
“jangan senang dulu lo, besok kita selesaikan di kantor” ucap Ari yang kesal pada Arya. Ia tidak ingin bikin keributan di ruangan itu setelah Tomy sadar.
“Kalian semua kenapa disini?” terdengar suara Tomy yang parau memecah suasana mereka.
Abel secara spontan langsung memeluk Tomy yang masih terbaring disana, ia menangis melepas semua rasa takut dan lelahnya di pelukkan Tomy dengan terisak.
“Bel, kita belum menikah” ucap Tomy masih dengan suara parau,
“aku tidak peduli, aku sudah hampir mati menunggu kamu sadar disini, jadi jangan halangi aku untuk melakukan ini” lirih Abel.
Mila mengusap bahu Abel untuk menenangkan sahabatnya itu, sementara dokter Karina segera kembali memeriksa keadaan Tomy.
Ari dan Arya kemudian terduduk di sofa melihat ke arah Tomy yang tengah di peluk oleh Abel.
“Sepertinya gue harus segera menikah dengan Karina, agar gue bisa merasakan pelukkan perempuan” ucap Ari yang terdengar menggoda dokter Karina yang sedang bekerja.
Dan wajah dokter Karina dibuat pias mendengar itu semua, hatinya serasa hancur karena Arya mendengar ucapan Ari itu, namun ia tetap tegar dan melanjutkan pekerjaannya.
“segeralah menikah, agar lo ngerasain enaknya di peluk sama perempuan” ucap Arya nyeleneh yang membuat Mila langsung memerah atas apa yang ia lakukan tadi pagi, ia segera menunduk dan terus mengusap bahu Abel yang masih sedih memeluk Tomy.
Sementara dokter Karina semakin dibuat sesak dengan ucapan Arya. ‘Karina, kenapa kayak gini?, tak seharusnya kamu masih menyimpan perasaan itu?’ batin Arya yang dapat menilai dokter Karina dari raut wajahnya.
“sialan lo, mentang-mentang udah nikah,” ucap Ari sembari mendorong tubuh Arya, dan Arya langsung berdiri karena dorongan itu membuatnya hampir jatuh dari sofa, Ia kemudian mendekat ke arah Mila dan mengenggam tangan Mila yang tidak mengusap bahu Abel, tindakannya itu membuat Mila kaget seketika.
“Karina, apa aku harus sakit dulu kayak Tomy, agar kamu memelukku seperti Abel memeluk Tomy sekarang” goda Ari lagi.
“jika kamu yang sakit, aku akan menyuntikmu dengan suntikan kuda” balas dokter Karina kesal pada ucapan Ari yang membuat semua orang disana tertawa mendengarnya.
*
Arya dan Mila baru saja membereskan barang Arya di kontrakan kecil Arya, “apa kamu tinggal disini selama ini? ini sempit sekali Arya” tanya Mila yang memperhatikan Arya sedang membereskan beberapa barangnya ke dalam koper dan juga carriernya.
“ini jauh lebih nyaman dari rumahmu,” jawab Arya santai yang membuat Mila merasa getir mendengarnya.
__ADS_1
“apa rumahku yang besar tidak memberimu kenyamanan?” tanya Mila yang masih menatap Arya bekerja memasukkan barangnya.
“Kenyaman bukan dari besar dan kecilnya suatu tempat, tapi dari apa yang ada di dalamnya” jawab Arya penuh makna.
Mila melepas nafas panjang mendengar itu semua, ia paham apa maksud Arya yang terasa menusuk hatinya. Mila lalu berdiri dan berjalan ke arah Arya yang sedang memasukkan beberapa jasnya ke dalam koper dan Mila tersenyum melihat itu semua untuk menegarkan hatinya.
“aku punya hadiah untukmu di rumah, hadiah pernikahan kita, aku belum memberimu hadiah waktu itu” ucap Mila dengan tersenyum di balik cadarnya.
“hadiah pernikahan?” tanya Arya singkat.
Mila kemudian mengangkat tangan kirinya dan memperlihatkan 2 cincin dan 2 gelang yang Ia pakai, “kamu dulu memberiku hadiah pernikahan, sedangkan aku belum memberimu apapun sebagai hadiah”
“kenapa kamu memakainya lagi?,” tanya Arya yang heran melihat itu semua.
“karena aku akan menjadi istri yang baik untukmu, ini bukti kalau aku adalah istrimu” jawab Mila dengan semangat pada Arya.
Arya tersenyum mendengar itu semua, pandangan matanya kemudian tertuju pada sebuah kotak kecil berwarna kuning yang telah masuk ke dalam kopernya.
“apa kamu mau menjual kontrakan ini?” tanya Mila yang memecahkan lamunan Arya,
“Tidak Mil, aku tidak akan menjualnya” jawab Arya yang kembali melanjutkan kegiatannya.
“Kenapa?, apa kamu benar-benar ingin pergi dariku?” tanya Mila yang merasa khawatir dengan jawaban Arya.
“bukankah tadi kamu bilang agar tidak ada kata-kata itu diantara kita, kenapa sekarang kamu mengucapkannya”
“aku hanya takut, tidak ada alasan lain selain itu”
“Setiap Tomy ke Jakarta, ia pasti tidur disini, jadi aku tidak punya alasan untuk menjualnya” jawab Arya singkat.
Mila tersenyum mendengar itu, ia kemudian membantu Arya melipat baju dan memasukkannya ke dalam koper, mereka harus segera menyelesaikan itu semua karena maghrib akan segera menjelang.
Sementara itu Ari baru saja selesai membersihkan badannya, ia mengusap wajahnya dan langsung memejamkan matanya, ia benar-enar merasa lelah hari itu, setelah 3 hari berkeliling di Sulawesi, ia sekarang harus memberi tubuhnya waktu istirahat yang lebih banyak.
__ADS_1
Baru sejenak ia memejamkan mata, ponselnya terdengar berdering yang membuat Ari melengus nafas kesal, ia segera membuka ponselnya dan mengangkat telfon tersebut.
“halo, ada informasi apa?” tanyanya dengan nada dingin.
“halo boss, Anggotaku di Makassar menemukan data penerbangan tuan Arya dari Makassar ke Jakarta kemarin malam dan se,,” Dan Ari langsung menutup ponsel tersebut karena kesal, ‘kerja mereka benar-benar bagus, tapi ini malah membuatku kesal sekarang’ batinnya.
Sementara orang yang diseberang telfon tengah duduk di sebuah kafe dan memperhatikan Anjani sedang menikmati kopi dengan Ayahnya Hardiansyah, pemilik Hardi corp.
“ahhh, dasar padahal aku mau bilang tuan Arya sekarang lagi bersama nona Mila, tapi dia malah mematikannya terlebih dulu” kesalnya.
“ayah yakin tidak ada info terbaru tentang Indra?” tanya Anjani pada ayahnya.
“tidak, sepertinya anak itu tidak akan pernah kembali” jawab Hardi santai pada pertanyaan anak tunggalnya itu.
“huh, apa aku benar-benar tidak akan melihatnya lagi?” tanya Anjani dengan nada lemah.
“kenapa kamu masih memikirkannya?, ayah harap kamu akan melupakannya setelah hampir 10 tahun di Amerika” ucap Hardi lembut pada putrinya, tanpa mereka sadari percakapan mereka terdengar jelas oleh orang suruhan Ari.
“karena dia sahabat pertamaku, dan tidak ada orang yang lebih baik darinya yang pernah aku kenal” jawab Anjani sembari meminum kopinya.
“mungkin itu lebih baik, daripada kamu mencintai orang lain” lanjut Hardi.
“ayah benar-benar serius dengan perjodohan ini, ayah dulu membenci orang itu, tapi sekarang ayah malah ingin menjadikan anaknya sebagai menantu” ucap Anjani dengan nada tak senangnya.
“ini bisnis Anjani, pernikahan salah satu langkah catur untuk maju dan menjadi lebih besar, di dalam bisnis, musuh bisa menjadi kawan, dan begitu pun sebaliknya” jawab Hardi penuh makna pada anaknya.
“apa ayah tidak melihatku sebagai seorang anak?, ayah bahkan tidak membicarakan ini dulu dengan ibu, apa aku tidak berhak mengenal apa yang disebut orang dengan cinta?” tanya Anjani bertubi-tubi dengan dada sesaknya, ia benar-benar terpaksa berada di kursi itu karena permintaan ayahnya.
“aku dulu ingin menjodohkanmu dengan Indra, dan bahkan aku pernah menyampaikannya pada Gibran, tapi takdir berkata lain, mereka lebih dulu meninggalkan kita, aku juga tidak membawa ibumu, ibumu sangat dekat dengan Naina, ia pasti kecewa dengan ini semua, tapi ini demi perkembangan perusahaan kita ke tingkat yang lebih tinggi, aku juga tidak akan memaksamu, jika kamu tidak cocok dengannya, kamu bisa menolaknya, aku tidak akan mengabaikan kebahagiaanmu, yang terpenting sekarang, temui dia dulu dan cobalah saling mengenal”. jelas Hardi.
Anjani hanya melepas nafas panjang atas itu semua, ingatannya kembali pada saat terakhir ia melihat Indra, ingatannya tentang Indra masih terekam jelas dipikirannya. ‘aku hanya ingin bertemu denganmu, walau hanya sebentar, aku ingin mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal untukmu, walau itu hanya pada makammu, aku merindukanmu Indra’ batinnya.
Hardi kemudian berdiri dengan kehadiran 2 orang laki-laki yang sekarang berada di depan mereka dan Anjani pun mengikuti ayahnya berdiri, ia menatap laki-laki yang akan dijodohkan dengannya dengan tatapan kesalnya.
__ADS_1