Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Ketika Cinta dan Percaya Menguji


__ADS_3

Sore itu Mila, Arya, dan Vanessa melihat beberapa jenis mobil disebuah showroom mobil yang cukup besar. Mareka melihat satu persatu mobil yang ada disana sembari ditemani seorang sales yang menjelaskan tentang mobil yang mereka lihat, setelah melihat beberapa jenis mobil, Mila menjatuhkan pilihannya pada mobil keluarga keluaran salah satu merek ternama asal jepang.


"kamu yakin yang ini Mil?" tanya Arya melihat Mila yang mengusap dashboard mobil yang tengah mereka naiki.


"iya,, ini nyaman sekali rasanya, aku rasa mobil ini juga cocok dengan karaktermu"


Mila kemudian memperhatikan Arya lalu membandingkan penampilan santai suaminya dengan mobil itu.


"emang kalau aku make mobil mewah sekelas bmw nggak cocok ya?" tanya Arya sembari memperhatikan beberapa fitur mobil itu.


"cocok kalau kamu make kemeja dan jas kerja Arya, tapi kan kamu suka make kaos, kurang cocok aja menurutku"


"kalau ferrari cocok nggak, mana tahu nanti aku jadi orang kaya, kan bisa beli ferrari" seloroh Arya dengan santai.


"kamu benar-benar mau kembali ke perusahaan ayahmu Arya?" tanya Mila yang merasa kata -kata Arya memiliki maksud demikian.


"kan udah aku bilang iya sebelumnya Mil, aku harus kembali demi nama baik ayahku" jawab Arya dengan santai.


Mila menelan saliva, rahasia Indra takkan lagi bisa membuatnya mempertahankan pernikahan itu, rasa takut kembali menyeruak ke dalam hatinya. Apa lagi setelah tahu bahwa Arya belum seutuhnya percaya kepada dirinya.


'tenang Mil, ini hanya rasa takutmu saja, Arya sudah janji akan menggenggam tanganmu' batin Mila menguatkan dirinya sendiri, ia kemudian menggenggam tangan Arya yang sedang memegang stir mobil yang mereka coba.


Arya melihat ke arah tangan Mila yang menggenggam tangannya, ia kemudian melihat ke arah Mila yang tersenyum kepadanya. "kamu mengkhawatirkan sesuatu?" tanya Arya yang merasa bingug dengan Mila. Mila menjawabnya dengan menggeleng pelan sembari tersenyum getir.


*

__ADS_1


Mereka Kemudian melanjutkan mengunjungi beberapa gedung apartemen yang akan mereka beli, Arya juga tidak ingin berlama -lama tinggal di apartemen Arbi dengan membawa Vanessa dan Mila. Hal berbeda jika ia tinggal disana sendiri.


Kembali ke rumah juga tidak memungkinkan, ia masih takut jika istrinya harus bertemu dengan Irman, pilihan terbaik yang ia punya adalah menjauhkan Mila dari Irman sampai masalah Cipta rakarsa selesai. Dengan demikian ia bisa membuat Mila jauh dari Irman dan Arnes sekaligus.


Setelah melihat beberapa unit apartemen, mereka menjatuhkan pilihan pada sebuah apartemen yang tidak terlalu mewah, namun lebih dari kata sederhana, terdiri dari satu ruang tamu, 2 kamar tidur, 1 ruang keluarga, 1 dapur, 1 kamar mandi di luar kamar, sebuah balkon yang cukup luas menghadap ke laut utara Jakarta, ditambah lagi satu ruang kosong yang bisa mereka gunakan untuk keperluan apa pun.


Arya berdiri di depan balkon menikmati suasana sore hari itu, sementara Vanessa masih memandang istana barunya di dapur apartemen. Mila berjalan pelan menuju ke arah Arya yang tampak menikmati suasana sore.


“uangmu cukup untuk membeli ini semua Arya, kita tadi udah beli mobil, sekarang apartemen, kamu bisa miskin karena ini semua” ucap Mila setengah bercanda pada Arya.


“aku sudah janji kemarin sama kamu, dan sekarang harus ku tepati, tabunganku cukup kok”


“karena cemburumu kamu harus sampai membeli ini semua” lanjut Mila yang masih mencoba menggoda suaminya itu.


Arya hanya tersenyum mendengar ucapan Mila, ia mengatakan janji untuk membeli mobil dan apartemen hanya untuk mengalihkan pembicaraan mereka kemarin, tapi hari itu ia kembali menguras tabungannya sebanyak itu.


“sebenarnya berapa isi tabunganmu hingga bisa membeli mobil dan apartemen ini” tanya Mila dengan penasaran.


“semua keuntungan perusahaan kami bagi tiga Mil, belum lagi fee khusus untuk rancanganku dan bonus-bonus dari klien, jika kamu melihat koleksi mobil Ari dan Arbi, mungkin kamu bisa menebak berapa penghasilanku”


“aku istrimu, apa aku tidak boleh tahu berapa penghasilan suamiku, masa aku harus lihat garasi mobil mereka untuk tahu berapa penghasilanmu” ucap Mila memasang wajah cemberutnya pada Arya.


Arya kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di balkon itu, Ia bersandar sembari melihat ke arah laut. “aku tak pernah menghitung berapa penghasilanku Mil, aku hanya memakai sedikit dari itu semua, menurutmu, sekitar 5 tahun perusahaanku berdiri, sudah berapa isi rekeningku sekarang?” ucap Arya balik bertanya.


“wah,,wah, kamu menghabiskan tabunganmu yang 5 tahun itu untuk istri sepertiku, apa sekarang aku boleh merasa kalau aku bukan princessmu, tapi sudah menjadi ratumu” ucap Mila yang kemudian duduk di samping Arya.

__ADS_1


Arya hanya tersenyum melihat kepolosan Mila yang percaya kata -katanya itu, mana mungkin dia menumpuk uang di rekeningnya hingga 5 tahun, dia pasti mengontrol isi tabungannya agar tidak berlebihan di dalam rekeningnya.


“kamu lebih dari princess atau ratu, kamu itu bidadari yang turun daru surga untukku” ucap Arya membalas ucapan istrinya.


“apa nafkahku masih kamu simpan seperti dulu?” ucap Arya yang kembali mengingat amplop yang ada di laci Mila.


“yang di dalam laci masih belum ku pakai, lagi pula untuk masalah dapur kan nggak sampai sebanyak yang kamu berikan, aku juga jarang ke mall sama belanja on line, jadi uang darimu masih bisa ku tabung, itung-itung modal kita ke Paris, mungkin tahun depan kota udah bisa melihat menara eiffel, buka monas lagi, kita bisa lihat pegunungan Alpen bukan bukit kemarin lagi” jelas Mila sembari tersenyum dibalik cadarnya.


Arya tertawa tipis mendengar ucapan Mila, ia kemudian mengusap kepala Mila dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya sudah menggenggam erat tangan Mila.


"pake tabunganku aja, aku bakalan nggak enak jika harus menggunakan tabungan istriku untuk itu, lagi pula menabung setahun cukup kok kalau untuk satu atau dua bulan di eropa, apa lagi projek di perusahaan lagi banyak sekarang"


"2 bulan? lama sekali Arya"


"iyalah Mil eropa kan luas, masa Paris saja, masih banyak yang lebih indah dari sekedar Paris, aku ingin melihat semuanya" ucap Arya yang membuat Mila menelan salivanya, 'orang yang suka adventure itu memang kayak gini ya, 2 bulan?, keliling eropa?, jauh sekali pemikirannya'


"Seperti aku benar -benar harus bekerja keras, uang jalan -jalan kita bakalan besar nanti, belum lagi untuk masa depan kita, di tambah lagi untuk malaikat kecil kita" ucap Arya sembari mengusap perut Mila.


"aku belum hamil," jawab Mila sembari melepas tangan Arya dari perutnya.


"jangan terlalu mikirin masalah jalan -jalan ya, fokus aja sama keluarga kita dulu, jangan bekerja berlebihan, kamu enggak capek apa, di kantor kerja, malam kerja, pagi shubuh juga kerja, aku saja khawatir melihatmu seperti itu, nanti kamu bisa sakit" jelas Mila.


"nggak apa -apa lagi Mil, semuanya kan untuk kita juga, kamu belum ada tanda-tanda hamil ya,?"


"belum,,,,hmmmm,,,, Kalau aku hamil dan kita punya anak, apa rahasia Indra tidak akan membuatmu pergi lagi dariku?" tanya Mila dengan penasaran.

__ADS_1


"kamu ngomong apa sih Mil?, kita udah jauh kayak gini, masih aja mikirin hal seperti itu, kamu lupa dengan katamu sendiri, jangan ada lagi kata pisah diantara kita" ucap Arya menyakinkan Mila, dan Mila hanya tersenyum getir mendengarnya. Rasa takut itu masih ada di dalam hatinya.


__ADS_2