
Tomy tengah memperhatikan dokter Karina yang tengah memeriksanya malam itu. suasana hatinya masih belum nyaman karena Abel sama sekali tidak memberinya kabar, ia juga mencoba menelfon Abel, tapi tidak diangkat sama sekali, Ia berkali-kali melepas nafas panjang untuk menenangkan dirinya, ada perasaan takut yang dirasakannya jika Abel berpaling dari dirinya, perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya saat mengenal seorang perempuan,
“kamu masih memikirkan Abel Tom?” tanya dokter Karina yang memperhatikan tatapan kosong Tomy kepadanya.
“seharusnya aku tidak menggunakan perasaanku kepadanya Karina, aku yang salah, menggunakan perasaan sebelum ada ikatan dengannya,” ucap Tomy yang menyadari kondisi hatinya.
“aku bahkan berkata pada Arya kalau aku belum mencintainya, tapi aku malah seperti ini sekarang” lanjut Tomy dengan nada kecewa.
Dokter Karina menatap sendu wajah Tomy yang sedang menceritakan keadaan hatinya itu, namun ia teringat akan satu hal yang belum sempat ia tanyakan kepada Tomy tadi siang, karena ia sudah terlanjur terbawa keadaan hatinya yang sedih karena Arya.
“ngomong-ngomong, tadi pagi itu kamu kemana Tom?, kok sampai ninggalin Abel kayak gitu”
“Ada beberapa hal yang harus ku bicarakan dengan istrinya Arya” jawab Tomy singkat dengan memperhatikan reaksi dokter Karina atas jawabannya.
Dokter Karina hanya tersenyum getir mendengar jawaban Tomy, ia sudah belajar untuk menerima keadaan itu. “sepertinya kamu dan Arya memang sudah saling memahami satu dengan yang lain, dari dulu, sejak pertama aku melihat kalian di rumah sakit ini, sejak aku mengenal kalian dan menjadi sahabat kalian, aku selalu melihat kalian saling melindungi satu dengan yang lain,”
Tomy tidak terlalu peduli dengan kalimat dokter Karina itu, ia lebih tertarik dengan respons dokter Karina atas kalimat yang ia ucapakannya dan Tomy dapat menilai makna dari senyuman dokter Karina itu.
Tomy menghembus nafas kasar atas itu semua, ingin sekali ia bertanya langsung pada dokter Karina atas perasaan dokter tersebut kepada Arya. Sudah lama ia mencurigai hal itu, begitu pun dengan Arya. Namun semuanya hanya menjadi sebatas kecurigaan.
__ADS_1
Ari memejamkan matanya, ia mengurungkan niatnya untuk menanyakan hal tersebut, ‘Karina pasti sudah tahu apa yang harus ia lakukan atas perasaannya, ia tidak mungkin mengganggu pernikahan Arya’ batinnya menenangkan perasaannya.
Selang beberapa saat, Ari masuk ke ruangan itu, Dokter Karina dan Tomy melihat kedatangan laki-laki itu dengan respon yang berbeda, Tomy tersenyum melihat kedatangan sahabatnya itu, sementara dokter Karina melihat kedatangan Ari dengan wajah kesal.
“Kamu sudah datang Ri?” ucap Tomy dengan senyumannya. Ia senang karena malam itu ia tidak akan sendirian di kamar yang terasa pengap baginya.
“Arya bilang kamu akan sendirian malam ini, jadi ia memintaku menemanimu, ia harus menemani istrinya malam ini” ucap Ari dengan nada santai mendekati ranjang Tomy, sementara Dokter Karina mengabaikan kedatangan pacarnya itu.
“Hubungan Arya dan Istrinya baru membaik, aku ingin ia meluangkan lebih banyak untuk istrinya” jelas Tomy, ia menolak Arya untuk menemaninya malam itu, karena menurutnya lebih baik Arya bersama Mila menghabiskan malam setelah peristiwa tadi pagi.
Sementara dokter Karina mendengar itu merasakan sesuatu yang tidak karuan, antara rasa senang, iri dan tidak suka. Ia ingin melepas Arya dengan Mila, dan tidak berharap lagi pada perasaannya, namun di sisi lain sangat sulit baginya melepas perasaan yang telah lama terpendam itu, ia bahkan merasa tidak senang mendengar hubungan Arya dan Mila membaik, ia merasa iri karena Mila dan Arya menghabiskan waktu malam secara bersama, dan jelas ia tak suka mendengar itu semua dari mulut Tomy, dan Tomy menilai semua respon dokter Karina atas kalimatnya itu.
Ari kemudian melihat ke arah dokter Karina yang masih memeriksa Tomy, Ia kemudian melepas nafas panjang, Ia merasa putus asa untuk mendapatkan hati perempuan yang telah lama Ia pacari itu, segala jurus rayuan gombalnya sudah ia keluarkan, namun sampai detik itu ia belum merasakan gadis itu mencintainya, padahal dulu semasa kuliah, tidak ada gadis yang tidak terbuai oleh rayuan mautnya.
“Biarkan Arya yang memilihnya sendiri Ri, dia pasti bisa menilai seperti apa istrinya itu, jika pada akhirnya istrinya itu bukan perempuan baik-baik, dia pasti akan melepasnya dengan cara yang baik” ucap Tomy menarik nafas kasar.
“lalu kenapa Abel marah sama kamu?,” lanjut Ari bertanya pada Tomy.
“apa Arya tidak menceritakan semuanya padamu?, tapi itu sepertinya lebih baik dari pada kamu tahu seperti apa masalahku dengan Abel” ucap Tomy dengan sedikit lirikan usil pada Ari.
__ADS_1
Ari kemudian menatap Tomy dengan wajah santainya, “aku juga tidak tertarik dengan itu, aku lebih tertarik dengan alasan pacarku tidak mengeluarkan suaranya sedikit pun sejak aku datang” ucap Ari sembari mengalihkan lirikan pada dokter Karina dengan lirikan tajamnya.
Wajah Dokter Karina menunjukkan ekspresi kesalnya mendengar ucapan Ari, ia kemudian mencoba membalas tatapan Ari dengan tatapan kesalnya “kamu juga tidak menyapaku ketika kamu datang,” jawab dokter Karina dengan ketus.
Ari kemudian tersenyum mendengar itu semua, “apa kamu cemburu sama Tomy? karena aku menyapanya sedangkan aku tidak menyapamu” ucap Ari dengan nada menggodanya.
Dokter Karina kemudian melirik tajam ke arah Ari dengan tatapan tidak sukanya, ia paling tidak suka jika Ari mengeluarkan nada-nada itu kepadanya, apa lagi di depan orang lain seperti itu.
Melihat tatapan dokter Karina, Ari kemudian teringat lagi pada ucapan Arya kepadanya, ‘cara taklukan Karina itu dengan ijab Kabul, bukan modal mulut doang’ ucap Arya kepadanya saat itu.
Ari sejenak memandang ke arah Tomy, Ia memperhatikan Tomy yang masih melihat ke arah dokter Karina. “Tom, kamu berapa bulan lagi mau menikah?” Tanya Ari pada Tomy.
“tidak sampai 3 bulan lagi, emang kenapa?” tanya Tomy heran dengan mengalihkan pandangannya pada Ari.
“Aku dan Karina akan segera menyusulmu” ucap Ari tegas yang membuat mata dokter Karina membelalak mendengarnya. Nafasnya terasa tercekat ke tenggorokan, dadanya terasa tak sesak, jantungnya berdetak cepat, kalimat yang selama ini tidak ingin ia dengar dari Ari, sekarang terdengar jelas di telinganya.
“kamu mau segera menikah dengan Karina Ri?, tapi kenapa Karina tidak ngomong apa-apa sama aku dan Arya?” tanya Tomy yang kali ini memutar kepalanya pada dokter Karina, sementara dokter Karina menelan salivanya karena bingung.
“kamu bicara apa Ri?. menikah?, apanya yang menikah,? kamu selama ini hanya main-main denganku” ucap dokter Karina setengah marah pada Ari.
__ADS_1
“Jika aku melamarmu, apa kamu akan mau menerimaku Karina?, aku tidak mau main-main lagi, aku ingin hubungan yang serius denganmu”