
Pukul 10 pagi Arya membawa Mila menuju rumah sakit untuk memeriksa kandungan istrinya itu. Arya memilih siang ke kantor agar bisa menemani Mila ke dokter kandungan. Ia harus bisa membagi waktunya dengan baik. Ia harus tampak tenang seolah tidak ada masalah di depan Mila, agar istrinya tidak merasa terbebani dan kepikiran masalah yang harus ia hadapi.
Mila dan Arya tidak perlu mengantri panjang hari itu, dengan surat dari dokter Karina, mereka dapat langsung masuk ke ruang pemeriksaan melewati antrian panjang. Setelah melewati berbagai proses pemeriksaan, Arya dan Mila duduk di depan dokter kandungan untuk mendengarkan arahan dari si dokter.
Mulai dari pola makan, jenis makanan, kebiasaan buruk selama kehamilan, emosi ibu hamil, sampai arahan untuk hubungan suami istri selama kehamilan dijelaskan oleh dokter dengan teliti. Mila dan Arya dengan seksama mendengarkan penjelasan dokter tersebut. Sebelum pulang Arya menyempatkan ke ruangan dokter Karina untuk mengambil apa yang yang ia minta kemarin.
Sementara Vanessa mendatangi perusahaan 3A Sahabat ketika Arya dan Mila ke rumah sakit. Ia ingin menagih penjelasan Ari tentang Arya dan Adinata group serta maksud kalimat keluarga Mila berkhianat. Hal tersebut cukup membebani pemikirannya, namun ia berhasil menahan diri untuk tidak bertanya pada Arya dan Mila.
Ketika berada di resepsionis, Vanessa dilayani dengan sopan, semua karyawan sudah tahu siapa dirinya, ia tidak akan dipandang sebelah mata lagi disana. Bahkan perlakuan yang ia dapatkan sama dengan perlakuan yang di dapat para pemilik perusahaan itu. Rasanya semua hal buruk di hidupnya terasa terobati dengan segala keramahan orang-orang yang menghargainya di kantor itu.
“Ruangan pak Ari ada di lantai 6 buk” jawab Resepsionis dengan sopan kepada Vanessa.
Vanessa tersenyum membalasnya dengan ramah, ia kemudian menuju lift dan segera menuju lantai 6.
Lantai tersebut sedikit berbeda dari lantai ruangan Arya. Ketika pintu lift terbuka, Vanessa langsung di suguhi ruangan luas tanpa sekat, semua staff Ari bekerja disana, staffnya jauh lebih banyak dari pada staff Arya yang ada di lantai 4.
Vanessa keluar dari lift dengan berjalan pelan, ia tidak ingin menganggu orang-orang yang sibuk bekerja. Di lantai itu, semua staff Ari mengelola laporan semua projek mereka di lapangan.
“misi buk, ada yang bisa kami bantu” sapa seorang karyawan kepada Vanessa.
“saya mencari ruangan Ari, ruangannya ada dimana ya mbak”
“ruangan pak Ari, ada disana buk” tunjuk karyawan perempuan itu pada salah satu pintu yang ada disana.
“terima kasih ya mbak, maaf merepotkan” ucap Vanessa pada si karyawan perempuan.
Ia kemudian segera menuju ruangan Ari dan mengetuk pintu itu dua kali, sekretaris Ari yang duduk sedikit jauh dari pintu langsung berdiri menghampiri Vanessa.
"maaf bu, ada keperluan apa dengan pak Ari?” tanya sekretaris itu dengan sopan.
“anu mbak, saya ada janji sama dia, bilang aja dari Vanessa, kakaknya Mila” ucap Vanessa yang sudah tahu maksud sekretaris Ari.
“baik bu, tunggu sebentar ya bu” sekretaris Ari yang kemudian masuk ke dalam ruangan Ari, dan beberapa saat kemudian dia keluar dan mempersilahkan Vanessa untuk masuk.
Vanessa masuk ke ruangan Ari, ia melihat ruangan itu cukup rapi sepeti ruangan Arya, dinding kaca juga ada disana seperti ruangan Arya, meja kerja Ari juga hampir mirip dengan meja kerja Arya, hanya saja ukurannya sedikit lebih kecil.
Sementara Ari sendiri sudah duduk di sofa dengan menatap santai ke arah Vanessa, “kamu datang juga, duduk lah” ucap Ari dengan singkat.
Vanessa sejenak berpikir, ia melihat mata Ari dengan penuh selidik, “duduklah, apa kamu masih takut denganku?” ucap Ari dengan datar.
__ADS_1
Vanessa menggeleng, ia sejenak tersenyum tipis dan kemudian duduk di depan Ari, “kamu mau minum apa?” tanya Ari berbasa basi.
“aku hanya ingin mendengar penjelasan tentang ucapanmu kemarin, aku nggak bisa lama-lama, nanti Arya dan Mila keburu pulang dari rumah sakit”
Ari menarik nafas kasar, ia sendiri juga tidak ingin berlama-lama, “aku akan ceritakan ini semua, asal kamu bisa menjaga rahasia ini dengan baik, dan memastikan Mila tidak terbebani karena ini, aku nggak ingin terjadi apa-apa padanya”
“sepeduli itu kamu sama dia?” tanya Vanessa yang semakin penasaran seperti apa Ari sebenarnya.
“Arya sudah memilihnya, aku juga belajar menerimanya sebagai istri sahabatku, aku ingin keponakanku dapat sehat dan lahir selamat, dan yang pasti, jangan anggap sebelah mata hubungan persahabatan kami berempat” jelas Ari dengan pelan. Vanessa mengangguk pelan menandakan ia mengerti dengan maksud Ari.
Ari kemudian menceritakan panjang lebar tentang siapa Arya, sampai masalahnya dengan Irman dan rapat pemegang saham Adinata group. Vanessa hanya menatap nanar kepada Ari mendengar itu semua, ia sama sekali tidak mengira ada hal sebesar itu di diri Arya.
Sosok laki-laki yang baru ia kenal 6 bulan itu benar-benar membuat dadanya terasa sesak. "kamu yakin dengan semua ceritamu itu Ri?"
"aku awalnya juga sulit untuk percaya, tapi aku sudah lihat sendiri hasil tes dna Arya dengan Gibran adinata, mereka adalah anak dan ayah"
Vanessa mengusap matanya yang mulai terasa basah, "apa sesulit itu keadaan Arya?, Apa sesakit itu kehidupannya?” gumam Vanessa ketika Ari menyelesaikan cerita panjangnya, “pasti selama ini Arya hidup dibayang-bayang ketakutannya, ia pasti kesulitan menghadapi semua ini sendiri,” gumam Vanessa lagi.
“Arya pasti sulit karena posisinya sekarang, ia mencintai istrinya, tapi disisi lain ada kami dan orang-orang yang setia kepada ayahnya yang menggantungkan keselamatan mereka kepada Arya” ucap Ari dengan pelan.
Ari teringat wajah pak Abdul dan dokter Reny, ketika mengucapkan itu, ‘hanya Arya yang bisa menyelamatkan mereka, sekuat apa pun orang yang aku miliki, itu tidak akan menolong sama sekali'
“jadi apa yang harus ku lakukan?” Tanya Vanessa setelah menarik nafas panjang.
Vanessa mengangguk pelan menandakan ia paham maksud Ari, “aku akan menjaga hubungan Arya dan Mila, kamu tenang saja”
Ari sejenak menarik nafas kasar, ia menimbang untuk mengatakan sesuatu. Setelah berpikir beberapa saat, ia memutuskan bertanya soal itu, “boleh aku tanya sesuatu?”
“tanya apa Ri? tanyakan saja" jawab Vanessa dengan pelan.
“kenapa kamu masih setia pada suamimu?, padahal dia sama sekali tidak memperlakukanmu dengan baik” tanya Ari yang seketika membuat nafas Vanessa tercekat dan dadanya terasa sesak.
“kata siapa suamiku tidak memperlakukanku dengan baik?” tanya Vanessa yang mencoba mengelak.
“tidak pulang ke rumah, punya 2 apartemen untuk bermain gila dengan banyak perempuan lain, termasuk karyawan kantornya sendiri, bukankah itu namanya tidak memperlakukanmu dengan baik” ucap Ari yang semakin membuat dada Vanessa sesak, matanya berkaca-kaca karena sakit di hatinya terasa bergemuruh hebat.
“kata siapa?, jangan asal tuduh kamu” ucap Vanessa masih berusaha mengelak.
“aku musuhnya, aku tahu seberapa buruk orang yang menjadi musuhku,” ucap Ari lagi yang membuat Vanessa terdiam, ia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan suaranya agar tidak keluar, dadanya semakin terasa sesak mendengar ucapan Ari.
__ADS_1
“kenapa kamu masih mau dengan laki-laki itu?, dia sudah tidak menyentuhmu lagikan, dia tidak memberimu nafkah lagi, buat apa lagi kamu mempertahankan pernikahanmu” lanjut Ari.
Vanessa tersentak, bagaimana mungkin laki -laki itu tahu sikap Irman kepadanya. Vanessa sendiri juga tidak mungkin mengatakan bahwa kemandulannya adalah masalah hubungannya dengan Irman, “itu bukan urusanmu,” ucap Vanessa yang kemudian berdiri.
“aku tahu, aku juga merasa kecewa dengan seseorang sekarang, aku hanya ingin tahu alasanmu bertahan sekalipun kamu diperlakukan seperti itu, aku juga ingin bertahan dengan dia walaupun dia mengecewakanku,” ucap Ari sejenak terhenti.
“aku tulus kepadanya, dia menerimaku dan memberiku harapan, tapi kenyataannya, hatinya tak pernah ada untukku, aku ingin tahu alasanmu bertahan, mungkin dengan alasan yang sama, aku bisa bertahan” jelas Ari lagi.
Vanessa menggeleng pelan, “jika kamu ingin bertahan, carilah alasanmu sendiri, jika kamu tidak punya alasan, lebih baik tinggalkan dia, masih banyak perempuan lain yang baik untukmu, kamu bisa menemukan perempuan yang bisa tulus kepadamu, apa lagi kamu orang yang sangat baik” Vanessa kemudian berjalan pergi ke arah pintu.
Ari dengan cepat menarik tangan Vanessa agar kembali duduk, “aku belum selesai, kamu belum menjawab pertanyaanku, duduklah sebentar lagi” ucap Ari dengan datar, ia tahu kesedihan sedang melanda Vanessa, tapi ia juga ingin tahu alasan Vanessa masih setia pada Irman, alasan yang mungkin bisa menyakinkan hatinya untuk bisa bersama dokter Karina.
Jawaban Vanessa tadi hanyalah jawaban formal saja baginya, tak berarti apa-apa. “aku ingin tahu alasanmu, dengan segala sikap buruknya kepadamu, kamu masih mau bertahan, apa lagi kalian tidak punya anakkan, laki-laki mandul seperti dia tidak akan bisa punya anak, aku hanya ingin tahu apa alasanmu, pasti itu alasan yang sangat kuat hingga kamu bertahan dengan kondisi seperti ini"
“laki-laki mandul?” tanya Vanessa yang heran dengan ucapan Ari.
“iya, apa kamu tidak tahu suamimu sendiri mandul, atau kamu mau merahasiakannya dariku, aku kan sudah bilang kalau aku tahu seperti apa dia,”
“tidak, dia tidak mandul, yang,,,” ucap Vanessa seketika terhenti, ‘aku yang tidak sempurna, aku yang mengecewakannya’ batinnya, air matanya menetes tanpa bisa ia tahan.
Ari kemudian berdiri dan mengambil sebuah dokumen di lemarinya, ia juga mengambil tisu di meja kerjanya. Ari kemudian memberikan tisu kepada Vanessa dan meletak kertas itu di depan Vanessa yang kembali duduk di sofa, “jangan bela lagi laki-laki ******** itu di depanku” ucap Ari dengan datar.
Mata Vanessa membulat tak percaya dengan kertas yang ia lihat, kertas yang menyatakan kondisi Irman yang tidak bisa memiliki anak.
“I,,,ini” ucap Vanessa terbata.
“kenapa kaget?, takkan sulit bagiku mendapatkan hasil tes dia” ucap Ari masih dengan datar.
Kepala Vanessa menggeleng, kenyataan itu sangat menyakitkan baginya, dulu hasil tes menunjukkan Irman sehat-sehat saja, dan kondisinya yang tidak bisa memiliki anak,”ini pasti salah” lirih Vanessa.
“salah gimana? mana mungkin rumah sakit menyimpan data yang salah”
‘ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi?, apa bang Irman memalsukan hasil tes kami dulu, aku masih ingat hasil tes itu, aku yang tidak bisa memiliki anak’ Vanessa menangis sedih, air matanya tidak bisa ia tahan, mana yang benar dan salah menjadi buram baginya.
Vanessa kemudian segera bangkit untuk berdiri, ia harus pergi agar tangisnya tak pecah disana. ‘apa ini?, kenapa bang Irman setega ini kepadaku?, apa dia benar-benar memalsukan hasil tes itu? lalu kenapa dia menyiksa perasaanku seperti ini?, apa dosaku kepadanya?, apa salahku kepadanya?,’
Sementara Ari langsung mengejar Vanessa, ia masih berharap jawaban dari pertanyaannya, saat Vanessa hendak menarik gagang pintu Ari langsung menahannya, “jawab dulu pertanyaanku, baru pergi, aku butuh alasanmu itu”
“buka pintunya, aku mohon” lirih Vanessa yang tidak bisa lagi menahan rasa kecewanya, dugaannya pada Irman membuat hatinya tak karuan.
__ADS_1
“kamu kenapa?, ada masalah apa sebenarnya? kenapa kamu kaget lihat hasil tes itu”
Vanessa langsung memutar badannya, Ia memeluk Ari dan menumpahkan tangis sesaknya disana, tangisnya pecah tanpa bisa ia tahan, tangis yang juga membuat kemeja Ari basah oleh air matanya, mata Ari membulat tak percaya apa yang dilakukan Vanessa.