
Setelah mengantar Tomy ke kontrakan dan Abel ke rumahnya, Arya, Mila dan Vanessa kemudian segera kembali ke rumah mereka, Mila menatap kosong ke arah jalanan saat sudah duduk di samping Arya yang menyetir mobil, ada rasa yang tertinggal di kampung halaman Arya dan Tomy, rasa yang membuat hatinya terasa sedih sejak meninggalkan rumah paman dan bibinya.
Arya memperhatikan matanya yang tampak sedih bercampur lelah. “kamu memikirkan rumah Mil?, apa kakek mengatakan sesuatu masalah perusahaan?” ucap Arya dengan nada pelannya.
Mila sejenak menarik nafas panjang, Ia sama sekali tidak tahu perkembangan masalah itu, rasanya sakit sekali yang ia rasakan jika mengingat kata abangnya. ‘bagaimana mungkin bang Irman setega itu kepadaku’ batinnya.
“bukankah kamu bilang kakek sudah memikirkan solusi dari masalah ini Arya” ucap Mila dengan nada pelan.
“itu hanya dugaanku Mil, jika kakek tidak mengabari apa pun kepadamu, berarti semuanya baik-baik saja” jawab Arya dengan datar.
“kakek tidak mengabariku apa pun, itu berarti semuanya baik-baik sajakan” ucap Mila masih dengan nada pelan.
“lalu kenapa kamu murung gitu sejak kita pergi dari rumah paman dan bibi tadi pagi, dan di pantai tadi kamu juga nggak semangat aku lihat” ucap Arya dengan nada khawatirnya.
“aku hanya merindukan paman dan bibi Arya, apa kita tidak bisa tinggal disana saja?” ucap Mila dengan nadanya yang masih pelan.
Vanessa menarik nafas kasar mendengar ucapan Mila, karena sejatinya ia juga merasakan hal serupa, perasaan yang terasa sedih ketika meninggalkan rumah tempat tinggal mereka selama seminggu. Disana ia seperti menemukan keluarga baru, sikap paman dan bibi disana seolah menjadikannya menemukan kehangatan yang sudah lama hilang dari hidupnya.
“aku juga sama Mil, tapi inilah hidup, ada pertemuan dan juga ada perpisahan, kita tidak boleh berlebihan ketika menghadapi semuanya Mil,” ucap Arya menenangkan istrinya.
Mobil yang di bawa Arya yang sudah memasuki pekarangan rumah mereka, ketiga orang itu keheranan melihat pagar rumah yang masih terbuka, padahal jam sudah hampir tengah malam, ditambah lagi disana sudah ada 1 mobil lain selain mobil Vanessa yang terparkir.
“Arya, kamu yakin rumah kita baik-baik saja?” tanya Vanessa yang kebingungan melihat kehadiran mobil itu, belum lagi suasana lampu rumah yang tampak bercahaya terang.
“aku juga nggak tahu kak” jawab Arya dengan singkat.
Ketika mereka turun dari mobil, mereka dapat melihat gorden pintu teras samping belum ditutup, dan cahaya lampu ruang makan masih terang menyala. “siapa di dalam Mil?” tanya Vanessa yang kebingungan.
Mila hanya diam, ia melangkah cepat menuju pintu teras samping rumah itu, Sementara Arya bergegas mengeluarkan koper dan carriernya dari bagasi dibantu Vanessa.
__ADS_1
Mila melangkah pelan menaiki teras rumahnya, Mila melihat ke dalam rumah dari balik pintu kaca teras samping itu, senyum Mila seketika langsung mengambang di bibirnya, “bang Ardian” ucap Mila tak percaya dengan apa yang lihat, Mila kemudian segera masuk ke dalam, dan Ardian tersenyum melihat kedatangannya.
“wah, sepupuku sudah bercadar saja sekarang” ucap Ardian melihat kedatangan Mila, ia dapat mengenali Mila dari tinggi dan suara yang Mila keluarkan.
“bang Ardi kapan kesini?” tanya Mila dengan memandang wajah sepupunya itu.
“baru 2 hari ini Mil, ini kakakmu nggak kamu sapa?” ucap Ardian sembari melihat ke arah istrinya yang sedang duduk di salah satu meja makan.
“kak Sarah datang juga ya, aku kangen sekali” ucap Mila mendekat kepada Sarah, istrinya Ardian. Mila kemudian segera memeluk Sarah, “duuh, adik ku ini, masih saja manja kayak dulu” ucap Sarah menyambut Mila yang datang memeluknya.
"Rian dan Riska mana kak?” tanya Mila yang menanyakan keberadaan 2 orang anak Ardian dan Sarah. “mereka udah tidur di kamar Mil,” jawab Sarah mengusap lembut bahu Mila.
Arya dan Vanessa yang baru saja sampai di dalam dibuat bingung melihat keadaan di ruang makan itu, wajah Ardian dan Sarah sama sekali tidak mereka kenal sebelumnya.
Arya kemudian mengucap salam dan masuk ke dalam dengan menarik koper Mila dan menyandang carriernya. Ardi dan Sarah kemudian menatap ke arah Vanessa dan Arya dengan pandangan penuh selidik.
“apa dia suamimu Mil?” tanya Ardian setelah menjawab jawab salam Arya.
Ardian tersenyum kepada Arya “Ardian, saya sepupunya Mila” kenal Ardian pada Arya sembari mengangkat tangannya untuk bersalaman dengan Arya.
Arya dengan pelan menyambut tangan Ardian sembari menatap datar ke arah Ardian.
“kamu Arya kan?, Arya ramadana dari 3A Sahabat” tanya Ardian menatap lekat wajah Arya, sementara Arya dan Mila menatap heran kepada Ardian. 'dia tahu namaku darimana' batin Arya yang hampir sama dengan Mila.
“apa kamu lupa denganku?, 2 tahun lalu kamu mendesain sebuah projek di Batam, itu projek perusahaan keluargaku disana, saat itu aku hanya bisa melihatmu ketika di projek itu, karena kamu menolak bertemu denganku dan langsung kembali ke Jakarta hari itu juga, aku akhirnya hanya bisa berbicara dengan temanmu saat itu” ucap Ardian dengan sikap akrabnya pada Arya.
“benarkah?, aku minta maaf untuk itu” ucap Arya dengan pelan, padahal ia sendiri juga tidak ingat dengan kejadian itu. 'kenapa orang selalu bisa mengingatku, dan aku tidak bisa mengingat mereka' kesal Arya pada dirinya sendiri.
“desainmu benar-benar luar biasa, sayangnya perusahaanmu disini, bukan di Malaysia, jika di Malaysia, pasti semua projek perusahaanku akan kuberikan kepadamu” puji Ardian pada Arya dengan sikap akrabnya.
__ADS_1
“terima kasih, tapi kamu jangan terlalu memujiku seperti ini, aku taruh barang di kamar dulu ya sebentar” jawab Arya dengan santai, ia kemudian melangkah ke arah kamar Mila dengan mengabaikan keberadaan Ardian dan Sarah disana.
Mila segera meninggalkan sarah dan mengikuti Arya untuk membuka pintu kamarnya. Sementara Ardian hanya santai menghadapi sikap Arya, 'pantas saja dia tidak mau bertemu denganku waktu itu, sepertinya dia introvert,,,ternyata ya benar introvert cukup berbakat di dalam seni’ batinnya
“Arya, kenapa kamu bersikap seperti itu pada bang Ardian?", ucap Mila berbisik kesal kepada Arya saat membuka kunci kamarnya.
“aku nggak kenal sama dia, tapi sikapnya malah sok akrab gitu denganku, aku nggak suka Mil, dia seolah -olah sudah tahu seperti apa aku” jawab Arya singkat dan juga berbisik,
“tapi setidaknya kamu hargai dia dong, sepupuku jauh -jauh dari Malaysia untuk kesini” ucap Mila lagi dengan kesal.
“iya, maaf Mil, nanti aku ubah sikapku kepadanya” jawab Arya dengan singkat.
Mereka berdua kemudian memutar badan mereka ketika kembali mendengar suara Ardian.
Vanessa masih berdiri membatu disana ketika Arya berjalan ke arah kamar, ia menelan salivanya ketika melihat Ardian menatap tajam ke arahnya.
“kamu istrinya Irman” ucap Ardian dengan dingin.
“I,,iya” jawab Vanessa sedikit membungkukkan badannya untuk memberi hormat dengan menahan rasa gugupnya.
“apa kamu tidak punya malu untuk masih ada di rumah ini?, apa kamu tidak sadar apa yang kamu lakukan dulu?” ucap Ardian dengan tajam yang membuat Sarah, Arya dan Mila langsung menatap ke arahnya.
“itu,,,itu,,aku,,” ucap Vanessa tak karuan, hatinya seakan terasa tertusuk oleh tajamnya kalimat Ardian.
Arya segera melepas carrier dan koper Mila dan menaruhnya di lantai ia kemudian menarik tangan Ardian dan membuat Ardian segera menoleh kepadanya. “kamu ini apa -apaan, apa kamu tidak punya sopan santun pada orang yang tinggal di rumah ini” ucap Arya menahan kesal.
Ardian melepaskan genggaman tangan Arya dari tangannya, “maaf, aku hanya sama seperti kakekku, kami membenci orang yang tidak menuruti keinginan kakek” jawab Ardian dengan santai.
“jangan menghina orang yang ada di rumah ini, atau aku tak akan segan-segan untuk ribut denganmu” ucap Arya penuh penekanan.
__ADS_1
Ia benar-benar tidak tega melihat penderitaan Vanessa selama ini, ia tidak ingin melihat gadis itu terus diperlakukan seperti itu dihadapannya.