
Arya memejamkan matanya, dan setetes air mata jatuh dari pelupuk mata kirinya ketika mengingat betapa menyakitkannya peristiwa yang telah terjadi 22 tahun lalu itu, ia masih dapat mengingat dengan jelas ayahnya yang tergeletak berlumuran darah, ia masih dapat mengingat detik demi detik ketika ibunya berkata “lari,,,,lari,,,” dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dipelukkannya, dan yang jauh lebih menyakitkan adalah ia harus menghadapi itu semua ketika masih berumur 6 tahun.
“apa luka ini harus kubalaskan? dan aku harus merebut semua yang diambil orang itu, bahkan anaknya telah mencuri perasaan istriku yang harusnya aku miliki” gumam Arya menahan sesak di dadanya, ia kembali melihat pemandangan indah yang di depannya,
‘akankah masa depanku seindah pemandangan ini, entah itu harus merebut semuanya atau tidak, entah itu bersama Mila atau tidak, aku hanya ingin semuanya akan menjadi indah seperti pemandangan ini’
*
Mila menatap kosong kursi yang ada di depannya, kursi yang biasa ditempati Arya setiap kali Arya duduk di meja makan itu, Vanessa menatap sedih melihat adik iparnya yang tampak tak bersemangat memakan sarapannya. Ia kemudian menyentuh bahu Mila dan mengelusnya dengan lembut.
“dek, apa kamu masih memikirkannya?”
“ntah lah kak, aku hanya berharap dia kembali, dan mau memberiku maaf” Mata Mila berkaca-kaca ketika menyatakan harapan yang telah lama tersimpan di dalam lubuk hatinya itu.
“dek, apa hatimu telah memilihnya?”
“apa aku harus memastikan hatiku dulu untuk memilih kak?, apa aku tidak berhak mengharapkannya walaupun hatiku belum memilih siapa-siapa diantara mereka”
“ini bukan hanya tentang pilihan hatimu dek, ini menyangkut kehidupan yang dia jalani, dia hanya butuh kepastian, jika kamu tidak bisa memberinya kepastian, maka biarkan dia memilih sendiri jalan hidupnya dek, jangan memaksa lagi untuk bertahan, apa lagi jalan kalian nanti benar-benar akan sulit untuk kalian hadapi”
Vanessa menjelaskannya dengan air mata yang telah membasahi pipinya, dia merasa tidak ikhlas jika Arya pergi dari Mila, namun ia juga harus sadar, jalan yang di hadapi Arya juga sulit, bukan hanya tentang perusahaan keluarga Mila yang saat ini sekarat karena perusahaan Arya yang mungkin jika Mila tahu, Mila akan marah besar pada Arya.
Tetapi juga tentang Rita yang ada di sisi Arya, yang dalam penilaian Vanessa, gadis itu tidak akan pernah ikhlas dengan pernikahan Mila dan Arya, Vanessa seperti merasakan bahwa ada dendam masa lalu di hati gadis itu yang mungkin tak akan pernah bisa terobati, walaupun sejatinya ia juga tidak paham kenapa Rita seperti masih menyimpan dendam setelah peristiwa perjodohan yang telah lama berlalu itu,
Belum lagi dokter Karina yang ia temui di rumah sakit, kata-katanya seperti menyiratkan ancaman bagi hubungan Mila dan Arya,
“apa mereka yang dikatakan oleh Ari kemarin?, apa karena mereka Arya hilang kabar sampai sekarang?” ucap dokter Karina pada saat itu, kemudian dokter Karina berkata lagi,
“Saya sudah mengenal Arya lebih dari 5 tahun, tapi baru kali ini saya melihat Arya seperti ini, apa kalian bisa menjelaskan kepada saya apa yang terjadi pada sahabat saya itu?”
__ADS_1
Itulah dua kalimat dari dokter Karina yang seperti menjadi ancaman bagi hubungan Mila dan Arya, Vanessa merasa masih banyak hal lagi tentang Arya yang belum ia ketahui, pikirannya kembali melayang pada sosok Ari yang bersikap kasar kepadanya. Ia bahkan menduga Ari akan bersikap kasar jika bertemu dengan Mila, persis seperti sikap Ari kepadanya.
‘Jika Mila tidak bisa memberikan hati sepenuhnya kepada Arya, maka yang ada mereka hanya akan saling menyakiti atas keadaan yang tak memihak pada hubungan mereka’ batin Vanessa menahan sedihnya.
“aku ingin sekali memilih Arya kak, tapi aku juga tidak bisa melepas bang Arnes dengan mudah” jawab Mila dengan suaranya yang mulai gemetar menahan sesak di dadanya.
“Apa kamu tidak percaya pada abang dan Abel jika laki-laki itu hanyalah seorang ******** Mil?” tanya Vanessa pada Mila yang masih heran pada Mila, ‘kenapa Mila masih saja mencintai laki-laki itu?, padahal Abel, dan bang Irman telah menceritakan seberapa bajingannya Arnes kepadanya'
“kak, bukan aku tak percaya, tapi aku butuh bukti untuk itu semua, aku sudah terlanjur cinta dan percaya kepadanya” bela Mila pada perasaannya sendiri.
Mila bahkan benar-benar bingung dengan dirinya sendiri, di satu sisi ia sangat menginginkan Arya kembali padanya, bahkan ia sangat ingin memilih Arya daripada Arnes, namun dari sisi lain ia juga masih mengharapkan Arnes, walaupun ia masih takut untuk bertemu Arnes, karena ia merasa takut Arnes akan berbuat buruk kepadanya, namun tetap saja hatinya menolak segala tuduhan kepada Arnes. Keadaan hati yang benar-benar membuat ia bingung saat itu.
“apa kamu ingin dia mengakui kebejatannya di depan mu Mil?, apa kamu pikir dia akan mengakui seluruh keburukannya di depanmu?, bukti apa yang kamu perlukan?” Vanessa menatap heran kepada adik iparnya itu, ia benar-benar tidak dapat memahami tentang hati Mila yang baginya abu-abu tidak dapat ia lihat.
“aku,, aku hanya ingin Arya kembali kak” ucap Mila pasrah dengan keadaan hatinya yang tidak menentu,
“kakak benar-benar tidak mengerti dengan dirimu Mil, kamu menginginkan Arya kembali, sementara kamu juga tidak bisa memilih diantara mereka, mau sampai kapan kamu seegois ini” ucap Vanessa kesal,
*
Abel menatap dalam wajah Tomy yang masih setia dalam pingsannya, mata Abel bahkan sudah memerah, setelah berhari-hari selalu menangis ketika berbicara pada Tomy yang masih pingsan, ia menceritakan kepada Tomy seperti apa ia merindukan Tomy setiap hari, ia juga bercerita seperti apa setianya ia menunggu pesan-pesan dari Tomy yang bekerja di Bandung, sementara ia berdiam diri melihat ponsel di kamar menunggu pesan dari Tomy.
Abel juga menceritakan betapa bahagianya ia ketika Tomy mengajaknya untuk menikah, ia juga menceritakan betapa bahagianya ia ketika Tomy datang ke rumahnya untuk melamarnya, ia menceritakan secara detail betapa berbunga-bunganya hatinya ketika Tomy hadir kedalam kehidupannya.
Namun kesedihan hatinya tidak dapat ia sembunyikan, ia merasa kecewa pada dirinya sendiri karena kehadirannya tidak mampu membuat Tomy tersadar dari pingsannya,
“Tom, sadarlah Tom, jangan seperti ini terus, aku takut kehilanganmu” lirih Abel kepada Tomy,
Abel sejenak melihat ke arah ponsel Tomy yang berada di atas lemari kecil di sebelah ranjang Tomy, ‘kenapa Arya tak kunjung menelfon Tomy?, apa dia tidak khawatir sama sekali?, ini bahkan sudah lewat dari 2 minggu mereka tidak saling komunikasi,’ batin Abel yang merasa aneh dengan diri Arya.
__ADS_1
Pintu kamar Tomy, terbuka, Dokter Karina masuk dan segera melangkah ke arah ranjang Tomy, ia sejenak melihat ke arah Abel sebelum bekerja memeriksa keadaan Tomy,
“gimana dok keadaan Tomy?” tanya Abel tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Tomy,
“aku juga bingung Bel, seharusnya Tomy sudah sadar, tapi ini ia masih belum sadar juga” ucap dokter Karina dengan nada herannya.
“truss apa masalahnya dok?, kenapa Tomy nggak bangun-bangun juga?”
“kamu sudah coba ajak dia bicara Bel, terkadang kita harus merangsang pikiran seseorang untuk membantu mengembalikan kesadarannya, ya semacam merangsang pikirannya untuk bekerja dan mendorong agar kesadarannya kembali” ucap Dokter Karina,
“sudah dok, aku sudah berbicara banyak hal kepadanya, tapi dia belum sadar juga” Abel terdengar bicara putus asa, ia kemudian menoleh ke arah dokter Karina, dan tampaklah oleh dokter Karina Abel yang tengah berusaha menahan air matanya.
“Aku tahu Tomy dan Arya sangat dekat Bel, mungkin jika mendengar suara Arya bisa membuat Tomy segera sadar” jelas dokter Karina,
Abel melepas nafas panjang, ia telah lama menunggu Arya menghubunginya atau pun ponsel Tomy, namun tak kunjung Arya menghubungi kedua ponsel yang dipegang Abel itu, ia juga sudah berupaya menghubungi Arya melalui nomor yang disimpan Tomy, namun hasilnya nihil, ponsel Arya sama sekali tidak aktif.
“aku sudah berusaha dok, tapi nomor Arya tidak aktif sama sekali, Ari juga sudah ke kontrakan Arya, tapi tidak ada orang disana, kami sudah berusaha menghubunginya dok, tapi nihil semua, tidak ada yang tahu kabar Arya sekarang” jelas Abel yang semakin lesu.
Dokter Karina mengangguk pelan, ia memang sudah mengetahui semuanya dari Ari, dan bahkan ia sendiri sudah berkali-kali menghubungi Arya, dan ia juga telah datang ke kontrakan Arya dan memang kontrakan itu kosong.
“Bel, apa kamu tahu Arya sedang ada masalah apa?, sudah lama aku mengenalnya, tapi baru kali ini ia menghilang tidak ada kabar seperti ini” tanya dokter Karina yang sebenarnya telah lama menyimpan rasa penasaran tentang penyebab Arya yang tiba-tiba menghilang.
Abel kembali melepas nafas panjang untuk menjawab pertanyaan dokter Karina.
“aku tidak bisa banyak bicara dok soal masalah Arya, ini masalah rumah tangganya” jawab Abel yang membuat mata dokter Karina membelalak kaget,
“rumah tangganya? apa maksudmu Arya sudah menikah”
Abel melirik aneh ke arah dokter Karina, “bukankah dokter sudah lama mengenal Arya?, kenapa dokter tidak tahu kalau Arya sudah menikah?”
__ADS_1
deg,,,deg,,, dokter Karina menelan salivanya, tubuhnya terasa gemetar, dunianya terasa runtuh seketika mendengar kabar itu.