
Di sebuah hotel mewah di ibukota, Adinata group resmi menggelar rapat pemegang saham tahunan. Sore itu, setelah rapat selesai di gelar, satu persatu orang di ruangan rapat menyalami Arya, rapat berlangsung alot, rangkaian acara ulang tahun Adinata group itu menjadi sorotan banyak orang.
Arya mendapat dukungan untuk melanjutkan kepemimpinannya di Adinata group. 71% vote mendukungnya untuk menjadi CEO Adinata group selanjutnya. Hasil itu disambut suka cita oleh seluruh elemen di Adinata group.
Hardi berjalan pelan menghampiri Arya yang tengah berdiri di depan panggung. Arya tengah berbicara dengan Haris dan Rena, topik kesehatan Rahman menjadi pembicaraan mereka. Kondisi Rahman belum menunjukkan kemajuan, bahkan grafiknya cenderung menurun.
“permisi” gumam Hardi. Hardi segera mengangkat tangannya untuk menyalami Arya, “selamat untuk kemenanganmu"
Arya tersenyum, ia menyambut salaman Hardi, “terima kasih banyak paman” jawabnya.
“sepertinya anda tidak memiliki rasa malu sama sekali, tuan Hardi” ucap Haris dengan Dingin, ia sedikit menekan suara kata Tuan Hardi.
Hardi tersenyum tipis kepada Haris, “sebuah penghormatan harus diberikan untuk kepada lawan maupun kawan, seharusnya kamu sudah mengerti dengan hal ini”
Haris mendesis kesal, ia paling benci dengan orang seperti Hardi, seperti belut yang licin, omongannya sama sekali tidak bisa di pegang. Pengkhianatan Hardi kepada Gibran takkan pernah bisa ia maafkan.
“jika kamu tahu malu, kembali kan saham tuan Gibran di Hardi corp yang dulu kamu jual secara sepihak ke bursa saham” ucap Haris dengan dingin.
Tangan kanan Hardi mengusap kasar dahinya, ia mencoba bersikap tenang. Dulu ia sangat membutuhkan dana segar untuk mengembangkan perusahaannya, sehingga lebih memilih menjual saham Gibran di perusahaannya.
“menghadapi orang-orang Gibran benar-benar sulit, Aliando telah berakhir di penjara, padahal 22 tahun ia berjuang mempertahankan posisinya, apa sekarang kamu juga tengah mengincarku?” tanya Hardi dengan nada datar.
Arya memegang bahu Hardi, “jangan terlalu dipikirkan paman, kami tidak menginginkan apa-apa dari Hardi corp” ucap Arya, ia kemudian segera pergi meninggalkan ruangan itu, diikuti oleh Haris dan Rena, meninggalkan Hardi yang hanya bisa tersenyum sinis kepada Arya.
Mungkin Hardi benar-benar harus memuji kinerja Rena dan Haris, sejak Rena melakukan perubahan besar-besaran dalam keuangan Adinata group, saham Adinata group terus melonjak naik setelah sempat turun akibat penangkapan Aliando. Penutupan anak-anak perusahaan yang tidak sesuai dengan jalan bisnis perusahaan, juga semakin membuat kepercayaan pemegang saham semakin meningkat.
‘seandainya saja mereka ada di Hardi corp, mungkin perusahaanku yang menjadi besar sekarang’ batin Hardi.
Arya segera menuju mobilnya, disana Rita sudah menunggunya. Mereka akan segera menuju ke kediaman pak Abdul. Ada pembicaraan penting seputar perusahaan yang akan mereka bahas. Arya masuk ke dalam mobil, ia melihat Rita tengah membalikkan beberapa dokumen disana.
“kamu lama sekali Arya” gumam Rita.
“maaf, mereka semua ingin menyalamiku, aku benar-benar nggak bisa menolak” jawab Arya.
Arya melihat ke arah Chris yang ada di kursi kemudi, “ayo Chris, jalan” ucap Arya.
****
Mila memperhatikan Vanessa tengah sibuk mengupas mangga, entah mengapa sejak tadi pagi ia begitu menginginkan memakan buah mangga, apa aku sudah ngidam’ pikirnya.
Kandungannya sudah masuk bulan ketiga, mungkin saja benar ia sedang ngidam.
“sejak kapan kamu suka mangga Mil?” tanya Vanessa yang terus mengupas mangga.
“nggak tahu kak, kemarin malam aku melihat video inovasi makanan itu, tahu-tahunya disana ada gambar buah mangga” gumam Mila. “aku jadi ngiler deh” ucapnya dengan tertawa tipis.
“kemarin kamu ngobrol apa aja sama Syifa?, kalian udah lama kan nggak ketemu”
Mila melihat dalam wajah Vanessa yang masih serius mengupas mangga, pertemuannya dengan Syifa kemarin tak sengaja terjadi karena mereka sama-sama sedang memeriksa kandungan mereka.
“kak Syifa mau melahirkan 2 bulan lagi kak, kata dia, anaknya laki-laki” jawab Mila, mata Mila kemudian berubah sayu, “Abi bilang aku akan kontrol kehamilan ku di rumah sakit Adinata kak, abi akan urus nanti semua keperluan untuk itu”
Vanessa melepas nafas kasar, “kalau kamu kontrolnya di RS Adinata, kamu pasti mendapat pelayanan terbaik Mil, itu akan baik untuk anakmu”
"iya sih, tapi disana aku nggak bakalan ketemu kak Syifa lagi" ucap Mila dengan memanyunkan bibirnya.
Mila menopang dagu dengan kedua tangannya, ia masih memperhatikan wajah Vanessa. Jika gadis itu dilamar oleh laki-laki lain, mungkin mereka takkan serumah lagi, akan berat rasanya kehilangan kakak seperti Vanessa.
Namun ia harus ikhlas, ya, ia harus ikhlas demi kebahagian Vanessa. Gadis itu pasti ingin sepertinya, mendapatkan suami sebaik Arya dan hamil serta memiliki anak, memiliki keluarga yang utuh.
‘apa kak Vanessa pernah suka ya sama Arya?’ batinnya menduga.
“kak, aku boleh tanya sesuatu?” tanya Mila dengan pelan.
“tanya aja Mil?, ngapain pakai pengantar kayak gitu segala” Vanessa tertawa tipis seketika.
__ADS_1
“kakak pernah suka sama suamiku?” tanya Mila dengan polos.
Vanessa seketika menghentikan kegiatannya mengupas mangga, ia menggangkat kepalanya menatap Mila dengan tajam, apa maksud pertanyaan itu?.
“kamu ini bicara apa Mil?” tanyanya.
Mila tersenyum sengir di balik cadarnya, mana mungkin Vanessa mengkhianatinya. Itu nggak pernah terjadi. Tapi jika Vanessa menginginkan laki-laki yang sama seperti Arya, mungkin saja terjadi, pikirnya.
“nggak kak, aku rasa kakak juga menginginkan laki-laki seperti Arya, tapi jelas bukan dia”
Vanessa melihat mata Mila dengan lekat, “jika kakak di posisimu, kakak tidak akan melakukan kesalahan sepertimu dulu” jawab Vanessa dengan datar. 'mana mungkin kakak bilang jika kakak pernah berandai Arya menjadi suami kakak Mil, bukan suamimu' batin Vanessa menatap sendu mata Mila.
Mila melepas nafas panjang, lebih baik Vanessa tidak tinggal lama dengan mereka, bisa jadi salah paham nanti. Apalagi ia cukup cemburuan pada suaminya itu. Tapi tetap saja itu pilihan sulit, ia sudah terlanjur nyaman dekat dengan Vanessa.
Pembicaraan mereka terhenti saat suara kursi roda terdengar dari arah depan. Pak Sarman bersama bu Saniah menghampiri mereka berdua, “Arya belum pulang ya?” tanya bu Saniah.
“belum bu, kayaknya masih ada rapat lagi” jawab Vanessa.
“ibu sebenarnya ada keperluan apa sama suamiku?, kenapa sampai bela-belain nungguin dia pulang segala?” tanya Mila.
Dari tadi ibunya tidak menjawab pertanyaannya sama sekali, padahal hari sudah hampir maghrib. Dan ibunya itu sama sekali belum bicara apa pun tentang tujuan kedatangannya.
“ibumu ingin mengunjungi makam Gibran bersama Arya” jawab pak Sarman, “ia ingin membawa Arya ke hadapan Gibran dan Naina, dulu ia punya keinginan untuk menikahkan Indra sama kamu kamu Mil, dan sekarang sudah terwujud, ia ingin mengatakan itu kepada Gibran langsung”
Mila menatap mata ibunya yang sendu, air matanya berkaca-kaca, apa ibunya telah menginginkan pernikahannya dengan pangerannya itu sejak ia masih kecil dulu?. Lalu kenapa ibunya selalu memarahinya saat ia merengek minta diantar ke rumah Arya dulu. ahh, sudah lah, semuanya sudah lama berlalu, batinnya.
“kenapa Mil?” tanya bu Saniah melihat mata Mila.
Mila menggeleng, ia berdiri dan memeluk ibunya. Sudah lama sekali ia tidak melakukan itu, bahkan ia tidak ingat lagi kapan terakhir ia melakukan itu.
"ibu sama Arya sudah ke makam mertuamu sebelum ini, tapi suasana kami saat itu tidak baik, jadi ibu ingin kesana lagi dengan keadaan yang jauh lebih nyaman” jelas bu Saniah akan maksud tujuannya.
“ibu kira setelah rapat tadi ia langsung pulang, ternyata tidak” lanjut bu Saniah, ia melepaskan pelukan Mila, jangan sampai ia menyakiti calon cucunya dikandungan Mila.
“ya udah, nanti hari libur ibu kesini lagi, mulai besok ia pasti akan sangat sibuk di Adinata group” ucap bu Saniah.
Hari sudah hampir gelap, ia harus segera pulang membersihkan dirinya. “ibu nggak mau tinggal disini lagi bersama kami?” tanya Mila kepada ibunya.
“ibu disini saja, lagi pula ayah juga jarang pulang kan?, ibu pasti kesepian disana" lanjut Mila.
Pak Sarman menarik nafas kasar, entah seperti apa kehidupan Saniah selama ini, ia tidak tahu sama sekali. Sejak anaknya itu menolak Gibran, ia tidak peduli lagi pada kehidupan Saniah. Ia membiarkan Saniah hidup sesuka hatinya bersama Tito. Baginya ketidak peduliannya itu adalah hukuman yang tepat bagi Saniah.
“nggak Mil, ibu sudah punya apartemen sendiri” jawab bu Saniah singkat, ia tidak ingin mengatakan kepada Mila bahwa pak Sarman tidak kan memberi tempat baginya di rumah itu lagi.
Bu Saniah pulang sebelum azan maghrib berkumandang, dan menjelang azan isya, Arya sudah sampai di rumah diantar Chris.
Arya turun dari mobil dan melihat ke arah Chris yang memberikan kuncil mobil kepadanya.
“hari ini hari terakhir saya dan yang lain mengawal tuan" ucap Chris dengan memberi hormat.
Mulai besok pengawal Adinata group yang akan menjaga Arya, begitu juga dengan Andi dan Diaz, sejak Aliando di tangkap, mereka sudah di kirim Ari ke Vietnam untuk mengawasi projek terminal bandara disana.
Arya menatap lekat wajah Chris, tak rela memang ia kehilangan laki-laki itu, tapi mau gimana lagi, ia tidak mungkin merebut Chris dari Ari. Chris tetaplah orang-orang yang diandalkan Ari untuk banyak permasalahan.
“terima kasih Chris, kamu dan teman-temanmu sudah sangat membantuku” ucap Arya dengan pelan.
Chris memberi hormat lagi, ada perasaan sedih meninggalkan Arya yang sudah ia jaga sampai 3 bulan.
“saya pamit tuan” ucap Chris.
“jika kamu tidak dibutuhkan Ari lagi, datanglah kepadaku, Adinata group akan menerimamu” ucap Arya.
Chris tersenyum, ia kemudian pergi menuju mobil yang dibawa ortin. Arya menarik anfas dalam, ia segera menuju pintu teras samping rumah.
‘ah sial, kenapa terkunci terus sih’ batin Arya merutu kesal. Ia merogoh kunci di celananya dan sialnya lagi kunci itu lupa ia bawa.
__ADS_1
Arya menarik nafas dalam, ia menggedor pintu itu dengan sedikit kesal. Mila yang mendengar gedoran pintu segera keluar dari kamarnya.
“astagfirullah abi, ngapain marah-marah gitu” gumam Mila yang masih terdengar oleh Arya.
“umi sih, ini belum jam tidur, ngapain di kunci segala pintunya” jawab Arya.
“nanti kalau ada orang jahat gimana bi?”
Arya mengusap kasar wajahnya, Ia memeluk Mila dan mencium kening istrinya. “maaf Mi, abi kecapek an” gumamnya.
Mila mencium tangan Arya dan mengambil tas kerja Arya. “tapi jangan marah-marah juga dong bi”
“abi nggak marah Mi” jawab Arya dengan jujur. Ia memang tidak marah, hanya sedikit kesal, belanya dalam hati.
Arya mengikuti langkah Mila ke dalam kamar, ia melepas jas dan dasinya ketika melangkah ke dalam kamar. “Umi masak apa tadi?” tanya Arya dengan pelan.
Mila seketika memukul jidatnya sendiri, “aduh,, umi nggak masak apa-apa bi” ucap Mila dengan tersenyum tipis.
Arya menelan salivanya, ini benar-benar cobaan untuk dirinya. “maaf ya bi, umi benar-benar lupa” ucap Mila yang kali ini memutar badannya melihat ke arah Arya.
“ya udah, Abi makan Umi aja malam ini” ucap Arya dengan tersenyum licik, Ia merangkul bahu Mila dan membimbing istrinya itu ke ranjang.
Mila mendorong tubuh Arya saat ia sudah duduk disana, “mandi dulu bi, umi mau istirahat cepat malam ini, jadi kapan-kapan saja”
Arya melepas nafas kasar, ia kemudian segera merebahkan tubuhnya di ranjang. Rapat tadi benar-benar membuatnya capek.
“abi udah jadi CEO sekarang, Abi pasti akan semakin sibuk, nggak punya banyak waktu lagi untuk umi”
Mila mengusap rambut Arya dan melihat dalam mata suaminya, Arya menarik cadar Mila hingga terlepas, ia pejamkan matanya, menyambut bibir istrinya. Namun bibir itu tak kunjung sama ke bibirnya. Arya membuka mata, ternyata Mila sudah duduk di meja hias.
‘wah, sengaja nih anak mancing-mancing emosi’ rutunya.
Arya mendekat ke meja hias, melihat wajah Mila dari pantulan cermin. “umi sedih karena abi akan semakin sibuk?” tanya Arya dengan tenang.
Mila menggeleng, ia memang mengkhawatirkan itu dari tadi, tapi ia juga tidak boleh egois. Arya kemudian berlutut di lantai, ia mengusap perut Mila. “malaikat kecil kita apa kabar Mi?” tanyanya yang ingin mengalihkan pemikiran istrinya.
“dia kangen sama abinya” ucap Mila mengusap pipi Arya. “tapi abi nya masih bau, belum boleh menyentuh uminya”
Arya menelan salivanya, selalu saja itu alasan Mila, tapi setelahnya istrinya itu akan mengatakan kalau ia tidak bau badan sama sekali. Arya kemudian berdiri untuk segera mengambil handuk, “umi belum makan kan?, biar nanti abi yang masak habis mandi” gumamnya.
Sebenarnya Vanessa sudah masak tadi sore, hanya saja ia yang sedang ingin memakan masakan Arya. “abi udah mulai peka ya sekarang” ucap Mila dengan tersenyum.
Arya yang hendak membuka pintu kamar mandi segera berbalik badan, “apa Umi kelelahan karena harus memasak,?” tanyanya.
“kalau begitu kita cari pembantu saja” ucap Arya dengan singkat.
Kali ini Mila yang mulai merasa kesal, ternyata laki-laki itu belum peka sama sekali dengan keinginannya.
“udahlah bi, mandi dulu sana” ucapnya dengan cemberut.
Arya menggaruk kepalanya, apa dia salah bicara lagi?, Arya lekas masuk ke kamar mandi, sebenarnya ia tidak biasa mandi selepas maghrib, tapi tubuhnya benar-benar gerah karena rapat tadi.
Arya menikmati guyuran air di tubuhnya, ia menarik nafas panjang. kepalanya menunduk ke bawah melihat aliran air yang telah membasahi tubuhnya. Adinata group sudah jatuh ke tangannya, tanggung jawab besar kini telah ada di pundaknya.
‘ayah, ibu, kenapa mimpi buruk itu tidak datang lagi?’ batin Arya.
Arya mengusap wajahnya dengan air, kondisi Rahman semakin memburuk. Pukulan besar bagi dirinya saat itu. Tak ingin ada nyawayang melayang karena masalah itu. Tapi sepertinya Rahman akan sulit tertolong, dokter Reni sudah mengatakan hal itu, Rahman mungkin akan segera berkumpul bersama ayah dan ibunya.
“huh, ini benar-benar menguras perasaanku” gumam Arya.
Sementara Mila di kamar tengah memilih baju untuk Arya, sekarang Arya sudah mulai belajar memakai piyama tidur mengikuti keinginannya, tentu saja dengan sedikit bujukan malaikat kecil mereka.
Mila mencium baju yang ia pilih, "umi sayang sama Abi, selalu seperti ini ya bi, sampai bkita tua" gumamnya.
Mila melihat lagi cincin yang diberikan Arya, ia sekarang penasaran dengan kakek nenek Arya di Sulawesi itu, cincin emas pemberian mereka terpasang indah disana. “kek, nek, terima kasih sudah menasehati suamiku, hingga ia tetap mau bertahan atas segala kesalahanku” gumam Mila.
__ADS_1