
Anjani berdiri di depan sebuah gedung apartemen, ia melihat gedung itu dengan tatapan herannya. “kenapa Mila dan Arya pindah kesini?, padahal apartemen sebelum ini lumayan bagus” gumam Anjani.
Anjani melangkahkan kakinya memasuki gedung apartemen tersebut, ia melewati Loby dan segera menuju lift, di depan lift ia memencet tombol berangka 15 sesuai alamat yang dikirimkan Mila. Ia memasuki lift tersebut bersama beberapa orang lainnya.
Saat keluar dari lift di lantai 15, Anjani segera berjalan mencari nomor pintu apartemen Mila. Anjani melihat ke arah pintu yang ada di hadapannya, alamatnya sama dengan yang dikirimkan Mila, namun disana ada 2 orang bertubuh tegap yang sedang berdiri menjaga pintu itu.
Anjani mengalihkan pandangannya dari 2 orang yang menatap datar ke arahnya itu. Ia mengeluarkan ponselnya dan meminta Mila keluar untuk menjemputnya. Ia takut salah pintu yang nanti malah menimbulkan keributan kecil.
Beberapa saat kemudian pintu itu terbuka, Mila melihat datar ke arah Anjani, namun sesaat kemudian, ie melirik tajam pada 2 orang yang menjaga pintu apartemennya. Mila bergantian menatap tajam kedua wajah itu. Ia kemudian melihat pin yang ada di baju kerja 2 laki-laki itu. Hingga akhirnya ia ingat wajah 2 orang itu adalah orang suruhan Ari untuk menjaganya.
“kenapa kalian disini?” tanya Mila dengan datar.
“kami diminta tuan Ari untuk memastikan tidak ada orang lain yang mengganggu anda nona” jawab salah seorang diantara mereka. Mila menarik nafas kasar mendengarnya.
“kenapa kalian mau disuruh menjaga pintu seperti orang bodoh begini?” Sambar Anjani seketika.
“maaf nona, kamu hanya menuruti perintah tuan Ari nona” jawab laki-laki yang sama.
“dia Anjani, temanku, kalian pergilah ke bawah, jangan berdiri seperti ini, aku nggak nyaman jika kalian seperti ini” ucap Mila dengan pelan.
“jika kami ke bawah, kami akan terlambat membantu nona jika terjadi sesuatu”
Mila kembali menarik nafas kasar, sikap Ari ia rasa terlalu berlebihan. Tidak ada satu pun keluarganya yang tahu apartemen itu, apa lagi Arnes. “ke bawahlah, tinggalkan saja nomor kalian, aku akan hubungi kalian jika butuh bantuan” perintah Mila lagi.
2 Orang laki-laki itu menunduk memberi hormat, salah satu dari mereka mengeluarkan kertas dan memberikan nomor ponsel mereka kepada Mila.
“segera hubungi kami jika nona butuh sesuatu atau ingin keluar, kami akan segera membantu nona” Mereka kemudian berlalu pergi meninggalkan Anjani dan Mila.
Anjani menatap heran ke arah Mila setelah kepergian 2 orang itu, “kenapa Ari mengirim orang untuk menjagamu?”
Mila mengangkat kedua bahunya seolah berkata aku tidak tahu dan kemudian segera masuk kedalam, “masukklah Anjani” gumam Mila.
Anjani seketika mendengus nafas kesal, “nggak suami, nggak istri, ditanya bukannya di jawab, malah menggangkat bahu” rutunya.
__ADS_1
Anjani segera masuk ke dalam, untuk beberapa saat kemudian, ia sudah berdiri di balkon, melihat laut utara Jakarta yang disinari cahaya terang matahari. Panasnya suhu siang itu jelas terasa di kulitnya.
“kamu ngapain disitu?” tanya Mila yang melihat Anjani dari pintu kaca balkon tersebut, Anjani memutar badannya melihat ke arah Mila. Gadis bercadar merah itu tampak sedang sibuk mengolah adonan kue di tangannya.
“kenapa kamu pindah kesini? apa apartemen lama tidak nyaman?” tanya Anjani dengan berjalan ke arah Mila.
“itu bukan apartemen kami, tapi punya Arbi” jawab Mila dengan singkat.
Pikiran Anjani seketika melayang pada sosok laki-laki yang pernah menemuinya di ruang kerjanya dan juga di resepsionis perusahaan 3A Sahabat memberi tahu dimana ruangan Arya. “ohh dia” gumam Anjani dengan singkat.
“kenapa kalian nggak beli rumah aja, kenapa harus beli apartemen segala?” tanya Anjani dengan santai.
Mila menarik nafas singkat mendengar pertanyaan Anjani. “apa semua masalah keluarga kami kamu harus tahu?” tanyanya dengan ketus.
Anjani mengangkat kedua bahunya, ia kemudian mengambil adonan kue dari tangan Mila. “kamu kerjakan yang lain aja Mil, ini bagianku” gumam Anjani.
Anjani dan Mila kemudian segera masuk ke dalam menuju dapur, tempat dimana Vanessa tengah sibuk dengan mempersiapkan bumbu masakan ala koreanya. Anjani duduk di meja makan sembari melanjutkan mengaduk adonan kue mereka. Sementara Mila duduk di depannya dengan memotong daging hingga ukuran tipis.
Mila menatap Anjani dengan tersenyum lebar di balik cadarnya, “aku hamil Anjani” ucapnya dengan semangat. Dan seketika saja Anjani berhenti dari mengaduk adonannya.
Mata Anjani membulat melihat mata Mila yang tampak berbinar bahagia menyampaikan kabar itu. “kamu serius?” tanyanya.
Mila mengangguk dengan semangat, “aku sebentar lagi akan menjadi ibu Anjani” gumam Mila dengan matanya yang jelas menyiratkan kebahagiaan saat mengatakan itu.
Anjani segera bangkit dan berjalan cepat ke arah Mila, ia kemudian segera memeluk Mila. “wahh, selamat ya Mil, aku turut bahagia mendengarnya"
“seharusnya kamu katakan dulu saat menelfonku tadi, kan aku bisa bawakan kado untukmu” ucap Anjani setengah merutui Mila.
“namanya juga kejutan untukmu, masa aku katakan dulu tadi” ucap Mila dengan pelan, ia memejamkan mata, menikmati pelukkan sahabat barunya.
Mila memang sudah merencanakan mengundang temannya selama Arya pergi. Termasuk Abel dan juga Syifa, sekedar unthk melepas rindu dan menghabiskan waktu. Hal itu bisa meringankan rasa kalut dihatinya karena keadaan. sekaligus untuk meringankan rasa rindunya kepada Arya.
“sudah berapa bulan usia kandunganmu Mil?” tanya Anjani.
__ADS_1
“kata dokter baru 2 mingguan” jawab Mila, ia kembali teringat saat meminta Arya membelikan barang-barang persiapan haidnya 2 minggu lalu, namun haidnya tak kunjung datang, ‘seharusnya aku langsung pake tespack waktu itu, kalau begitukan aku bisa tahu lebih cepat’ batinnya.
*
Setelah mengantar Rika ke rumahnya, Arbi menjalankan mobilnya kembali ke perusahaan, ada rapat untuk persiapan projek Bian corp di Kalimantan pagi itu. Ia sengaja membawa Rika pulang karena gadis itu hanya akan menganggu rapatnya seperti yang sudah -sudah.
Arbi masuk ke ruang rapat di lantai 1, ruang tersebut berada di sayap kiri gedung lantai satu, ruanganya tidak terlalu luas, kapasitasnya hanya 20 orang dengan susunan kursi membundar mengikuti pola meja bundar di dalam ruangan rapat itu.
Saat memasuki ruangan itu, ia melihat Ari sudah duduk di kursi depan, kursi Arya diduduki oleh Rita, dan satu lagi kursi untuknya.
Arbi berjalan santai menuju kursinya, semua orang disana sudah menunggunya untuk segera memulai rapat. “dari mana aja lo?, ini udah hampir 15 menit lo terlambat” ucap Ari merutui keterlambatan Arbi.
“sorry, tadi gue membuang Rika dulu ke rumahnya, tuh cewek tiba-tiba aja ngajak jalan tadi pagi” ucap Arbi dengan kesal.
“sekalian aja lo buang dari hidup lo, kasus Irman sedang diproses sekarang, jadi dia udah nggak guna lagi” balas Ari,
Sementara Rita menyipitkan matanya mendengar nama Irman.
“biar aja dia yang sadar diri pergi dari gue, gue nggak tega menyakiti perempuan,” jawab Arbi mulai membuka dokumen rapatnya.
“kalau dia nggak sadar-sadar gimana?, malah nanti dia yamg semakin mepetin lo” ucap Ari dengan bercanda.
“kalau udah kayak gitu, baru nanti gue buang, gue gini-gini masih nyari yang perawanlah, bukan perempuan kayak dia, kalau sama dia, ya enakan di dia, nanti gue malah dibandingin sama cowok-cowok yang pernah tidur sama dia” ucap Arbi dengan polos
Sementara Rita yang mendengar itu dibuat memerah seketika, ‘nih cowok nggak ada malunya ngomong vulgar kayak gini di depanku’ rutunya di dalam hati.
“kenapa Mila nggak jadi ikut sama Arya Ri, lo gagal ngeloby Karina?” tanya Arbi kepada Ari. Tadi pagi ia hanya mengantar Arya sendiri ke bandara, dan akhirnya ucapan selamat untuk Mila gagal ia ucapkan.
“udah, dia nggak bolehin Mila untuk naik pesawat dulu, gue udah bujuk agar dia ikut juga untuk jagain Mila, eehh malah gue yang dibilang bodoh, nggak ngerti apa-apa soal kehamilan” jawab Ari yang mengingat lagi ucapan Karina kepadanya.
“udah ngomongnya, ini rapat udah terlambat lama” ucap Rita yang membuat Ari dan Arbi menelan saliva mereka. Mereka melihat ke arah Rita dengan senyuman pias. “sorry Ta, biasa, kalau udah duduk berdua gini, ngomongnya bisa panjang, udah buka aja rapatnya” jawab Ari dengan pelan.
Rita menarik nafas dalam, ia kemudian segera membuka rapat untuk membahas pelaksanaan projek Bian corp di Kalimantan, sekaligus membahas persiapan menyambut kedatangan tim Bian corp dari London yang akan mengunjungi mereka untuk langsung menanda tangani kontrak kerja.
__ADS_1