Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Menguji Kepercayaan


__ADS_3

Arya tengah merapikan meja kerjanya untuk segera bersiap -siap pulang, Di sela kesibukannya membereskan beberapa dokumen serta beberapa kertas A3, ponselnya tiba -tiba berbunyi, menandakan ada notifikasi pesan chat yang masuk.


Arya segera mengambil ponselnya dan ia menarik nafas panjang ketika membaca pesan chat dari Mila untuk dirinya.


‘Arya, nanti sebelum pulang aku titip belanjaan ya, ada beberapa barang yang aku butuhkan’ Mila


‘kan kamu bisa belanja di mini market di seberang’ Arya


‘aku capek harus turun lagi ke bawah, kalau kamu nggak mau, ya udah, nggak apa -apa kok, aku turun aja ke bawah sebentar’ Mila.


‘kirim aja apa yang mau kamu beli, jangan keluar lagi, aku segera pulang’ Arya.


‘yeeeh, makasih suamiku’ Mila.


Pesan terakhir itu mampu membuat Arya tersenyum membacanya, namun senyum Arya sirna seketika saat Mila mengirim beberapa barang yang hendak ia beli, melihat daftar itu, Arya seketika mengernyitkan dahinya, ‘astaga, masa aku beli barang kayak gini sih’ batin Arya. Seumur -umur, ia tidak pernah membeli barang seperti itu.


‘tadi dia sudah kesini ngantar bekal, masa tidak sempat belanja’ rutu Arya lagi.


‘kamu yakin minta aku beli barang -barang ini Mil?’ Arya


‘iya, kamu nggak mau ya?’ Mila, Arya melepas nafas kasar karena merasakan kekecewaan Mila di chat itu.


‘nggak kok, nanti aku belikan, bentar lagi aku pulang, tunggu ya’ Arya.


'terima kasih banyak suamiku’ Mila.

__ADS_1


Arya kemudian segera bangkit untuk pulang. Arya mengendarai motor bebeknya dengan pelan di tengah ramainya jalanan, Jalan terdekat dari apartemen Arbi ke kantornya adalah melewati resto adinata yang dikembangkan oleh Arnes.


Ketika melewati resto milik Adinata, Arya melihat mini market kecil yang terlihat sepi di seberang resto itu, Ia pun segera memakir motor di mini market yang sepi tersebut.


‘sebaiknya aku belanja disini’ batin Arya, jika ia belanja di mini market di depan apartemen Arbi yang ia pinjam, rasanya akan sangat malu sekali untuknya jika dilihat banyak orang membeli barang -barang perempuan yang di minta Mila, mini market disana selalu ramai karena memang berada di daerah hunian padat penduduk.


Arya turun dari motornya dan melepaskan helmnya, Ia sejenak melihat ke arah resto Adinata yang tepat berada di seberang mini market yang ia singgahi, ‘aku tidak mungkin salah ingat, dulu rumahku ada di sini, kenapa sekarang malah berubah jadi resto mewah ini, atau mungkin aku,,,’ batin Arya yang sejenak berhenti, ia menarik nafas kasar dan kemudian memutar tubuhnya masuk ke dalam mini market, ia segera membuang jauh ingatan tentang rumahnya itu agar luka itu tidak kembali muncul.


Seorang pelayan menghampiri Arya yang tampak kebingungan melihat rak -rak barang di dalam mini market. Si pelayan segera mendekat ke arah Arya untuk melayaninya.


"sore pak, ada yang bisa dibantu?” tanya si pelayan dengan ramah.


“eeh, iya kak, bisa bantu saya untuk memilih barang -barang ini?” tanya Arya sembari memperlihatkan pesan Mila kepada si pelayan.


Pelayan itu kemudian tersenyum melihat isi pesan Mila pada Arya, kontak nama istriku tercinta di ponsel Arya membuat pelayan itu berpikir tentang sesuatu, apa lagi list barang belanjaan semuanya barang keperluan perempuan yang bahkan sangat intim. ‘hihihi, bucin juga nih cowok sama istrinya, tampang aja dingin, nyatanya bucin’ batin si pelayan mini market yang melihat wajah datar Arya dengan rambut yang sedikit panjang.


“nggak pak, saya ambilkan dulu ya barangnya” ucap si pelayan sembari berjalan memilih barang yang di list Mila di chat itu.


Arya mengusap kasar wajahnya seketika, ‘Mil, kamu mau mengerjaiku ya, masa aku disuruh beli barang kayak gitu’ kesal Arya sembari mengikuti si pelayan memilih barang yang di pesan Mila. Wajah pelayan yang ia lihat sudah cukup menggambarkan malunya ia saat itu.


Setelah selesai dengan kegiatan belanjanya, Arya segera keluar menuju motor bebeknya, namun matanya dibuat tak percaya karena sosok Arnes sudah berdiri di dekat motornya, wajah Arnes seketika membuka luka yang ada di hatinya, luka yang dibuat Mila yang membuat hatinya begitu hancur ketika peristiwa di teras rumah Mila.


“wah,wah, suami yang rajin rupanya, sampai mau belanja segala” ucap Arnes melihat tangan kiri Arya yang menenteng barang belanjaan dan tas kerja Arya.


Arya menarik nafas panjang dan melepasnya dengan kasar, ia sama sekali tidak berminat melayani Arnes yang mengejeknya.

__ADS_1


“waw, apa itu?, kamu membeli barang -barang seperti itu untuk Mila, bodoh sekali kamu, kamu yang membeli barang itu, tapi aku menikmati tubuhnya” ucap Arnes dengan sinis yang mencoba memancing kemarahan Arya, di dalam hatinya ia merasakan Mila masih mencintainya, ia masih percaya Mila menjaga komitmen yang mereka buat agar Arya tidak menyentuh Mila sedikit pun.


Nafas Arya terasa sesak menahan gejolak rasa amarah dan cemburu yang muncul di hatinya, kata -kata Arnes seakan merendahkan harga dirinya dan juga harga diri istrinya.


“aku tahu Mila takkan mau disentuh olehmu, hatinya hanya untukku, aku yang memintanya agar tidak mau disentuh olehmu, dan aku tahu sampai sekarang dia masih menuruti itu semua” lanjut Arnes lagi yang semakin membuat amarah Arya semakin memuncak.


Arya berkali -kali menarik nafas panjang, berharap udara segar mampu menenangkan gejolak hatinya, namun udara panas Jakarta sore itu malah membuat dadanya semakin sesak menahan rasa marah, ingin sekali ia memukul laki-laki itu, membalaskan rasa sakit hatinya, rasa cemburunya dan juga membalaskan kata -kata kotor laki-laki itu pada istrinya.


Arnes menatap sinis pada Arya, pancingannya belum berhasil membuat Arya marah, ia ingin laki-laki itu segera marah dan memukulnya, lalu bodyguardnya datang untuk memukul Arya, membalaskan rasa sakit dihatinya karena pengawal Mila yang pernah memukulnya.


“walaupun kamu menyuruh orang menjaga istrimu, tetap saja aku masih bisa menghubunginya dan menikmati waktu ku bersamanya, aku harap kamu tidak akan kecewa jika mendapati dia tidak perawan lagi, atau mungkin mendapati dia nanti akan hamil anakku” ucap Arnes yang semakin ingin memancing emosi Arya, tangan Arya kemudian terkepal tanpa ia sadari mengikuti gejolak di hatinya, rasa marah, dendam, dan cemburu berkalut di hatinya.


Melihat hal itu Arnes merasa di atas angin, ia berhasil memancing rasa sakit hati dan amarah Arya, dan juga rasa cemburu Arya, Arnes kemudian menceritakan bagaimana kemesraannya dengan Mila, ia bahkan menceritakan seperti apa tubuh Mila yang pernah ia lihat kepada Arya, menceritakan bagaimana ia menikmati tubuh istri Arya.


Arya menelan salivanya mendengar itu semua, semua gambaran Arnes terhadap tubuh Mila tidak ada satu pun yang benar, Ia sudah hafal seperti apa setiap jengkal tubuh istrinya yang selalu tertutup itu, entah tubuh perempuan mana yang diceritakan Arnes kepadanya, entah perempuan mana yang dinikmati laki -laki itu lalu diceritakan kepadanya seolah -olah laki -laki itu sudah merasakan tubuh istrinya.


Namun cerita kemesraan Arnes dengan Mila malah membangkitkan gelora cemburu di hatinya. Entah benar atau tidak, Arya tidak ingin memikirkannya. Namun cemburu itu tetap saja muncul di hatinya.


'itu masa lalu Mila, aku tidak boleh menghakiminya, Mila sudah berubah, dia sudah memilihku' batin Arya yang berusaha menahan gejolak di dadanya.


“apa kamu sudah selesai mengocehnya, minggirlah, aku harus segera pulang” ucap Arya dengan datar berusaha menahan rasa marah dan cemburu yang terasa menggebu di hatinya.


Arnes kemudian tertawa sinis dan bergeser dari motor Arya. “katakan pada istrimu, aku besok ingin menghabiskan waktu bersamanya” ucap Arnes dengan senyum mengejek Arya, hatinya ikut terasa panas karena sikap Arya hanya datar menerima kata -katanya yang berusah memprovokasi Arya.


Sementara Arya juga sadar, ia tidak boleh ribut dengan Arnes, jika itu terjadi, bisa saja ia merusak apa yang direncanakan oleh sahabat -sahabatnya, merusak rencananya untuk kembali ke Adinata group. Apa pun yang terjadi ia tidak boleh terlibat konflik dengan orang-orang Adinata group untuk terus menyembunyikan identitasnya sampai waktu kembali itu tiba.

__ADS_1


“aku rasa aku harus berterima kasih pada istrimu yang mau mendapatkan kenikmatian itu dariku bukan suaminya sendiri” ucap Arnes lagi yang tersenyum sinis pada Arya.


Arya hanya diam dan segera menghidupkan motornya, ia harus segera pergi meredakan gejolak marah dan cemburu dihatinya, Arnes akhirnya tersulut emosi lebih dulu karena Arya yang mengabaikannya, rasa hormatnya sebagai anak CEO Adinata terasa direndahkan, ia kemudian memukul punggung Arya dengan keras hingga Arya terjatuh bersama motor bebeknya.


__ADS_2