
Mata Mila berbinar senang melihat wajah yang ada di layar ponselnya, wajah keriput itu tampak senyum bahagia melihatnya. “apa kakek sehat-sehat saja?” tanyanya dengan lembut.
“keadaan kakek sudah lumayan membaik sayang, doakan saja bulan depan kakek sudah di rumah” jawab pak Sarman dengan tersenyum.”bagaimana apartemen barumu?, apa kamu menyukainya?”
“disini cukup nyaman kek, tapi tetap saja yang nyaman itu di rumah sendiri” gumam Mila dengan pelan.
“kek apa ibu masih marah sama Arya?, aku sama Arya benar-benar ingin ke rumah sakit untuk menemui kakek” tanya Mila kepada pak Sarman.
Pak Sarman menarik nafas kasar mendengar ucapan Mila, ia sejenak melihat ke arah bu Saniah yang tengah mengupas mangga disana. Perempuan paruh baya itu tampak cuek dengan ucapan Mila yang masih bisa ia dengar.
“nak, bersabarlah dulu, kakek sudah bicara dengan ibumu,tapi Ia masih keras kepala” jelas pak Sarman kepada Mila. Ucapan pak Sarman itu seketika membuat bu Saniah mengeram kesal. Ia memejamkan matanya, berusaha tampak datar di depan ayahnya yang sengaja menyindir dirinya.
“tapi kek, aku kangen meluk kakek, masa kita bicaranya kayak gini mulu” keluh Mila dengan bibirnya yang sedikit manyun.
Pak Sarman tertawa tipis seketika, ia sendiri juga merindukan 3 orang yang sudah lebih dari sebulan tak mengunjunginya. Padahal dulu Mila dan Vanessa selalu rutin mengunjunginya, namun ia juga mengerti dengan keadaan. Dibalik tubuh lemahnya, Ia masih memantau apa yang terjadi antara Irman dan Mila. Termasuk juga ia memahami emosi Saniah yang dari dulu selalu keras kepala dan merasa benar dengan dirinya sendiri.
“kamu lebih baik disana dulu, abang dan ibumu masih marah sama Arya, apa lagi abangmu itu kelakuannya semakin menjadi-jadi sekarang”
Pikiran Mila seketika mengingat lagi cerita Ari tentang apa yang dilakukan abangnya di rapat pemegang saham. “kek, apa kakek mendukung CEO Adinata group di rapat pemegang saham kemarin?” tanya Mila tanpa pikir panjang.
“kenapa kamu membicarakan masalah itu?, apa kamu masih memikirkan anak laki-laki Aliando itu?” tanya pak Sarman penuh selidik. Sejauh ini, dari laporan yang ia dapatkan hubungan Arya dan Mila sudah jauh membaik, namun tiba-tiba saja Mila bertanya soal Adinata group.
Mata Mila seketika saja melemah mendengar ucapan kakeknya, “kakek pasti sudah tahu semuanya,” gumam Mila dengan pelan.
“Arya bilang kakek sudah tahu semua tentang dirinya, tentang masalah kami, dan juga mungkin tentang bang Arnes” lanjut Mila dengan nada bersalah.
“apa kamu pikir laki-laki tua ini akan membiarkan cucunya disakiti oleh orang lain?, aku akan menjaga cucuku yang masih polos ini, dunia ini kejam sayang, tak semua yang baik itu kenyataannya adalah baik”
“lalu kenapa kakek membiarkanku menyakiti Arya berkali-kali?” tanya Mila dengan nada pelan kepada pak Sarman.
Pak Sarman menarik nafas panjang dan melepaskannya, “kakek sudah memaksamu menikah dengannya nak, tapi kakek tidak bisa memaksamu untuk mencintainya, jika kakek terus menekanmu, kamu tidak akan pernah mencintainya, yang ada kamu malah membencinya, kakek takut kamu akan tertekan dan memberontak seperti abangmu yang selalu melawan kakek”
Mata Mila seketika saja berkaca-kaca, selama ini ia tidak pernah berpikir akan melawan kepada kakeknya yang sangat ia sayangi. Bagaimana mungkin kakeknya bisa berpikir seperti itu. “kemana Arya?, baru kali ini kamu menelfon kakek malam-malam seperti ini”
__ADS_1
“Arya ada agenda kerja ke Vietnam kek, aku benar-benar merindukannya sekarang”
“loh, kalau kamu merindukannya, kenapa kamu malah menelfon kakek?”
“Arya ada pertemuan penting malam ini kek, aku nggak bisa menganggunya”
Pak Sarman memperhatikan dengan dalam wajah cucunya yang telah lama tersimpan oleh cadar, wajah cantik yang selalu ia rindukan di usia tuanya. Apa lagi sejak kematian istrinya, Mila telah menjadi tujuan hidupnya.
“tapi kakek tenang saja, malam ini saudaranya Arya dan calon istrinya akan tidur disini menemaniku dan kak Vanessa”
“siapa? laki-laki yang bernama Tomy itu?” gumam pak Sarman
Mila tersenyum, ia menatap lekat wajah kakeknya, setahunya Tomy belum pernah bertemu dengan kakeknya sama sekali.
“apa kakek sudah tahu semua keluarga Arya?, latar belakang Arya juga?” tanya Mila penuh selidik, bisa jadi saja kakeknya sudah tahu kalau Arya adalah Indra.
Sementara pak Sarman hanya berwajah datar melihat ke arah Mila, sejak orang-orang Ari mengawasi Mila, orang-orangnya harus mundur agar tidak terjadi gesekan di dunia bayangan itu. Sejak itu pula informasi tentang Arya semakin sulit ia gali.
“kakek belum menjawab pertanyaanku soal saham tadi”
“kenapa kamu bertanya soal itu sayang?, kamu jangan membuat kakek khawatir dengan anak laki-laki itu” ucap pak Sarman dengan nada sedikit menekan.
“ihh kakek, kakek sama saja kayak kak Vanessa, nuduhnya yang nggak-nggak aja, aku udah mencintai Arya kek, laki-laki itu udah kubuang jauh dari hidupku” rutu Mila pada kakeknya.
“kamu jangan tanya masalah itu, itu tidak ada hubungannya dengan mu, ini masalah kakek, ibumu dan abangmu” jawab pak Sarman dengan datar.
Mila melepas nafas kecewa, ia hanya ingin tahu apa benar kakeknya berada di pihak Aliando atau tidak, namun jawaban itu tidak ia dapatkan sama sekali.
Mila berbicara dengan kakeknya hampir 30 menit, untuk sekedar melepas rindu yang lebih dari sebulan tidak bertemu. Setelahnya Mila bergabung bersama Abel, Vanessa dan Tomy yang sedang duduk berbincang ringan di ruang tengah.
*
Pagi Hari, Arya menyempatkan waktunya untuk bervideo call dengan Mila, untuk sekedar melepas rasa rindu dan mengabarkan jadwal kerja dan kepulangannya hari itu. Untuk selanjutnya Arya bersiap-siap menuju sebuah gedung tempat ia mempresentasikan desainnya dihadapan klien dan juga beberapa pejabat terkait projek itu disana.
__ADS_1
Agenda singkat berupa presentasi, diskusi, hingga finalisasi rancangannya dilakukan Arya dengan semangat. Semangat karena sudah membayangkan 2 malaikatnya tengah berdiri di belakang pintu apartemen menanti kepulangannya.
Setelah selesai Arya segera bersiap-siap untuk kembali ke bandara, siang itu ia akan berangkat menuju Singapura dan sorenya ia akan kembali ke Indonesia. Arya baru membuka pintu apartemennya ketika jam sudah menunjukkan lewat dari jam 9 malam.
Arya mengetuk pintu apartemennya 2 kali, dan segera membukanya. Ada kekecewaan yang ia rasakan ketika mendapati Mila tidak terlihat di balik pintu itu. Arya kemudian segera membuka sepatunya dan menganggkat kopernya ke dalam kamar. Ia mengetuk pintu kamarnya 2 kali dan membukanya.
Arya melepas nafas panjang ketika melihat Mila tengah tertidur dengan keadaan bersandar di ujung ranjang. Di tangannya ada ponsel yang telah terlepas dari genggamannya. Arya segera menaruh kopernya di depan lemari. ‘ya Tuhan, apa dia kelelahan menungguku’
Arya kemudian mendekat, ia membantu membaringkan Mila dengan sempurna di ranjang. Ia kemudian mengecup kening Mila, kening yang ia rindukan untuk ia cium. Tangan kirinya kemudian mengelus lembut perut Mila, menyapa malaikat kecilnya yang sudah 2 hari ia tinggalkan. Sentuhan Arya membuat tubuh Mila menggeliat pelan, dan Arya seketika menghentikan elusannya. Ia tidak ingin istirahat istrinya terganggu oleh ulahnya.
Arya kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ia melepas rasa lelahnya bersama dinginnya air yang membasahi tubuhnya. Sementara di atas ranjangnya, Mila perlahan membuka matanya, Ia mengusap matanya dan melihat jam di dinding. ‘ya Tuhan, aku ketiduran’
Mila kemudian segera bangkit dan memeriksa ponselnya yang ditaruh Arya di dekat lampu tidur. “Arya belum datang ya, kenapa lama sekali sampainya” gumamnya karena tidak melihat pesan dari Arya di ponselnya.
Mila kemudian menurunkan kedua kakinya ke lantai dan deg,,,deg,,. Jantungnya berdetak cepat, matanya membulat. Suara gemericik air dari kamar mandi membuatnya takut seketika. Mila segera bangkit untuk memanggil Vanessa di kamar sebelah. Namun matanya seketika menyorot koper yang ada di dekat lemari.
“ya Tuhan, Arya ya?,” batinnya. Mila kemudian menarik koper tersebut dan mengeluarkan barang Arya satu persatu. Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka dan Arya melihat Mila tengah merapikan dokumen kerjanya ke atas meja.
“kamu bangun Mil”
Mila menoleh ke arah Arya dan tersenyum tipis, ia kemudian mendekat dan mencium tangan suaminya. “kenapa tidak membangunkanku?, aku kira siapa tadi di kamar mandi” ucap Mila dengan memanyunkan bibirnya kea rah Arya.
Arya tersenyum dan menyentuh pipi Mila, “kamu terlihat kelelahan sekali tadi, jadi aku nggak tega membangunkanmu”
“tapi kamu membuatku ketakutan tadi” gumam Mila dengan kesal. Arya kemudian memeluk Mila dan mencium kening Mila dengan dalam. Melakukan apa yang dilakukan ayahnya ketika ibunya marah.
“maaf ya, aku hanya nggak ingin menganggu istirahatmu” gumam Arya, ia menarik dagu Mila dan mulai melepas rasa rindunya dengan ciuman di bibir Mila.
"aku benar -benar merindukanmu Mil"
"aku juga Arya, lain kali kalau kamu keluar kota atau ke luar negeri, aku ikut ya"
Arya tersenyum, ia memeluk istrinya dengan erat.
__ADS_1