Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Tiada Dendam


__ADS_3

Di pagi yang cerah Aliando sudah disibukkan untuk menanda tangani beberapa dokumen, semua finalisasi hasil rapat dewan direksi sudah menumpuk dimejanya untuk segera ia tanda tangani.


Pintu ruangannya diketuk 2 kali, ia seketika mendengus kesal karena kesibukkannya terasa terganggu dengan sekretaris yang masuk saat itu.


“ada apa?” ucap Aliando dengan dingin saat sekretaris sudah berdiri di depan mejanya.


“tuan Arya ingin menemui anda tuan” jawab sekretaris Aliando


Aliando tersenyum sinis mendengarnya, musuhnya telah datang sendiri kepadanya, tanpa perlu ia undang.


“kenapa tiba-tiba dia yang datang kepadaku” tanya Aliando dengan pandangan datar, kedatangan Arya pasti memiliki tujuan tertentu atas pertarungan mereka.


Sekretaris Aliando hanya diam, ia tidak bisa menduga apa pun dibalik kedatangan Arya pagi itu. Bahkan kedatangan itu mendadak dan tak diprediksinya sama sekali.


“pasti dia punya rencana lain untuk menghancurkanku” gumam Aliando.


Ia memejamkan matanya, mencoba menerka-nerka apa maksud kedatangan Arya. Belum sempat ia menemukan dugaan yang menurutnya benar.l, pintu ruangannya terbuka lagi tanpa ada yang mengetuknya terlebih dahulu.


Aliando melihat Arya masuk bersama Chris, sementara Ortin dan pengawal lainnya berdiri di depan pintu. Mata Aliando dan sekretarisnya tampak sinis melihat kedatangan Arya.


“saya sangat terhormat karena tuan muda datang kemari” ucap Aliando yang menyambut Arya dengan langsung berdiri.


Sekretaris Aliando menyambut Arya dengan memberi hormat kepada Arya. “selamat pagi tuan” gumamnya.


Arya melirik ke arah Chris, dan Chris paham dengan apa yang harus ia lakukan. Chris menarik kerah kemeja sekretaris Aliando dan menarik laki-laki itu keluar dengan kasar.


Tindakan yang membuat sekretaris Aliando kaget dengan apa yang terjadi.


“apa yang kau lakukan?” gumam sekretaris Aliando dengan marah.


Namun Chris tak peduli, ia tetap menyeret laki-laki itu keluar, dan menutup pintu dari luar. Meninggalkan Arya yang tengah bertatapan langsung dengan Aliando.


Sementara Aliando hanya menarik nafas kasar melihat itu semua.


"orang anda benar-benar tidak tahu aturan tuan, berani sekali dia memperlakukan sekretarisku seperti itu" ucap Aliando.


Arya hanya diam tak menjawab, ia sedang berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk bisa melihat wajah dan mata Aliando secara langsung.


“seharusnya tuan memanggil saya, biar saya yang datang menemui tuan” ucap Aliando berusaha bersikap tenang dan tidak terpengaruh atas tindakan Chrish.


Arya menarik nafas panjang, ia berusaha melawan rasa takutnya melihat wajah Aliando. “saya dengar paman kemarin datang ke kantor saya” Arya mulai bersuara.


“paman datang sangat mendadak kemarin, karena saya ada agenda lain, jadi saya tidak bisa menemui paman”


“untuk itu saya menemui paman sekarang, anggap saja ini sebagai permintaan maaf saya” jelas Arya.

__ADS_1


Aliando tersenyum, ia kemudian berjalan menuju sofanya, “silahkan duduk tuan, perbincangan kita akan sangan panjang” ucapnya.


Arya menarik nafas panjang, ia masih berdiri memperhatikan Aliando, “saya tidak bisa berlama-lama paman, saya masih ada agenda dengan klien dari London” ucap Arya.


Aliando yang hendak duduk kembali berdiri, ia menarik nafas kasar, “sepertinya kita tak perlu berbasi basi lagi” ucapnya dengan tajam. “kita hanya berdua disini, tak akan ada yang tahu apa yang akan kita bicarakan disini”


“bebaskan anakku” ucap Aliando dengan sinis.


Arya menarik nafas kasar, ia sudah siap untuk berdebat dengan laki-laki itu, “keadilan akan menemukan jalannya sendiri, jika dia tidak bersalah, maka ia akan bebas” jawab Arya dengan tenang.


Aliando mengeram marah mendengar ucapan Arya, “seharusnya kamu mati malam itu, dan masalah ini tak perlu terjadi”


"sekarang kamu hanya menjadi benalu kecil dalam mewujudkan keinginanku"


"enyahlah dari perusahaan ini selagi aku berbaik hati tidak membunuhmu"


Aliando pertarungam kata-katanya. Arya hanya tersenyum mendengar ucapan Aliando.


"seharusnya paman masih bersyukur bisa hidup sekarang, bukanlah hal sulit bagiku sekarang untuk membunuh satu persatu keluarga paman,"


" dan Arnes bisa jadi tidak di dalam penjara sekarang, tapi di dalam tanah” balas Arya dengan datar, namun kalimatnya cukup menantang Aliando.


Mata Aliando membulat marah mendengarnya, rahangnya mengeras mendengar ucapan Arya. Matanya memerah merasakan emosi memuncak ke ubun-ubunnya.


“apa kamu pikir kamu bisa menghancurkan ku ha?”


“bahkan lebih dari itu, saya tahu paman yang membunuh ayah dan ibu saya, saya melihat semuanya malam itu” ucap Arya.


“tapi sayangnya saya bukan pendendam, nyawa tak perlu dibayar nyawa, cukup membuat paman meminta maaf dan menyesali semuanya, ayah dan ibu saya akan tersenyum di surga”


Aliando menelan salivanya, ia menatap Arya dengan tajam, “dimana kamu malam itu?, kenapa orang yang ku suruh itu tidak bisa menemukanmu?”


Arya tidak memperdulikan pertanyaan Aliando itu, ia menarik nafas kasar,


"seharusnya mereka menemukanmu dan membunuhmu malam itu, kamu hanya sampah sekarang, jangan berharap perusahaan ini akan jadi milikmu" ucap Aliando penuh emosi, lawan bicaranya masih tenang dan tak terpengaruh kata-katanya.


"tapi kenyataannya perusahaann ini telah menjadi milikku dan akulah pemegang saham terbesar disini" Arya menatap Aliando dengan tajam, "bukankah paman yang menjadi sampah sekarang"


"kamu,,," ucap Aliando dengan rahang semakin mengeras, "aku akan memastikan kematianmu, istrimu dam saudara tirimu itu'


"lebih baik tidak usah berangan-angan paman" jawab Arya dengan tenang, "pikirkan saja bagaimana cara paman bebas dari masalah penggelapan anggaran perusahaan"


Arya kembali menarik nafas dalam, Kalimat inti yang akan ia sampaikan, akan segera ia ucapkan. "kami keluarga Adinata tidak menyimpan dendam pada siapa pun, masalah keluarga Adinata dan paman sudah selesai dengan pembicaraan ini”,


“ayah dan ibuku sudah tenang disurga, mereka takkan punya dendam apa pun sama paman, serta semua keluarga ayah dan ibuku yang telah paman habisi, mereka sudah tenang di surga dan mereka juga tidak akan menyimpan dendam apa pun kepada paman”

__ADS_1


“apa yang akan paman hadapi nanti tidak ada urusannya lagi dengan apa yang terjadi 22 tahun lalu dan keluarga Adinata, atau karena dendam ku pribadi, tapi murni karena penggelapan uang perusahaan yang paman lakukan, dan”


“dan aku akan meneruskan hidupku tanpa ada rasa sakit dan bayangan rasa takut lagi atas apa yang paman lakukan dulu, jangan ganggu lagi keluargaku, selesaikan semua masalah paman tanpa menyinggung keluarga Adinata lagi”


"dan juga katakan kepada anak paman yang sedang dipenjara, jika ia berani mengganggu istriku lagi, aku akan membuangnya serta adiknya yang perempuan itu jauh keluar negeri, seperti paman membuang orang-orang yang setia kepada ayahku"


"aku sudah memberi kalian maaf, jadi jangan buat aku menarik lagi maaf yang telah ku berikan"


Aliando menelan salivanya mendengar ucapan Arya, ia tak tahu harus bicara apa lagi. Bayang-bayang kehancuran jelas di depan matanya, tapi sosok yang telah ia hadapi itu masih tampak teguh dan tak goyah sedikitpun atas apa yang terjadi.


Arya memutar badannya untuk segera keluar, ia tidak ingin mendengar apa pun lagi dari Aliando.


Sementara Aliando berusaha menegarkan hatinya. Kesempatannya masih ada untuk bertahan, walaupun sedikit, namun harus tetap ia perjuangkan apa yang sedang ia miliki.


Arya membuka pintunya, Chris dan Ortin menyambutnya dengan tersenyum, mereka tahu tuan mereka telah memenangkan pertarungan. Haris dan Rena juga ada disana, 2 orang itu memasang wajah gusar melihat Arya yang keluar dari ruangan Aliando.


Sementara sekretaris Aliando berdiri disana dengan wajah menunduk.


“tuan benar-benar membuat kami khawatir” gumam Rena melihat mata Arya yang tampak tenang.


“aku baik-baik saja tante, masalah keluargaku sudah selesai dengan dia” jawab Arya,


“apa terjadi sesuatu di dalam tuan?” tanya Haris.


“semua baik-baik saja paman,” Arya mengusap bahu Haris, “aku harus pulang dulu paman, aku ingin menemui istriku sebentar”


Haris mengangguk pelan, ia tidak ingin bertanya lebih, apa lagi ia tahu jadwal Arya di 3A Sahabat juga sangat padat. Arya berjalan menuju lift diiringi para pengawalnya.


“Selesaikan segera Rena, jangan kasih kesempatan lagi buat dia bergerak” ucap Haris dengan pelan.


Rena mengangguk pelan, "hari ini aku dan pengacara perusahaan akan membawa kasus ini ke pengadilan" mereka melihat punggung Arya yang berjalan menjauh dari mereka.


"aku ingin Hardi juga merasakan dampak dari pengkhianatannya, tapi tuan Arya malah ingin menjaga nama baik anaknya Hardi" ucap Haris mengusap kasar wajahnya.


Setidaknya Haris dan Rena bisa membuat Hardi corp juga bersalah atas kasus Aliando, tapi Arya menolak keinginan mereka itu.


Mungkin semua sudah ada di ujung perjuangan mereka, Arya sudah mengakhiri pertarungannya, tinggal Rena dan Haris yang harus menyelesaikan hingga rapat pemegang saham nanti.


Mobil Arya meninggalkan gedung Adinata group, Ortin kembali menyetir dan Chris duduk disamping Arya. “kita ke apartemen bentar ya Ortin,” gumam Arya dengan pelan,


Arya membuka ikatan pistol di kakinya, ia kemudian memberikannya kepada Chris dan Chris menerimanya dengan kedua tangannya.


“pertarungan dengan hati tidak memerlukan senjata Chris, sekalipun ia punya senjata dan pistol, jika hatinya sudah jatuh, ia takkan mampu menggunakannya” jelas Arya.


Arya berhasil memainkan emosional Aliando agar tidak berbuat nekat seperti yang dikhawatir Chris, Rena dan Haris.

__ADS_1


Chris menarik nafas dalam, mungkin hal itu yang belum pernah ia hadapi, sejak ia terjun ke dunia bayangan itu, darah, pistol pisau dan pedang adalah hal biasa baginya. Namun menjatuhkan seseorang menggunakan kata dan perasaan sama sekali belum pernah ia rasakan.


__ADS_2