
Pak Sarman menatap nanar ke arah bu Saniah yang masih mencoba memahami seluruh isi pembicaraan itu, itu bukan kali pertama bu Saniah mendengar masalah bisnis seperti itu, karena sebelumnya ia juga sering mendengar hal yang sama dari para laki-laki kaya yang pernah tidur dengannya.
“32,5% saham Gibran di perusahaan tidak masuk perhitungan nanti, jadi ada 67,5% yang sedang diperebutkan antara kalian dan Aliando” ucap pak Sarman yang mencoba menganalisis pertarungan di Adinata group.
“ini sulit pak, Hardi telah bersekutu dengan Aliando, dia pemilik saham terbesar dalam pertarungan nanti, dia sekarang punya 19% saham, ditambah saham Aliando 2,5% dan saham anaknya 1,5%,, itu berarti mereka sudah memiliki saham 23%, mereka hanya butuh 11% saham lagi untuk mempertahankan posisi mereka, dan ini sangat sulit bagi kami, pemegang saham kita di luar negeri akan cenderung mendukung Aliando, karena ia sudah menjadi CEO selama 22 tahun di perusahaan.” jelas Rahman melepas nafas panjang, ia sebenarnya sadar, ia sedang melangkah menuju kehancuran, tapi ia lebih memilih jalan itu sebagai bentuk kesetiaannya pada Gibran, orang yang sudah sangat baik dan berjasa bagi ia dan keluarganya.
“kalian benar-benar gila, ini pertarungan yang sulit untuk dimenangkan, apa lagi Hardi ada di pihak mereka, sahamnya sangat besar, ia pasti memiliki pengaruh besar untuk menarik dukungan pemegang saham lainnya.” ujar pak Sarman lagi dengan penuh emosi, rasa tak tega melihat orang-orang seperti Rahman hancur seperti Arjun sangat terasa di hatinya.
“seperti yang saya bilang, ini pertarungan terkahir kami, kami lebih memilih berjuang dan hancur bersama keluarga Adinata, dari pada hidup bersama perusahaan Adinata group yang telah jatuh ke tangan manusia seperti mereka, ini tanggung jawab moral kami pada tuan Gibran pak” ucap Rahman dengan tatapan datar pada pak Sarman
“berusahalah semampu kalian untuk meloby para pemilik saham itu, aku akan pastikan sahamku berada di pihak kalian” ujar pak Sarman melepas nafas panjang dan mengalihkan pandangannya dari tatapan Rahman.
*
Rahman telah keluar dari ruangan pak Sarman, sekarang ia sudah berjalan menuju mobilnya yang sudah menunggu di loby hotel, seorang pengawalnya sudah membuka pintu mobilnya, ketika ia hendak masuk, ia mendengar suara perempuan memanggilnya, “tuan Rahman” dan ia segera menoleh ke arah sumber suara dan menatap panjang perempuan tersebut.
“anda anaknya pak Sarman tadi?” tanya Rahman yang dijawab dengan anggukan oleh bu Saniah yang telah berdiri di dekatnya.
Bu Saniah kemudian mendekat ke arah Rahman dan berbicara berbisik agar tidak terdengar siapa pun termasuk para pengawal yang ada di dekat mereka. Sejenak Rahman menatap panjang ke arah bu Saniah.
Lalu Rahman menjawab bisikan bu Saniah juga dengan berbisik yang membuat semua orang disana menatap mereka dengan penasaran, ia kemudian mengeluarkan kartu namanya dan memberikannya pada bu Saniah. ia kemudian langsung masuk ke mobil, yang diikuti semua orang yang mengikutinya, dan mobilnya kemudian pergi meninggalkan bu Saniah yang masih berdiri disana.
‘aku yakin Arya adalah Indra’
*
__ADS_1
Abel tak henti-hentinya menangis di kursi jaga di samping ranjang Tomy, ia terus memeluk bantal Tomy sembari menggenggam ponsel Tomy dengan erat.
Hatinya terasa benar-benar perih tak tertahankan, dadanya terasa sesak yang membuatnya sesekali sesegukan menahan tangis. ‘apa salahku Tom?, kenapa kamu pergi seperti ini’ batinnya menahan pilu.
Sementara disisinya sudah ada dokter Karina yang masih berusaha menghubungi Arya, namun ponsel Arya tidak diangkat sama sekali, ia kemudian menatap ke arah Abel dengan pandangan herannya, ‘ini anak lebay kali, belum apa-apa, udah nangis kayak gini’ batinnya.
“Bel, udah, jangan nangis lagi” ucap dokter Karina yang mencoba menenangkan Abel sembari mengelus lembut bahu gadis itu.
“Kenapa Tomy setega ini dok sama aku?, aku tidak tahu salah apa aku sama dia, kenapa dia meninggalkanku dengan cara seperti ini?” ucap Abel terisak.
Dokter Karina menatap Abel dengan dengan penuh prihatin, jika dia di posisi Abel, mungkin dia juga merasakan hal yang sama, rasa sakit hati di tinggalkan dengan cara seperti itu. Diminta membeli sesuatu dan ketika kembali, orang tersebut malah hilang tanpa pesan apa pun.
“Bel, jangan terlalu dimasukan ke hati Bel, Tomy nggak akan kemana-mana, dia akan kembali kepadamu” bujuk dokter Karina pada Abel.
Namun Abel malah makin mengeraskan suara tangisnya, ‘astaga, ini anak berlebihan kali’ kesal dokter Karina.
“assalamualaikum” jawabnya singkat sembari berjalan mengikuti Tomy yang sudah dulu berjalan menuju pintu rumah sakit.
“walaikumussalam, kamu dimana Arya?, Tomy mana?, ini Abel udah histeris dari tadi” ucap dokter Karina dengan penuh penekanan.
Arya yang mendengar itu kemudian tersenyum, ia bahkan sudah membayangkan apa yang terjadi nanti saat Tomy masuk ke kamar Abel.
“aku lagi loby, bentar lagi aku dan Tomy sampai di kamar Tomy” jawab Arya singkat dan ia segera menutup telfon tersebut.
Abel kemudian melihat ke arah dokter Karina setelah mendengar suara dokter Karina yang menelfon Arya, “Dimana Tomy dok?” tanya Abel dengan nada paniknya.
__ADS_1
Dokter Karina hanya mengangkat bahunya seolah ia tidak tahu, ia juga ingin melihat reaksi Abel ketika bertemu dengan Tomy nanti.
Arya merangkul bahu Tomy yang tengah berjalan pelan, Tomy beberapa kali menarik nafas panjang untuk menyiapkan dirinya pada sesuatu yang akan terjadi, ia berharap Abel tidak akan marah kepadanya. Harapan yang seperti mustahil terjadi kepadanya
“udah siap mental menghadapi Abel?” canda Arya kepada Tomy, sementara Tomy masih berusaha menenangkan pikirannya, Jika Abel benar-benar marah kepadanya, itu akan menjadi kemarahan pertama Abel di dalam hubungan mereka.
“Kamu sudah pernah dimarahi sama Mila?” tanya Tomy pelan pada Arya.
Arya sejenak berpikir panjang tentang pertanyaan Tomy, ia mengingat kembali seperti apa perlakuan Mila selama 4 bulan pernikahan mereka, namun hanya rasa sakit yang ia rasakan ketika memori itu berputar-putar di pikirannya.
“dia nggak pernah marah Tom, tapi aku ngerasain 3 bulan di abaikannya sebagai suaminyA” jawab Arya dengan santai tanpa beban, sakit itu memang masih ada, tapi sekarang ia sudah ikhlas dengan itu semua, apa lagi cinta itu sudah hilang memudar di dalam hatinya, seiring memudar jejak-jejak dirinya selama menenangkan diri di Sulawesi.
“Aku mengenal Abel juga baru Arya, mungkin seumur pernikahanmu, dan mungkin ini akan menjadi masalah pertama dalam hubungan kami” jawab Tomy dengan sedikit lesu, rasanya ia tak sanggup jika Abel marah besar kepadanya, apa lagi sampai ingin meninggalkannya.
“apa kamu sudah mencintainya Tom?”
“sepertinya belum, aku juga belajar darimu, hanya mencintai seorang perempuan yang telah kita nikahi” jawab Tomy dengan nafas tenangnya.
“Jika begitu, kamu bisa bersikap tenang menghadapi Abel nanti, kalau kamu sudah jatuh cinta kepadanya, suasana hatimu akan mempengaruhi sikapmu, aku sudah ngerasainnya Tom. Cukup diam dan jangan banyak bicara pada Abel, cukup usap bahunya dan beri dia ketenangan dan biarkan dia mencurahkan segala isi hatinya” Ucap Arya memberi saran kepada Tomy.
“apa itu berarti kamu tidak punya perasaan untuk Mila? kamu tampak tenang menghadapi Mila tadi, padahal dia sudah terbawa oleh perasaannya” tanya Tomy penuh selidik.
“dikhianati itu menyakitkan Tom, sulit sekali bagiku memperbaiki kondisi hatiku, 3 minggu di Sulawesi itu sudah lumayan cepat untuk menenangkan perasaanku, dia menjalin hubungan di belakangku Tom, apa lagi ketika itu aku sudah mulai mencintainya, hatiku benar-benar hancur, jika aku ceritakan seperti apa aku dulu terbawa perasaanku menghadapi Mila, aku pasti akan malu kepadamu” jawab Arya sembari mengingat ia yang berlutut dan memukul-mukul tanah tak kuasa menahan perlakuan Mila kepadanya.
“benarkah?, tapi tadi sepertinya dia sudah menetapkan hatinya untukmu, kamu harus belajar lagi untuk mencintainya, seperti kata-katamu kepadaku, cintai apa yang telah halal bagi kita”
__ADS_1
“aku akan belajar untuk itu, sekarang kamu mau aku rekam sikap Abel nanti, lumayan, buat kenangan kalian yang bisa kalian tonton setelah menikah nanti” canda Arya pada Tomy
“hmmm, boleh, memori ponselmu masih banyak kan?,,”