Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Perang Terakhir


__ADS_3

“Apa maksudmu Rahman?, perang apa yang kamu bicarakan?” tanya Pak Sarman yang langsung melihat laki-laki paruh baya bernama Rahman itu dengan heran, begitu pun dengan bu Saniah, ia melihat Rahman dengan pandangan bingungnya.


“mungkin ini akan menjadi pertarungn terakhir kami, karena hanya kekalahan yang hampir pasti kami dapatkan dari perang ini, setelah perang ini mungkin kami akan bernasib sama seperti sekretaris Arjun, dan orang-orang yang setia pada tuan Gibran lainnya” ucap Rahman lagi.


“Tapi kami akan tetap maju, ini lah yang dapat kami buktikan kepada Ruh tuan Gibran yang mungkin saat ini sedang melihat kami, kami bukanlah orang-orang pengkhianat kepadanya, melainkan kami adalah orang-orang yang setia kepadanya, kami siap mempertaruhkan hidup kami untuk menjaga kehormatan tuan Gibran yang telah tercoreng di mata dunia, hanya dengan ini kami bisa membalaskan kebaikan tuan Gibran yang tidak ternilai kepada kami dan keluarga kami.” ucap laki-laki itu lagi dengan penuh makna.


Pak Sarman menarik nafas panjang mendengar itu semua, “sepertinya aku akan melihat pertarungan bisnis dan politik seperti ini lagi, tapi aku tidak akan terlibat langsung di arena seperti dulu, putriku ini yang akan menggantikan posisiku nanti” ucap pak Sarman sembari melirik bu Saniah, sementara bu Saniah hanya bisa menelan salivanya mendengarkan ucapan ayahnya.


“apa yang terjadi di perusahaan?” tanya pak Sarman kepada Rahman, Rahman sejenak menarik nafas panjang, ia kemudian memperhatikan keadaan sekeliling ruangan itu untuk memastikan tidak ada orang lain disana, ia kemudian mendapati ada sebuah pintu di sudut ruangan itu,


“coba kamu cek disana” pinta Rahman pada laki-laki paruh baya yang ikut bersamanya itu.


“tidak ada orang lain disana” ucap Bu Saniah yang mengerti dengan tujuan Rahman.


Orang yang mengecek pintu itu hanya mendapati sebuah toilet yang kosong, ia kemudian melihat ke arah Rahman dan menggelengkan kepalanya.


“Gini pak, Aliando sudah punya kesepakatan untuk menjodohkan anaknya dengan putri dari Hardi,” ucap Rahman yang membuat pak Sarman mengeram marah mendengarnya.

__ADS_1


“jadi ini caranya menjadikan anaknya sebagai CEO penggantinya” geram pak Sarman penuh emosi, ia benar-benar benci pada orang-orang yang haus akan harta dan kekuasaan. Apa lagi seperti Aliando yang telah menyingkirkan banyak orang dan menghancurkan banyak keluarga untuk merebut apa yang bukan haknya.


“Aliando sepertinya sudah menyerah untuk merebut perusahaan dari tuan Gibran, karena jasadnya tuan muda Indra tidak pernah ditemukan, ia sekarang ingin mencoba cara lain untuk merebut perusahaan, ia menjadikan anaknya menjadi CEO dengan saham dari Hardi sebagai kekuatannya, kami tak ingin itu terjadi, jika tuan muda Indra kami kembali, maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa dari perusahaan, karena kehadiran CEO baru akan membuat saham tuan Gibran yang di pegang perusahaan akan dilepas ke pasar modal” lanjut Rahman lagi.


“Kamu yakin anak Gibran masih hidup? Kamu pasti sudah tahu hasil pemeriksaan polisi sebenarnya kan Rahman?, isinya pasti bebeda dengan semua pemberitaan media itu” tanya pak Sarman yang tertarik dengan ucapan tuan muda Indra kami kembali dari Rahman.


“Aku sudah menyimpan salinan laporan polisi, darah tuan Gibran di temukan berceceran dari ruang tamu hingga di depan kamar tempat jasadnya ditemukan, itu membuktikan tuan Gibran tidak bunuh diri sama sekali, tapi dia di eksekusi di ruang tamu dan jasadnya di seret ke depan kamar, Ada sidik jari anak-anak di baju nona Naina, tapi tidak ada di baju tuan Gibran, itu membukti tuan muda sempat menyentuh nona Naina ketika nona Naina sudah dieksekusi, tapi dia tidak menyentuh tuan Gibran, Tidak ada satu pun bukti yang menunjukkan tuan muda Indra meninggal malam itu, Polisi menemukan sidik jari anak-anak di pakaian nona Naina, di jendela kamar nona Naina yang terbuka dan juga di pintu pagar belakang rumah tuan Gibran yang terbuka malam itu, Kami hanya bisa berspekulasi tuan muda masih hidup dan melarikan diri dari jendela kamar nona Naina dan kabur dari rumah dari pintu pagar belakang” lanjut Rahman. Bu Saniah kembali menelan salivanya mendengar itu semua, setidaknya apa yang ia dengar bisa menambah kuat dugaannya siapa Arya sebenarnya.


“polisi juga telah lama menghentikan pencarian tuan muda Indra, kami sudah mencari tuan muda di seluruh Jakarta dan kota-kota sekitar Jakarta, kami juga sudah memeriksa sampel banyak anak untuk dicocokan dengan DNA tuan Gibran, tapi kami tidak menemukan satupun yang cocok dengan tuan Gibran, kami belum bisa menemukan tuan muda Indra sampai sekarang” lanjut Rahman lagi.


“lalu apa yang kamu harapkan dari pertarunganmu dengan Aliando kali ini?” tanya pak Sarman lagi penuh selidik, ia masih merasakan kekhawatiran, karena akan banyak lagi keluarga yang hancur karena pertarungan itu.


“lalu bagaimana jika anak itu sudah mati?, bukankah yang kamu kerjakan ini akan menjadi sia-sia, kamu hanya kan menghancurkan hidupmu sendiri Rahman, kamu sudah lihat seperti apa Arjun sekarang, apa kamu mau seperti dia?” lanjut pak Sarman kembali bertanya dengan nada penuh emosional, ia tidak ingin sama sekali orang-orang baik yang masih setia sama Gibran akan hancur seperti keluarga Arjun, yang sampai saat ini tidak ia ketahui seperti apa keadaannya, yang ia tahu hanya Arjun masih mendekam di balik jeruji besi karena fitnah penggelapan uang perusahaan.


“kami bekerja untuk keluarga Adinata, bukan untuk perusahaan Adinata, kami akan berusaha sebisa kami agar keluarga Adinata tetap menjadi pemegang saham mayoritas group Adianata, kami sudah bertahun-tahun bertarung untuk ini, melawan Aliando yang berkali-kali memalsukan data kematian tuan muda Indra, 22 tahun kami berjuang agar status tuan muda Indra tetap dianggap hidup oleh dunia ini, melawan semua orang-orang jahat yang ingin meruntuhkan nama besar adinata, agar status saham tuan Gibran tetap dipegang oleh perusahaan sampai tuan muda Indra kembali, kami memalsukan banyak dokumen, menyuap banyak orang agar pemerintah, polisi, rumah sakit dan pengadilan tidak menyatakan tuan muda Indra telah meninggal untuk mengamankan statusnya sebagai pewaris perusahaan sebenarnya, ini bukan pekerjaan mudah bagi kami untuk mempertahankan status hidup seorang anak selama 22 tahun yang tidak kami ketahui dimana keberadaannya, kami akan tetap berjuang, sampai kami hancur karena perjuangan ini” jelas Rahman dengan emosional pada pak Sarman, ia dapat berbicara terbuka pada pak Sarman karena ia tahu betul bahwa pak Sarman adalah bagian dari orang-orang yang berada di sisi mereka, menginginkan Adinata group kembali kepada pewaris sesungguhnya.


“kamu sama saja berjalan menuju kehancuranmu sendiri saat ini” ucap pak Sarman penuh penekanan, iya sudah banyak melihat orang yang tersakiti dalam perebutan kekuasaan bisnis seperti itu, banyak orang-orang yang harus meregang nyawa yang ia lihat untuk memenuhi hasrat ambisius para perebut kursi kekuasaan di dalam dunia bisnis. Banyak masa depan anak-anak yang hancur karna ambisi itu, banyak anak-anak yang harus kehilangan masa kecilnya karena orang tua mereka sibuk saling sikut di arena pertempuran bisnis dan kekuasaan.

__ADS_1


“kami lebih memilih hancur bersama keluarga adinata, dan setidaknya dengan ini kami akan tersenyum bertemu dengan Tuan Gibran dan nona Naina di surga, tapi jika kami tidak berbuat apa-apa dan membiarkan semua ini terjadi, kami akan malu bertemu dengan tuan Gibran nanti, karena kebaikannya pada kami dan keluarga kami tidak bisa kami bayar dengan kesetiaan kami kepadanya” lanjut Rahman lagi masih dengan penuh emosional.


“aku benar-benar salut kepadamu Rahman, kepada Arjun yang lebih rela dipenjara dan keluarganya hancur dari pada mengkhianati Gibran yang telah meninggal, dan juga orang-orang yang masih setia pada Gibran sampai sekarang.” Ucap pak Sarman sembari melepas nafas kasar, ia sadar bahwa ia tidak bisa melakukan apa pun untuk melindungi orang-orang baik yang masih setia pada Gibran.


“saya harap anda mau membantu kami pak, anda punya saham 3,5% di perusahaan, itu akan sangat berharga bagi kami, kami memang tidak punya apa-apa untuk menawar saham itu kepada anda, tapi tentu kami sangat berharap anda mau bersekutu dengan kami dalam pertarungan ini”


“kapan RUPS nya Rahman?” tanya pak Sarman dengan nada datarnya.


“Dewan Komisaris akan mengajukannya bulan depan, setelah kabar perjodohan anak Aliando itu muncul, semua direksi dan dewan komisaris dibuat kaget, sekarang dewan komisaris sedang menyusun beberapa laporan untuk ajuan pemberhentian Aliando, tapi tetap saja keputusannya nanti adalah voting para pemilik saham”


“lalu apa yang terjadi jika Aliando yang menang?”, tanya pak Sarman lagi dengan penuh selidik, ia masih ingin tahu semua kemungkinan yang terjadi akibat dari pertarungan itu.


“setelah anaknya menikah, dia akan mundur dari CEO, mandat tuan Gibran akan dikembalikan pada pengacara pribadi tuan Gibran, dan perusahaan harus menjual saham tuan Gibran yang masih mereka pegang ke pasar modal, dan setelah itu, anak Aliando melalui anaknya Hardi akan menjadi pemilik saham terbesar di perusahaan, ini yang tidak kami inginkan pak, jika itu terjadi, maka Aliando akan sukses menjadikan Adinata group menjadi kerajaan bisnis keluarganya”.


“jadi itu rencananya dengan pernikahan ini”ucap pak Sarman melepas nafas kasar.


“tapi masih ada kemungkinan lain, ini bisa jadi hanya strategi Hardi untuk menggabungkan perusahaannya dengan Adinata group di bawah kekuasaannya, Setelah anak mereka menikah, kemudian Aliando mundur dari posisinya sebagai CEO, dan saham tuan Gibran di jual ke pasar modal, Hardi bisa saja membuang anak Aliando yang menjadi menantunya, Dialah yang akan menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan nanti dan menguasai adinata group, ini benar-benar perang pak, dan kami harus menjaga nama baik tuan Gibran disini” jelas Rahman lagi.

__ADS_1


Pak Sarman melepas nafas kasar mendengar itu semua, ia benar-benar lelah untuk mendengar pertarungan para manusia yang ambisius mencari harta dan kekuasaan itu, hal yang sebenarnya sudah biasa ia lihat dan ia dengar selama bermain di dunia bisnis.


__ADS_2