
Arya melihat pesan chat dari Mila, “kamu suami keren” pesan singkat itu dikirim dengan emoji semangat dan api. Arya melepas nafas kasar membacanya.
“terima kasih sayang, doakan aku semoga rapat direksinya lancar” balas Arya.
"benarkan tadi pagi kamu manggil aku sayang, masak manggil sayangnya curi-curian kayak gitu, kayak anak kecil tahu' balas Mila.
Arya seketika saja tertawa tipis membacanya,
"iya, aku sayang sama kamu, sayang bangat malah" balas Arya, Ia kemudian saling berbalas chat dengan Mila.
Sementara Rita disampingnya tengah menyiapkan dokumen yang akan dibahas pada rapat dewan direksi nanti. Mereka tengah duduk di Loby lantai lima, lantai dimana rapat direksi akan digelar hari itu. Didekat mereka, para pengawal masih setia berdiri menjaga tuannya.
Aliando lewat di depan Arya tanpa memperdulikan Arya sama sekali, di depan Aliando, Haris juga tengah berjalan menuju ke arah Arya. Melihat Aliando, Haris menghentikan langkahnya dan melihat datar ke arah Aliando.
“kau bertindak sesuka hatimu disini, menggelar konferensi pers dan rapat direksi tanpa persetujuanku” ucap Aliando dengan tajam.
Haris tersenyum singkat, ia melihat Aliando dengan tenang, “anda hanya CEO, bukan pemilik perusahaan, jadi lebih baik anda jangan bersikap sok berkuasa disini” ucap Haris. “saya dewan direksi, saya juga memiliki hak untuk menggelarnya”
“kamu sudah melebihi wewenangmu Haris” ucap Aliando penuh penekanan.
Haris terdiam, ia melepas nafas kasar, “ya sudah terserah anda, kalau saya salah, saya tidak akan melakukannya lagi” jawab Haris dengan datar.
Berdebat dengan orang yang tengah emosi seperti Aliando saat itu takkan membuahkan apa-apa. Haris kemudian meninggalkan Aliando untuk duduk di dekat Arya dan Rita. Sementara Aliando melepas nafas kasar dan melanjutkan langkahnya menuju ruang rapat.
“gimana tuan?, apa konferensi persnya menegangkan” ucap Haris setelah duduk di dekat Arya.
“tidak paman, aku cukup menikmatinya”
“10 menit lagi rapat dewan direksi akan dimulai,” ucap Haris melihat jam di tangannya, “tuan tenang saja, ada saya dan Rena yang akan membantu tuan menghadapi petinggi perusahaan ini,”
Arya mengangguk pelan, “aku belum banyak mempelajari kondisi perusahaan paman, dokumen yang disiap Rita juga tidak mendetail, aku rasa bantuan paman benar-benar akan dibutuhkan nanti”
"data yang dikirimkan tante Rena juga masih kasar om, aku sulit memilah data itu untuk Arya" ucap Rita dengan kesal,
2 hari ia menghabiskan waktu mengolah data yang dikirim Rena, namun data itu masih sulit ia pahami. Ia seperti baru belajar menjadi seorang sekretaris, persis sama saat ia pertama kali menjadi sekretaris Arya di 3A Sahabat, tidak tahu apa-apa sama sekali.
Haris tersenyum tipis, “kami sudah siapkan semuanya, tuan dan kamu Rita, ikuti saja alurnya, orang-orang Aliando pasti menyerang anda di rapat nanti, tapi tuan tenang saja, masalah anggaran sudah cukup membuat mereka diam nanti di dalam” jawab Haris,
Haris kemudian berdiri “mari kita menuju ruang rapatnya tuan, semuanya pasti sudah menunggu tuan disana” ucap Haris mempersilahkan Arya untuk berjalan lebih dulu.
Arya dan Rita kemudian berdiri mereka mengikuti langkah pengawal Adinata yang selalu menuntun mereka sejak menginjakkan kaki di Adinata group tadi pagi. Di belakang mereka Chris dan Ortin masih setia berdiri mengawal tuannya. Sebelum masuk ke dalam ruangan, Arya menitipkan ponselnya kepada Chris agar tidak menganggunya selama rapat berlangsung.
__ADS_1
Arya dan Rita masuk ke dalam sebuah ruangan, mewah dan elegan, itulah kesan pertama ketika masuk ruangan tersebut. Disana terdapat meja persegi panjang yang salah satu ujungnya membundar.
Para dewan direksi dan petinggi perusahaan Adinata group yang telah duduk di kursi mereka masing-masing segera berdiri memberi hormat kepada Arya. Semua orang disana memakai pakaian yang elegan. mulai dari jas, dasi hingga sepatu yang mereka kenakan adalah barang-barang berkualitas terbaik. Menggambarkan seperti apa status sosial mereka di masyarakat.
Rita dan Arya segera duduk di kursi yang disiapkan untuk mereka. Arya mengangkat kepalanya, memperhatikan setiap mata yang menyorot ke arahnya. Ia menarik nafas kasar, ia mengalihkan pandangannya dengan melihat sebuah dokumen yang diberikan Rita kepadanya.
“ini dokumennya Ta?”
“Iya Arya,” jawab Rita “ini sudah diringkas semuanya, kamu baca aja sekilas, nanti om Haris akan bantu kamu menjelaskan”
Arya mengangguk pelan. Dari semalam ia sudah membaca beberapa dokumen Adinata group untuk mempersiapkan rapat tersebut. Memahami seluk beluk perusahaan sebesar itu bukanlah hal mudah, apa lagi yang ia hadapi adalah orang-orang yang telah paham jalannya semua lini bisnis di perusahaan itu.
*
Mila menatap dalam pesan chat yang ia kirim di ponselnya, hanya centang 2, belum berubah menjadi biru. “rapatnya sudah dimulai ya” gumamnya dengan pelan.
Vanessa yang duduk disamping Mila di ruang tengah itu melihat Mila dengan datar, “Arya pasti sedang sibuk Mil” ucapnya,” jangan terlalu sering mengirim chat kepadanya, nanti konsentrasinya hilang”
Mila mengangguk pelan, ia paham dengan keadaan, toh, hanya rasa khawatirnya saja yang terlalu berlebihan. Tiba-tiba saja ponsel Mila berbunyi, ada panggilan masuk disana, Mila yang amsih memegang ponsel melihat nomor tak dikenal itu dengan heran.
“siapa Mil?, kok cuma diliatin, nggak diangkat” ucap Vanessa.
“nggak tahu kak, ini cuma nomornya aja” gumam Mila.
Sementara Mila masih di apartemen karena disuruh istirahat oleh bu Annisa dan pak Susanto.
“kamu nggak tahu apa yang terjadi malam itu Mil?” tanya Vanessa dengan pelan, ia sendiri juga masih penasaran dengan misteri malam yang mengubah hidup Arya itu.
“nggak kak, Arya nggak mau cerita, setiap membahas itu, ia pasti langsung sedih”
“kasihan Arya ya Mil, di usia sekecil itu, ia sudah harus menghadapi kehidupan yang berat”
Mila menarik nafas panjang mendengar ucapan Vanessa, “dan aku malah menambah rasa sakitnya” ucap Mila dengan rasa bersalah, “kak, apa menurut kakak aku egois meminta Arya untuk tidak pergi dariku setelah apa yang aku lakukan?. aku bahkan merasa tidak pantas mendapatkan maafnya”
“apa kamu menyesal atas keputusanmu itu sekarang Mil?”
Mila menggeleng, “aku hanya ingin bersama Arya kak, hanya itu, aku takut kalau aku egois kepada Arya”
Vanessa melepas nafas kasar, “kamu sudah hamil, ngapain lagi memikirkan apa yang terjadi, lagi pula Arya sudah menerimamu dan tidak mempermasalahkan itu semua” ucap Vanessa mengelus lembut bahu Mila.
Ponsel Mila kembali berdering, nomor yang sama kembali menghubunginya, “siapa sih?” kesal Mila sembari melihat layar ponselnya.
__ADS_1
“angkat aja Mil, mana tahu penting”
Mila menarik nafas kasar, ia kemudian mengangkat panggilan tersebut.
“halo sayang, apa kamu tidak merindukanku” gumam suara laki-laki di balik panggilan itu,
Mata Mila membulat, jantungnya berdetak cepat, rasa takut menyeruak ke dalam hatinya. Ia segera mematikan panggilan itu.
“siapa Mil?, kenapa matamu seperti itu” tanya Vanessa yang melihat mata Mila tampak ketakutan
Mila menggeleng, ia kembali fokus ke tv yang ia tonton. “bukan siapa-siapa kak, salah sambung” gumam Mila dengan pelan.
“ohh, ya udah, kita ke dapur yuk, masak dulu untuk makan siang” ucap Vanessa sembari berdiri untuk segera menuju dapur.
Sementara Mila mengambil remote tv untuk mematikan tv. Ketika ia hendak berjalan ke dapur, tiba-tiba saja terdengar notifikasi chat masuk, Mila segera melihatnya.
‘kok dimatikan Mil?, aku sedang di rumahmu sekarang, kok kamu tidak ada?’
‘aku juga ke sekolah, katanya kamu sudah berhenti ngajar’
‘apa laki-laki itu mencuri semua kebebasanmu? mengatur atur hidupmu sesukanya’
‘kamu tenang saja, aku akan merebutmu dari dia’
‘tunggu aku, aku akan menyelamatkanmu dari laki-laki kasar seperti dia’
‘sekarang kamu dimana?, ada hal yang ingin aku bicarakan’
Mila terdiam, ia sadar chat itu dari Arnes. ‘ya Tuhan, aku harus gimana’ gumam Mila.
‘kenapa dibaca aja Mil,koq nggak dibalas, lanjut chat itu kembali,
‘kamu tenang saja, dia bukan hanya musuhku sekarang, tetapi juga musuh ayahku, aku akan pastikan kematiannya untuk menyelamatkanmu, tunggu aku menjemputmu Mil, jaga dirimu baik-baik dari pria egois seperti dia’ pesan terakhir Arnes untuk Mila.
Mila menarik nafas kasar, ia masih bingung harus membalas apa, ia kembali melihat pesan chat itu, kata kematian yang tertulis disana membuat jantungnya berdetak cepat.
'ya Tuhan, lindungi suamiku’ batin Mila.
Mila segera menelfon Arya, namun panggilannya tidak diangkat sama sekali, membuatnya jantungnya semakin berdetak cepat. Berkali-kali ia menelfon, tapi tetap saja tidak masuk. Biasanya sesibuk apapun Arya di dalam rapat, suaminya itu pasti akan membalas chatnya dengan singkat, mengatakan nanti akan ‘kuhubungi lagi’.
‘apa terjadi sesuatu di rapat itu, kenapa Arya tidak membalas chat ku? dia juga tidak mengangkat telfonku, apa bang Arnes sudah berbuat sesuatu disana?’ batinnya tak karuan. Tak terasa air matanya menetes, ‘aku harus gimana sekarang, Arya, kamu baik-baik sajakan?'
__ADS_1
Kepala Mila tiba-tiba linglung, rasa khawatir dan takutnya menguras seluruh tenaganya, lututnya melemah dan ia akhirnya roboh di ruang tengah tersebut.