf tuan, jangan sentuh nona muda” ucap pengawal itu.


Arnes melirik pengawal itu dengan kebingungan, “apa hak kamu melarangku?”


“kami diminta tuan muda untuk memastikan nona muda tidak disentuh siapa pun” ucap pengawal itu dengan tetap menunduk.


Arnes menepis tangan pengawal itu, “apa kamu tidak tahu siapa aku? ha?”


Mila dan Vanessa melihat Arnes dan pengawal itu dengan kebingungan dibayangi rasa takut.


“maaf tuan, jangan memaksa, atau kami bisa menggunakan cara kekerasan untuk menghentikan anda” lanjut pengawal itu dengan masih memberi hormat.


Arnes menelan salivanya, ia melihat ke arah pintu, disana juga berdiri beberapa pengawal Adinata group. “berani-beraninya kamu melarangaku, apa kamu tidak tahu kalau ayahku CEO?, aku bisa memecat kalian semua sekarang”


“maaf tuan, lebih baik anda meninggalkan tempat ini” lanjut pengawal itu.


Arnes menarik nafas kasar, ia kemudian melihat ke arah Mila, “Mil, ikut denganku sekarang” ucap Arnes, jika ia gagal saat itu, ia mungkin tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk menemui Mila.


Mila menggeleng, “keluar kamu dari apartemenku” ucap Mila dengan tegas.


“ikut denganku Mil” ucap Arnes dengan nada menekan.


“apa yang kalian lakukan?, cepat usir laki-laki ini” perintah Vanessa kepada pengawal Adinata group.

__ADS_1


“baik nona” jawab Pengawal itu dengan menundukkan kepala.


“mari tuan, saya antar keluar dari sini” ucapnya kepada Arnes. “sial” umpat Arnes dengan marah.


“aku akan pastikan suamimu itu mati dan kamu akan menjadi milikku Mil, lain kali jika kamu menolakku, aku takkan ragu untuk menggunakan cara kasar” ucapnya, ia menyerah dan keluar, disana orang suruhannya tampak tersungkur dengan beberapa luka memar.


Mila melepas nafas lega berulang kali, ia berusaha menenangkan dirinya agar kondisinya tidak mengangggu kehamilannya.


Vanessa membantunya untuk duduk di sofa.


“kalian tolong mereka untuk dibawa ke rumah sakit” perintah Vanessa kepada pengawal Adinata group, tangannya menunjuk ke arah Andi dan Diaz yang sudah berdiri di dekat pintu dengan wajah memar dan bibir berdarah.


“tidak nona, kami baik-baik saja” jawab Andi.


“tapi itu,,”


“mereka bisa merawat diri mereka sendiri nona” potong pengawal Adinata group dengan sopan.


Vanessa mengalah, ia mengeluarkan ponselnya untuk segera menelfon Ari. Ia masih ingat kalau Arya masih ada rapat dewan direksi di Adinata group.


*


Arya baru saja selesai ikut rapat dewan direksi, saat ia keluar dari ruang rapat di lantai lima gedung Adinata group, Chris langsung menghampirinya dan berbisik. Mata Arya membulat tak percaya, rasa takut dan khawatir bercampur aduk di dalam hatinya.


“gimana keadaannya Chris?”


Arya menarik nafas kasar, Ia segera melihat ke arah Rita, “aku harus pulang Ta, kamu diantar Ortin ya ke kantor” ucap Arya.


Rita mengangguk pelan melihat wajah khawatir Arya. Arya kemudian segera menuju lantai bawah diikuti oleh Chris dan beberapa pengawalnya.


Setelah Arya menjauh, Rita melihat ke arah Ortin, “apa yang terjadi?” tanyanya.


Ortin menarik nafas kasar, “nanti di mobil saya ceritakan nona, disini terlalu banyak orang”


Sementara itu, di kamarnya Mila, Anjani tengah memperhatikan dokter Karina yang tengah memeriksa keadaan Mila, tangannya mengusap lembut kepala Mila yang tampak masih berkeringat di dahinya. Vanessa memperhatikan mata Anjani yang tampak tulus melihat Mila.


Gadis itu hendak mengunjungi Mila pagi itu, namun saat ia masuk, ia mendapati sahabatnya itu dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Seketika saja ia merasa khawatir dengan keadaan Mila, apalagi saat ia mengingat Mila sedang hamil muda.


“kamu istirahat dulu ya Mil, kembalikan dulu tenagamu, jangan banyak pikiran, apalagi sampai stress” ucap dokter Karina.


“apa kandungannya baik-baik saja dok?” tanya Anjani dengan pelan.


Dokter Karina menarik nafas pelan. “Sejauh ini tidak masalah, kandungannya baik-baik saja, jika tenaga Mila sudah pulih, semua akan aman” dokter Karina kemudian mengusap lengan Mila, “kamu ibu yang kuat Mil, dalam keadaan hamil muda begini, kamu sudah menghadapi masalah yang berat”


Mila berusaha tersenyum menanggapi ucapan dokter Karina. “jika kamu masih mengkhawatirkan keadaan kandunganmu , kamu bisa cek langsung ke dokter kandungan Mil” saran dokter Karina.


Dokter Karina kemudian membereskan peralatannya, “aku harus segera balik ke rumah sakit, Ari tadi menarikku kesini tanpa memperdulikan kesibukanku” rutu dokter Karina sembari menyimpan peralatannya ke dalam tas. Ia kemudian memberikan beberapa tablet obat kepada Vanessa untuk mengembalikan tenaga Mila dengan cepat.

__ADS_1


"kasih ke Mila setelah makan ya, kalau fisiknya udah kembali fit jangan diminum lagi" jelas dokter Karina, Vanessa mengangguk paham.


“maaf dok, kami merepotkanmu” gumam Mila dengan pelan.


“nggak apa-apa Mil, kalian kan sahabatku” dokter karina tersenyum pada Mila, "aku pamit dulu ya”


Vanessa kemudian mengantar dokter Karina keluar, sementara Anjani masih mengusap lembut kepala Mila.


“kamu marah pada kami Anjani?” tanya Mila dengan mata berkaca-kaca mengalihkan pandangannya dari wajah Anjani.


“nggak Mil, mana mungkin aku marah sama kalian”


“lalu kenapa kamu tidak mencari kami setelah tahu semuanya?” tanya Mila lagi.


Anjani kemudian mengalihkan tangannya dari kepala Mila ke jemari Mila, ia menggenggam erat jari-jari Mila.


“setelah aku melihat berita tentang Arya, aku sudah ingin menemui kalian, aku marah dan kecewa sama kalian saat itu, terutama Arya, dia benar-benar tega menyembunyikan ini semua dariku,


“tapi saat aku di Lobi, semua orang membicarakan pernikahanku akan membuat keadaan Adinata group semakin panas, mereka bilang bakalan ada perebutan kekuasaan antara Arya dan Arnes, mereka juga bilang bakalan ada kasus seperti tuan Gibran dulu,


Anjani sejenak menarik nafas panjang,


“aku kemudian memikirkan apa yang terjadi Mil, seharian aku memikirkannya, aku sadar dengan posisiku, jika mereka tahu aku dekat dengan kalian, mereka akan memanfaatkanku untuk menghancurkan kalian, untuk itu aku pikir aku harus menjauh lebih dulu dari kalian,


“tapi kemarin ayah bilang ia sudah membatalkan pertunanganku dengan Arnes, ayah Arnes sedang terkena kasus penggelapan uang, jika pertunangan tetap dilanjutkan, posisi aku dan ayah akan semakin lemah di mata pemegang saham,


Anjani kemudian tersenyum, “dan sekarang aku bisa disini bertemu denganmu lagi, posisi Arya sudah sangat menguntungkan Mil, Arnes hanya sedang berusaha menyerang Arya melalui dirimu, karena hanya kamu yang ia lihat sebagai kelemahan Arya,” jelas Anjani panjang lebar.


"Arya sebenarnya tidak ingin menyembunyikannya dari siapa pun Anjani, termasuk kamu, tapi ia harus menyelamatkan dirinya dari kejaran ayah bang Arnes" bela Mila kepada Arya.


"aku tahu Mil, cuma itu satu-satunya alasan Arya menyembunyikannya"


“apa kamu ingin merebut Arya dariku setelah tahu semuanya Anjani?” tanya Mila dengan penuh selidik.


“aku sudah bilang kalau aku bukan perebut suami orang, aku dan Indra adalah sahabat dari dulu, dan sampai kapanpun akan seperti itu” ucap Anjani,


“kita sahabat Mil, sahabat tidak akan pernah saling menyakiti” ucap Anjani dengan pelan, ia kemudian mengecup dahi Mila dengan tulus.


Mata Mila meneteskan air mata, entah kebaikan apa yang dilakukan suaminya sehingga orang-orang yang dekat dengan suaminya itu adalah orang-orang baik dan tulus. Mulai dari Tomy, Ari, dan Arbi, hingga Rita, dokter Karina dan sekarang Anjani. Mungkin hanya ia yang mengecewakan Arya selama ini.


“aku benar-benar bersyukur kepada Tuhan atas kehadiran dan ketulusanmu Anjani, kamu benar-benar sahabatku” gumam Mila.


Anjani melepas nafas panjang, lebih dari 2 minggu ia berusaha menenangkan dirinya seorang diri, agar dapat menerima dan memaafkan Mila dan Arya atas rahasia besar itu.


Rasa sakit dan kecewa bercampur, tak menyangka sahabatnya Indra merahasiakan jatidiri darinya yang selalu mengharapkan Indra kembalinya.


Rasa itu bercampur juga dengan rasa bahagia saat mengetahui bahwa Arya adalah Indra, sahabatanya dulu yang telah lama menghilang.

__ADS_1


__ADS_2