Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Keputusan


__ADS_3

“lo mau biarkan masalah Tomy kayak gini aja, kalau gue mah ogah,” ucap Ari dengan kesal karena respon Arya seperti yang tidak ia harapkan.


“gue lagi mikirin cara pembalasan yang jauh lebih besar dari sekedar memasukkannya ke penjara, lagi pula orang sepertinya masuk ke penjara hanya formalitas aja, sehari setelah itu ia sudah jalan-jalan di mall.” ucap Arya yang sejenak menghentikan kerjanya.


“maksud lo?”


“gue butuh orang-orang lo Ri, gue belum bisa cerita sekarang, gue harus bicara dulu dengan Tomy setelah ia benar-benar pulih” ucap Arya yang kembali melanjutkan kerjanya.


Ari kemudian menatap dalam wajah Arya yang masih sibuk bekerja, ‘dia benar-benar penuh rahasia, padahal aku sudah sering jalan dan mendaki bersamanya, tetap saja banyak rahasia dalam dirinya yang belum bisa kuungkap’ batin Ari.


“apa lo masih serius sama istri lo itu?” tanya Ari yang kali ini mengalihkan pembicaraan mereka.


“kenapa lo tiba-tiba membahas masalah istri gue?” tanya Arya dengan nada singkatnya.


“gue masih memegang kesepakatan kita waktu itu, gue nggak akan ikut campur masalah lo dan istri lo, dan lo tidak akan menganggu gue dalam menghancurkan cipta rakarsa” ucap Ari masih menatap wajah Arya.


“lo bilang nggak mau ikut campur, tapi lo mengusir dia dari perusahaan ini”


“gue hanya sedikit mempermainkan emosionalnya agar dia sadar siapa dirinya, lagi pula lo masih berhak dapat yang lebih baik dari istri lo itu”


“gue nggak ada mengganggu apa yang lo lakuin pada perusahaan itu, jadi jangan ganggu dia lagi, gue cuma ngizinin orang-orang lo buat ngawal dia, selain itu lo jangan usik kehidupannya” jawab Arya yang kali ini bersuara tegas.


"jaga aja istri lo baik-baik, gue takut laki -laki itu akan kehilangan akal dan menjual istri lo pada pacarnya itu" ucap Ari yang membuat Arya mengelus karena merasa lelah pada masalah yang harus ia hadapi.


“Bian corp gimana?” tanya Arya yang kali ini sedikit menggeser pembahasan mereka.

__ADS_1


“gue yakin kita menang, tapi gue juga nggak begitu yakin benar-benar bisa menghancurkan perusahaan keluarga istri lo,” jawab Ari yang membuat Arya menatap heran kepadanya.


“apa yang gue lakuin hampir nyaris sempurna, hutang perusahaan itu hampir jatuh tempo, dan semua asset mereka akan segera disita, mungkin rumah istri lo dan semua isinya juga ikut disita, rumah itu masuk ke dalam jaminan pinjaman perusahaan mereka,” ucap Ari yang membuat Arya menelan salivanya sekarang.


“lo boleh ambil semuanya, tapi jangan rumah itu Ri, gue benar-benar nggak mau istri gue akan marah besar sama gue karena masalah ini” jawab Arya menatap Ari dengan pasti.


“kalau dia marah lo tinggal buang aja perempuan kayak gitu” jawab Ari ketus pada Arya.


“enak kali lo ngomong, kayak istri gue cuman barang saja yang bisa gue pakai ketika gue butuh dan gue buang ketika menyusahkan gue” ucap Arya yang benar-benar kesal pada sahabatnya itu.


“gue udah dapat data pinjaman perusahaan itu dari bank, jatuh temponya seminggu lagi, dan hasil Bian corp keluar 2 minggu lagi, jika semua sesuai rencana gue, perusahaan itu benar-benar akan habis setelah hasil Bian corp keluar”


“kalau tidak sesuai rencana lo itu gimana?”


"Arbi sepertinya telah menyiapkan sesuatu yang lebih kotor dari yang gue lakukan” jawab Ari dengan ketus.


“adalah, gue udah curiga dari awal, tapi sepertinya Arbi benar-benar serius dengan cara itu jika gue gagal”. ucap Ari lagi.


“kita sudah banyak rugi karena mereka, kehancuran itu sudah harus mereka terima, terutama laki-laki itu” lanjut Ari lagi sembari membaringkan tubuhnya di sofa Arya.


“akan butuh waktu sedikit lama untuk menyelamatkan rumah itu Arya, mungkin lo bisa bawa istri lo keluar kota dulu untuk beberapa hari” ucap Ari sembari memejamkan matanya.


“kalau lo mau tidur, lo bisa tidur di kamar gue” jawab Arya yang kembali melanjutkan kerjanya, ”gue mau tidur disini, setelah Tomy keluar dari rumah sakit, kita harus mendaki ke Semeru atau Rinjani, kita udah lama nggak mendaki bareng lagi” ucap Ari sebelum menjemput alam mimpi.


Arya menghirup nafas panjang dan melepaskannya, masalah perusahaannya dan Cipta rakarsa akan segera datang menjadi badai ujian perasaan Mila kepadanya, dan di sisi lain ia juga kesulitan melihat kondisi di tubuh Adinata group untuk mengambil langkah yang tepat setelah mendengar kepastian perjodohan Anjani dengan Arnes dari mulut Anjani sendiri.

__ADS_1


‘Mil, aku sudah membuktikan kepadamu bahwa aku akan menggenggam erat tanganmu apapun yang terjadi, sekarang kamu juga harus membuktikan hal serupa kepadaku, kamu harus tepati janjimu Mil, aku tidak mau hancur lagi’


*


Syifa menatap panjang ke arah Mila yang sedang membereskan barang-barang di mejanya, tatapannya menyiratkan kesedihan karena harus kehilangan rekan kerja sekaligus sahabatnya itu, ia sejenak mengingat seperti apa mereka melalui kebersamaan mereka di sekolah itu. Sekolah yang sudah banyak memberikan mereka kenangan bersama dalam menekuni profesi sebagai guru. Mila yang membereskan semua barangnya berkali-kali menghirup nafas panjang untuk memberikan kelegaan di hatinya.


“kakak kenapa menatapku seperti itu?” tanyanya yang menyadari bahwa Syifa sama sekali tidak berhenti melihatnya dari tadi.


“kamu yakin dengan keputusanmu ini?, kakak benar-benar akan kesepian disini, kamu tahu sendirikan seperti apa guru lain kepada kita” ucap Syifa dengan nada lemahnya kepada Mila.


“aku sudah memikirkannya baik-baik kak, mungkin ini adalah jalan yang baik, aku tidak ingin melepas cadarku, aku ingin belajar agar menjadi yang lebih baik, sejak aku mengenal Arya, aku jadi bisa menilai diriku sendiri sekarang, aku masih harus banyak belajar lagi kak” ucap Mila setegar mungkin, ia sebenarnya juga berat meninggalkan sekolah itu, namun ia juga harus mengambil pilihan dan segala resikonya.


‘aku sudah menutup wajahku hari itu, mungkin benar niat ku salah karena aku hanya menuruti perkataan bang Arnes, tapi Arya benar, yang harus aku lakukan sekarang adalah memperbaiki niatku, bukan melepas cadarku, serta memperbaiki diriku agar aku pantas bersanding dengan laki-laki seperti Arya’ batin Mila.


Sementara Syifa masih menatap Mila dengan tatapan sendunya, “kakak benar-benar akan merindukan kamu nanti Mil”,


“kalau kakak merindukan ku, kan kakak bisa ke rumahku, kita bisa video call juga nanti, yang penting kakak jangan lupa kabari aku tentang keponakanku yang masih ada di perut kakak” jawab Mila dengan tersenyum.


“anakku akan sedih karena bibinya meninggalkan ibunya sendiri di sekolah ini” ucap Syifa dengan semakin lesu.


“kakak, jangan gitu, kita akan tetap seperti ini sekalipun aku tidak disini lagi, aku masih harus banyak belajar dari kakak agar bisa menjadi istri yang lebih baik lagi untuk suamiku” ucap Mila sembari menatap Syifa dengan menyentuh lembut tangan temannya itu.


“Mil, apa kamu melakukan ini karena permintaan suamimu itu?” tanya Syifa dengan mata penasarannya membalas tatapan Mila.


“nggak kak, ini keputusanku sendiri, dia tidak memaksaku sama sekali, dia hanya bilang setiap keputusan pasti ada risikonya” jawab Mila.

__ADS_1


Mila kemudian bangkit dan meninggalkan Syifa untuk pamit dengan rekan-rekannya yang lain. Sementara Syifa memperhatikan Mila dengan perasaan kehilangannya.


__ADS_2