
“Kata ibu sahabatku, keindahan alam ini adalah ciptaan Tuhan yang tidak terhingga nilainya, dan ia ingin menjadi bagian atas keindahan ciptaan Tuhan itu” Ucap Anjani tersenyum, ia kemudian menoleh ke arah Arya yang berdiri di sampingnya, sementara Arya menelan salivanya mendengar itu, ia kemudian menoleh pada Anjani dan pandangan mereka bertemu disana.
“kamu sama dengan ibu sahabatku itu, menjadi bagian atas keindahan ciptaan Tuhan yang tercipta di dunia ini, dengan rancanganmu yang indah dan unik itu, kamu menjadi bagian atas keindahan ciptaan Tuhan itu” ucap Anjani penuh arti sembari menatap dalam mata Arya, dan ia benar-benar merasakan ada Indra disana.
“kamu bertanya aku ingin apa?, aku ingin menjadi sahabatmu, karena kamu sangat mirip dengan sahabatku itu, untuk itu aku meminta nomor ponselmu agar aku bisa menghubungi sebagai sahabatmu” ucap Anjani dengan nada sendunya.
Arya kembali menatap Anjani dan menelan salivanya, mata mereka kembali bertemu karena Anjani masih melihat dalam ke arah Arya dari tadi, jantung Arya berdetak cepat, dadanya terasa sesak karena takut, rasa takut itu kembali menyeruak, trauma itu jelas masih ada di dalam dirinya, masih jelas di dalam ingatannya, ibunya ditembak dengan pistol dengan dua kali tembakan, masih jelas di dalam ingatannya nafas sang ibu tersenggal-senggal menjemput ajal di dalam pelukkannya.
“aku bukan sahabatmu” jawab Arya spontan menolak kalimat Anjani.
Anjani masih menatap dalam mata Arya, ada kekecewaan yang ia rasakan mendengar ucapan Arya itu, Ia hanya ingin bersahabat dengan Arya, mengembalikan Indra yang telah lama hilang ke dalam kehidupannya.
“kenapa? apa salahnya jika kita bersahabat?” ucapnya dengan nada kecewa.
“aku sudah menikah, aku harus menjaga perasaan istriku, dia pasti tidak suka jika aku memiliki sahabat perempuan, dia pasti cemburu” ucap Arya menahan gejolak di hatinya.
Ada rasa ingin mengulang masa-masa persahabatan itu lagi di hati Arya, namun ia masih sadar dengan keadaan, keadaan sekarang sudah jauh berubah dari masa lalu, ia tidak mungkin lagi menjalin persahabatan itu dengan Anjani, tidak hanya karena Anjani berada di pihak musuhnya, tetapi juga ada hati Mila yang harus ia jaga.
__ADS_1
Tak peduli seberapa sakitnya hatinya ketika Mila mengkhianatinya, tak peduli walaupun rasa cinta itu telah pudar, baginya menjaga perasaan Mila adalah suatu ibadah yang harus ia lakukan selagi Mila adalah istrinya.
Ucapan Arya semakin menambah kekecewaan di hati Anjani, entah mengapa rasa sakit itu muncul ketika Arya mengatakan ia sudah menikah. Anjani mengalihkan pandangannya dari Arya, ia mencoba mengendalikan perasaannya, ia tidak boleh merasa sakit hati akan hal itu.
“aku tidak akan merebutmu dari istrimu, aku hanya ingin bersahabat denganmu, dan tentu juga dengan istrimu jika ia mau” ucap Anjani masih mencoba melawan rasa di hatinya yang entah mengapa terasa begitu sakit dan kecewa.
‘aku baru mengenalnya, aku baru bertemu dengannya dua kali dengan ini, tapi kenapa rasanya sangat sakit sekali mendengar ia sudah menikah, apa karena aku menganggap ia adalah Indra?’ batinnya.
“aku tidak ingin melukai hati istriku sedikitpun, ia pasti kecewa padaku jika aku memiliki sahabat perempuan” ucap Arya lagi.
“aku kehilangan sahabatku ketika kami berumur 6 tahun, aku tidak pernah lagi menjumpai teman sebaik dan setulus dia, aku bertemu banyak orang, berteman dan bersahabat dengan laki-laki dan perempuan, dan sampai sekarang hanya dia yang kurasakan paling tulus kepadaku, aku tidak menemukan yang lain” ucap Anjani dengan nada datarnya, ia berusaha sekuat mungkin menahan gejolak di dalam hatinya.
“mungkin kamu benar Arya, aku terlalu berharap mendapatkan teman seperti dia lagi, aku hanya merasa kamu seperti dia, aku melihat matamu sama dengan matanya, memancarkan ketulusan dan kebaikan isi hatimu yang sebaik hatinya, kita baru bertemu 2 kali dengan ini, tapi dari setiap kata-katamu aku bisa merasakan sebaik apa dirimu” ucap Anjani yang kemudian terhenti sejenak, ia tersenyum getir untuk melanjutkan kalimatnya.
“kamu bahkan laki-laki sempurna yang menjaga hati istrimu dengan baik, kamu tak ingin menyakiti hati istrimu sedikit saja, sehingga kamu menolak untuk hanya sekedar bersahabat denganku” lanjut Anjani lagi.
Arya hanya terdiam mendengar itu semua, ada perasaan tidak tega dihatinya melihat sahabatnya itu, walaupun Anjani tidak menangis dan menunjukkan kesedihannya, namun dari kalimat Anjani ia dapat merasakan seperti apa perasaan sahabatnya itu.
__ADS_1
“apa aku boleh meminta nomor ponselmu?, aku ingin mengirim konsep tema yang aku inginkan untuk hotel keduaku” ucap Anjani mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin larut lagi dalam keadaan itu.
“sampaikan saja pada Rita, itu jauh lebih efektif untuk hubungan kerja kita” jawab Arya datar, ia kemudian kembali ke kursi kerjanya.
Anjani memejamkan matanya mendengarkan penolakan Arya itu, ‘bahkan memberi nomor ponselnya saja di tidak mau, apa sampai segitunya ia menjaga perasaan istrinya,’
“apa kamu tidak mau untuk hanya sekedar berteman denganku?” tanya Anjani sembari mengikuti langkah Arya.
“Kita ini hanya rekan bisnis Anjani, jangan inginkan hal yang lebih dari itu, walaupun hanya sekedar teman aku hanya akan mengecewakanmu nanti,” jawab Arya yang sekarang kembali membuka dokumen yang ia tinggalkan tadi.
“terserah kamu ajalah Arya, tapi bagiku kamu adalah temanku sekarang,” ucap Anjani lagi dengan kesal pada keras kepalanya Arya, ia kemudian berjalan keluar dari ruangan Arya dengan membawa rasa kecewanya.
‘maaf Anjani, aku harus melindungi diriku darimu, mengenalmu lebih dari ini akan membuat posisi ku dalam bahaya, dan juga aku tidak akan membiarkan perempuan lain masuk ke dalam kehidupanku, cukup istriku saja perempuan yang menjadi teman dan sahabat hidupku’ batin Arya melepas nafas kasar, ia kemudian melanjutkan kerjanya yang tertunda.
'ahhh sial' gumam Arya sembari menutup kembali dokumen itu.
'keluarga Anjani memegang saham besar di perusahaan ayah, jika perjodohan itu hanya info salah saja dari orang suruhan Ari, Anjani akan sangat bisa menolongku kembali ke perusahaan Ayah, ya Tuhan,, kenapa semuanya harus serumit ini sih,' batin Arya mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
Sementara Anjani sedang menyetir mobilnya untuk kembali ke kantornya, ia memegang stir dengan perasaan kesal, ‘aku tadi kesana untuk marah-marah kepadanya, kenapa aku malah terbawa perasaan tadi?, astaga,,, apa aku terlalu merindukan Indra, hingga aku terbawa perasaan pada Arya tadi, aku hanya ingin mendapatkan teman seperti Indra dulu, hidupku hampa sekali rasanya saat ini, aku hanya ingin memiliki teman hidup seperti Indra’