
Matahari mulai turun ke ufuk barat, cerahnya hari mulai berganti dengan langit sore yang menguning. Arya tengah duduk di ruang tamu rumah Rita, ia memeluk Keysha yang tampak nyaman bermain dengannya. Sementara Rita dan Harun tengah berada di kamar bu Tya untuk membujuk bu Tya agar mau berbicara dengan Arya.
Wajah Rita penuh harap melihat kepada ibunya, “sebentar saja bu, bicaralah dengan Arya, agar ibu tidak menyalahkan Arya dan tuan Gibran seperti ini lagi"
“ibu tidak bisa, Rita suruhlah dia pulang” wajah bu Rita tampak gelisah dan gusar.
“sebentar saja bu, Rita mohon, Rita tidak bisa meninggalkan dia seperti permintaan ibu,” ucap Rita, "jika ibu mau berbicara dengan Arya, kesalah pahaman ini bisa kiya luruskan"
Bu Tya menggeleng, Ia tidak tahu harus berbicara apa kepada Arya. Haruskah ia marah?, ia sendiri sadar bahwa selama ini tidak seharusnya ia menyalahkan keluarga Adinata.
Bertemu dengan Arya pun ia juga merasa malu karena selama ini ia selalu menghindari anak itu. Anak yang membuka kenangannya dengan Gibran dan Naina, anak yang selalu mengingatkannya seperti apa Adinata group menjebloskan suaminya ke penjara.
“suruhlah dia pulang Rita, ibu tidak bisa bertemu dengannya” gumam bu Tya menahan sesak.
“kenapa bu?, bicaralah baik-baik dengan Arya bu, ini hanya kesalahpahaman aja antara ibu dan dia” ucap Rita penuh harap.
Harun memeluk erat tubuh istrinya yang terus memegang lengan bu Tya. Ia sendiri juga bingung bagaimana caranya untuk membujuk mertuanya itu.
“sebentar saja bu, Arya juga sangat ingin bertemu dengan ibu” gumam Harun kepada mertuanya.
Bu Tya menggeleng, “sampaikan saja salam ibu untuknya, katakan ibu belum bisa menemuinya”
“katakan permohonan maaf ibu kepada Arya, dan juga katakan kalau ibu sangat merindukan tuan Gibran dan nona Naina” lanjut bu Tya dengan mata berkaca-kaca.
Rita menarik nafas kasar, ibunya masih terlalu keras untuk mengakui bahwa yang selama ini apa yang dipikirkan ibunya iti adalah salah.
“jika Arya bisa kembali ke Adinata group, ayah bisa dibebaskan bu, ayah sama sekali tidak bersalah, putusan pengadilan itu bisa dicabut jika kita bisa membuktikan ayah tidak bersalah” bujuk Rita lagi.
“keluarlah Rita, ibu akan menemuinya jika ibu sudah siap, tapi bukan sekarang” gumam bu Tya mengakhiri perdebatan mereka.
__ADS_1
Rita menunduk lemah, ia kemudian keluar dari kamar ibunya menuju ruang tamu, Harun pun ikut keluar menemui Arya.
Mata Rita menatap sendu melihat Arya yang tengah tersenyum menghibur anaknya, Saat Rita mendekat, putranya itu tersenyum kepadanya, Rita mengulurkan tangannya untuk memeluk anaknya itu, “sini anak ibu” ucap Rita yang menyadarkan Arya akan kehadiran Rita dan Harun.
“Gimana?” tanya Arya dengan masih memeluk Keysha dipangkuannya.
“ibu belum mau bertemu denganmu Arya” ucap Rita dengan pelan, ia menurunkan tangannya yang hendak mengambil Keysha. Putranya itu terlihat masih nyaman di pangkuan Arya.
“aku harap kamu mengerti dengan keadaan ibu Arya, ini sangat mengejutkan bagi ibu” jelas Harun kepada Arya.
Arya mengangguk pelan, ia kemudian tersenyum kepada Rita dan Harun, “nggak apa-apa, lagian aku kesini juga ingin melihat keponakan ku ini” ucap Arya sembari menggoyang-goyangkan tangan mungilnya Keysha.
“ooo,oooom” ucap anak itu yang membuat mereka semua tertawa seketika.
"wah, wah, sepertinya dia lebih kenal denganku dari pada kalian" seloroh Arya dengan mencium ubun-ubun Keysha.
"kata siapa?, dia sudah bisa memanggilku ibu dan mas Harun ayah" balas Rita pada ucapan Arya.
Arya menatap kosong jalanan yang ia lewati, mengingat kembali apa yang telah ia lalui.
Dulu pertama kali ketika kembali ke Jakarta, yang pertama kali ia cari bersama Tomy adalah rumahnya. Namun rumah itu tidak terlihat lagi, lokasi yang ia yakini tempat rumahnya dulu berada sekarang sudah menjadi restoran mewah milik Adinata group.
Setelah itu mencari makam ayahnya, ia bahkan mengunjungi banyak pemakaman untuk menemukan dimana ayah dan ibunya di makamkan. Saat itu ia sama sekali tidak memiliki niatan untuk kembali ke Adinata group.
Namun rasa takut dan trauma akan kejadian itu terus menghampirinya. Ingatan saat ibunya menghembuskan nafas terakhir di pelukkannya selalu berputar-putar di ingatannya. Ditambah lagi fitnah pada ayahnya yang membuat ia hidup kesedihan, tak kuasa orang banyak menyebut ayahnya adalah pembunuh.
Hingga sampai kabar pertunangan Arnes dan Anjani datang, memaksanya untuk kembali, atau ia tidak akan punya kesempatan lagi.
*
__ADS_1
Malamnya Arya disibukkan oleh pekerjaan yang belum sempat ia selesaikan dikantor. Mila duduk memperhatikan suaminya bekerja dengan bersandar di ranjangnya, “lusa bang Ardian kesini Arya” gumam Mila dengan pelan.
Arya menghentikan kegiatannya, ia kemudian berdiri dan duduk di samping Mila, “apa menurutmu kita sudah harus kembali ke rumah Mil?” tanya Arya dengan pelan.
Ia menatap lekat wajah istrinya, “aku ikut keputusanmu saja, aku tidak tahu seperti apa keadaan yang kamu hadapi sekarang” jawab Mila.
“yang penting saat bang Ardian disini, kita harus ada di rumah,”
Arya melepas nafas panjang, ia juga harus mempertimbangkan pak Sarman yang semakin hari semakin membaik. Apa lagi saat Mila mengatakan kabar kehamilannya, semangat laki-laki tua itu semakin bertambah.
“aku pertimbangkan dulu ya Mil, jika kita pindah ke rumah, laki-laki itu pasti akan mudah menemukanmu” gumam Arya.
Mata Mila membulat kaget mendengar ucapan Arya, ia kembali teringat pesan chat Arnes tadi yang telah ia hapus. “jika lebih aman disini, lebih baik kita disini aja Arya, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa”
Arya tersenyum, ia mencium singkat bibir istrinya, “aku akan baik-baik saja Mil, yang aku khawatirkan itu kamu dan malaikat kecil kita,”
“apa menurutmu aku terlalu lemah untuk menghadapi masalah ini?,” gumam Mila dengan pelan.
“kami lagi hamil muda Mil, kandunganmu sangat rentan, lagi pula masalah bisnis seperti ini akan sangat sulit kamu mengerti”
“apa aku sebodoh itu Arya? hingga kamu berpikir aku tidak akan mengerti masalah bisnis sama sekali” gumam Mila dengan penuh selidik.
Arya menarik nafas kasar, ia bingung seperti apa harus menjelaskannya kepada Mila, “mereka juga mengincarmu Mil, cepat atau lambat mereka akan tahu kalau kamu istriku dan sekarang kamu tengah hamil anakku, kamu bisa jadi incaran mereka nanti”
“bukan kamu yang bodoh Mil, bukan kamu yang lemah, jangan merutui dirimu seperti itu, aku nggak suka” lanjut Arya mengingatkan Mila.
Mila melepas nafas panjang, ia sendiri juga tak nyaman jika harus berdiam diri sepanjang hari. Pikirannya terus melayang memikirkan Adinata group dan keselamatan suaminya. Apa lagi Arnes menebar ancaman langsung kepadanya tadi. Membuat ia merasa semakin tidak tenang melewati jam demi jam di apartemen itu.
Arya menarik tubuh Mila agar berbaring di ranjang, ia tersenyum melihat istrinya yang menuruti apa yang ia lakukan. “malam ini bisa kan Mil?” tanyanya dengan polos.
__ADS_1
‘ha, tuhkan, dia seperti itu lagi, kenapa mintanya harus sepolos itu sih?’