Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Kata Cinta


__ADS_3

Arya melihat wajah Mila tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun, tindakan yang membuat Mila merasa risih. Mila membalas tatapan mata Arya, “kenapa kamu melihatku seperti itu Arya?”


Arya tersenyum, “aku nggak boleh melihat kamu ya”


Mila masih menatap mata Arya, teduh dan hangat seperti biasa, “bukan itu, aku risih jika kamu lihat seperti itu terus”


Arya tersenyum, "aku hanya ingin melihatmu lebih lama"


"Apa aku masih cantik Arya?" tanya Mila dengan mata penuh selidik.


"dari dulu sampai sekarang kamu tetap cantik Mil"


Mila melihat Arya dengan menyipitkan matanya, ia melihat wajah Arya dengan lekat, mencari kejujuran atas ucapan suaminya itu.


"kenapa kamu melihatku seperti itu?" kali ini Arya yang bertanya.


"aku merasa sedikit gemuk sekarang, jadi aku ragu dengan ucapanmu itu"


Arya tersenyum, "emang kapan aku bohong kepadamu Mil?" jawab Arya.


ia kemudian bangkit, tehnya sudah habis. Ia harus segera menuju Adinata group, ada pertemuan masalah yang harus ia selesaikan disana.


Mila melepas nafas kasar, pertanyaan itu jawabannya masih sama seperti dulu, 'tidak pernah' dan tentunya ia berharap, sampai kapan pun jawaban itu akan tetap sama dan tidak akan pernah berubah.


Mila kemudian mengikuti langkah suaminya, ia membawakan tas kerja Arya yang ditaruhnya di ruang tengah saat keluar kamar.


Arya yang tengah memasang sepatunya sejenak memikirkan sesuatu, ia melihat ke arah wajah Mila yang telah ditutupi cadar, mata gadis itu melihatnya dengan penuh rasa sayang.


“kandunganmu udah mau jalan 2 bulan kan?, tapi kok kamu belum ngidam sesuatu ya?” tanya Arya.


Mila sejenak berpikir, dia belum menginginkan hal yang aneh-aneh, apa yang ia mau sudah ada di kulkas dan semuanya adalah hal yang biasa mereka konsumsi setiap hari.


“apa orang hamil itu ngidamnya harus aneh-aneh ya?” gumamnya dengan pelan.


Arya mengangkat kedua bahunya, ia sama sekali tidak tahu tentang itu.


"kamu mau makan apa malam ini?" tanya Mila.


"apa aja Mil?, apa pun yang kamu masak tetap enak kok" puji Arya.


Mila tersenyum tipis, pujian itu sudah cukup menyenangkan hatinya, walau ia sadar, pujian itu lebih tepat untuk Vanessa.


“apa siang ini aku boleh ke kantormu?” tanya Mila, ia sudah bosan di apartemen itu, ditambah lagi Andi dan Diaz yang selalu berjaga mengawasi pintu apartemen mereka, membuatnya merasa tak nyaman jika diawasi seperti itu.


“nggak usah Mil, kamu disini saja” ucap Arya.


Mila melepas nafas kasar, kecewa, ia hanya ingin berganti suasana untuk sesaat. “kamu bilang bang Arnes sudah ditahan karena laporan Tomy, kenapa aku masih belum boleh keluar?”


Arya melihat mata istrinya yang tampak lesu, “siang ini aku masih ada agenda dengan orang-orang dari Bian corp, nanti aku usahin pulang cepat ya, biar kita bisa menjenguk kakek, kamu kan udah lama nggak melihat kakek”


Mila melihat mata Arya, ia kemudian tersenyum dan mengangguk pelan tanda setuju.


Mila kemudian memberikan tas Arya dan mencium tangan suaminya, Arya membalasnya dengan mengecup kening Mila. Arya kemudian berlutut, sikap yang membuat Mila mengernyitkan dahinya.


Arya kemudian mencium perut Mila yang mulai sedikit membesar. "aku harus berpamitan juga dengan malaikat kecil kita"

__ADS_1


Mila tersenyum, ia memegang kepala Arya dengan rasa bahagia. "aku mencintaimu Arya" gumam Mila.


Arya kemudian berdiri, ia menghadiahi kecupan singkat di bibir Mila dengan dibatasi cadar.


"aku pamit ya sayang, assalamualaikum"


"walaikumussalam" jawab Mila dengan rasa getir, kata cinta itu masih belum keluar dari mulut suaminya.


Pintu apartemen telah tertutup, Mila masih berdiri disana memikirkan, kenapa kata cinta itu tak pernah keluar dari mulut Arya.


Pagi itu Arya menuju Adinata group bersama Chris dan Ortin, serta 7 pengawal lainnya.


Setelah mendengar kabar Aliando kemarin, Arya merasa harus segera menyelesaikan beban trauma dan rasa takutnya. Agar tidak ada lagi beban masa lalu yang akan menyakiti perasaannya di masa depan.


Apa lagi ia sudah menikah dan akan menjadi sosok ayah. Ia tidak ingin hidup dengan beban tersebut, dan membebani dirinya yang akan berdampak pada Mila dan anaknya nanti.


Di dalam mobil, Arya terus memandangi 2 foto yang selalu ia bawa, Chris yang duduk disebelahnya memperhatikan sikap Arya tanpa berpaling sedikit pun. Sementara Ortin yang menyetir sesekali melihat Arya dari cermin dashboard mobil.


‘mungkin inilah harinya’ batin Arya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju Adinata group, 1 mobil lainnya mengawal dari belakang.


“apa tuan yakin tidak memberi tahu tuan Ari dan yang lainnya soal ini?” tanya Chris dengan bernada sopan kepada Arya.


“iya Chris, mereka pasti akan menahanku, termasuk juga om Haris nanti” gumam Arya.


“aku memang memerlukan bantuan mereka untuk sampai di titik ini, tapi ini tetaplah masalahku dengan laki-laki itu, dan hanya aku yang bisa menyelesaikannya, melepas semua beban di masa laluku” ucap Arya dengan pelan.


Chris terdiam, ia memejamkan matanya, kemudian ia menyentuh sudut kaki kanannya, ia mengangkat celana bagian bawahnya dan mengeluarkan sebuah pistol dari sana.


“ini apa Chris?” tanya Arya dengan datar.


Matanya tampak datar melihat pistol itu, sementara dadanya menggebu hebat. Ia kembali teringat pada pistol yang terangkat mengancam nyawa ibunya, Arya memejamkan matanya, 2 peluru yang menembus dadanya ibunya kembali berputar di ingatannya. Dadanya semakin berdetak cepat, melawan rasa takut dan sakit itu.


“untuk melindungi diri tuan jika dia berbuat nekat selama di dalam ruangan itu” jawab Chris yang tak menyadari ketakutan Arya pada benda itu.


Arya berusaha tersenyum, ia kemudian mendorong tangan Chris yang memegang pistol itu.


“jangan khawatir Chris, aku menguasai silat sejak kecil, aku bisa mengatasinya dengan tangan kosong” tolak Arya.


“silat untuk adu fisik tuan, silat tidak bisa menahan peluru atau pisau yang bisa saja dipegang laki-laki itu” jawab Chris.


Chris kemudian membuka celana bawah Arya di kaki kanan, Ia menaruh pistol itu dibagian luar betis bawah Arya.


“aku bukan pembunuh Chris, aku kesana bukan untuk membalas dendam”


“senjata itu tergantung kepada yang memegangnya tuan, jika yang memegangnya adalah pembunuh, maka senjata itu akan digunakan untuk membunuh, jika senjata itu dipegang oleh orang yang membela diri, maka ia akan digunakan untuk membela diri” ucap Chris dengan datar.


“jika keadaan darurat, tuan bisa menyerangnya dibagian ini, ini, ini, ini, dan ini, itu akan melumpuhkannya tuan” ucap Chris sembari menunjuk beberapa bagian tubuhnya mulai dari kaki, paha, bahu, dan beberapa titik di bagian lengan.


Arya menarik nafas kasar, ia melihat datar ke arah Chris,


“saya tahu tidak akan ada peluru yang keluar nanti, tapi ini adalah tugas saya untuk melindungi tuan,” ucap Chris dengan masih bernada sopan.


Mobil mereka terus melaju menuju Adinata group dengan kecepatan sedang. Memecah jalanan ibukota yang padat seperti biasa.

__ADS_1


Arya masuk masuk ke dalam gedung Adinata group dengan langkah cepat. Semua orang memberi hormat kepadanya, untuk kali itu ia mengabaikan semua penghormatan itu. Ia melangkah cepat menuju lift, sementara Ortin menuju meja resepsionis untuk mengabarkan kedatangan Arya yang ingin menemui Aliando.


Ortin segera mengikuti Arya dan yang lain tanpa mendengar jawaban resepsionis tersebut.


Sementara resepsionis tersebut segera menghubungi sekretaris Aliando untuk memberi kabar kedatangan Arya.


Selama berada di dalam lift, Arya berulang mengatur udara yang masuk ke dalam tubuhnya.


Menguatkan dirinya untuk menghadapi bayang-bayang Aliando yang hendak membunuhnya 22 tahun silam.


Menghadapi pertemuan itu membutuhkan kekuatan lebih bagi dirinya, dan mungkin itulah saat yang tepat, sebelum Aliando menghadapi kasus yang akan dilaporkan Rena dan pengacara perusahaan hari itu juga ke pihak berwenang.


“apa aku terlihat lemah Chris?” tanya Arya yang merasa Chris melihatnya dari tadi.


Sementara Ortin dan yang lain menundukkan kepala mereka.


Mungkin itulah yang mereka dengar dari Andi dan Diaz seperti apa karakter Arya, selama mengawal Mila, tak pernah mereka merasa dianggap sebagai pesuruh, bahkan sikap Arya membuat mereka merasa belum melayani tuan mereka itu dengan baik.


“setiap orang memiliki kelemahan dan ketakutannya sendiri tuan, semuanya kembali lagi bagaiman orang itu menghadapinya” gumam Chris menjawab pertanyaan Arya.


Arya melepas nafas panjang, ia telah membuat keputusan menemui Aliando dan melawan rasa takut dan traumanya pada sosok itu. ‘ayah ibu, aku akan menghadapinya hari ini’ batin Arya penuh emosional.


Emosional yang sebisa mungkin tidak ia perlihatkan melalui sikap, wajah dan matanya.


Pintu lift terbuka, Arya bergegas berjalan menuju ruangan Aliando, Ortin berjalan di depan karena dia sudah tahu ruangan Aliando dari pengawal Adinata yang sebelumnya juga ikut mengawal Arya.


Ortin segera membuka pintu ruangan Aliando tanpa mengetuknya terlebih dahulu, di dalam ia melihat sekretaris Aliando tengah berdiri memberitahu Aliando tentang kedatangan Arya.


Mata mereka berdua tampak sinis melihat kedatangan Arya. Arya masuk didampingi Chris, sementara Ortin dan yang lain menunggu di luar.


“saya sangat terhormat karena tuan muda datang kemari” ucap Aliando yang menyambut Arya dengan langsung berdiri.


Sekretaris Aliando kemudian memberi hormat kepada Arya. “selamat pagi tuan” gumamnya.


Arya melirik ke arah Chris, dan Chris paham dengan apa yang harus ia lakukan. Chris menarik kerah kemeja sekretaris Aliando dan menarik laki-laki itu keluar dengan kasar.


Tindakan yang membuat sekretaris Aliando kaget dengan apa yang terjadi.


“apa yang kau lakukan?” gumam sekretaris Aliando dengan marah.


Namun Chris tak peduli, ia tetap menyeret laki-laki itu keluar, dan menutup pintu dari luar.


Meninggalkan Arya yang tengah bertatapan langsung dengan Aliando.


***


.


.


.


pagi ini 1 dulu ya😉.


nanti aku usahin 1 lagi 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2