Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Belum Percaya Seutuhnya


__ADS_3

“kalian jangan bertindak apa-apa dulu sampai rapat pemegang saham itu,” ucap haris dengan singkat dan penuh penekanan pada Tomy.


Tomy menatap santai mendengar ucapan Haris, “kenapa pak?, apa yang telah kalian siapkan,?, beritahu kepadaku, agar kami juga bisa menyesuaikannya dengan keadaan kami” ucap Tomy.


“kami harus proses dulu hasil tes dna itu untuk mengalihkan saham tuan Gibran yang dipegang perusahaan ke tangan tuan Indra, sekaligus menjadikan Adinata group menjadi milik tuan Indra, ini akan memakan banyak waktu, dan sekalipun kita segera memperkenalkan tuan Indra, tetap saja tuan Indra tidak akan bisa menggunakan saham itu di rapat nanti, mungkin proses pengalihan saham itu akan cukup lama,” jelas Haris yang sejenak menarik nafas panjang.


“jika tuan Indra muncul sebelum ini, mungkin pertunangan itu tidak akan terjadi dan semuanya akan sedikit lebih mudah, tapi karena pertunangan itu akan dilangsungkan besok, semuanya akan jauh lebih sulit, suara pemegang saham nanti pasti akan pecah, dan itu dapat membuat nilai tawar tuan Indra sebagai CEO menjadi turun, jadi lebih baik tuan Indra tetap bersembunyi, dan setelah euphoria pertunangan itu turun, barulah tuan Indra kita munculkan untuk menekan para pemilik saham mendukung dia” jelas Haris pada rencana yang telah ia susun berempat tadi malam.


“Pertama, aku akan bahas rencana kalian dengan Arya dan yang lainnya lebih dulu untuk menentukan langkah kami, yang kedua, dia bukan Indra tapi Arya, itu nama pemberian ayahku yang telah menyelamatkan hidupnya, dan yang ketiga, berhati -hatilah, aku lihat ada 2 orang yang mengawasi tempat ini” ucap Tomy dengan tegas.


Haris tersenyum sinis mendengar ucapan Tomy yang berani berbicara tegas kepadanya, “kalian benar-benar berani” ucapnya melepas nafas panjang, “kamu tenang saja, pastikan saja orang itu tidak mengikutimu, dan masalah tempat ini, aku yang mereservasinya tadi, kalian aman dan tidak akan terendus oleh mereka” lanjut Haris dengan datar, ia sadar bahwa ia adalah pion selanjutnya yang akan di korbankan dalam permainan itu.


“satu lagi pak, jangan korbankan satu pun dari kami atas rencana anda ini, aku yakin anda pasti sadar dengan apa yang akan anda lakukan” ucap Tomy sembari angkit dari kursinya.


Haris kemudian mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Tomy. “simpan nomormu, aku rasa akan lebih baik berhubungan denganmu dari pada dengan Rita, dan juga aku akan membutuhkan orang tuamu nanti untuk mendapatkan pengakuan kalau tuan Arya adalah anak tuan Gibran, dan satu lagi" ucap Haria sejenak berhenti, ia kemudian menarik nafas panjang.


"jika temanmu yang kamu sebut tadi punya orang terbaik untuk menjaga tuan Arya, itu jauh lebih baik, aku bisa menarik orangku dari tuan Arya agar mereka tidak mengendus pergerakan tuan Arya sebenarnya” ucap Haris melihat Tomy yang telah berdiri.


Tomy kemudian mengambil ponsel Haris untuk menyimpan nomornya, “satu lagi Tomy, ada masalah apa tuan Arya dengan anak Aliando, Arnes, kemarin dia memukul tuan Arya” ucap Haris dengan datar sembari melihat Tomy yang sedang mengetik di ponselnya.

__ADS_1


Tomy seketika menghentikan kegiatannya, ia menatap lekat wajah Haris setelah mendengar ucapan itu, “itu masalah lain yang juga rumit pak, istri Arya dulu memiliki hubungan dengan laki -laki itu, sepertinya laki -laki itu masih menginginkan istrinya Arya” ucap Tomy yang menduga -duga.


“benarkah, ini akan sedikit lebih rumit, istri tuan Arya akan menyulitkan kita nanti, karena dia bisa menjadi titik lemah kita dalam masalah ini, apa lagi aku tidak begitu percaya pada keluarga perempuan itu, mereka pernah mengkhianati kami” jelas Haris pada Tomy, Tomy kembali mengingat permasalahan Arya dengan Mila yang telah berlalu.


'keluarga Mila pernah mengkhianati mereka?' pikir Tomy penub rasa penasaran.


"maksudnya mengkhianati bapak apa?"


"tanyakan saja pada Rita atau tuan Arya, mereka pasti tahu masalah ini" ucap Haria dengan datar.


“hubungan Arya dan istrinya cukup baik pak, jadi jangan berpikir yang aneh -aneh tentang istrinya itu” ucap Tomy sembari mengembalikan ponsel Haris.


“satu lagi, jangan panggil aku pak, kamu bisa panggil aku om seperti Rita memanggilku atau paman seperti tuan muda dulu memanggilku” ucap Haris pada Tomy dan Tomy pun berlalu pergi keluar dari ruangan itu.


*


Arya memilih pulang lebih cepat siang itu, ia ingin menepati janjinya kepada Mila untuk melihat -lihat mobil baru yang akan mereka beli, sekaligus untuk melihat beberapa apartemen yang ditawarkan kepadanya.


Arya juga telah mendapatkan pesan dari Tomy tentang pertemuan Tomy dengan Haris, namun ia ingin mengesampingkan masalah itu untuk sejenak, Ia lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama Mila dari pada harus memikir masalah Adinata group.

__ADS_1


Pertemuannya dengan Arnes membuat sikap posesifnya menjadi lebih besar, masih sangat sulit baginya membiarkan Mila seorang diri, rasa percayanya belum seutuhnya kembali pada Mila, sekalipun istrinya itu telah berusaha melakukan banyak hal, tetap saja ingatan pengkhianatan Mila yang dibangkitkan oleh Arnes, membuat Arya lebih was -was pada Mila. Sekalipun ada pengawal yang mengawasi istrinya, tetap saja hatinya tidak tenang jika terus mengingat perkataan Arnes kemarin.


Arya membuka pintu apartemennya dengan pelan, Mila yang selalu berdiri di belakang pintu itu ketika ia pulang, saat itu tidak terlihat sama sekali, ‘Mila kemana?, seharusnya aku ngasih kabar dulu tadi sebelum pulang, jadikan dia menyambutku seperti biasa’ batin Arya, ia kemudian segera masuk ke dalam kamarnya yang pintunya ada di dekat ruang tengah, dan ketika di dalam kamar pun, ia tidak melihat istrinya itu,


‘Mila kemana sih,’ batinnya, Arya kemudian mengeluarkan ponselnya, melihat mungkin ada pesan dari Mila yang izin pergi keluar, namun tidak ada apa-apa di pesan chat itu, isi pesan terakhir yang ada hanyalah permintaan maaf karena Mila tidak bisa mengantar bekal makan siangnya hari itu seperti biasa.


Arya kemudian segera berganti pakaian, dan membersihkan dirinya di kamar mandi. Saat selesai di kamar mandi, Mila masih belum kembali ke kamar itu, Arya menarik nafas kasar seketika, ia kemudian keluar dari kamar dan menuju dapur, disana ia melihat istrinya sedang berdiri di dekat meja dapur bersama seorang perempuan yang memakai blazer kerja berwarna abub-abu dengan rok selutut.


“kamu sudah pulang Arya” ucap Vanessa yang datang dari arah belakang Arya, dan seketika saja Mila dan Anjani melihat ke arah Arya.


Mila kemudian melirik bingung melihat Arya, ‘inikan belum jam pulang, kenapa Arya sudah disini?’ batin Mila yang kebingungan melihat suaminya.


Mila kemudian melirik ke arah Anjani, 'apa Anjani yang memberi tahu Arya kalau dia disini' batin Mila penuh dugaan.


Mila segera tersadar dengan keadaan, ia kemudian segera mencuci tangannya yang kotor untuk mencium tangan suaminya.


Mila mencium tangan suaminya dan Arya mengecup kening Mila dengan singkat.


“kamu kok sudah pulang?,” ucap Mila menatap lekat wajah suaminya yang menatap datar ke arah Anjani.

__ADS_1


“Arya” gumam Mila yang tidak suka dengan pandangan Arya itu.


“kenapa Anjani ada disini?” tanya Arya pada Mila,


__ADS_2