
Setelah membersihkan dirinya, Mila kemudiam segera keluar dari kamar mandi, ia melihat Arya yang sedang memainkan ponsel di dekat meja kecil di hotel itu. Mila menarik nafas panjang dan duduk di samping Arya.
"kamu lagi apa?" tanya Mila dengan penasaran,
"ini aku lagi baca beberapa dokumen yang baru dikirim Rita" jawab Arya.
"lagi berdua sama istri, masih saja sibuk dengan kerjaan" ucap Mila dengan kesal.
Arya kemudian menyiapkan sarapan yang ia beli untuk Mila,
"agar kita bisa segera punya mobil, truss berangkat ke Paris dan Turki" jawab Arya dengan tersenyum, ia kemudian menyajikan bubur yang ia beli di hadapan Mila yang duduk disampingnya.
“kenapa kamu membelinya hanya satu Arya?, kamu nggak mau sarapan?” tanya Mila menatap datar bubur yang disajikan Arya.
“kamu kan tahu kalau aku nggak biasa sarapan, kamu nikmati saja sendiri Mil, aku sudah kenyang melihat kamu makan” ucap Arya dengan memperhatikan wajah cantik istrinya.
“aku kira kamu mau makan bubur ini seporsi berdua denganku?" ucap Mila yang mulai memakan buburnya.
"bekas bibirku enak ya, sampai kamu ingin makan dengan sendok yang sama denganku" goda Arya pada Mila.
"ihh nggak lah, bibirmu bau tau" ucap Mila dengan mencubit pelan perut Arya.
Mila kemudian mengambil sesendok bubur dan menyuapkannya pada Arya, “ayo buka mulutmu” ucap Mila membujuk Arya.
Namun Arya tidak mau membuka mulutnya, dan Mila kemudian memaksa Arya, tapi suaminya itu tetap mengelak hingga bubur itu menempel di pipi Arya.
"tuh kan kamu, jadi kena pipikan” ucap Arya dengan kesal.
“salah sendiri, disuapin malah nggak mau” ucap Mila dengan nada tak bersalahnya.
"ayo bersihin” ucap Arya dengan kesal.
“iya-iya” jawab Mila mengalah, ia kemudian mengambil tisu yang ada di meja itu.
“aku nggak mau pake tisu, aku mau kamu bersihin pake bibirmu” ucap Arya yang membuat Mila kesal seketika, ia kemudian mendorong tubuh Arya agar menjauh darinya.
__ADS_1
"udaah Aryaaa, jangan mesum lagi, aku capek, nggak puas apa semalam, badanku benar-benar sakit sekarang karena ulahmu” ucap Mila dengan kesal.
Arya tersenyum melihat tingkah Mila, “ya udah, cepat habiskan sarapanmu, setelah itu kita langsung pulang” ucap Arya dengan santai.
“ha, langsung jalan ya, kamu bilang aku bisa tidur dulu setelah sarapan ini” ucap Mila.
“kamu mau tidur lagi?, ya udah, nggak apa -apa,” jawab Arya, ia kemudian berdiri dan merebahkan tubuhnya di kasur.
“kalau kita pulang terlambat, nanti yang lain nggak jadi jalan –jalan ya?” tanya Mila mulai bimbang dengan keinginan tidurnya lagi.
“jadi kok, mobil paman kan ada” jawab Arya dengan santai.
“syukurlah, aku masih bisa tidur sebelum kita check out nanti, ohh ya, rumah paman itu rumah baru ya Arya,?” tanya Mila mengalihkan pembicaraan mereka.
“kamu tahu dari mana?”.
“kelihatan aja dari dinding rumahnya, masih baru, perabotan dalamnya juga baru” jelas Mila dengan tetap menikmati buburnya.
“rumah itu baru 5 tahun ini Mil, rumah lama kami sudah dijual, ada orang yang beli lahannya untuk bangun toko, mobil paman juga mobil baru, dulu mobil paman mobil pick up, pick up yang menyelamatkan hidupku, dengan pick up itu aku berangkat dari Jakarta ke sini dulu” jelas Arya pada Mila.
“jangan tanya masalah itu Mil, rasanya sangat menyakitkan untuk mengingat itu semua” ucap Arya yang membuat Mila menelan salivanya seketika.
“apa kamu sudah menelfon kakek kemarin?” tanya Arya mengalihkan pembicaraan mereka.
“sudah” jawab Mila dengan singkat.
“kapan?, kok aku nggak tahu” ,, “kemarin, waktu kamu mandi setelah kita check in” jawab Mila masih dengan singkat.
“lalu kakek bilang apa?”,,, “kakek bilang jangan memikirkan masalah itu, kakek menyuruhku untuk menikmati waktu kita sebagai ganti honeymoon” jawab Mila dengan santai dan tetap melahap sarapannya.
“tuhkan, ayo habiskan makananmu, kita lanjutkan lagi yang semalam” ucap Arya yang seketika membuat wajah Mila memerah.
“astaga Arya aku capek” ucap Mila memelas dengan nada lemahnya.
“aku bercanda Mil, ayo selesaikan sarapanmu, aku mau tidur memelukmu pagi ini”
__ADS_1
*
Irman mengusap kasar wajahnya setelah mendengar jawaban kakeknya, laki-laki tua yang terbaring itu seakan tidak peduli dengan kesulitan yang saat ini ia hadapi. Ia bahkan telah frustasi memikirkan jalan keluar dari masalahnya.
Minuman keras dan perempuan mainannya tak bisa lagi membuatnya merasa senang. Mila yang ia tunggu juga tak kunjung datang, dihubungi juga tidak tersambung. Vanessa juga tidak mengangkat ponselnya, dan orang tua yang ia yakin bisa membantunya, juga tidak memberi solusi apa -apa.
Ia ingin sekali meminta bantuan paman atau bibinya, tapi ia sadar, ia telah mengecewakan paman dan bibinya setelah menolak perjodohan dengan Rita dulu. Keputusan yang tidak ia sangka akan menyulut marah paman dan bibinya itu.
“jadi Mila sudah menelfon kakek, kenapa kakek tidak menyuruhnya pulang, aku membutuhkan bantuan dia sekarang kek” ucap Irman dengan wajah frustasinya.
“Mila sedang bertemu dengan mertuanya, biarkan saja dia disana, jangan kamu ganggu kegiatan mereka, lagi pula dia tidak akan bisa membantumu apa-apa, dia tidak mengerti masalah bisnis sama sekali” ucap pak Sarman dengan santai pada Irman.
“dari kemarin aku sudah bilang sama kakek kalau suaminya itu dalang dari semua masalah di kantor kita, kenapa kakek masih membelanya?, seharusnya kakek menyuruh Mila pulang dan melindungi Mila dari laki-laki itu" ucap Irman penuh penekanan menantang sikap kakeknya itu.
“jangan merusak rumah tangga adikmu yang baru membaik, jika kamu sampai mengganggu rumah tangga mereka, aku sendiri yang akan menendangmu dari keluarga ini, lakukan saja apa yang bisa kamu lakukan sekarang, jangan libatkan adikmu atau suaminya dalam masalah ini" ucap pak Sarman yang juga penuh penekanan.
Bu Saniah menatap kedua laki-laki itu dengan tatapan bingungnya, ia sadar kondisi perusahaan sangat genting sekarang, aset mereka menjadi taruhannya, termasuk rumah. Namun disisi lain ia masih bingung melihat sikap tenang ayahnya. ‘apa yang dipikirkan ayah?’ batin bu Saniah.
‘aku hanya butuh Mila semalam, jika aku tidak bisa mendapatkannya hingga besok, semuanya akan hilang, apa yang harus kulakukan sekarang, laki-laki itu pasti memblokir nomorku di ponsel Mila hingga aku tak bisa menghubunginya, dan juga Vanessa tidak mengangkat telfonku, apa istriku sendiri sudah berpihak pada musuhku?’ batinnya menahan marah dengan keadaan.
Irman kemudian dengan emosi keluar dari kamar itu, hatinya benar-benar sakit dengan keadaan, perasaan dendam bercampur marah teraduk di hatinya, ‘aku benar-benar bodoh menyuruh laki-laki itu menjaga Mila, seharusnya dari awal aku sudah memberikan Mila pada Arnes dan semuanya akan baik -baik saja sekarang, kehormatan apa yang harus kupertahankan di diri Mila, kenyataannya keluarga ini sudah hina semua’ batinnya berjalan pelan di lorong rumah sakit itu.
Setelah pintu ruangan pak Sarman tertutup, bu Saniah menatap tajam pada pak Sarman, “apa yang ayah pikirkan?, kita akan kehilangan semuanya, dan ayah masih saja bersikap santai seperti ini” ucap bu Saniah dengan nada gemetarnya menahan rasa marah atas sikap ayahnya itu.
“dia meminta Mila kembali ke sini disaat cucuku itu sedang pergi menemui mertuanya, kamu sendiri yang bilang kepadaku jika Arya dan Mila pisah kamar setelah mereka menikah, itu berarti hubungan Mila dan Arya baru membaik, lebih baik jangan merusak waktu mereka disana agar hubungan mereka benar -benar dapat harmonis” ucap pak Sarman dengan santai.
“Hubungan mereka sudah membaik 2 bulan ini yah, aku sendiri yang menyuruh Mila untuk tidur sekamar dengan Arya, dan sejak saat itu mereka tidak ada masalah lagi sampai sekarang, biarkan Mila kembali untuk membantu Irman, ini demi menyelamatkan keluarga kita yah” ucap bu Saniah memohon pada ayahnya.
‘Saniah benar-benar tidak tahu masalah apa yang terjadi antara Mila dan Arya, dia benar-benar tidak bisa diandalkan’ batin pak Sarman.
“jangan mengganggu Arya dan Mila Saniah, aku tahu apa yang sedang aku lakukan, dan satu lagi, jangan bela lagi Irman, anakmu itu sama saja dengan suamimu yang tidak punya tanggung jawab sama sekali, apa kamu pikir aku tidak tahu kalau Irman selama ini selalu mengirim uang untuk ayahnya itu setelah perusahaan keluarga laki -laki itu hancur?,” ucap Pak Sarman menunjukkan ketidak sukaannya pada Irman dan Tito.
“Sekarang jangan merusak kehidupan Mila, dia satu- satunya anakmu yang menurut pada keinginanku, aku sudah memilihkan laki-laki terbaik untuknya” lanjut pak Sarman memandang tajam pada bu Saniah.
“tapi Irman sendiri bilang kalau Arya adalah dalang di balik ini semua, Arya berbohong kepadaku, dia bilang dia tidak punya kemampuan mengurus perusahaan dan ternyata dia bekerja di perusahaan besar, perusahaan yang menghancurkan perusahaan kita, apa ayah tidak sadar apa yang telah dilakukan laki-laki itu, dia sudah berbohong pada kita semua” ucap bu Saniah penuh emosionalnya.
__ADS_1
‘jika dia adalah indra, aku akan berusaha memberinya maaf, karena dia darahnya bang Gibran, tapi ternyata dia hanya anak pegawai rendahan di Adinata group’ batin bu Saniah menahan bimbang.