
Arya menyetir mobil Rita dengan santai mengikuti arahan Rita menuju ke tempat ayah Rita di tahan, suasana mereka terasa santai seperti biasanya, suasana keakraban mereka cukup lama mereka rasakan sejak Rita menjadi sekretaris Arya.
“kamu yakin ingin bertemu ayahku Arya?” tanya Rita dengan nada pelannya.
“iya lah, kamu pikir aku main-main, ini kita udah jalan” jawab Arya dengan santai.
“apa pun nanti, aku harap kamu tidak kecewa dengan ayahku, semua yang ditanggung ayahku hanya fitnah Arya” ucap Rita mencoba meyakinkan Arya sebelum benar -benar bicara dengan ayahnya.
“kamu tenang saja, aku percaya sama kamu dan ayahmu, aku malah merasa kemampuanmu sebagai sekretaris turun dari ayahmu” ucap Arya meyakinkan Rita.
“maksudmu?”
“ayahmu dulu sekretaris di Adinata groupkan?” tanya Arya dengan masih menatap fokus jalan yang mereka lewati.
“aku sudah pernah cerita ya sama kamu” ucap Rita menatap kosong jalanan di sisinya.
“Rita, jika nanti aku mendapatkan posisi yang lebih tinggi dari ini, apa kamu akan tetap ada disisiku?” tanya Arya dengan nada datarnya.
“maksudmu apa?” tanya Rita yang heran dengan kalimat Arya.
“jika nanti aku punya kesempatan jadi CEO di Adinata group gimana?, apa kamu mau menggantikan posisi ayahmu dulu?” tanya Arya dengan nada candanya.
“mimpi kamu ketinggian Arya" ledek Rita sembari melihat Arya yang masih fokus menyetir.
"kalau mimpi tinggi nggak apa-apa kali Ta"
"lagi pula aku juga nggak ada niat untuk level setinggi itu, dengan posisiku sekarang aja, mas Harun udah tidak percaya diri menjadi suamiku” ucap Rita dengan santai.
__ADS_1
“ya wajarlah, kamu harus hati-hati menghadapi abangku itu, bagi laki-laki sekaligus suami harga diri itu penting lo Ta, jika sampai sedikit saja kamu merasa lebih tinggi dari dirinya, bisa hancur keluargamu” ucap Arya mengingatkan Rita.
“astagaa, ucapanmu itu nggak ada baiknya Arya” kesal Rita mendengar ucapan Arya.
“tapi aku rasa bang Harun sedikit mirip denganku, jika aku bisa memaafkan Mila, tentu dia juga bisa memaafkan kesalahanmu, tapi tetap saja, biasanya jika harga diri laki -laki udah di injak -injak oleh istrinya, hubungan mereka akan sulit membaik, harga diri suami itu tinggi lo Ta” jelas Arya dengan santai.
“lalu kenapa kamu masih bersama istrimu sekarang?, apa 3 minggu bukan karena harga dirimu?, aku tidak terlalu tahu masalahmu, tapi jika kamu menghilang selama itu, sudah pasti kesalahan dia sangat besar, dan aku yakin itu murni kesalahannya, jika kesalahanmu, pasti kamu tidak akan pergi, tapi berusaha memperbaikinya” ucap Rita dengan datar pada Arya.
“entahlah Ta, aku juga nggak tahu apa yang terjadi dengan diriku, mereka bilang hatiku cukup besar menerima kesalahan Mila, tapi kenyataannya, aku hanya mengikuti alunan takdirku, untuk melindungi diriku sendiri, aku masih ada disisinya karena satu alasan, alasan yang mungkin sebentar lagi kamu tahu" jelas Arya yang berhenti sejenak, ia kemudian menarik nafas panjang untuk melanjutkan kalimatnya.
"dan juga aku tidak tahu, entah sejak kapan perasaanku kembali lagi untuknya setelah peristiwa itu, hatiku hanya tidak bisa menerima melihat dia menangis dan sedih, lalu perasaan itu tiba-tiba muncul kembali” jelas Arya dengan pelan.
Rita mengusap keningnya mendengar penjelasan Arya, masalah perasaan memang terkadang sulit dimengerti, apa lagi untuk orang seperti Arya, yang terkadang begitu mudah memaafkan orang lain dan membantu orang lain tanpa berpikir berapa ia harus mengeluarkan waktu dan biaya, hal yang bagi Rita sendiri sulit ia mengerti.
“pertanyaanku belum kamu jawab Ta, jika aku mendapatkan posisi yang jauh lebih tinggi dari ini, apa kamu akan tetap disisiku?, katakan saja iya atau tidak, jangan anggap lagi ada hutang diantara kita” tanya Arya lagi pada Rita.
“aku tahu masalah bang Harun Ta, aku juga ingin memberi posisi yang lebih tinggi untuknya di perusahaan, tapi sepertinya dia yang tidak punya keberanian untuk itu, ya mungkin ia merasa minder dengan kehidupannya dulu sama latar belakang pendidikannya” ucap Arya kembali membahas masalah Harun.
“aku bingung soal itu Arya, kadang aku merasa kesal karena mas Harus membandingkan dirinya dengan mantanku dulu, aku padahal sudah sangat membenci laki -laki itu, aku bahkan bersyukur dia hanya menjadi karyawan biasa yang status sosialnya jauh dj bawahku sekarang, aku rasa itu setimpal atas penghinaannya dulu pada ayah dan ibuku yang tak berdosa” ucap Rita melepas nafas panjang.
“setiap orang itu beda-beda Ta, bang Harun lebih ke tipikal pemikir yang menilai sesuatu secara komplit, dia menilai kamu dari masa kecilmu yang hidup mewah dengan posisi ayahmu dulu, mungkin itu yang menjadi pembanding tentang apa yang bisa ia beri untukmu sekarang, ditambah lagi posisimu yang lebih tinggi darinya, ia pasti akan merasa tidak ada apa -apanya dimata keluargamu, begitu juga dengan mantanmu, dia lebih keren dari pada bang Harun yang sederhana, ya pembandingan seperti itu bisa membuatnya tidak pede saat dia ada disisimu” jelas Arya lagi.
“itu benar-benar rumit Arya, semuanya sudah berlalu, kenapa lagi harus dipermasalahkan, aku senang dengan kesederhanaan mas Harun, dia sangat mirip denganmu, sikap baik dan tulusnya, sudah cukup membuatku jatuh cinta dan merinduinya setiap saat”
"mungkin hanya sedikit orang seperti mas Harun Ta, ya, yang pasti kamu harus bisa selalu mengutamakannya untuk segala hal, dan meminta pendapatnya untuk segala keputusanmu, jadikan dia raja Ta, dia akan selalu merasa dia menjadi imammu, tapi jika kamu mengambil keputusan tanpa meminta pendapatnya, itu akan membuatnya down ta, dia mungkin nggak akan bisa marah kepadamu, tapi hatinya akan hancur jika kamu melakukan itu kepadanya' jelas Arya panjang lebar.
*
__ADS_1
Arya dan Rita duduk menunggu sekretaris Arjun di meja kunjungan LP tempat sekretaris Aejun ditahan. Arya menunduk menatap kosong ke arah lantai keramik putih ruangan itu, ia mencoba menguatkan dirinya dengan apa yang akan ia lakukan, Hari itu ia akan membuka siapa dirinya kepada sekretaris Arjun dan juga Rita, sekretarisnya sendiri. Arya menarik nafas panjang menguatkan dirinya. 'ini adalah langkah pertamaku, kamu harus berani Arya,' batinnya menguatkan dirinya sendiri.
Seorang laki -laki paruh baya berjalan pelan ke arah Rita dan Arya, ia menatap dalam wajah Rita yang menatap sendu kepadanya, ia kemudian melihat ke arah Arya yang sedang menunduk di samping Rita.
‘apa dia Arya?, atasannya Rita itu’ batin sekretaris Arjun yang juga menguatkan dirinya. Hatinya masih meragukan posisi anak dan menantunya jika Arya berpikir buruk akan kasus yang ia tanggung.
Sekretaris Arjun dengan langkah pelan kemudian duduk di depan Rita dan menatap dengan pandangan bingung kepada putrinya itu.
“ada apa Rita?, baru kemarin kamu kesini, sekarang kamu sudah disini lagi” ucap sekretaris Arjun mencoba berbasa basi terlebih dahulu.
“seperti yang aku bilang kemarin yah, ini Arya, Arya ingin bertemu dengan ayah” jawab Rita dengan sikap cerianya, ia tidak ingin ayahnya tahu ketakutan apa yang ia rasakan.
Arya kemudian mengangkat kepalanya dan menatap kepada sekretaris Arjun, mata mereka kemudian bertemu, jantung mereka sama -sama berdetak kencang. Menyelami mata yang mereka lihat.
Setelah 22 tahun berlalu, Arya kembali melihat sosok laki-laki yang selalu membantu setiap pekerjaan ayahnya mulai dari yang besar hingga yang kecil, sama seperti Rita yang saat ini masih sering ke mall untuk membeli pakaian kerja yang ia gunakan.
Mata arya seketika membuat mata sekretaris Arjun tak bisa berkata-kata, raut wajah Arya mengingatkannya pada sosok yang sangat ia rindukan, ‘tuan Gibran, nona Naina, tuan Indrakah ini’ batin sekretaris Arjun dengan mata berkaca-kaca.
“kamu,,,kamu”
“iya yah, ini Arya yang sering aku ceritakan pada ayah” ucap Rita dengan nada ceria, walaupun ia merasa aneh dengan sikap ayahnya dan juga Arya.
Arya menarik nafas pelan, “apa om masih ingat denganku?” tanya Arya dengan nada tenangnya, kalimat yang membuat Rita seketika melihat ke arah Arya dengan wajah bingungnya, ‘ingat?, apa Arya dan ayah pernah bertemu sebelum ini’ batinnya.
“kamu,,” ucap sekretaris Arjun dengan nada gemetarnya.
Arya kemudian mengangkat tangannya untuk bersalaman dengan sekretaris Arjun.
__ADS_1
“saya Indra,,, Indra Adinata”